Senin, 09 November 2009

"KEWAJIBAN TERHADAP TETANGGA MENURUT ISLAM"

"Tetangga" adalah orang yang tinggal di sekitar rumah kita, tentunya adalah orang, yang disamping punya kedekatan phisik juga punya kedekatan secara psikhis."




Seorang muslim yang benar-benar sadar dan berada di bawah bimbingan agamanya serta senantiasa berpegang teguh pada talinya, dia akan selalu berbuat baik dan memberikan perhatian kepada "tetangga"nya.





Allah SWT secara tegas telah memerintahkan supaya kita berbuat baik kepada "tetangga", seperti yang telah difirmankan dalam Al-Qur'an Surat An-Nisa' Ayat 36 : "Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, "tetangga" yang dekat dan "tetangga" yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya kalian........"


Yang dimaksud dengan "tetangga" yang dekat" adalah "tetangga" yang masih ada hubungan nasab (darah) atau ikatan agama. Sedangkan "tetangga" yang jauh" adalah yang tidak ada hubungan darah atau ikatan agama. Adapun "teman sejawat" adalah teman dalam hal kebaikan.


Oleh karena itu, setiap orang yang ber"tetangga" dengan orang Muslim mempunyai hak ke"tetangga"an, walaupun tidak ada hubungan darah atau ikatan agama.


Hadits Riwayat Muttafaq Alaihi, menjelaskan : "Senantiasa Jibril berpesan kepadaku tentang (hidup) ber"tetangga", sampai aku menyangka bahwa dia akan mewarisinya."




Hal itu senantiasa ditekankan oleh Jibril kepada Rasulullah SAW, sehingga beliau menyangka bahwa pesan-pesan malaikat itu akan mengangkatnya ke tingkat kekerabatan keluarga yang mendapatkan warisan seperti layaknya keluarga dekat. Melalui pesan yang disampaikan Jibril berkali-kali itu Rasulullah SAW memerintahkan untuk senantiasa berbuat baik kepada "tetangga". Perintah itu disampaikan beliau di setiap ada kesempatan.


Seorang sahabat, Abu Umamah RA telah menyaksikan perhatian besar Rasulullah terhadap kehidupan ber"tetangga" dalam khutbah terakhir beliau pada haji wada'. Sahabat ini menyangka bahwa beliau akan mewarisinya, yaitu dalam ucapannya : "Aku pernah mendengar Rasulullah SAW sedang beliau berada di atas ontanya pada haji wada', beliau berkata 'Aku berwasiat kepada kalian mengenai hidup ber"tetangga".' Hal itu beliau ucapkan berkali-kali hingga aku katakan, 'Beliau mewarisinya (menjadikan "tetangga" berkedudukan seperti ahli waris)'."



Hadits Riwayat Muttafaq Alaihi yang lain menjelaskan : "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berbuat baik kepada "tetangga"nya. Dan, barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia menghormati tamunya. Dan, barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia mengucapkan kata-kata yang baik atau diam."


Sedangkan dalam riwayat Bukhari disebutkan :"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia tidak menyakiti "tetangga"nya."


Seorang Muslim hendaknya selalu berhati lembut, berjiwa pemurah, berperangai halus dan sangat mencintai "tetangga"nya serta memiliki kepekaan perasaan terhadap hal-hal yang dapat menyakiti mereka atau merusak kehormatan mereka atau dapat mencoreng nama baik mereka. Selain itu, dia juga mencintai kebaikan bagi mereka seperti mencintai dirinya sendiri, merasa bahagia atas kebahagiaan mereka, dan sedih atas kesedihan yang mereka rasakan. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW : "Tidaklah salah seorang di antara kalian beriman sehingga dia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri." (Muttafaq Alaihi).


Sedangkan dalam riwayat Muslim dari Anas, dia menceritakan, Rasulullah SAW pernah bersabda: "Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya tidaklah seorang hamba beriman sehingga dia mencintai "tetangga"nya (atau mengatakan) saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri."


Seorang Muslim hendaknya senantiasa membantu "tetangga"nya yang hidup kesulitan dengan memberikan sesuatu, hadiah atau hibah. Atau setiap kali masakannya tercium oleh mereka sehingga mereka menginginkannya padahal mereka tidak mampu untuk membuat seperti masakannya, maka hendaknya mengirimkan sebagian masakannya itu kepada mereka. Hal ini merupakan upaya untuk merealisasikan solidaritas sosial yang sangat ditekankan Rasulullah SAW dalam ucapannya kepada Abu Dzar, "Wahai Abu Dzar, apabila engkau memasak sayur, maka perbanyaklah airnya, dan berikanlah kepada "tetangga-tetangga"mu."(HR. Muslim).


Dalam sebuah hadits disebutkan : "Apabila engkau memasak sayur, maka perbanyaklah airnya, kemudian perhatikanlah anggota keluarga "tetangga"mu, lalu berilah mereka dengan cara yang baik." (HR. Muslim).



