Senin, 16 Maret 2015

"HUKUM MENGUCAPKAN DAN MENJAWAB SALAM"

"Terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama akan makna "salam" dalam kalimat ‘Assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu’."



Berkata sebagian ulama bahwasanya "salam" adalah salah satu nama dari nama-nama Allah sehingga kalimat ‘Assalaamu ‘alaik’ berarti Allah bersamamu atau dengan kata lain engkau dalam penjagaan Allah. Sebagian lagi berpendapat bahwa makna "salam" adalah keselamatan sehingga maknanya ‘Keselamatan selalu menyertaimu’. Yang benar, keduanya adalah benar sehingga maknanya semoga Allah bersamamu sehingga keselamatan selalu menyertaimu.  

Kita sering mendengar bahwa memberi "salam" itu sunnah dan "menjawab"nya wajib, pernyataan itu bisa dikatakan benar, tapi tidak sepenuhnya benar, karena ada saatnya "menjawab salam" itu wajib dan ada saatnya tidak, juga ada saatnya memberi "salam" itu sunnah, dan ada saatnya haram atau makruh. Berikut ini beberapa Hadits yang menjelaskan tentang hukum "mengucapkan salam" dan "menjawab salam":

KEWAJIBAN "MENJAWAB SALAM" 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi SAW. bersabda,]

إِذَا انْتَهَى أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَجْلِسِ فَلْيُسَلِّمْ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَقُومَ فَلْيُسَلِّمْ فَلَيْسَتْ الْأُولَى بِأَحَقَّ مِنْ الْآخِرَةِ

“Apabila salah seorang kalian sampai di suatu majlis hendaklah memberikan "salam". Dan apabila hendak keluar, hendaklah memberikan"salam" . Dan tidaklah ("salam") yang pertama lebih berhak dari pada ("salam") yang kedua.” (HR. Abu Daud dan al-Tirmidzi serta yang lainnya  Hasan shahih).” Maknanya, kedua-duanya adalah benar dan sunnah.

Dari Abu Hurairah RA. berkata, aku mendengar Nabi SAW. bersabda,

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ : إذَا لَقِيته فَسَلِّمْ عَلَيْهِ ، وَإِذَا دَعَاك فَأَجِبْهُ

“Hak muslim atas muslim lainnya ada enam: apabila engkau bertemu dengannya maka "ucapkan salam", apabila dia mengundangmu maka penuhilah undangannya, . . . .” (HR. Muslim)

1.jika ada yang "mengucapkan salam" kepada kita sedang kita dalam kondisi sendiri, maka kita wajib "menjawab"nya karena "menjawab salam" dalam kondisi tersebut hukumnya adalah fardu ‘ain.

2.jika "salam" di"ucapkan" pada suatu rombongan atau kelompok, maka hukum "menjawab"nya adalah fardu kifayah.

3.Jika salah satu dari kelompok tersebut telah "menjawab salam" yang di"ucapkan" kepada mereka, maka sudah cukup.
jadi tidak usah ramai ramai "jawab"..cukup diantaranya mewakili..

4. jika hukum memulai "salam" adalah sunnah (dianjurkan) namun untuk kelompok hukumnya sunnah kifayah,

5.jika sudah ada yang "mengucapkan" maka sudah cukup.Dari Ali bin Abi Thalib, Nabi SAW. bersabda: “Sudah mencukupi untuk suatu rombongan jika melewati seseorang, salah satu darinya "mengucapkan salam".” (HR. Ahmad dan Baihaqi)

ADAB "MENGUCAPKAN SALAM" 

1. "Mengucapkan"nya Dengan Sempurna

Sangat dianjurkan bagi kita untuk "mengucapkan salam" dengan sempurna, yaitu dengan "mengucapkan", “Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu.”Hal ini berdasarkan hadits dari ‘Imran bin Hushain RA., ia berkata: “Seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW. dan "mengucapkan", ‘Assalaamu’alaikum’. Maka di"jawab" oleh Nabi SAW. kemudian ia duduk, Nabi SAW. bersabda, ‘Sepuluh’. Kemudian datang lagi orang yang kedua, memberi "salam", ‘Assalaamu’alaikum wa Rahmatullaah.’ Setelah di"jawab" oleh Nabi SAW. ia pun duduk, Nabi SAW. bersabda, ‘Dua puluh’. Kemudian datang orang ketiga dan "mengucapkan salam": ‘Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa baraakaatuh’. Maka dijawab oleh Nabi SAW. kemudian ia pun duduk dan Nabi SAW. bersabda: ‘Tiga puluh’.”  
(Hadits Riwayat Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 986, Abu Dawud no. 5195, dan At-Tirmidzi no. 2689 dan beliau meng-hasankannya).2. Memulai Salam Terlebih Dahulu

Memulai "mengucapkan salam" kepada orang lain adalah sangat dianjurkan. Hendaknya yang lebih muda "mengucapkan salam" kepada yang lebih tua, yang lewat memberi "salam" kepada yang sedang duduk, dan yang sedikit "mengucapkan salam" kepada yang banyak, serta yang berkendaraan "mengucapkan salam" kepada yang berjalan. Hal tersebut sejalan dengan hadist dari Abu Hurairah. "Pengucapan salam" yang berkendaraan kepada yang berjalan adalah sebagai bentuk syukur dan salah satu keutamaannya adalah agar menghilangkan kesombongan. Dalam hadits tersebut, bukan berarti bahwa apabila orang-orang yang diutamakan untuk memulai "salam" tidak melakukannya, kemudian gugurlah "ucapan salam" atas orang yang lebih kecil, atau yang tidak berkendaraan, dan semisalnya. Akan tetapi Islam tetap menganjurkan kaum muslimin "mengucapkan salam" kepada yang lainnya walaupun orang yang lebih dewasa kepada yang lebih muda atau pejalan kaki kepada orang yang berkendaraan, sebagaiman sabda Nabi SAW.:“Yang lebih baik dari keduanya adalah yang memulai "salam. (HR. Bukhori: 6065, Muslim: 2559)

Salah satu upaya menyebarkan "salam" diantara kaum muslimin adalah "mengucapkan salam" kepada setiap muslim, walaupun kita tidak mengenalnya. Hal ini didasari sabda Nabi SAW.: Dari ‘Abdullah bin Amr bin Ash RA., ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi SAW.: “Islam bagaimana yang bagus?” Nabi SAW. "menjawab": “Engkau memberi makan ( kepada orang yang membutuhkan), "mengucapkan salam" kepada orang yang engkau kenal dan yang tidak engkau kenal.” (HR. Bukhori: 2636, Muslim: 39) 


3. Mengulangi "Salam" Tatkala Berjumpa Lagi Walaupun Berselang Sesaat

Bagi seseorang yang telah "mengucapkan salam" kepada saudaranya, kemudian berpisah, lalu bertemu lagi walaupun perpisahan itu hanya sesaat, maka dianjurkan mengulang "salam"nya. Bahkan seandainya terpisah oleh suatu pohon lalu berjumpa lagi, maka dianjurkan "mengucapkan salam", sebagaimana sabda Nabi sSAW.:“Apabila di antara kalian berjumpa dengan saudaranya, maka hendaklah "mengucapkan salam" kepadanya. Apabila terhalang oleh pohon, dinding, atau batu (besar), kemudian dia berjumpa lagi, maka hendaklah dia "mengucapkan salam" (lagi).” (HR. Abu Dawud: 4200.)

4. Tidak Mengganggu Orang yang Tidur Dengan "Salam"nya


Dari Miqdad bin Aswad RA., beliau berkata: “Kami mengangkat jatah minuman Rasulullah SAW. (karena beliau belum datang), kemudian beliau datang di malam hari, maka beliau "mengucapkan salam" dengan "ucapan" yang tidak sampai mengganggu/ membangunkan orang tidur dan dapat didengar orang yang tidak tidur, kemudian beliau masuk masjid dan sholat lalu datang (kepada kami) lalu beliau minum (minuman kami).” (HR. Timidzi: 2719 ) 

5. Tidak Memulai "Ucapan Salam" Kepada Orang Yahudi dan Nasrani

Dari Ali bin Abi Thalib RA., Rasulullah SAW. bersabda: “Janganlah kalian "mengucapkan salam" lebih dahulu kepada Yahudi dan Nashrani, dan bila kalian bertemu mereka pada suatu jalan maka desaklah mereka ke sisi jalan yang sempit.”Hadits ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang mulia dan unggul dari yang lainnya. Jika mereka "mengucapkan salam" kepada kita, maka balaslah "salam"nya dengan ucapan ‘Wa ‘alaikum’. 

6. Berusaha Membalas "Salam" Dengan yang Lebih Baik atau Semisalnya

Maksudnya, tidak layak kita membalas "salam" orang lain dengan "salam" yang lebih sedikit. Sebagaimana Allah berfirman yang artinya:“Apabila kalian diberi "salam"/penghormatan, maka balaslah dengan yang lebih baik atau balaslah dengan yang serupa.” (QS. An-Nisa’: 86)

Maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Hukum memulai "salam" secara umum adalah sunnah. Meskipun hukumnya sunnah akan tetapi anda sangat ditekankan untuk "mengucapkan salam" kepada orang lain yang muslim ketika hendak memulai sebuah pembicaraan sebagaimana Nabi SAW. bersabda “Apabila engkau menjumpainya engkau berikan "salam" kepadanya” (HR. Muslim dan Tirmidzi).

2. Hukum "menjawab salam" adalah fardhu kifayah akan tetapi dalam kondisi tertentu hukumnya bisa menjadi fardhu ‘ain seperti dalam contoh diatas.

3. "Ucapan salam" ini bisa mendatangkan kecintaan bagi saudara anda yang muslim sebagaimana Rasulullah SAW. bersabda: ”Maukah kamu aku kutunjukkan kepada sesuatu yang apabila kamu lakukan kamu akan saling mencintai? Yaitu sebarkanlah "salam" di antara kamu” (HR. Muslim).


4. "mengucapkan salam" adalah satu dari sekian banyak penyebab seseorang bisa masuk surga. Rasulullah SAW. bersabda: ”Wahai manusia, sebarkanlah "ucapan salam", hubungkanlah tali kekerabatan, berilah makanan, dan sholatlah pada waktu malam ketika orang-orang tengah tertidur, engkau akan masuk surga dengan selamat” (HR. Muslim).

5. Dan yang terakhir, ternyata ada perbuatan yang sunnah yang lebih mulia dari pada perbuatan fardhu atau wajib yaitu memulai "salam" karena pendahuluan sesuatu terhadap sesuatu yang lain itu menandakan bahwa sesuatu tersebut memiliki keutamaan. Padahal kita telah mengetahui, bahwa perbuatan fardhu itu lebih utama dari pada perbuatan sunnah seperti sholat fardhu itu lebih utama dari pada sholat sunnah, puasa fardhu itu (Semisal puasa Ramadhan) lebih utama dari pada puasa sunnah dan contoh ini adalah dua dari sekian banyak contoh yang menarik. Bahkan ada sholat sunnah akan tetapi hukumnya wajib karena adanya sebab tertentu.

Sumber:
1. https://id-id.facebook.com/.../hukum-mengucapkan...s...
2. https://www.facebook.com/permalink.php?story...
3. muslimah.or.id/.../ucapkanlah-salam-jawablah-salam.h...
4. peutrang.blogspot.sg › Agama

Minggu, 15 Maret 2015

"KISAH MBAH MOERTODJO MENIKAH DENGAN ANAK RAJA JIN"

"Peristiwa per"nikah"an antara manusia dengan "jin" masih menjadi kontroversi di kalangan masyarakat". 


Kontroversi tentang hal itu bukan hanya terjadi pada masyarakat umum, para ulama pun saling beda pendapat. Ada yang berpendapat bahwa per"nikah"an mahluk dari dua alam berbeda ini tidak mungkin terjadi, tetapi pendapat lain mengatakan bahwa hal itu bisa terjadi jika Allah menghendaki. Sebab, "Tidak ada yang mustahil bagi Allah jika Dia telah menghendaki". Begitu dalil yang dikemukakan oleh mereka yang mempercayai fenomena yang cukup asyik diperdebatkan ini.

Peristiwa per"nikah"an dengan "jin" ini pun terjadi pada keluargaku, yaitu "Mbah Moertodjo". "Mbah Moertodjo" adalah anak dari "Mbah" Pangeran Mertonegoro, salah satu adik dari Pangeran Diponegoro". Hubungan saya dengan "Mbah Moertodjo" ini adalah saya turunan ke lima dari beliaunya.

Kisah ini berasal dari ayah saya yang mendapat ceritera dari "Mbah" Buyutnya. 

Ayah saya mengisahkan, bahwa "Mbah Moertodjo" adalah termasuk tokoh yang mbabat alas di Desa Banjarsari Kecamatan Selorejo, dahulu termasuk salah satu desa yang masuk wilayah Kecamatan Kesamben, karena pemekaran wilayah sekarang masuk wilayah Kecamatan Selorejo Kabupaten Blitar. 

Pada zaman dahulu kala. semasa "Mbah Moertodjo" masih hidup, pada suatu hari "Mbah Moertodjo" mbabati alas (menebang pohon di hutan), namun hutan itu kembali  rimbun lagi. Diulanginya lagi esok harinya, lagi-lagi hutan itu kembali rimbun seperti semula dan tidak berkurang sama sekali. Pekerjaan mbabat alas itu diulangi lagi esok harinya, namun peristiwa pertama terulang kembali. Dua kali sudah pekerjaan mbabati alas ini dikerjakan oleh "Mbah Moertodjo" dengan sia-sia. Untuk pekerjaan yang ketiga kalinya, "Mbah Moertodjo" bertemu dengan wanita yang sangat cantik di hutan ini. Wanita cantik itu menawarkan jasanya untuk membantu mbabati alas dengan persyaratan asalkan "Mbah Moertodjo" bersedia "menikah"inya. 

"Mbah Moertodjo", diam dengan sangat lama dan berpikir. Bagaimana dengan istri dan anak-anaknya kalau "Mbah Moertodjo menikah" dengan wanita yang sangat cantik ini. Namun demi pekerjaannya yang harus mbabati alas untuk tempat tinggalnya, maka "Mbah Moertodjo" menerima bantuan jasa dari wanita cantik itu dan dengan tentunya dengan menyetujui persyaratan yang telah disampaikan, yakni bersedia "menikah". Wanita yang sangat cantik ini ternyata adalah "anak" dari "Raja Jin" yang menguasai alas yang ada di tempat ini, yaitu yang sekarang menjadi Desa Banjarsari Kecamatan Selorejo Kabupaten Blitar.  

Pernikahan "Mbah Moertodjo" dengan istri pertamanya (istri manusia) mempunyai lima orang "anak", yaitu: Djosetiko, Pingi, Zaenal, Ekowongso dan Ragil). Saya merupakan keturunan dari "Mbah" Djosetiko. Sedangkan pernikahan dengan "Anak Raja Jin" ini juga memiliki "anak" yang bernama "Mbah" Djoko Umbaran. 

"Mbah" Djoko Umbaran ini, kadang menampakkan wujudnya sebagai manusia, namun hidupnya lebih banyak menghilang atau tidak bisa dilihat oleh manusia biasa. Dahulu masih sering menampakkan wujudnya sebagai manusia, namun setelah itu menghilang dari Desa Banjarsari dan tidak ada seorangpun yang mengetahui dimana keberadaannya kecuali "Mbah Moertodjo" dan istrinya. Konon ceriteranya, "Mbah" Djoko Umbaran ini mendapat tugas dari "Mbah Moertodjo" untuk mendampingi pamannya ("Mbah" Sayyed Husin) yang tinggal di Batu Ampar Pamekasan Madura.

Istrinya yang "Anak Raja Jin" ini selalu mendampingi "Mbah Moertodjo" selama hidupnya. Setelah "Mbah Moertodjo" meninggal, istrinya ("Jin") ini menunggu di Pusara "Mbah Moertodjo" di Desa Banjarsari.

Sedangkan "Mbah" Djoko Umbaran, setelah "Mbah" Sayyed Husin meninggal, beliau mengikuti "anak" turun dari "Mbah" Sayyed Husin yang berada di Batu Ampar Pamekasan Madura.

Sampai pada suatu waktu, sekitar Tahun 2009 cucu keturunan dari "Mbah" Sayyed Husin menceritakan bahwa di dekat rumahnya ada seorang keluarga yang tinggal di sebuah pohon di jalan raya yang menurut ceritera dari keluarganya, bahwa keluarga yang tinggal di pohon itu adalah keluarga dari Blitar yang masih keturunan dari Saudara "Mbah" Sayyed Husin. Alhamdulillah...... Kami sekeluarga dipertemukan dengan keluarga kami yaitu "Mbah" Djoko Umbaran yang selama ini menghilang. Walaupun tidak pernah menampakkan wujudnya, namun kami merasakan kehadirannya.

Setelah kami mengetahui keberadaan beliau ("Mbah" Djoko Umbaran) di sebuah pohon, kami menangis haru dan tidak tega, karena beliau sering menampakkan diri pada waktu malam dan hal ini sering mengakibatkan kecelakaan bagi pengendara yang melewati jalan tersebut. Kami sekeluarga akhirnya dengan seijin cucu "Mbah" Sayyed Husin tentunya, mengajak "Mbah" Djoko Umbaran untuk kembali ke keluarganya. Beliau mau tinggal di Rumah Sidoarjo.

Ibu dari "Mbah" Djoko Umbaran mengetahui kalau "anak"nya tinggal di Sidoarjo, akhirnya Ibu "Mbah" Djoko Umbaran yang selama ini menunggui Pusara "Mbah Moertodjo" di Desa Banjarsari, mengikuti pindah ke Sidoarjo berkumpul dengan "anak" dan cucu-cucunya. Kedatangan istri "Mbah Moertodjo" ini pada Bulan Ramadhan Tahun 2009 yang ditandai dengan aroma harum bunga kanthil yang luar biasa harumnya. Saya sendiri sampai menangis tersedu-sedu, karena mengingat betapa menderitanya beliau selama ini, namun selalu setia menunggu pusara suaminya dan akhirnya sekarang berkumpul dengan "anak" dan cucunya ..... 

Para pembaca boleh percaya, boleh tidak. Believe or not, up to You...... Karena kurang lebih seperti itulah ceritera dari sebagian keluarga atau "Mbah" kami. Saya tidak tahu, apakah ini sebagai kekurangan atau kelebihan dari keluarga kami, Hanya Allah yang dapat menilainya.

Wallahu'alam..... Semoga Allah selalu melindungi keluarga kami..... 

"SUJUD SYUKUR MENURUT ISLAM"

"Sujud syukur" adalah "sujud" yang dilakukan karena mendapat nikmat dari Allah SWT. tetapi harus diingat bahwa "Sujud syukur" hanya sunat hukumnya apabila dilakukan karena mendapat nikmat YANG BESAR dan JARANG2 berlaku saja. 



Contohnya apabila dapat mendirikan rumah tangga atau mendapat pekerjaan. mendapat nilai yang bagus dalam ujian juga merupakan nikmat yang besar dan tidak selalu berlaku (?) 

TETAPI sekiranya nikmat tersebut adalah yang biasa-biasa saja seperti DAPAT MAKAN atau MENDAPAT BELI TOPUP misalnya maka hukum "Sujud syukur" tidaklah sunat tetapi BIDA'AH.

Jika hajat kita telah tercapai, maka hendaklah kita mendzahirkan rasa penghargaan kita terhadap Allah melalui "Sujud syukur". "Sujud syukur" bermaksud "Sujud" yang dilakukan karena men"syukur"i nikmat Allah. "Sujud syukur" ini disunatkan kepada seseorang yang terlepas dari bahaya atau orang yang mendapat nikmat dari Allah SWT.

Abi Bakrah meriwayatkan “bahwa Nabi SAW apabila datang kepadanya sesuatu yang mengembirakan atau khabar suka, baginda terus "Sujud" berterima kasih kepada Allah”.(Riwayat Abu Dawud dan Tarmizi).

Firman Allah SWT:
Dan (ingatlah juga), ketika Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu ber"syukur", pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (Quran, surah Ibrahim, 14:7)

SEBAB-SEBAB "SUJUD SYUKUR" DILAKUKAN
 
Secara umumnya "Sujud syukur" itu dilakukan apabila seorang hamba itu mendapat nikmat atau terhindar dari suatu bencana atau mendapatkan kembali sesuatu yang telah hilang atau selamat dari merbahaya.

Dalam hal ini hukum "Sujud syukur" menurut madzhab Syafi'i dan Hanbali adalah sunat, sama ada nikmat yang diperolehi atau bencana yang dialami itu khas bagi dirinya atau bagi semua umat "Islam", seperti kemenangan atas musuh, hilangnya wabah yang merbahaya dan sebagainya. Tetapi terdapat suatu pandangan di kalangan madzhab Hanbali bahawa "Sujud syukur" hanya dilakukan bagi nikmat yang sifatnya umum untuk semua umat "Islam" dan bukan untuk nikmat yang khas.

SYARAT-SYARAT "SUJUD SYUKUR".

Menurut madzhab Syafi’i dan Hanbali disyaratkan sebagaimana hendak melakukan sholat yaitu thaharah, suci dari hadas kecil ataupun besar, menghadap kiblat dan menutup aurat.

KAIFIAT "SUJUD SYUKUR".

Cara pelaksanaanya adalah sebagai berikut:
1) Menghadap kiblat
2) Bertakbir kemudian
"Sujud" sekali dengan membaca doa sebagaimana doa "Sujud" di dalam sholat.
3) Bertakbir sekali lagi untuk bangkit dari
"Sujud", kemudian salam tanpa membaca doa tasyahud.
(untuk salam boleh dilakukan sekali)

HUKUM "SUJUD SYUKUR" PADA WAKTU YANG DILARANG MENGERJAKAN SHOLAT:

Makruh hukumnya mengerjakan "Sujud syukur" pada waktu-waktu yang dilarang mengerjakan sholat sunat seperti selepas sholat Subuh atau selepas sholat Ashar. Meskipun pada ketika itu berlaku sebab-sebab yang membolehkan mengerjakan sholat sunat. Begitu juga tidak dibenarkan mengerjakan "Sujud syukur" ketika mendengar khutbah Ju'mat.

RUKUN "SUJUD SYUKUR".

1) Berniat untuk "Sujud syukur" 
2) Membaca takbiratul ihram ketika hendak "Sujud" 
3) Satu kali "Sujud" 
4) Memberi salam sesudah "Sujud"

Sumber:
1. https://www.facebook.com/.../posts/57298272612383...
3. thelivelovela.blogspot.com/.../cara-cara-sujud-syukur-...

Sabtu, 14 Maret 2015

"SAHABAT MENURUT ISLAM"

"Dalam menjalin hubungan per"Sahabat"an dengan orang lain, manusia harus menjunjung tinggi prinsip simbiosis mutualisme (hubungan yang saling menguntungkan)." 



Dan hubungan yang semata-mata hanya untuk memperoleh ridha Allah SWT. Bukan hanya untuk tujuan tetentu yang hanya menguntungkan diri sendiri. Karena bila demikian, ikatan tersebut tidak akan kekal. Per"Sahabat"an itu akan hilang seiring tergapainya tujuan yang diinginkannya. Sebagaimana perkataan Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, “Sesungguhnya siapa saja yang senang kepadamu karena adanya keinginan, maka ia akan berpaling darimu jika telah tercapai keinginannya”.
 
"Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Perbanyaklah "Sahabat"-"Sahabat" mu’minmu, karena mereka memiliki Syafa’at pada hari kiamat”.
 
Makna "Sahabat" menurut Rasulullah SAW:
“Sebaik baik "Sahabat" di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap temannya dan sebaik baik jiran di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap jirannya.” (Hadis riwayat al-Hakim)

Dari Nu’man bin Basyir r.a., Rasulullah SAW bersabda,
“Perumpamaan persaudaraan kaum muslimin dalam cinta dan kasih sayang di antara mereka adalah seumpama satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit maka mengakibatkan seluruh tubuh menjadi demam dan tidak bisa tidur.” (Hadis riwayat Muslim)

Imam syafi’i berkata
“Jika engkau punya teman  yang selalu membantumu dalam rangka ketaatan kepada Allah maka peganglah erat-erat dia, jangan pernah kau lepaskannya. Karena mencari teman baik itu susah, tetapi melepaskannya sangat mudah sekali”


Lalu bagaimana kriteria "Sahabat" yang baik tersebut? Para ulama menjelaskan tentang "Sahabat" yang baik adalah seperti ini :

Lukman alhakim menasihati anaknya:
1. Wahai anakku setelah kau mendapatkan keimanan pada Allah, maka carilah teman yang baik dan tulus..
2. Perumpamaan teman yang baik seperti “pohon” jika kau duduk di bawahnya dia dpt menaungimu, jika kau mengambil buahnya dapat kau makan..
Jika ia tak bermanfaat untuk mu ia juga tak akan membahayakan-mu..

Ulama lain mengatakan :
1. Seorang
"Sahabat" adalah orang yang tidak ingin dirimu menderita, akan terus memberimu semangat ketika engkau sedang terpuruk.
2. Tidak ikut mencaci ketika orang lain mencacimu

Menurut Imam al-Ghazali ada dua belas kriteria"Sahabat" :
1. Jika kau berbuat baik kepadanya, maka ia juga akan melindungimu.
2. Jika engkau merapatkan ikatan per
"Sahabat"an dengannya, maka ia akan membalas balik per"Sahabat"anmu itu.
3. Jika engkau memerlukan pertolongan darinya, maka ia akan berupaya membantu sesuai dengan kemampuannya.
4. Jika kau menawarkan berbuat baik kepadanya, maka ia akan menyambut dengan baik.
5. Jika ia memproleh suatu kebaikan atau bantuan darimu, maka ia akan menghargai kebaikan itu.
6. Jika ia melihat sesuatu yang tidak baik dari dirimu, maka akan berupaya menutupinya.
7. Jika engkau meminta sesuatu bantuan darinya, maka ia akan mengusahakannya dengan sungguh-sungguh.
8. Jika engkau berdiam diri (karena malu untuk meminta), maka ia akan menanyakan kesulitan yang kamu hadapi.
9. Jika bencana datang menimpa dirimu, maka ia akan berbuat sesuatu untuk meringankan kesusahanmu itu.
10. Jika engkau berkata benar kepadanya, niscaya ia akan membenarkanmu.
11. Jika engkau merencanakan sesuatu kebaikan, maka dengan senang hati ia akan membantu rencana itu.
12. Jika kamu berdua sedang berbeda pendapat atau berselisih paham, niscaya ia akan lebih senang mengalah untuk menjaga.


Dalam "Islam", faktor memilih "Sahabat" amat dititik-beratkan. Hubungan per"Sahabat"an adalah hubungan yang sangat mulia, kerana teman atau "Sahabat" berperanan dalam membentuk personaliti individu. Ada teman yang sanggup bersusah-payah dan berkongsi duka bersama kita, dan tidak kurang juga teman yang nampak muka semasa senang dan hanya sanggup berkongsi kegembiraan saja.

Terdapat ayat yang mengisyaratkan mengenai peranan dan pengaruh teman, antaranya firman-Nya yang artinya:
“Wahai orang yang beriman! Bertakwalah dan hendaklah kamu bersama-sama orang yang bersifat benar.” (QS. at-Taubah, ayat 119)

Pendek kata "Sahabat" dapat menentukan corak hidup kita. Justeru, jika salah pilih "Sahabat" kita akan merana dan menerima akibatnya. Sesuai dengan hadits Rasululah SAW. yang artinya:
“Seseorang itu adalah mengikut agama temannya, oleh karena itu hendaklah seseorang itu meneliti siapa yang menjadi temannya.” (HR. Abu Daud).

Hadits al-Bukhari dari Abu Musa al-Asy'ari, yang artinya:
“Diumpamakan teman yang soleh dan teman yang jahat ialah seperti (berteman) dengan penjual minyak wangi dan tukang besi. Penjual minyak wangi tidak akan mensia-siakan anda, sama juga anda membelinya atau hanya mendapat bau harumannya. Tukang besi pula boleh menyebabkan rumah anda atau baju anda terbakar, atau mendapat bau busuk.”

Dalam memilih "Sahabat" kita hendaklah memilih "Sahabat" yang baik agar segala matlamat dan hasrat untuk memperjuangkan "Islam" dapat dilaksanakan bersama-sama "Sahabat" yang mulia.


Sebagai remaja yang terlepas dari pandangan ayah ibu berhati-hatilah jika memilih "Sahabat". Karena "Sahabat", kita bahagia tetapi "Sahabat" juga dapat menjerumuskan kita. Setelah kita dewasa, kita juga perlu berhati-hati memilih "Sahabat" karena kita tidak mau "Sahabat"-"Sahabat" yang melalaikan kita terhadap Maha Pencipta. "Sahabat" yang baik membantu kita ke arah pencapaian matlamat, yaitu kebahagiaan di dunia dan juga di akhirat. 

Dalam kitab al-Hikam disebutkan, “Jangan berteman dengan seseorang yang tidak membangkitkan semangat taat kepada Allah, amal perbuatannya dan tidak memimpin engkau ke jalan Allah.” 

Dalam satu hadits yang artinya: “Seseorang akan mengikuti pendirian (kelakuan) temannya, kerana itu tiap orang harus memilih siapakah yang harus didekati sebagai kawan (teman).”

Sufyan Astsaury berkata, “Siapa yang bergaul dengan orang banyak harus mengikuti mereka, dan siapa mengikuti mereka harus bermuka-muka pada mereka, dan siapa yang bermuka-muka kepada mereka, maka binasalah seperti mereka pula.”

Hati-hatilah atau tinggalkan saja "Sahabat" seperti di bawah:
1. "Sahabat" yang tamak: ia sangat tamak, ia hanya memberi sedikit dan meminta yang banyak, dan ia hanya mementingkan diri sendiri.
2.
"Sahabat" yang hipokrit: ia menyatakan ber"Sahabat" berkenaan dengan hal-hal lampau, atau hal-hal mendatang; ia berusaha mendapatkan simpati dengan kata-kata kosong; dan jika ada kesempatan membantu, ia menyatakan tidak sanggup.
3.
"Sahabat" pengampu: Dia setuju dengan semua yang kamu lakukan tidak kira betul atau salah, yang parahnya dia setuju dengan hal yang tidak berani untuk menjelaskan kebenaran, di hadapanmu ia memuji dirimu, dan di belakangmu ia merendahkan dirimu.
4.
"Sahabat" pemboros dan suka hiburan: ia menjadi kawanmu jika engkau suka pesta, suka berkeliaran dan ‘melepak’ pada waktu yang tidak sepatutnya, suka ke tempat-tempat hiburan dan pertunjukan.

Ali bin Abi Thalib r.a. berkata,
“Sejahat-jahat teman ialah yang memaksa engkau bermuka-muka dan memaksa engkau meminta maaf atau selalu mencari alasan.”

Kemungkinan engkau berbuat kekeliruan (dosa), maka ditampakkan kepadamu segala kebaikan, oleh karena per"Sahabat"anmu kepada orang yang jauh lebih rendah akhlak (iman) daripadamu.

Dalam sebuah hadits ada keterangan : “Seorang itu akan mengikuti pendirian "Sahabat" karibnya, kerana itu hendaknya seseorang itu memperhatikan, siapakah yang harus dijadikan kawan.”

Menurut ahli syair pula : “Barang siapa bergaul dengan orang-orang yang baik, akan hidup mulia. Dan yang bergaul dengan orang-orang rendah akhlaknya, pasti tidak mulia.”

Ber"Sahabat" dengan yang lebih rendah budi dan imannya sangat berbahaya, sebab per"Sahabat"an itu saling pengaruh-mempengaruhi, percaya-mempercayai sehingga dengan demikian sukar sekali untuk dapat melihat dan memperbaiki kesalahan "Sahabat" yang kita sayangi, bahkan kesetiaan "Sahabat" akan membela kita dalam kesalahan dosa kekeliruan itu, yang dengan itu kita pasti akan binasa karenanya.

Hati-hatilah memilih "Sahabat", karena "Sahabat" dapat menjadi cermin peribadi seseorang. Apa pun ber"Sahabat"lah kerana Allah SWT untuk mencari ridha-Nya.

Sumber:
1. najahijab.tumblr.com/.../ciri-ciri-sahabat-sejati-dalam-i...
2. https://www.facebook.com/.../posts/38044317873996..
3. https://www.islampos.com/pentingnya-seorang-sahaba...
8. laely.widjajati.facebook/Ketua FKPI Sidoarjo.....


MusicPlaylistView Profile