Rabu, 06 Juli 2011

"BERAPA UMUR ANDA?"

"Saya tidak tertarik dengan "umur". Orang yang mengatakan tentang "umur"nya adalah tolol. Anda adalah setua yang anda pikirkan." (Elizabeth Arden).

Mata anda cerminan "umur" anda. Mata berbicara sejuta makna, juga tentang "umur" anda. Orang akan mencoba menerka "umur" anda, melalui mata anda.

Berapapun  "umur", pasti suatu saat akan berujung pada ketiadaan alias kematian. Jika kematian adalah sebuah kosa kata yang paling ditakuti oleh semua orang. Maka, tidak bagi orang-orang shaleh. Bagi mereka, kematian adalah kepulangan yang selalu dirindukan. Kerinduan untuk betemu sang kekasih, Rabbnya.

"Sebaik-baik manusia adalah siapa yang panjang "umur"nya dan baik pula amalnya, dn seburuk-buruk manusia adalah siapa yang panjang "umur"nya dan buruk pula amalnya." (HR. At-Tirmidzi).

Selasa, 05 Juli 2011

"Perawatan Kuku"

"Kuteks warna pink yang lembut cocok untuk samarkan bentuk "kuku" anda yang lebar. Hindari kuteks warna gelap seperti plum, merah tua atau coklat."


Hindarilah kuteks warna terang seperti oranye dan merah terang untuk bentuk "kuku" pendek. Pilihlah warna kecoklatan senada dengan warna kulit anda.


Sabtu, 02 Juli 2011

"AKAR PENYEBAB KEMISKINAN DAN PNPM"

"Walaupun "kemiskinan" banyak dibicarakan, diidentifikasi dan dirumuskan, namun ternyata hanya terbatas pada gejala-gejalanya saja (rumusan "kemiskinan")."


Diskusi mengenai akar permasalahan atau penyebab "kemiskinan" hampir selalu dihindari atau malah sering ditabukan karena akar utama penyebab "kemiskinan" adala justru karena ketidak adanya keadilan di masyarakat dan ketidak-adilan ini jelas akibat dari:
1. Ketidak-mampuan para pengambil keputusan untuk menegakkan keadilan.
2. Menipisnya kepedulian dan meningkatnya keserakahan di masyarakat.

Semua itu menunjukkan adanya gejala serius dari lunturnya nilai-nilai luhur dari para pelaku pembangunan (pengambil keputusan dan masyarakat), sehingga sebagai manusia kita tidak berdaya untuk menjadi pelaku moral (melemahnya moral capability). Situasi ini tentu saja menjadi tanggung jawab kita bersama; pemerintah sebagai pengawal dan penegak keadilan dan kita semua sebagai masyarakat warga yang saling mengasihi.

Mampukah pemerintah menciptakan kebijakan yang adil yang mampu merediatribusikan asset nasional secara adil dan melakukan koreksi terhadap ketimpangan sosial yang ada? Yang sangat menyedihkan --- Berbagai upaya penanggulangan atau pemberantasan "kemiskinan" adalah justru melestarikan ketidak-adilan tersebut dengan menolong korban-korban ketidak-adilan tersebut supaya mampu bertahan sebagai korban dan tidak mencoba menyelesaikan akar persoalannya.  

Lihat saja apa yang selama ini kita lakukan? Benarkah kita memerangi "kemiskinan" atau kita memerangi orang "miskin".? "Kemiskinan" yang kita perangi atau simbol "kemiskinan" yang kita perangi? Misalnya saja:

1. Pedagang Kaki Lima (PKL) harus diberantas.
Apakah yang sebenarnya terjadi? PKL bersih kota tertib, tetapi PKL kehilangan lapangan pekerjaan dan menjadi makin "miskin". Persoalan siapa yang diselesaikan sebenarnya? Apakah persoalan "kemiskinan" selesai?

2. Becak dilarang beroperasi.
Jalan-jalan jadi bersih becak, kesemrawutan mobil, bus, mikrolet tetap. Tukang becak kehilangan mata pencaharian. Ibu-ibu terpaksa mbonceng ojek dari lingkungan perumahan. Apakah persoalan "kemiskinan" selesai?

3. Lingkungan kumuh harus diberantas.
Lingkungan kumuh menjadi ruko yang indah dan rapi, masyarakat "miskin" penghuni lingkungan kumuh tergusur oleh keputusan politk dan tercabut dari sumber nafkahnya. Mungkin hal tersebut tidak perlu terjadi, karena masyarakat "miskin" dapat tinggal di rumah susun yang sengaja disediakan sebagai bagian dari program peremajaan tersebut. Yang terjadi tetap saja masyarakat "miskin" yang dirumahkan di rumah susun  tersebut tergusur lagi oleh tekanan ekonomi dan sosial budaya. Apakah persoalan "kemiskinan" selesai?

Terperangkap dalam upaya meningkatkan penghasilan, padahal orang "miskin" tidak berbicara penghasilan (income). Kegagalan yang terjadi disadari karena tidak memiliki aset-aset utama yang dibutuhkan untuk menunjang kehidupan (fisik, kualitas manusia, sosial, lingkungan dan akses). Adakah program pengentasan "kemiskinan" yang menjamin masyarakat "miskin" memiliki aset-aset tersebut. Akhirnya berbagai fasilitas kredit yang ditawarkan hanya dimanfaatkan oleh elit kampung/desa. Apakah persoalan "kemiskinan" selesai? Selama tidak ada keadilan, maka keserakahan akan tetap merajalela dan "kemiskinan" akan tetap terjadi dimana-mana.

Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat ("PNPM") pada dasarnya merupakan alternatif solusi atau jawaban dari upaya pemecahan masalah dalam menanggulangi "kemiskinan". Pemecahan masalah gharus diawali dengan proses menemukenali penyebab "kemiskinan" termasuk akar masalahnya. Akar masalah "kemiskinan" pada dasarnya merupakan akibat dari sikap mental para pelaku pembangunan yang negatif dan pandangan-pandangan yang merugikan kelompok mayarakat tertentu (warga "miskin").

Tujuan "PNPM" adalah:
1. Terwujudnya masyarakat berdaya dan madiri, yang mampu mengatasi berbagai persoalan "kemiskinan" di wilayahnya.
2. Pemerintah Daerah menerapkan model pembangunan partisipatif yang berbasis kemitraan dan kelembagaan masyarakat.
3. Ketepatan manfaat program kepada kelompok sasaran (masyarakat "miskin").
4. Mewujudkan harmonisasi dan sinergi berbagai program pemberdayaan dalam rangka penanggulangan "kemiskinan".

"Kemiskinan" terjadi karena lunturnya nilai-nilai kemanusiaan, maka dari itu upaya penanggulangan "kemiskinan" seharusnya bertumpu pada pemulihan kembali nilai-nilai kemanusiaan dengan cara pencarian dan pengorganisasian orang-orang baik sehingga dapat mengoptimalkan tingkat penyelesaian pada tingkatan "kemiskinan" berikutnya.

Manusia pada dasarnya baik, hanya saja selama ini kebaikannya tertutup oleh sistem yang ada di lingkungan kita. Maka dari itu tugas kita adalah memunculkan orang-orang baik tersebut supaya dapat berkiprah dalam msyarakat khususnya dalam penanggulangan "kemiskinan".

"KEMISKINAN - PENYEBAB DAN PEANGGULANGANNYA"

"Penyebab "kemiskinan" terdiri dari dua faktor, yakni: Faktor internal dan faktor eksternal."


Faktor penyebab "kemiskinan" secara internal, adalah:
1. Lunturnya nilai-nilai kemanusiaan dan kemasyarakatan.
2. Lemahnya SDM (pengetahuan, sikap mental dan keterampilan).
3. Cacat mental/fisik dan lain-lain.

Faktor penyebab "kemiskinan" secara eksternal, adalah:
1. Tidak mendapatkan pendidikan yang memadai.
2. Sulit mendapat lapanganpekerjaan.
3. Banyak tanggungan atau anggota keluarga dan lain-lain.

Kebutuhan warga "miskin" yang perlu dipenuhi, adalah:
1. Mendapat pelayanan atas hak-haknya.
2. Mendapat perlindungan.
3. Mendapat motivasi hidup.
4. Mendapat perlakuan yang sama.
5. Peningkatan SDM.
6. Pelayanan kesehatan yang memadai.
7. Pakaian dan rumah yang layak.
8. Lingkungan yang sehat.
9. Mencukupi kehidupan keluarga.
10.Penghasilan yang memadai.

Yang harus menanggulangi masalah "kemiskinan", adalah:
"Kemiskinan" adalah permasalahan bersama dalam masyarakat yang harus diselesaikan secara bersama-sama pula oleh segenap komponen masyarakat, yalni:
1. Warga "miskin" itu sendiri.
2. Masyarakat secara keseluruhan, laki, perempuan, tua muda, kaya "miskin", pejabat rakyat.
3. Pemerintah.

Cara penanggulangan "kemiskinan" harus terbangun kebersamaan antar seluruh komponen masyarakat untuk melakukan gerakan penanggulangan "kemiskinan" secara mandiri, yaitu dengan:
1. Memandang "kemiskinan" sebagai masalah bersama.
2. Melakukan analisa potensi dan kelemahan, merumuskan dan melakukan aksi bersama.

Jumat, 01 Juli 2011

"KEMISKINAN - MASALAH MULTI DIMENSI"

"Keniskinan" adalah suatu kondisi ketidak-berdayaan atas seseorang atau sekelompok orang dalam menyelengarakan kebutuhan hidupnya secara manusiawi."


"Kemiskinan" merupakan masalah "multi dimensi" yang saling terkait dan saling mempengaruhi satu dengan yang lain, yakni:
1. "Dimensi" Ekonomi.
2. "Dimensi" Sosial.
3. "Dimensi" Politik.
4. "Dimensi" Aset dan Akses. 

Ciri "kemiskinan" ditinjau dari "dimensi" ekonomi:
a. Pakaian kumuh.
b. Makanan tidak bergizi.
c. Rumah tidak sehat.
d. Penghasilan tidak menetap.

Ciri "kemiskinan" ditinjau dari "dimensi" politik:
a. Tidak memiliki akses ke sumber kunci.
b. Tidak terlibat dalam pengambilan keputusan.
c. Tidak memiliki daya tawar.
d. Keberadaan usahanya tidak diakui oleh pemerintah.

Ciri "kemiskinan" ditinjau dari "dimensi" sosial:
Tidak dapat berperan dalam kehidupan sosial/kelembagaan masyarakat, karena:
a. Kurang asuhan.
b. Minder, apatis dan fanatisme.

Ciri "kemiskinan" ditinjau dari "dimensi" aset dan akses:
a. Tidak memiliki aset fisik.
b. Tidak memiliki SDM.
c. Tidak memiliki sosial.
d. Tidak memiliki lingkungan.
e. Tidak memiliki akses ke berbagai pusat pengambilan keputusan.

"MASJID TIBAN TUREN MALANG - NAN MEGAH"

"Pada tanggal 23 April 2011, sekitar pukul 11.30 WIB, rombongan kami sampai di "Masjid Tiban Turen Malang". Bagitu ramainya tempat wisata ini."


Ini bukan mimpi. saya dan rombongan benar-benar disana. Bangunan 10 lantai (tingkat)  yang nyata,10 tingkat yang menakjubkan. Aslinya bernama  Ponpes Bihaaru Bahri 'Asali Fadlaailir Rahmah, dan selayaknya pondokan, pastinya di dalamnya terdapat "masjid".  

Namun..... ini bukan “masjid" agung, ataupun “Masjid Tiban” sebagaimana cerita-cerita yang selama ini tersebar di masyarakat ataupun sebuah surat kabar lokal yang mengada-ada. Bangunan ini murni pondokan. Ini hanya sekedar pondok pesantren (ponpes), tapi arsitektur bangunan inilah yang membuat pondok pesantren ini lain dari pada yang lain.

Menurut guide yang mengantarkan rombongan saya keliling, Ponpes ini dibangun sejak tahun 1978 di areal tanah seluas 4 ha, dan kira-kira baru 1,5 ha dari luas tanah itu yang digunakan untuk bangunan utamanya. Arsitektur bangunannya sangat menawan. Sangat serius. Ini terlihat di setiap detail ornamennya. Banyak orang tidak menyangka, kalau di sebuah desa kecil, yaitu desa Sananrejo, "Turen", Kabupaten "Malang" berdiri sebuah bangunan yang arsitekturnya dapat membuat para pengunjung  terkagum-kagum. 

Arsitektur yang dipakai bukan hasil ilmu dan imajinasi seorang arsitek yang handal dan termashur. Namun merupakan hasil istikharah si pemilik pondok, yaitu KH Ahmad Bahru Mafdlaludin Soleh. “Jadi kita tak tahu kapan pembangunan ponpes ini selesai. Sekarang sudah 10 lantai dibangun, bisa jadi nanti ditambah atau bisa-bisa dikurangi. Semua tergantung istikharah Kyai Ahmad. Kyai Ahmad juga yang ngepaskan amalan-amalan. Mungkin karena itu, di luar sana muncul berita bahwa bangunan ini adalah "Masjid Tiban". Padahal ini bukan "masjid" tapi ponpes, “ tutur salah seorang santri yang bertugas untuk mengantarkan rombongan saya berkeliling gedung yang sangat "megah" ini.

Saya dan rombongan sangat menikmati indahnya keagungan bangunan "megah" yang sangat terkenal dengan nama  "Masjid Tiban" yang begitu "megah" ini. Alhamdulillah..... Saya masih diberi kesempatan untuk menikmati wisata religi yang sangat indah ini. Kita melaksanakan sholat Jama' Dhuhur dan Ashar di kompleks "Masjid Tiban". Setelah sholat, kami menikmati makan siang terlebih dahulu di kompleks wisata ini.  Setelah itu kita masuk untuk berkeliling "Masjid Tiban", yang terdiri dari 10 lantai (tingkat). Semua anggota sangat menikmati wisata religi ini. Kami berkeliling dan sambil menikmati wisata belanja di "Masjid Tiban" ini. Berbagai macam barang dijual di lantai 7,8 dan 9. Ada aksesoris, pakaian, mainan, makanan, minuman dan lain-lain. Rombongan kami sangat menikmati wisata ini.

Di pintu gerbang utama, terdapat dua buah bangunan mirip guci yang sangat besar dan tinggi berwarna oranye dan biru. Keduanya dipakai untuk pos. Di sisi kanan terletak sebuah taman yang dikelilingi pagar seperti taman bergaya Persia atau India. Di lantai dasar, memasuki pintu utama, lewat lorong yang di sisi kiri kanannya penuh ornamen. Ornamen itu mirip batik dipenuhi bentuk daun atau bunga. Di sisi lain juga ada kaligrafi. Di salah satu lantai juga ada beberapa ruang mirip gua, dipenuhi batu-batu yang diterangi lampu. Sementara di sisi kiri-kanannya beberapa akuarium berjajar dipenuhi berbagai ikan hias.

Semakin lama menyusuri bangunan ini semakin banyak  menemukan keindahan. Ada sebuah kolam lengkap dengan perahu yang penuh hiasan yang biasa digunakan untuk acara foto pre-wedding bagi pasangan calon pengantin. Di pinggir pondok juga ada taman margasatwa. Di situ ada beberapa pasang kijang dan beberapa ekor burung cendrawasih.Keindahan lingkungan gedung ini sangat diperhatikan. Hal ini untuk membuat para pengunjung merasa kerasan berada di tempat ini.

Konon ada cerita yang berkembang di masyarakat, mengapa bangunan ini dinamakan "Masjid Tiban". Pada suatu hari ada seorang dermawan yang menyumbangkan bahan material bangunan. Keesokan harinya bahan bangunan itu telah habis tidak tersisa. Ternyata.... Bahan-bahan bangunan tersebut telah dijadikan sebuah bangunan menyerupai sebuah "masjid" yang dikerjakan oleh seluruh santri di pondok ini dalam waktu semalam. Maka tersiarlah keesokan harinya bahwa di lokasi ini ada "Masjid Tiban". Wallahu'alam.......  Dan setelah itu berdatanganlah masyarakat dari berbagai penjuru untuk membuktikan bahwa di tempat ini ada "Masjid Tiban".

Satu lagi, sebagai ciri khas dari "Masjid Tiban" ini adalah dalam penggalian dana untuk pembangunannya, yaitu memiliki 3 (tiga) prinsip, yaitu:
1. Tidak minta-minta.
2. Tidak tamak'
3. Tidak hutang.
Jadi seluruh bahan bangunan dari "Masjid Tiban" ini adalah dari bantuan secara sukarela yang dikelola oleh pengurus Ponpes Bihaaru Bahri 'Asali Fadlaailir Rahmah. 

Berikut ini gambar-gambar yang berhasil saya ambil pada waktu berada di "Masjid Tiban" yang sangat "megah" ini:
 






 


 


 

 
 
 

 
  
 
 
 
 

 

 

 








Sabtu, tepatnya tanggal 2 Juli 2011, saya berkunjung yang kedua kalinya ke Ponpes Bihaaru Bahri 'Asali Fadlaailir Rahmah, yang terkenal dengan nama "Masjid Tiban" itu. Kali ini saya pergi bersama ayah saya dan teman-temannya. Wisata kali ini dengan tujuan untuk meyakinkan bahwa KH Ahmad Bahru Mafdlaludin Soleh (sang pendiri pondok) adalah sebenarnya masih ada hubungan darah keluarga dengan keluarga saya. Ternyata memang benar bahwa beliau adalah anak turun dari Mbah Syeh Husen (yang dimakamkan di Bangkalan) dari istri kedua. Perlu diketahui bahwa Mbah Syeh Husen mempunyai 3 (tiga) orang istri:
1. Istri Pertama, yang anak turunnya berada di Batu Ampar Pamekasan Madura.
2. Istri Kedua, yang anak turunnya antara lain berada di Turen Malang.
3. Istri Ketiga, yang anak turunnya antara lain berada di Singaraja Bali.

Mbah Syeh Husen, merupakan anak pertama dari Pangeran Mertonegoro (dimakamkan di Lumajang). Pangeran Mertonegoro (adik Pangeran Diponegoro) ini mempunyai 3 (tiga) orang anak:
1. Mbah Syeh Husen (dimakamkan di Bangkalan).
2. Mbah Moertodjo (dimakamkan di Blitar).
3. Mbah Dewi Sekardadu (dimakamkan di Sidoarjo).

Alhamdulillah..... Dari Ponpes Bihaaru Bahri 'Asali Fadlaailir Rahmah ini, bisa kami temukan lagi keluarga kami yang selama ini sebenarnya kami cari-cari. Kami tidak menyangka dibalik "Masjid Tiban" yang terkenal ini, kami dapat menemukan keluarga kami yang tercecer. Mudah-mudahan amalan beliau-beliau ini diridhai dan mendapatkan pahala dari Allah SWT. Dengan adanya "Masjid Tiban" ini beliau dapat memberikan kesenangan/kebanggaan kepada masyarakat, terutama bagi umat Islam. Semoga anak cucu beliau menjadi pejuang-pejuang yang tangguh demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Selasa, 28 Juni 2011

"HIDUP SANGAT BERARTI"

"Alam semesta adalah transformasi; "Hidup" kita adalah tergantung bagaimana kita memandangnya."(Marcus Aurelius Antonius).

Bayangkan diri anda di ambang pintu sukses yang tak tertandingi. Ke"hidup"an utuh yang penuh kemuliaan terhampar di hadapan anda. Capailah! Capailah! (Andrew Carnegie).

Visi yang anda muliakan dalam pikiran anda, idealisme yang anda hayati dalam hati anda.... ini akan membangn "hidup" anda. Menjadi inilah anda nantinya. (James Allen).
Di dalam diri kita masing-masing terdapat kuasa "hidup", roh, prinsip, inti, potens yang belum digenapi, yang tidak memberi kita istirahat, kedamaian, hingga dinyatakan. (Peter Nivio Zarlenga).
Prinsip ke"hidup"an adalah bahwa "hidup" ini memberi respons dengan menyesuaikan diri; ke"hidup"an anda akan menjadi seperti yang telah anda putuskan. (Raymond Charles Barker).

Mengatakan 'Ya' artinya bangun dan mengamalkan keyakinan bahwa anda dapat menciptakan makna dan tujuan dalam apapun yang anda alami dalam "hidup" ini. (Susan Jeffers, Ph. D).

Satu-satunya hal yang menghalangi seseorang untuk mendapatkan apa yang diinginkannya dalam "hidup" ini seringkali hanyalah kemauan untuk mencobanya dan iman untuk meyakini bahwa itu mungkin. (Richard M. Devos).

"Hidup" ini bukanlah terdiri terutama dari fakta-fakta dan kejadian-kejadian. "Hidup" ini terdiri terutama dari badai pikiran yang selamanya berkecamuk dalam kepala seseorang. (Mark Twain).

Hanya dengan satu gagasan besar saja, "hidup" anda dapat diubah total. (Earl Nightingale).

"Hidup" bukanlah semata-mata bernafas, melainkan bertindak; memanfaatkan organ-organ tubuh kita, indera kita, kemampuan-kemampuan kita, semua bagian diri kita yang memberikan perasaan eksis kepada kita. (Jean-Jacques Rousseau).

Belajar untuk "hidup" sedemikian rupa sehingga hasilnya membahagiakan anda.

Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberi anda kegembiraan yang tak disangka-sangka sebelum tiap matahari terbenam dalam "hidup" anda.

Jika anda dapat mengambil hari ini dan mengambil sedikit sinar matahari dan menaburkan ke dalamnya, akan mendapatkan berkah ke"hidup"an yang nyata --- walaupun hanya diri anda sendiri.

Biarkanlah impian anda, bukan penyesalan, yang memerinyah "hidup" anda.

Impian adalah tanda bahwa Tuhan bekerja dalam "hidup" anda. Khususnya jika immian itu untuk membantu orang lain atau melakukan sesuatu yang baik yang tidak dilakukan oleh orang lain.

Aku mencintaimu dalam nafasku, senyumku, air mataku, semua ke"hidup"anku. (Elizabeth Barrett Browning).

Hanya ada satu kebahagiaan dalam ke"hidup"an, untuk mencintai dan dicintai. (George Sand).

Aku mencintainya sehingga bersamanyaaku dapat menanggung semua penderitaan, tanpa dirinya ke"hidup"anku tidak ada artinya. (John Milton).

Tidak ada yang lebih indah dalam ke"hidup"an ini selain dari saat kita merasakan cinta, merasakan gerakan sayapnya yang lmbut. (Henry Wadsworth Longfellow).

Kualitas "hidup" seseorang akan tergantung pada komitmennya untuk meraih kesuksesan, tak peduli dalam bidang apa mereka melakukannya. (Vince Lombardi).

Aku tak bisa membayangkan seseorang yang tidak memberikan segala yang dia miliki dalam permainan "hidup" ini dapat meraih kesuksesan. (Walter Cronkite).

Tak ada hal lain dalam ke"hidup"an seseorang seperti suatu hari yang tidak penting. (Alexander Woollcott).

Tujuan utama kita dalam "hidup" adalah menjadi seseorang yang dapat membuat kita melakukan apa yang mampu dan bisa kita lakukan. (Ralph Waldo Emerson).

Satu jam dalam "hidup", yang dipenuhi oleh berbagai tindakan yang berisiko, sama berartinya dngan satu tahun dengan hanya mengamati tindakan serta sikap yang baik yang dilakukan oleh orang lain, di mana manusia mencari sesuatu melalui keberadaannya, seperti air yang mengalir perlahan di rawa, tanpa penghormatan tanpa pengamatan. (Sir Walter Scott).

Kenikmatan terbesar dalam "hidup" adalah melakukan hal-hal yang orang-orang pikir kita tak mampu melakukannya. (Walter Gagehot).

Hal terpenting dari seseorang adalah apa yang ia percaya akan keberadaannya. Hal ini yang membuatnya menjadi seseorang seperti ia saat ini, hal yang mengatur serta meng"hidup"inya, hal yang membuatnya terus maju dalam menghadapi situasi yang tak menentu, hal yang memberinya ketahanan dan semangat. (Hugh Stevenson Tigner).

Orang-orang yang dapat menghadapi "hidup" adalah mereka yang bangkit dan mencari keadaan seperti yang mereka inginkan, dan jika tidak menemukannya, mereka akan menciptakan keadaan tersebut. (George Bernard Shaw).

Jika kau ingin berhasil dalam "hidup", jadikan keteguhan hati sebagai sahabatmu, pengalaman sebagai penasihatmu yang bijaksana, kewaspadaan sebagai saudara tuamu dan harapan sebagai pelindungmu. (Joseph Addison).

"Hidup"lah dengan berani dan tak kenal rasa takut. Rasakan kenikmatan berada dalam sebuah kompetisi---dengan menunjukkan yang terbaik tang ada dalam dirimu. (Henry Kaiser).

Adalah hal yang lucu tentang "hidup" ini. Jika kau menolak menerima sesuatu, maka kau akan seringkali mengalaminya. (Somerset Mahgham).

Dia yang tak cukup berani mengambil risiko tak akan mencapai apa pun dalam "hidup" ini. (Muhammad Ali).

Sesungguhnya tak ada yang salah dalam "hidup" ini --- yang ada hanyalah pelajaran. (Anonim).

Apakah "hidup" ini akan berkerut atau berkembang akan sangat tergantung pada besarnya semangat seseorang. (Anasis Nin).

Ambillah kesempatan! "Hidup" ini adalah kesempatan. Ia yang melangkah paling jauh adalah seseorang yang mau bertindak dan berani. (Dale Carnegie).

Setiap tindakan yang kita lakukan dalam "hidup" akan menyentuh kawat-kawat yang akan bergetar dalam keabadian. (Edwin Hubbel Chapin).

Adalah perlu untuk selalu mencoba melakukan sesuatu lebih dari yang diharapkan, hal ini harus berlangsung terus dalam "hidup". (Christine, Ratu Swedia).

Kenikmatan tertinggi dalam "hidup" adalah mampu melakukan hal-hal yang kata orang kau tak mampu lakukan. (Anonim).

Kenyataannya adalah bahwa "hidup" ini berat dan memuaskan atau mudah dan tidak memuaskan. (Richard Leider).

Tak ada yang lebih mengagumkan dan menyenangkan dalam "hidup" ini dari pada melihat seseorang yang telah berubah --- tak sekedar berubah, tetapi berubah menjadi lebih baik. (Arthur Gordon).

Apa yang tampak sebagai sebuah kegagalan bisa saja merupakan hal yang nantinya sangat menentukan dalam  membantumu mencapai keberhasilan "hidup". (Srully Blotnick).

Tak ada sesuatu yang bagus dan hebat terjadi dalam "hidup" dan dalam atletik kecuali dengan kerja keras yang disertai usaha. Keberhasilan yang didapat dengan jalan pintas hanya bersifat sementara. (Roger Staubach).

Seseorang memiliki antusiasme selama 30 menit, yang lain selama 30 hari, tetapi orang yang memilikinya selama 30 tahunlah yang akan mencapai kesuksesan dalam "hidup". (Edward B. Butler).

Prestasi tertinggi manusia adalah dapat memanfaatkan kesempatan serta sarana yang ada dalam "hidup" ini. (Vauvenargues).

Orang yang memiliki keteguhan hati akan memulai keberhasilan "hidup" saat orang lain berakhir dalam kegagalan. (Edward Eggleston).

Janganlah "hidup" dalam ketakutan akan apa yang akan terjadi pada masa mendatang. "Hidup"lah dalam antisipasi akan kesempatan baru yang ada dalam masa depan tersebut. (Anonim).

Satu-satunya kenikmatan dalam "hidup" ini adalah memulai sesuatu. (Cesare Pavese).

Lakukanlah lebih dari sekedar ada di dunia ini, "hidup"lah. Lakukanlah lebih dari sekedar menyentuh, rasakan. Lakukanlah lebih dari sekedar melihat, perhatikan. Lakukanlah lebih dari sekedar membaca, serap. Lakukanlah lebih dari sekedar mendengar, simak. Lakukanlah lebih dari sekedar berpikir, pikirkan dengan mendalam. Lakukan lebih dari sekedar bicara, katakan sesuatu. (John H. Rhoades).

Satu dari kompensasi paling indah dalam "hidup" ini adalah bahwa tak ada orang yang secara tulus mendorong orang lain tanpa menolong dirinya sendiri. (Ralph Waldo Emerson).

Setiap panggilan "hidup" itu besar jika dikejar dengan baik. (Oliver Wendell Holmes). 


MusicPlaylistView Profile