Hadits lain yang diriwayatkan oleh Thabrani dan Al-Bazzar dengan isnad hasan : Rasulullah bersabda "Tidaklah beriman kepadaku orang yang kenyang sedang "tetangga" di sampingnya menderita kelaparan, sedang dia mengetahui." Dan juga Hadits lain yang diriwayatkan oleh Thabrani dan Abu Ya'la : Rasulullah SAW bersabda : "Tidak termasuk Mukmin orang yang kenyang sedang "tetangga"nya kelaparan."


Tidak diperbolehkan bagi seorang "tetangga" menghina kebaikan yang diberikan oleh "tetangga"nya yang lain, meskipun kebaikan itu hanya sedikit. Namun sebaliknya, "tetangga" itu harus mensyukurinya, karena dengan mensyukuri kebaikan akan terwujud kasih sayang di antara "tetangga", di samping itu akan tumbuh pula kecintaan, kerukunan dan kedamaian dalam kehidupan ber"tetangga". Selain mensyukuri atas kebaikan itu sendiri merupakan akhlak pokok Islam, seperti yang ditegaskan Rasulullah SAW sekaligus diperintahkanya : "Tidak bersyukur kepada Allah, orang yang tidakbersyukur kepada manusia."


Berbuat baik kepada "tetangga" itu sangat luas, tidak hanya pada kerabat dekat atau karena adanya ikatan agama, tetapi meluas sampai kepada "tetangga" non Muslim, seiring dengan petunjuk, toleransi dan pesan Islam kepada seluruh umat manusia dengan perbedaan agamanya masing-masing selama mereka tidak menyakiti atau memusuhi kaum Muslimin; "Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kalian karena agama dan tidak pula mengusir kalian dari negeri kalian. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil." (Al-Mumtahanah).


Begitu luas rahmat Islam bagi manusia. Sejarah telah mencatat bahwa Ahlul Kitab hidup ber"tetangga" dengan kaum Muslimin di pelbagai belahan dunia Islam dalam keadaan aman dan tenteram baik harta, jiwa, kehormatan dan keyakinannya. Kaum Muslimin telah berbuat baik kepada "tetangga"nya, menghormati mereka, menjamin kebebasan keyakinan mereka, dan membiarkan rumah ibadah mereka tetap berdiri tegak sejak lama di negeri-negeri Muslim, sedang di sekelilingnya ribuan kaum Muslimin memperlakukan "tetangga"nya dari kalangan Ahlul Kitab dengan baik, juga sangat perhatian, memberikan perlindungan, berbuat baik dan adil kepada mereka.


Islam juga berpesan supaya kita mendahulukan berbuat baik kepada "tetangga" terdekat sebagai usaha untuk mempertahankan kekuatan hubungan antara dua yang berdampingan, dan menjaga kemungkinan timbulnya kesalahpahaman, dalam rangka mewujudkan kasih sayang, kecintaan dan kelembutan. Hadits Riwayat Bukhari, menjelaskan, dari Aisyah RA., dia menceritakan : "Aku pernah berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai dua "tetangga", kepada "tetangga" mana aku harus memberikan hadiah?' Beliau menjawab, 'Kepada yang paling dekat pintu rumahnya'."
Hal ini tidak berarti kita harus memalingkan pandangan dari perhatian berbuat baik kepada "tetangga"nya yang jauh, karena semua rumah yang berada di sekitar tempat tinggal kita adalah "tetangga" kita, dan mempunyai hak hidup berumah tangga. Mendahulukan "tetangga" terdekat itu hanya merupakan pengaturan semata, yang Rasulullah sangat memelihara perasaan "tetangga" terdekat, karena biasanya "tetangga" dekat memiliki hubungan, mu'amalah dan keeratan yang lebih kental.


Berbuat baik kepada "tetangga" merupakan akhlak Islam yang paling dasar dan mendalam dalam perasaan kaum Muslimin yang sejak kecil dididik akhlak Islam yang cemerlang, yang menjadikan "tetangga" yang paling banyak berbuat baik kepada "tetangga"nya sebagai "tetangga" paling baik di sisi Allah. Hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dengan isnad shahih, menjelaskan bahwa : "Teman yang paling baik di sisi Allah adalah yang paling baik kepada temannya, dan "tetangga" yang paling baik di sisi Allah adalah yang paling baik kepada "tetangga"nya."


Petunjuk Rasulullah SAW mempertegas bahwa "tetangga" yang baik merupakan salah satu sendi kebahagiaan manusia Muslim dalam kehidupan ini, karena dia menjamin kesejukan pandangan, ketenangan, kegembiraan, dan keamanan bagi "tetangga"nya. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Al-Hakim dengan isnad shahih : "Diantara kebahagiaan orang Muslim di dunia adalah "tetangga" yang baik, rumah yang luas dan kendaraan yang menyenangkan."


Orang-orang shalih terdahulu sangat menghargai nilai hidup ber"tetangga" yang baik dan menganggapnya sebagai nikmat yang tidak dapat ditukar dengan materi. Demikian tadi lembaran putih "tetangga" yang baik. Lalu bagaimana lembaran "tetangga" yang jahat?


"Tetangga" yang jahat akan hidup sengsara dan kesulitan serta dijauhkan dari nikmat iman yang merupakan nikmat terbesar dalam kehidupan manusia. Rasulullah SAW telah mempertegas dilepaskannya nikmat iman dari setiap orang yang berbuat jahat kepada "tetangga"nya sehingga dikategorikan sebagai "tetangga" jahat, suatu penegasan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi, dimana beliau bersumpah dengan menggunakan nama Allah sampai tiga kali; Seperti Hadits yang diriwayatkan oleh Muttafaq Alaihi : "Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman. "Ditanyakan kepadanya, "Siapakah di itu ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Yaitu orang-orang yang "tetangga"nya merasa tidak aman dari kejahatannya."
Sedangkan Hadits Riwayat Muslim menyebutkan, "Tidak akan masuk surga orang yang "tetangga"nya tidak merasa aman dari kejahatannya."


Begitu besar dosanya berbuat jahat terhadap "tetangga"! Setiap orang yang berbuat jahat kepada "tetangga"nya, akan dilepas dari nikmat iman serta diharamkan masuk surga.


Orang Muslim yang jujur dan bersih hatinya, akan senantiasa memperhatikah nash-nash tersebut dan hukum-hukum permanen yang sudah bersemayam dalam otaknya. Dengan demikian tidak akan pernah terlintas dalam hatinya untuk berbuat jahat kepada "tetangga", bagaimanapun keadaannya. Yang demikian itu karena berbuat jahat kepada "tetangga", baik dalam bentuk tipuan, tuduhan, kebencian maupun permusuhan, termasuk perbuatan yang berdosa besar yang menghancurkan iman dan mendapatkan tempat yang menakutkan di akhirat kelak.


Seperti yang telah diterangkan dalam beberapa hadits, bahwa "tetangga" jahat akan kehilangan iman dan musnah semua amalnya. Pernah ditanyakan kepada Rasulullah SAW, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya ada seorang yang senantiasa bangun malam dan berpuasa, berbuat baik dan bersedekah, tetapi dia senantiasa menyakiti "tetangga"nya melalui ucapan?" Rasulullah pun menjawab, "Tiada kebaikan baginya, dan dia termasuk penghuni neraka." Kemudian para sahabat berkata, "ada wanita lain yang selalu mengerjakan shalat wajib, bersedekah dengan susu yang dikeringkan, dan dia tidak pernah menyakiti satu orang pun dari "tetangga"nya." Maka Rasulullah menjawab, "Dia itu termasuk penghuni surga." (HR. Imam Bukhari).



Rasulullah SAW menyebut "tetangga" jahat sebagai orang yang mandul, seperti yang dijelaskan dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rijal (para perawi) hadits ini adalah tsiqat (dapat dipercaya) : "Ada tiga golongan orang mandul : Seorang pemimpin yang apabila kamu berbuat baik kepadanya, dia tidak bersyukur, dan apabila kamu berbuat kesalahan, dia tidak akan memaafkan. Kedua, "tetangga" jahat yang apabila melihat kebaikan, dia menguburkannya, dan apabila melihat kejahatan, dia menyebarkannya. Dan ketiga, seorang istri yang apabila engkau di sisinya akan menyakitimu, dan apabila engkau tidak berada di sisinya, dia akan mengkhianatimu."


Demikianlah serangkaian nash-nash yang melukiskan gambaran yang menyeramkan tentang "tetangga" jahat.



Orang Muslim harus selalu bersabar atas perlakuan "tetangga"nya yang menyakitkan, tidak membalas kejahatan yang dilakukan "tetangga"nya, tidak marah jika diperlakukan kurang baik oleh "tetangga", tidak menghitung kekeliruan, kekurangan dan kesalahannya; tetapi sebaliknya kita harus selalu memaafkan dan berlapang dada dengan keyakinan bahwa semua itu akan mendapatkan pahala di sisi Allah SWT, bahkan kita akan mendapatkan cinta dan ridha-Nya.



Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari menjelaskan, Rasulullah SAW bersabda : "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia tidak menyakiti "tetangga"nya."


Bergembiralah para "tetangga" yang penuh sopan, sabar, penyantun, kasih dan berlaku baik yang tidak membalas perlakuan buruk "tetangga"nya dengan perlakuan yang sama. Sesungguhnya "tetangga" seperti itu merupakan "tetangga" yang baik dan yang diridhai oleh Allah SWT.

0 komentar: