Senin, 08 Maret 2010

"CARA MENANAM JAHE YANG BENAR"

"Jahe" atau dalam bahasa Latin disebut Zingiber Officinale yang biasa kita pergunakan sebagai bumbu dapur, paling bagus apabila ditanam di tanah yang cukup mendapat sinar matahari."


"Jahe" apabila ditanam di pekarangan yang teduh, dapat tumbuh dan nampaknya juga subur. Akan tetapi yang subur cuman daunnya saja. Umbinya malah kecil-kecil. Padahal target kita bukan daunnya yang ingin kita ambil.

Selama ini ada anggapan salah kaprah, bahwa "jahe" dapat tumbuh di mana saja dengan gampang, sehingga boleh ditancapkan diatas tanah-tanah yang tidak dicangkul, biasanya akan menghasilkan umbi-umbi "jahe" yang mengecewakan.


MENYIAPKAN TANAH.

Apabila memiliki sebidang tanah di pinggir sungai yang kurang lebih 45 m tingginya di atas permukaan laut, buatlah selokan-selokan sedalam 75 cm - 1 m selebar 1/2 m, jarak antara selokan yang satu dengan selokan yang lain 1/2 m supaya dapat menimbulkan galian di atasnya. Setelah itu biarkan terbuka begitu saja selama 2 X 3 bulan supaya dapat diberi pupuk kandang atau kompos secara berangsur-angsur tiap kali memberi pupuk, jangan lupa menutupnya dengan tanah, supaya pupuk tidak rusak percuma.
Apabila pada permulaan musim penghujan nanti sudah mulai turun hujan gerimis, selokan-selokan tadi harus sudah selesai diberi pupuk dan tanah, sehingga anda dapat guludan-guludan setinggi 30 cm, yang kelak boleh ditancapi bibit "jahe". Jarak antara guludan satu dengan guludan yang lain minimal harus 1 m. Karena tanaman "jahe" nantinya dapat tumbuh sampai setinggi 80 cm, yang biasanya digunakan sebagaibibit, biasanya potongan-potongan akar tinggalnya yang ada satu atau beberapa buah unasnya (matanya). Tetapi dalam mencari bibit "jahe" pilih potongan akar tinggal yang paling besar dan tebal.


MENYIAPKAN BIBIT "JAHE".

"Jahe" yang kita kenal ada dua jenis. Keduanya dapat kita bedakan berdasarkan warna dari akar-akar tingga. Pada "jahe" merah, warna akarnya ungu, sedang pada "jahe" biasa, akarnya berwarna putih kekuningan. "Jahe" yang biasa, biasanya digunakan sebagai bumbu masak.

"Jahe" merah biasanya digunakan sebagai ramuan untuk mendorong menegaskan khasiat empon-empon(bumbu masak) dan lain-lain jejamuan. Terserah anda mau menanam bibit "jahe" yang biasa atau yang merah. Tergantung yang mana yang anda butuhkan.


CARA MENANAM "JAHE".

Apabila anda sudah memilih bibit "jahe" apa yang akan anda tanam, maka bibit-bibit "jahe" yang telah anda pilih harus ditanam sedalam 5 cm dalam tanah, dengan jarak 1/2 m, antara masing-masing bibit "jahe" tadi harus ditanam urut sepur.

Setelah menanam bibit, anda jangan berhenti mengumpulkan pupuk, karena masih diperlukan juga nanti untuk menimbun tanaman kalau sudah setinggi 15 - 20 cm.


CARA MEMUNGUT HASILNYA.

Setelah kira-kira 10 bulan, akar tinggal mereka sudah bisa dibilang tumbuh penuh (tidak dapat membesar lagi). Daun-daunnya juga mulai kering dan pada saat itulah anda boleh memungut hasilnya.

Untuk membongkar tanah guludan, sebaiknya menggunakan cangkul atau garpu supaya akar tinggal "jahe" tidak rusak. Jangan memungut hasil dengan mencabut tanaman begitu saja. Hasil normal produksi ladang tiap hektar adalah 60 kwintal. Jadi kalau anda belum dapat mencapai target ini, berarti ada yang salah, teknisnya yang kurang sempurna sehingga masih perlu diperbaiki.

Namun, kadang-kadang ada kalanya ada permintaan pasar "jahe" muda. Dalam hal ini, harus memungut "jahe" itu sesudah tanaman mencapai tinggi lebih kurang 1/2 m, sebelum daun-daun menjadi kering.

Biasanya "jahe" muda diperdagangkan berikut sebagian dari batangnya pula sepanjang kira-kira 20 cm, tapi biasanya merupakan permintaan lokal.

Semua hasil yang baru dipanen, harus segera dipotongi, akar-akar dan pangkal batangnya, sehingga hanya tinggal umbinya yang berbentuk tangan-tangan saja. Justru bagian yang bentuknya seperti tangan-tangan inilah yang diperdagangkan tapi tanahnya harus dibersihkan.

Gumpalan tanah yang melekat pada "jahe" harus dihilangkan supaya hasilnya dapat bersih dan laku dijual.


Di Jamaica, "jahe" yang baru dipungut segera dilempar ke dalam bak-bak air, kemudian diobok-obok supaya bersih sendiri. Kalau anda pengusaha perkebunan hasilnya untuk eksport, umbi "jahe" tadi harus bersih pula dari kulit-kulit selaput luarnya. Di Jamaica terkenal sebagai produsen "jahe" kering yang paling bagus, orang mengupas kulit selaput terluarnya dengan tangan setelah "jahe-jahe" tadi direndam dalam air panas. Setelah dikupas dimasukkan lagi ke dalam air, untuk dicuci sekali lagi sampai bersih. Kemudian "jahe" yang sudah bersih tadi direndam air lagi selama satu malam. Kadang-kadang dalam bak-bak perendam ini juga dibubuhkan air jeruk nipis, supaya warna "jahe" itu tetap muda. Sesudah itu semuanya dikeringkan diatas tikar disinar matahari sehari penuh, kalau sudah sore dimasukkan ke gudang kering.

Setelah dikeringkan begini selama 7 hari, biasanya "jahe" sudah cukup kering. Dan beratnya kira-kira tinggal 70% saja dari berat semula. Namun kadar sari "jahe"nya masih ada kira-kira 12% dan kualitasnya dipandang bagus, sehingga laku untuk dijual.
"Jahe" yang dianggap berkualitas tinggi memang "jahe-jahe" besar dan bersih, tapi tidak kering, bagian dalamnya tidak ada bagian-bagian yang patah dan tidak keriput.

"Jahe" termasuk dalam tanaman obat berkhasiat sekaligus bumbu penyedap masakan. "Jahe" juga diketahui memiliki kandungan anti nyeri alamiah sehingga cukup banyak orang yang menggunakan minyak "jahe" sebagai pereda nyeri dan juga bengkak.

Semoga anda sukses jadi pengusaha "jahe"......................

0 komentar: