Minggu, 08 November 2009

"KHADIJAH ISTRI PERTAMA RASULULLAH"

"Khadijah" adalah orang pertama yang beriman kepada "Rasulullah". Pada saat orang meragukan bahkan menentang wahyu yang disampaikan oleh "Rasulullah", "Khadijah" justru sangat mendukung apa yang disampaikan oleh "Rasulullah."



"Khadijah" adalah istri "Rasulullah" yang pertama. "Rasulullah" yang karim sebelum diangkat menjadi Rasul. Usianya baru 25 tahun. Sedangkan "Khadijah" waktu itu adalah wanita janda (armalah), berumur 40 tahun. Sebelumnya, "Khadijah" adalah istri Abu Halah bin Zararah. Kemudian dikawini Athiq bin A'idz. Baru sesudah itu "Rasulullah" SAW menikahinya, seperti termaktub dalam kitab Al Ishabah.


"Khadijah" dipilih "Rasulullah" SAW sebagai teman hidupnya karena keteguhan pendiriannya serta kecerdasan akalnya. Pernikahan "Khadijah" dengan "Rasulullah" merupakan perjodohan yang patut dan sangat sesuai. Dan tidak ada sesuatupun yang menghalangi terlaksananya pernikahan tersebut. Bukan karena motivasi dorongan hawa nafsu, melainkan oleh cita-cita yang luhur dan rasa budi kemanusiaannya.


Muhammad SAW adalah Utusan Allah. Dia telah mempersiapkan jauh sebelumnya untuk membawa risalah, memikul beban dakwah. Allah mempermudah baginya buat mendapatkan "Khadijah", yang penuh taqwa lagi suci jiwanya. Dan yang cerdas akalnya. Supaya "Khadijah" membantu "Rasulullah" menyampaikan dakwah dan menyebar luaskan risalah.


Salah satu contoh yang menunjukkan kekuatan akal "Khadijah" dan keluasan pandangannya, adalah ketika "Rasulullah" SAW didatangi Malaikat Jibril pada saat beliau ada di Gua Hira', kembali menemui "Khadijah" dengan hati gemetar. "Rasulullah" masuk dan berkata: "Selimuti aku, selimuti aku!". Sehingga hilang gemetar tubuhnya. "Rasulullah" lalu menceritakan kepada "Khadijah", dan berkata: "Aku khawatir sangat akan diriku!".
"Khadijah" berkata: "Bergembiralah! Usah engkau khawatir. Demi Allah, Dia tak hendak mencelakakan dirimu, selama-lamanya. Sungguh engkau telah memggalakkan pertautan hubungan kerabat, jujur perkataan, berat menanggung derita umat, menyediakan lapangan kerja untuk kaum penganggur, memuliakan tamu dan menolong umat yang tertimpa bencana alam!". (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).


"Khadijah" adalah seorang istri "Rasulullah" yang mencintai suaminya dan juga orang pertama yang beriman, berdiri mendampingi "Rasulullah" yang dicintainya untuk menolong, menguatkan dan membantunya serta menolong beliau dalam menghadapi kerasnya gangguan dan ancaman sehingga dengan hal itulah Allah meringankan beban "Rasulullah". Tidaklah beliau mendapatkan sesuatu yang tidak disukai, baik penolakan maupun pendustaan yang menyedihkan beliau ("Rasulullah") kecuali Allah melapangkannya melalui istrinya bila beliau kembali ke rumahnya. Beliau ("Khadijah") meneguhkan pendiriannya, menghiburnya, membenarkannya dan mengingatkan tidak berartinya celaan manusia pada beliau. (Sumber : LINTASAN HATI - "Istri "Rasulullah" Khadijah Binti Khuwalid").


"Rasulullah" SAW telah menghabiskan masa bunga kepemudaannya bersama "Khadijah". "Rasulullah" tidak memadunya dengan wanita lain. Dan tidak ada cinta Rasulullah yang melebihi cintanya kepada "Khadijah". Aisyah sendiri pernah cemburu kepada "Khadijah" padahal dia tidak pernah bergaul dengan "Khadijah", dan bahkan tidak pernah pula melihat "Khadijah". Sampai-sampai ketika "Rasulullah" SAW menceritakan kepada Aisyah, Aisyah pernah sekali berani bicara:

"Bukankah ia cuma perempuan tua, debu zaman (sudah lampau)? Padahal Allah telah memberikan ganti untukmu yang lebih baik daripadanya" -- yakni dirinya.

"Rasulullah" SAW marah sekali mendengar ucapan Aisyah ini. Kemudian Rasulullah bersabda:

"Tidak! Demi Allah. Aku belum diberi ganti Allah dengan wanita yang lebih baik dari padanya. Ia telah Iman kepadaku ketika manusia lain kufur. Dia membenarkan kerasulanku, seawktu manusia sama mendustakan diriku. Dia ulurkan tangannya dengan harta miliknya, ketika manusia menjauh dariku, selannya tidak!".

Kata Aisyah:

"Sesudah itu aku tak pernah lagi meski sekali, menyebut-nyebutnya dengan kejelekan."


Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Aisyah, bahwa dia berkata:

"Aku sama sekali tak cemburu kepada salah seorang istri Nabi SAW. Aku tidak cemburu kepada "Khadijah", sedang aku juga tak pernah bertatap muka melihatnya. Tetapi Nabi SAW sering amat menuturkannya. Pernah kata beliau, ketika menyembelih seekor beri-beri kemudian mengirimkannya kepadanya sewaktu memberikan emas kawinnya. Dan pernah pula aku berucap kepada beliau: "Seolah-olah di dunia ini tak ada wanita lain selain "Khadijah"!."

Beliau menjawab: "Sesungguhnya, memang begitulah kenyataannya. Dan aku daripadanya memperoleh anak!".


Ada beberapa alasan mengapa "Rasulullah" SAW sangat mencintai "Khadijah", yaitu :

1. "Khadijah" adalah orang pertama yang beriman kepada "Rasulullah". Pada saat orang meragukan bahkan menentang wahyu yang disampaikan oleh "Rasulullah", "Khadijah" justru sangat mendukung apa yang disampaikan oleh "Rasulullah".


2. "Khadijah" merupakan orang yang membenarkan Risalah "Rasulullah". Pada saat orang-orang mengolok-olok Risalah "Rasulullah", "Khadijah" malah membenarkan Risalah itu. "Khadijah" sangat mempercayai apa yang disampaikan oleh "Rasulullah".


3. "Khadijah" adalah orang yang mau mengorbankan hartanya untuk perjuangan "Rasulullah". Pada saat semua orang kikir kepada "Rasulullah", "Khadijah" justru berani mengorbankan apa yang dimilikinya.


4. "Khadijah" adalah satu-satunya istrinya yang bisa memberi keturunan. Jadi "Khadijah" adalah istri yang mampu mewariskan nilai-nilai terhadap keturunannya.


"Khadijah" menghabiskan masa hidupnya bersama "Rasulullah" selama 25 tahun sebelum diangkat menjadi Rasul, dan 10 tahun sesudahnya. Selama itu "Rasulullah" tidak memadunya dengan wanita lain. Semua puteri "Rasulullah" diperoleh dari "Khadijah", kecuali Ibrahim. Sewaktu "Khadijah" wafat, pulang ke rahmatullah dengan ridha dan diridhai, usia "Rasulullah" menginjak 50 tahun, sedang tidak ada lagi istri yang mendampingi selain "Khadijah". "Rasulullah" tidak polygami kecuali sesudah"Khadijah" wafat.


Ya Allah ridhailah "Khadijah binti Khuwailid", As-Sayyidah Ath-Thahirah. Seorang istri yang setia dan tulus, mukminah mujahidah di jalan diennya dengan seluruh apa yang dimilikinya dari perbendaharaan dunia. Semoga Allah memberikan balasan yang paling baik karena jasa-jasanya terhadap Islam dan kaum muslimin. Surga adalah tempat yang paling layak untuk "Khadijah".

0 komentar: