Minggu, 13 Desember 2009

"BERPIKIR DAN BERDZIKIR DIDALAM BERKARIER"

"Berpikir" kritis, ilmiah dan generatif, semuanya mempunyai tempatnya masing-masing. Tidak penting dalam urutan manakah mereka itu ditempatkan. Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita harus memperhatikan cara "berpikir" generatif."



"Berpikir", berdzikir dan berkarier" merupakan aktivitas yang tidak asing bagi kehidupan kita sehari-hari. Tapi pernahkah kita memikirkan bahwa ketiga aktivitas tadi dapat diramu menjadi suatu ramuan yang dapat menghasilkan kualitas sumber daya manusi yang dapat diandalkan?


Sebelum kita membahas lebih lanjut tentang kehebatan ramuan tersebut, sebaiknya kita kupas terlebih dahulu komponen-komponen aktivitas di atas.


"BERPIKIR" SEBAGAI SUATU KETRAMPILAN.

"Berpikir" adalah eksplorasi (penjajagan) pengalaman yang dilakukan secara sadar dalam mencapai suatu tujuan (tujuan itu dapat berbentuk pemahaman, pengambilan keputusan, perencanaan, pemecahan masalah, penilaian tindakan dan sebagainya). Dapat juga dikatakan bahwa "berpikir " merupakan ketrampilan operasional yang memungkinkan intelegensi bekerja atas dasar pengalaman.

Sebagai suatu ketrampilan, ada beberapa cara dalam melaksanakan aktivitas"berpikir" :

a. "Berpikir" kritis.

b. "Berpikir" ilmiah.

c. "Berpikir" generatif.


Cara "berpikir" kritis ini dapat menemukan kesalahan dan kekurangan dalam berbagai sistem dan gagasan. namun apakah dengan hanya menemukan kesalahan dan kekurangan saja dapat memberikan kemampuan pada kita untuk menyusun sistem dan gagasan yang lebih berdaya guna?

Ada beberapa alasan supaya kita tidak terlalu memuja cara "berpikir" kritis.

1. Memberikan kritik merupakan pekerjaan yang mudah, barangkali bentuk prestasi intelektual yang paling mudah, dan orang suka melakukannya karena ada sesuatu yang pasti untuk dikerjakan dengan hasil yang pasti.

2. "Berpikir" kritis memungkinkan kita untuk bekerja dalam lingkungan serba cukup dimana segala data telah tersedia tanpa dituntut memperoleh data yang baru.

3. "Berpikir" kritis memegang peranan penting dalam dunia keagamaan karena ini merupakan satu-satunya senjata melawan bid'ah dan berbagai penyimpangan, disamping karena dunia keagamaan terbentuk dari konsep iman yang harus memiliki kebenaran internal untuk tidak runtuh. Tetapi semua itu sangat jauh dari dunia nyata yang kotor, dimana orang harus "berpikir" untuk dapat memecahkan berbagai permasalahan (dengan data-data yang sangat tidak mencukupi) dan menghasilkan sesuatu.


Cara "berpikir" kritis memang sangat berharga dan merupakan bagian dri pemikiran yang esensial. Akan tetapi, belum mewakili subyek "berpikir" secara keseluruhan.


Cara "berpikir" ilmiah, menekankan pentingnya pemahaman dan analisis. "Berpikir" ilmiah bersifat deskriptif (menggambarkan apa adanya dan bukan seharusnya) dan kontemplatif (membangkitkan renungan).


"Berpikir" ilmiah ini bebas nilai, sehingga tidak menghasilkan apakah sesuatu itu baik atau buruk. Dalam ilmu pendidikan, dengan tepat menekankan pentingnya cara "berpikir" ilmiah. Kita menjunjung tinggi lembaga kesarjanaan karena lembaga ini sangat bernilai, dan karena para sarjana merupakan produk kebanggaan sistem ini. Namun "berpikir" pasif deskriptif dan "kontemplatif " betapapun keras dan mendalamnya tidaklah sama dengan "berpikir" generatif.


"Berpikir" generatif bertujuan menghasilkan sesuatu dan memecahkan masalah. "Berpikir" generatif bersifat praktis, kreatif dan konstruktif. "Berpikir" generatif harus berhadapan dengan dunia nyata dan mengambil tindakan, meskipun pengetahuan belum lengkap. "Berpikir" generatif tidak dapat membiarkan segalanya menunggu, untuk dapat menerapkan diri secara ilmiah dalam upaya mencukupkan pengetahuan, sehingga tindakan yang diambil mendapat landasan yang cukup. "Berpikir" generatif ini selalu berusaha memecahkan suatu masalah. Lebih baik mengalami kekurangan/kesalahan dari pada tidak bertindak sama sekali dan selalu bersifat konstruktif (memperbaiki).


"Berpikir" kritis, ilmiah dan generatif, semuanya mempunyai tempatnya masing-masing. Tidak penting dalam urutan manakah mereka itu ditempatkan. Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita harus memperhatikan cara "berpikir" generatif. "Berpikir" generatif itu tidak rapi, tidak sempurna, tidak murni dan barangkali sulit untuk diterapkan. Namun ia penting dan kita seharusnya mencoba untuk melatih diri kita.

Untuk menjadi orang yang trampil "berpikir", kita harus melatih diri kita secara rutin. Trampil "berpikir" berarti mengetahui cara menghadapi berbagai situasi, gagasan kita sendiri dan pikiran-pikiran orang lain. Ia mencakup perencanaan, pengambilan keputusan, mengamati fakta-fakta, menebak kreativitas dan berbagai aspek lainnya. Kita akan memperoleh kepercayaan diri dan kepuasan hati karena ketrampilan "berpikir " kita.


BERDZIKIR SEBAGAI BENTENG DIRI.

Secara harfiah, "berdzikir" adalah mengingat dan menyebut berulang-berulan nama dan keagungan Allah. Implisit mengandung pengertian memberi nikmat kepada setiap makhluk-Nya, dan barangsiapa membiasakan diri "berdzikir " setiap hari, maka akan mempengaruhi jiwanya, menjadi orang yang mempunyai mental yang baik dan akhlak yang terpuji.


"Berdzikir" yang saya maksud disini adalah berdo'a namun tidak hanya sekedar berdo'a dengan menghafalkan lafal-lafalnya saja, tetapi do'a itu harus diresapkan dalam hati dengan menghayati makna-makna yang terkandung didalamnya. Dan hendaknya kita berdo'a dengan penuh tawakal, merendah diri serendah-rendahnya disertai hati yang khusyu' di hadapan Tuhan.


"Berdzikir" adalah sarana kita untuk selalu dekat dengan Tuhan. Tidak ada manusia yang sempurna dan suci dari dosa. Namun manusia dikaruniai akal untuk "berpikir", sehingga dapat menentukan pilihan. Manusia yang terampil "berpikir" pasti akan menentukan pilihan yang baik. Kalau dirasa sesuatu itu tidak baik, sudah seharusnya kita tinggalkan. Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang dan Penerima taubat dari hamba-Nya, meskipun si hamba telah banyak berbuat dosa, akan tetapi jika mau sadar dan bertaubat, maka Tuhan siap untuk menerima taubatnya dengan mengampuni segala dosa yang telah lalu diperbuatnya. Asal si hamba betul-betul menyatakan taubat kepada Tuhan dan berjanji tidak akan mengulangi kembali perbuatan yang terlarang.


Senyampang kita masih hidup, kita masih punya kesempatan untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Kalau kita dekat dengan Tuhan, Insya'Allah Tuhan akan memelihara kita dari perbuatan yang tercela. Dengan "berdzikir" secara khusyuk, pasti Tuhan akan menolong kita dan membentengi diri kita dengan segala rahmat dan kekuatan-Nya.


PENTINGNYA "BERPIKIR" DAN BERDZIKIR DI DALAM BERKARIER.

Dalam situasi kehidupan nyata, pada umumnya pengetahuan kita tidak pernah dapat menjadi lengkap (mungkin semata-mata karena begitu banyak situasi berurusan dengan masa depan).


Dengan demikian dalam perkembangan dan kemajuan dalam kehidupan, pekerjaan, jabatan dan sebagainya ("berkarier"), kegiatan "berpikir " semakin diperlukan.


Di dalam "berkarier", pengetahuan sangat dibutuhkan untuk perkembangan diri kita. Dan selama kita tetap berurusan dengan pengetahuan, keterampilan "berpikir" kita harus selalu kita kembangkan. Dengan melihat keadaan masyarakat kita sekarang ini, yang mengalami perubahan begitu pesat dan akan terus berlangsung secara lebih cepat lagi, kebutuhan untuk "berpikir" semakin besar dari pada waktu yang lampau.


Dalam menghadapi berbagai macam situasi, informasi sangat dibutuhkan. Senantiasa berusaha untuk memperoleh informasi merupakan sikap yang mengagumkan, tetapi bersikap menunggu informasi yang sempurna, sangat tidak praktis. Dalam kehidupan sehari-hari, keputusan dan tindakan harus senantiasa diambil. Karena informasi biasanya tidak sempurna, maka kekurangan itu harus ditutup dengan cara berpikir yang baik. Karena "berpikir" merupakan suatu ketrampilan (skill), maka kita dapat melatih diri kita untuk berpikir, sehingga kita menjadi orang-orang yang mampu "berpikir" sebelum/selama/setelah melakukan segala tindakan.


Disamping dibutuhkan ketrampilan "berpikir" yang baik, "berdzikir" (berdo'a) juga sangat dibutuhkan dalam "berkarier". Bila kita selalu dekat dan selalu berhubungan dengan Yang Maha Besar dan Maha Kuat seerta Maha Bijaksana, Insya'Allah kita akan menjadi orang yang tenang dan bahagia dalam hidup kita walaupun kita menghadapi banyak rintangan yang bermacam-macam.


Manusia yang dirinya diterangi dengan cahaya atau sinar tauhid dalam dadanya, jiwanya akan terang dalam menghadapi segala macam problema hidup ini, baik soal agama ataupun soal keduniaan.


Sebagai apapun peran kita dalam kehidupan sehari-hari, kita perlu mempunyai kekuatan, baik kekuatan fisik maupun kekuatan mental. Oleh karena itu jangan segan-segan kita "berdzikir" setiap waktu demi memperkuat jiwa kita.


Tidak sedikit orang yang gagal, lalu berputus asa yang akhirnya dapat mengganggu urat syarafnya. Apa artinya kepintaran manusia, jika sudah dihinggapi penyakit syaraf. Hal ini banyak terjadi di kalangan orang-orang pintar di dunia ini, karena tidak adanya iman dalam jiwanya. Karena mereka mengandalkan otak dan akalnya, mengandalkan ilmu dan kepintaran belaka. Karena ia tidak sadar atas rencana manusia yang muluk-muluk, masih ada perencanaan yang tidak dapat disaingi dan dihalangi oleh manusia siapapun di dunia ini. Dialah Allah Sang Pencipta Alam Semesta ini. Oleh karena itu kita harus yakin dan kita minta bantuan kepada-Nya, supaya kita diberi kekuatan jiwa dan semangat yang selalu menyala-nyala.


Disinilah letak pentingnya aktivitas "berpikir" dan berdzikir dalam berkarier. Apabila kita mau melaksanakan aktivitas-aktivitas ini, Insya'Allah akan melahirkan manusia-manusia yang berkualitas tinggi yang dapat diandalkan dan dapat diharapkan mau dan mampu berpartisipasi dalam segala kegiatan pembangunan nasional kita, terutama dalam menghadapi era globalisasi yang telah mulai kita rasakan sekarang ini.


Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pembaca dan dapat menjadi motivasi bagi para pembaca untuk lebih meningkatkan kualitas diri sehingga menjadi manusia-manusia yang dapat diandalkan sebagai modal pembangunan yang potensial.

0 komentar: