Sabtu, 21 Maret 2015

"CARA BERWUDHU SESUAI TUNTUNAN RASULULLAH SAW."

"Secara syri’at "wudhu’" ialah menggunakan air yang suci untuk mencuci anggota-anggota tertentu yang sudah diterangkan dan disyari’atkan Allah SWT." 

Allah memerintahkan:
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak melakukan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan , kedua mata-kaki (Al-Maaidah:6).

Allah tidak akan menerima shalat seseorang sebelum ia "berwudhu’" (HSR. Bukhari di Fathul Baari, I/206; Muslim, no.255 dan imam lainnya).

"Rasulullah SAW." juga mengatakan bahwa "wudhu’" merupakan kunci diterimanya shalat. (HSR. Abu Dawud, no. 60).

Utsman bin Affan ra berkata: “Barangsiapa "berwudhu’" seperti yang dicontohkan "Rasulullah SAW.", niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu, dan perjalanannya menuju masjid dan shalatnya sebagai tambahan pahala baginya” (HSR. Muslim, I/142, lihat Syarah Muslim, III/13).

"Rasulullah SAW." bersabda: “Barangsiapa menyempurnakan "wudhu’"nya, kemudian ia pergi mengerjakan shalat wajib bersama orang-orang dengan berjama’ah atau di masjid (berjama’ah), niscaya Allah mengampuni dosa-dosanya” (HSR. Muslim, I//44, lihat Mukhtashar Shahih Muslim, no. 132).

Maka wajiblah bagi segenap kaum muslimin untuk mencontoh "Rasulullah SAW." dalam segala hal, lebih-lebih dalam "berwudhu’". Al-Hujjah kali ini memaparkan secara ringkas tentang tatacara "wudhuRasulullah SAW." melakukan "wudhu’":

1. Memulai "wudhu’" dengan niat.

Niat artinya menyengaja dengan kesungguhan hati untuk mengerjakan "wudhu’" karena melaksanakan perintah Allah SWT. dan mengikuti perintah Rasul-Nya SAW.

Ibnu Taimiyah berkata: “Menurut kesepakatan para imam kaum muslimin, tempat niat itu di hati bukan lisan dalam semua masalah ibadah, baik bersuci, shalat, zakat, puasa, haji, memerdekakan budak, berjihad dan lainnya. Karena niat adalah kesengajaan dan kesungguhan dalam hati. (Majmu’atu ar-Rasaaili al-Kubra, I/243)



"Rasulullah SAW." menerangkan bahwa segala perbuatan tergantung kepada niatnya, dan seseorang akan mendapatkan balasan menurut apa yang diniatkannya… (HSR. Bukhari dalam Fathul Baary, 1:9; Muslim, 6:48).

2. Tasmiyah (membaca bismillah)
 
Beliau memerintahkan membaca bismillah saat memulai "wudhu’". Beliau bersabda:
Tidak sah/sempurna "wudhu’" sesorang jika tidak menyebut nama Allah, (yakni bismillah) (HR. Ibnu Majah, 339; Tirmidzi, 26; Abu Dawud, 101. Hadits ini Shahih, lihat Shahih Jami’u ash-Shaghir, no. 744).

Abu Bakar, Hasan Al-Bashri dan Ishak bin Raahawaih mewajibkan membaca bismillah saat "berwudhu’". Pendapat ini diikuti pula oleh Imam Ahmad, Ibnu Qudamah serta imam-imam yang lain, dengan berpegang pada hadits dari Anas tentang perintah "Rasulullah SAW." untuk membaca bismillah saat "berwudhu’".  

"Rasulullah SAW." bersabda: "berwudhu’"lah kalian dengan membaca bismillah!” (HSR. Bukhari, I: 236, Muslim, 8: 441 dan Nasa’i, no. 78)

Dengan ucapan "Rasulullah SAW.": "berwudhu’"lah kalian dengan membaca bismillah” maka wajiblah tasmiyah itu. Adapun bagi orang yang lupa hendaknya dia membaca bismillah ketika dia ingat. Wallahu a’lam.

3. Mencuci kedua telapak tangan
 
Bahwa "Rasulullah SAW." mencuci kedua telapak tangan saat "berwudhu’" sebanyak tiga kali. Rasulullah saw juga membolehkan mengambil air dari bejancdengan telapak tangan lalu mencuci kedua telapak tangan itu. Tetapi "Rasulullah SAW." melarang bagi orang yang bangan tidur mencelupkan tangannya ke dalam bejana kecuali setelah mencucinya. (HR. Bukhari-Muslim)

4. Berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung
 
Yaitu mengambil air sepenuh telapak tangan kanan lalu memasukkan air kedalam hidung dengan cara menghirupnya dengan sekali nafas sampai air itu masuk ke dalam hidung yang paling ujung, kemudian menyemburkannya dengan cara memencet hidung dengan tangan kiri. Beliau melakukan perbuatan ini dengan tiga kali cidukan air. (HR. Bukhari-Muslim. Abu Dawud no. 140)

Imam Nawawi berkata: “Dalam hadits ini ada penunjukkan yang jelas bagi pendapat yang shahih dan terpilih, yaitu bahwasanya berkumur dengan menghirup air ke hidung dari tiga cidukan dan setiap cidukan ia berkumur dan menghirup air ke hidung, adalah sunnah. (Syarah Muslim, 3/122).

Demikian pula "Rasulullah SAW." menganjurkan untuk bersungguh-sungguh menghirup air ke hidung, kecuali dalam keadaan berpuasa, berdasarkan hadits Laqith bin Shabrah. (HR. Abu Dawud, no. 142; Tirmidzi, no. 38, Nasa’i )

5. Membasuh muka sambil menyela-nyela jenggot.
 
Yakni mengalirkan air keseluruh bagian muka. Batas muka itu adalah dari tumbuhnya rambut di kening sampai jenggot dan dagu, dan kedua pipi hingga pinggir telinga. Sedangkan Allah memerintahkan kita:
Dan basuhlah muka-muka kamu.” (Al-Maidah: 6)

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Humran bin Abaan, bahwa cara Nabi saw membasuh mukanya saat "wudhu’" sebanyak tiga kali”. (HR Bukhari, I/48), Fathul Bari, I/259. no.159 dan Muslim I/14)
 
Setalah "Rasulullah SAW." membasuh mukanya beliau mengambil seciduk air lagi (di telapak tangan), kemudian dimasukkannya ke bawah dagunya, lalu ia menyela-nyela jenggotnya, dan beliau bersabda bahwa hal tersebut diperintahkan oleh Allah swt. (HR. Tirmidzi no.31, Abu Dawud, no. 145; Baihaqi, I/154 dan Hakim, I/149, Shahih Jaami’u ash-Shaghir no. 4572).

6. Membasuh kedua tangan sampai siku.


Menyiram air pada tangan sampai membasahi kedua siku, Allah swt berfirman:
Dan bashlah tangan-tanganmu sampai siku” (Al-Maaidah: 6)

"Rasulullah SAW." membasuh tangannya yang kanan sampai melewati sikunya, dilakukan tiga kali, dan yang kiri demikian pula, "Rasulullah SAW." mengalirkan air dari sikunya (Bukhari-Muslim, HR. Daraquthni, I/15, Baihaqz, I/56)

"Rasulullah SAW." juga menyarankan agar melebihkan basuhan air dari batas "wudhu’" pada wajah, tangan dan kaki agar kecemerlangan bagian-bagian itu lebih panjang dan cemerlang pada hari kiamat (HR. Muslim I/149)

7. Mengusap kepada, telinga dan sorban.
 
Mengusap kepala, haruslah dibedakan dengan mengusap dahi atau sebagian kepala. Sebab Allah swt memerintahkan:
Dan usaplah kepala-kepala kalian…” (Al-Maidah: 6).

"Rasulullah SAW." mencontohkan tentang caranya mengusap kepala, yaitu dengan kedua telapak tangannya yang telah dibasahkan dengan air, lalu ia menjalankan kedua tangannya mulai dari bagian depan kepalanya ke belakangnya tengkuknya kemudian mengambalikan lagi ke depan kepalanya. (HSR. Bukhari, Muslim, no. 235 dan Tirmidzi no. 28 lih. Fathul Baari, I/251)

Setelah itu tanpa mengambil air baru "Rasulullah SAW." langsung mengusap kedua telingannya. Dengan cara memasukkan jari telunjuk ke dalam telinga, kemudian ibu jari mengusap-usap kedua daun telinga. Karena "Rasulullah SAW." bersabda: ”Dua telinga itu termasuk kepala.” (HSR. Tirmidzi, no. 37, Ibnu Majah, no. 442 dan 444, Abu Dawud no. 134 dan 135, Nasa’i no. 140)

Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ahadits adh-Dha’ifah, no. 995 mengatakan: “Tidak terdapat di dalam sunnah (hadits-hadits nabi saw) yang mewajibkan mengambil air baru untuk mengusap dua telinga. Keduanya diusap dengan sisa air dari mengusap kepala berdasarkan hadits Rubayyi’:
Bahwasanya "Rasulullah SAW." mengusap kepalanya dengan air sisa yang ada di tangannya. (HR. Abu Dawud dan lainnya dengan sanad hasan)

Dalam mengusap kepala "Rasulullah SAW." melakukannya satu kali, bukan dua kali dan bukan tiga kali. Berkata Ali bin Abi Thalib ra : “Aku melihat Nabi saw mengusap kepalanya satu kali. (lihat _Shahih Abu Dawud, no. 106). Kata Rubayyi bin Muawwidz: “Aku pernah melihat "Rasulullah SAW. berwudhu’", lalu ia mengusap kepalanya yaitu mengusap bagian depan dan belakang darinya, kedua pelipisnya, dan kedua telinganya satu kali.“ (HSR Tirmidzi, no. 34 dan Shahih Tirmidzi no. 31)

"Rasulullah SAW." juga mencontohkan bahwa bagi orang yang memakai sorban atau sepatu maka dibolehkan untuk tidak membukanya saat "berwudhu’", cukup dengan menyapu diatasnya, (HSR. Bukhari dalam Fathul Baari I/266 dan selainnya) asal saja sorban dan sepatunya itu dipakai saat shalat, serta tidak bernajis.

Adapun peci/kopiah/songkok bukan termasuk sorban, sebagaimana dijelaskan oleh para Imam dan tidak boleh diusap diatasnya saat "berwudhu’" seperti layaknya sorban. Alasannya karena:
  1. Peci/kopiah/songkok diluar kebiasaan dan juga tidak menutupi seluruh kepala.
  2. Tidak ada kesulitan bagi seseorang untuk melepaskannya.
Adapun Kerudung, jilbab bagi wanita, maka dibolehkan untuk mengusap diatasnya, karena ummu Salamah (salah satu isteri Nabi) pernah mengusap jilbabnya, hal ini disebutkan oleh Ibnu Mundzir. (Lihat al-Mughni, I/312 atau I/383-384).


8. Membasuh kedua kaki sampai kedua mata kaki.

Allah swt berfirman: ”Dan basuhlah kaki-kakimu hingga dua mata kaki” (Al-Maidah: 6)

"Rasulullah SAW." menyuruh umatnya agar berhati-hati dalam membasuh kaki, karena kaki yang tidak sempurna cara membasuhnya akan terkena ancaman neraka, sebagaimana beliau mengistilahkannya dengan tumit-tumit neraka. Beliau memerintahkan agar membasuh kaki sampai kena mata kaki bahkan beliau mencontohkan sampai membasahi betisnya. Beliau mendahulukan kaki kanan dibasuh hingga tiga kali kemudian kaki kiri juga demikian. Saat membasuh kaki "Rasulullah SAW." menggosok-gosokan jari kelingkingnya pada sela-sela jari kaki. (HSR. Bukhari; Fathul Baari, I/232 dan Muslim, I/149, 3/128)
Imam Nawai di dalam Syarh Muslim berkata. “Maksud Imam Muslim berdalil dari hadits ini menunjukkan wajibnya membasuh kedua kaki, serta tidak cukup jika dengan cara mengusap saja.”

Sedangkan pendapat menyela-nyela jari kaki dengan jari kelingking tidak ada keterangan di dalam hadits. Ini hanyalah pendapat dari Imam Ghazali karena ia mengqiyaskannya dengan istinja’.

"Rasulullah SAW." bersabda: “…barangsiapa diantara kalian yang sanggup, maka hendaklahnya ia memanjangkan kecermerlangan muka, dua tangan dan kakinya.” (HSR. Muslim, 1/149 atau Syarah Shahih Muslim no. 246)

9. Tertib.


Semua tatacara "wudhu’" tersebut dilakukan dengan tertib (berurutan) muwalat (menyegerakan dengan basuhan berikutnya) dan disunahkan tayaamun (mendahulukan yang kanan atas yang kiri) [Bukhari-Muslim]
Dalam penggunaan air hendaknya secukupnya dan tidak berlebihan, sebab "Rasulullah SAW." pernah mengerjakan dengan sekali basuhan, dua kali basuhan atau tiga kali basuhan [Bukhari]

10. Berdoa.

Yakni membaca do’a yang diajarkan "Rasulullah SAW.":

“Asyahdu anlaa ilaa ha illalah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abdullahi wa rasuulahu. Allahummaj ‘alni minattawwabiina waja’alni minal mutathohhiriin (HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah)
 
Dan ada beberapa bacaan lain yang diriwayatkan dari "Rasulullah SAW."

Semoga tulisan ini menjadi risalah dalam "berwudhu’" yang benar serta merupakan pedoman kita sehari-hari.

Sumber:
1. https://ummusalma.wordpress.com/.../sifat-wudhu-nab...
2. laely.widjajati.facebook/Add a description
3. laely.widjajati.facebook/#SenantiasaBerusahaMensucikanDiri.......

"KEUTAMAAN/MANFAAT MANDI MENGGUNAKAN SHOWER"

"Pernahkah anda "mandi" dengan "menggunakan shower"?


"Mandi" dengan menggunakan kran "shower" memang sangat nyaman dan praktis, karena kita tidak perlu repot dan lelah mengayunkan ember air untuk menyiram tubuh kita. Bak "mandi" di rumah saya sudah saya singkirkan sejak Tahun 2007 dan beralih "menggunakan shower".

Bagi sahabat yang memiliki fasilitas "shower" di rumahnya, atau bagi sahabat yang pernah menginap di hotel pasti pernah merasakan sensasi nyaman saat terkena cipratan air dari "shower" itu, bukan? Ternyata, secara ilmiah, "mandi" dengan "shower", panas maupun dingin memliki manfaat-manfaat bagi tubuh kita dan bagi lingkungan. 

Berikut ini beberapa manfaat "mandi" dengan "shower":

1. Menghemat penggunaan air. 
Dengan "shower", volume air yang kita pakai akan secara maksimal kita manfaatkan untuk membilas tubuh. Jika dibandingkan dengan "menggunakan" gayung, cukup banyak air terbuang percuma.  Poinnya adalah, kita ikut berupaya menyelamatkan bumi dengan menghemat pemakaian air. Dengan "menggunakan shower" kita menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan dengan me"manfaat"kan secara maksimal. Karena penggunaan air dengan "menggunakan shower" akan jauh lebih hemat dibandingkan jika kita "menggunakan" gayung

2. Memberikan efek relaksasi bagi tubuh. 
Pancuran air yang jatuh ke tubuh terasa seperti pijatan dan mampu menghilangkan rasa capek karena terasa seperti dipijat. Sejumlah pakar pengobatan alternatif mengatakan, bahwa bersentuhan dengan air mancur, berjalan-jalan di sekitar air terjun, atau sungai dan taman dengan banyak pancuran, akan memperoleh khasiat ion-ion negatif. Ion-ion negatif yang timbul karena butiran-butiran air yang berbenturan itu bisa meredakan rasa sakit, menetralkan racun, memerangi penyakit, serta membantu menyerap dan me"manfaat"kan oksigen. Ion negatif dalam aliran darah akan mempercepat pengiriman oksigen ke dalam sel dan jaringan. Efek relaksasi akan sangat terasa kita dapatkan apalagi jika menggunakan air panas dengan suhu sekitar 37 Celcius. Tetapi harus diingat, bahwa uap panas justru dapat meningkatkan ion positif, maka bila kita "mandi" hendaknya "menggunakan" fan atau membuka jendela sehingga terjadi pertukaran udara. Oya, jangan lupa juga setelah"mandi"  dengan air panas, diakhiri dengan bilasan air dingin. Karena saat terkena air panas, pori-pori kulit kita terbuka, jadi untuk menutupnya kembali dilakukan dengan bilasan air dingin.


3. Untuk kecantikan kulit. 
Ini sih, "manfaat" buat para wanita. Penggunaan "shower" baik untuk kecantikan kulit kita. Karena air yang mengalir melalui "shower" akan memberikan sensasi pijatan. Selain itu, dapat mengurangi stress dan membuat tubuh menjadi segar dan nyaman setiap kita "mandi". Agar "manfaat" yang didapatkan lebih maksimal, sebaiknya "shower" tidak digunakan secara tegak lurus, tetapi dengan kemiringan 60 derajat.

4. Melancarkan pernafasan.  
"Shower" dapat memberikan efek pijatan bagi wajah sehingga dapat melancarkan pernafasan. Untuk memperleh "manfaat" ini, hendaknya "shower" tidak diarahkan tegak lurus, namun dengan sudut kemiringan 60 derajat.

5.  Hasilnya lebih bersih. 
"Mandi" dengan "menggunakan shower" ternyata tidak hanya menghemat air namun juga lebih bersih dibandingkan dengan "mandi" "menggunakan" gayung yang secara tehnis tidak membasahi badan dengan merata dan terus menerus seperti "menggunakan shower".

Jadi, beruntunglah sahabat yang di kamar "mandi" rumahnya terdapat fasilitas "shower"
 
Sumber:
1. https://asepsaiba.wordpress.com/.../yuk-hemat-air-den...
2. annisafeb26.blogspot.com/.../mandi-pakai-shower-ata...
3. edukasi.kompasiana.com/.../ayo-mandi-pakai-shower-.
4. sharingdisini.com › Featured
5. www.gadis.co.id › Gaya › Cantik

Jumat, 20 Maret 2015

"BAYI DAN ANAK-ANAK YANG MENINGGAL DUNIA SEBELUM BALIGH AKAN MASUK SURGA"

"Berbahagialah kita yang memiliki "anak meninggal dunia" yang masih "bayi" atau "sebelum baligh"


Bagi para orang tua beriman yang mengalami "anak"nya yang "belum baligh" sudah "meninggal dunia" sebaiknya jangan bersedih hati karena akan jadi tameng yang akan bisa menolong orang tuanya untuk "masuk surga". Semoga para orang tua gembira dengan hal ini. 


Saya sendiri mengalami hal ini. "Anak" pertama saya (Isa Anja Asmara Bungin), "meninggal dunia" pada usia lima hari. Siapa yang tidak bersedih ditinggal oleh buah hatinya, namun tidak boleh berlarut-larut. Kita harus sabar dan ikhlas menerima takdirNYA. Innalillahi wainna ilaihi raji'un.......

Seorang ibu beriman yang mempunyai banyak "anak" akan wajib "masuk surga" karena sudah mendapatkan pahala yang begitu besar yaitu pahala waktu hamil, waktu melahirkan dan waktu menyusui. Demikian pula bagi orang tua yang
"anak"nya "meninggal dunia" pada waktu masih "bayi" atau "sebelum baligh", Allah memperkenankan "anak" itu untuk mengajak orang tuanya me"masuk"i "surga"NYA.

Keutamaan "Anak" Kecil Yang "Meninggal Dunia Sebelum Baligh":

1.Akan langsung "masuk surga".
2.Akan bisa menolong orang tuanya kalau orang tuanya orang beriman.
3.Jadi pelayan penduduk "surga" sebagaimana berlian yang disebar

"Bayi Meninggal" Menolong Orang Tuanya

"Bayi" itu dilahirkan suci dan bersih. Kelak di alam mahsyar, ia menjadi penolong bagi kedua orang tuanya. Namun perlu diingat, "anak" itu hanya bisa menolong orang tuanya kalau mereka masih berada dalam jalan Islam. Kalau mereka sudah menyimpang dari jalan Islam atau berbagai peraturan yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-NYA, pertolongan itu akan batal dengan sendirinya.

Contoh, orang tuanya telah meninggalkan shalat lima waktu hingga ajalnya tiba. Lebih-lebih mereka dengan kekayaannya yang berlimpah tidak mau menjalankan ibadah haji. Sekali lagi, "anak" tersebut hanya bisa menolong orang tuanya, sebatas jika orang tuanya juga mentaati perintah Allah dan Rasul-NYA. Orang yang ditinggalkan tidaklah wajib menahlilkan. Jadi, ditahlilkan boleh, tidak juga tidak apa-apa. Sebab "anak" itu suci, langsung "masuk surga".
Yang dimaksud dengan "bayi" atau "anak" kecil adalah "anak" yang "belum baligh". Batasannya mungkin sekitar 10 tahun. Sedang dalam ilmu fikih, yang disebut "belum baligh", bagi perempuan "sebelum" haid, dan bagi lelaki "belum" pernah mengalami ihtilam (mimpi basah).

Berita Gembira Untuk Orang Tua yang "Anak"nya meninggal Dunia.

Apa yang anda rasakan ketika "anak", orang tua, saudara atau kerabat dekat Anda tiba-tiba saja dipanggil oleh sang Khaliq? Tentu sedih dan mungkin putus asa karena kehilangan seseorang yang kita sayangi dan bahkan menjadi tumpuan hidup kita. Kehilangan orang tercinta memang sungguh menyedihkan tapi taukah anda, ada berkah di balik setiap peristiwa, pun kematian tentu jika kita mampu menyikapinya secara bijak, penuh kesabaran dan keikhlasan.

”Innalillahi wa inna ilaihi raji’un” Sesungguhnya kita ini adalah milik Allah, dan pasti kita akan kembali kepada pemilik kita, Allah SWT.

Nah, ada kabar gembira bagi orang tua yang ditinggal mati oleh
"anak"nya , apa itu?.

Baiklan, coba kita dengarlah sabda Rasulullah SAW. berikut ini: ’Diriwayatkan dari Anas ra, dia berkata : ”Rasulullah SAW. bersabda, tidaklah seorang muslim kematian tiga "anak"nya yang "belum baligh", kecuali, Allah pasti akan me"masuk"kannya ke dalam "surga" berkat kasih sayang-Nya kepada
"anak"-"anak"nya tersebut, ”(HR Bukhori muslim).

Ada beberapa hal yang mesti diketahui oleh orang tua pun kita, agar kematian tersebut bisa menjadi berkah dan mengantarkan kita menuju "surga" Allah. Diantaranya, adalah sebagai berikut:

1. Sabar Dan Ikhlas

Orang tua mesti sabar dan ikhlas menerima kepergian sang
"anak", tidak meratapi kepergiannya secara berlebihan boleh menangis dan bersedih asal tidak berlarut-larut sehingga dapat menimbulkan keburukan bagi kesehatannya.

2. Sadar dan memuja Allah

Yaitu dengan mengucapkan kalimat istirja (innaa lillahi wa inna ilaihi raji'un) dan merenungi kandungan maknanya. Kita,
"anak" kita, dan segala sesuatu yang ada di sekitar kita semuanya adalah milik Allah. "Anak" adalah amanah, titipan dari Allah, yang mesti kita jaga dan pelihara dengan sebaik-baiknya. Karena "anak" ibarat barang titipan tentu suatu saat jika sang pemilik akan mengambil kembali miliknya tersebut kita harus berlapang dada menyerahkan barang titipan tersebut kepada sang pemilik

3. Mengharap pahala atas kematian sang
"anak".

Kematian seorang
"anak" bukanlah suatu musibah melainkan himpunan berkah yang mesti dipetik oleh orang yang ditinggalkan. Orang tua semestinyalah memohon pahala dan keberkahan dari peristiwa tersebut, maka dengan senang hati Allah akan melimpahkan banyak kebaikan dan pahala kepada hambanya yang meminta dengan setulus hati.
Nah, bukankah hal ini merupakan kabar gembira bagi orang tua yang ditinggal mati oleh "anak"-"anak"nya yang "belum baligh" dan janji Allah tersebut merupakan bukti karunia dan kemurahan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Dan jika pun mendatangi neraka, itu hanya bagian dari janji Allah yang telah menjadi ketetapannya.
Lho, menetapi janji apa? mungkin saudara bertanya-tanya akan hal ini. Janji ini berkaitan dengan firman Allah dalam surat Maryam (19): 71 ”dan tidak seorang pun dari kalian, melainkan dia pasti mendatangi neraka itu ”.

Belum jelas? Maksud mendatangi disini adalah menyeberanginya di atas shiraat, yaitu sebuah jembatan yang dibentengkan di atas neraka jahanam, bukanlah untuk mencapai pintu "surga", seorang hamba mesti melewati jembatan tersebut? Dan ketahuilah wahai para orang tua,
"anak"-"anak" anda yang telah "meninggal"kan anda terlebih dahulu tersebut, kelak akan menunggu anda di pintu "surga" tersebut. 
Sebuah Hadits menjelaskan bahwa, Rasullulah SAW bersabda yang artinya: “Ketika aku mi'raj ke langit, tiba-tiba aku mendengar suara kanak-kanak. Aku bertanya : “Wahai Jibril, siapakah mereka itu?” Jibril menjawab: “Mereka adalah "anak" cucu orang Islam yang "meninggal dunia sebelum baligh". Mereka itu diasuh oleh Nabi Ibrahim AS sampai orang tuanya datang.” (HR. Abu Daud)


"Anak"-"anak" orang Islam yang "meninggal dunia" pada waktu kecil, di alam Barzakh dia dikumpulkan pada suatu tempat di bawah penjagaan Nabi Ibrahim as. Setelah kiamat tiba, mereka langsung dipindahkan ke dalam "surga". Jadi mereka tidak melalui Mahsyar, Hisab, Mizan dan sebagainya.


Sabda Rasullullah SAW yang artinya: “Tiap-tiap "anak" orang Islam yang mati "sebelum baligh" akan dimasukkan ke dalam "surga" dengan rahmat Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Setelah dipindahkan ke dalam "surga", maka "anak"-"anak" kecil ini lupa kepada kehidupan dunia. Mereka lupa kedua ibu bapanya, lupa kepada kampung halamannya dan sebagainya.


Tiba-tiba pada suatu hari, ketika mereka sedang bermain-main menikmati kesenangan "surga", maka ada malaikat yang memberitahukannya: “Wahai Wildan, lupakah kamu kepada kedua orang tuamu? Sekarang mereka sudah berada di pintu "surga". “Ketika itulah baru mereka tahu dan ingat kembali kepada ayah bunda mereka yang selama ini mereka lupakan.


Mendengar apa yang dikatakan oleh malaikat itu, dalam keadaan menangis dan membawa air dengan segera mereka berlari menuju ke pintu "surga". Sesampainya di sana, mereka melihat Hurul-aini sedang tegak berbaris sepanjang jalan dengan memakai pakaian dan perhiasan yang serba indah.


Setelah pintu "surga" terbuka, dengan diiringi nyanyian merdu Hurul-aini, maka orang-orang pun berebut "masuk" ke dalamnya, dan ketika itulah "anak"-"anak" kecil ini sibuk mencari kedua ibu bapanya. Mereka mencari ke sana ke mari, tetapi tidak berjumpa. Sambil menangis dan memegang air di tangan maka pergilah mereka kepada malaikat serta bertanya: “Wahai malaikat, mana ayah dan ibu kami?”


Menjawab malaikat: Wahai Wildan, sungguh malang nasib kamu, kedua orang tua kamu terjatuh ke dalam neraka.” Mendengar ungkapan yang demikian itu, maka "anak" kecil tadi menangis sejadi-jadinya, menangis menghiba dengan ratapan yang menyayat hati: “Wahai ibuku, wahai ayahku,apakah kesalahanmu, apakah dosamu sehingga kamu terjatuh ke dalam neraka? Begitulah ratapan mereka.


Berkata Malaikat: “Wahai wildan jangan menangis, pergilah kamu memohon bantuan kepada Nabi Muhammad SAW.” Setelah "anak" kecil ini mengadu kepada Nabi Muhammad SAW, maka Nabi Muhammad pun mengangkat kedua tangannya berdoa, lalu dikeluarkanlah orang-orang mukmin yang berada dalam neraka itu. Inilah syafaat Nabi Muhammad SAW yang ketiga di akhirat.


Petama pada waktu ditimbang antara dosa dan pahala, yang kedua pada waktu meniti Shiratul Mustaqim yang ketiga ketika mengeluarkan orang dari dalam neraka. Maka ketika itu bertemulah antara "anak"-"anak" kecil tadi dengan kedua orang tuanya dengan perasaan gembira.


Firman Allah SWT yang artinya : “Pada hari itu mereka berjumpa dengan perasaan gembira. ” (Ad-Dahr: 11)


Menurut Hadist Qudsi:

Allah SWT berfirman pada hari kiamat pada "anak"-"anak":
“Masuklah kalian ke dalam
"surga".”

"Anak"-"anak" itu berkata:
“Ya Rabbi, kami menunggu hingga Ayah Ibu kami
"masuk".”

Lalu mereka mendekati pintu "surga", tetapi tidak mau "masuk" ke dalamnya. Allah Berfirman lagi,
“Mengapa aku lihat mereka enggan "masuk"?
"masuk"lah kalian ke dalam "surga"

Mereka menjawab,
“Tetapi bagaimana dengan orang tua kami?”

Allah pun berfirman,
"masuk"lah kalian ke dalam "surga" bersama orang tua kalian.”

(Hadis Qudsi Riwayat Ahmad dari Syurahbil Bin Syuaah yang bersumberkan dari sahabat Nabi SAW)


Istilah “al-wildan” dalam Hadits Qudsi diatas adalah kata jama mufradnya (kata tunggalnya) adalah “al-walid”, artinya "anak" yang baru dilahirkan, yaitu bayi atau "anak" kecil yang belum akil "baligh". Jadi maksudnya ialah "anak" kecil yang "meninggal dunia". Hal itu diterangkan dalam Hadits lain yang diriwayatkan.


Matahari diciptakan kembali dan diletakkan di atas mereka pada jarak satu mil, sehingga mereka selain berdesak-desakan dan berjubel-jubel (kaki diinjak oleh seribu kaki-kaki diatasnya), juga dibakar oleh panasnya matahari, berkeringat, lapar, haus dahaga tidak terperikan siksanya.


Ketika mereka mengalami lapar dan haus itulah "anak"-"anak" yang tadinya "meninggal" selagi masih kecil dan dilepas oleh orang tuanya dengan sabar dan tawakal, datang kepada orang tuanya masing-masing dengan membawa segelas air untuk diminum, dan apabila sudah diminum, tidak akan lapar dan dahaga lagi selama di alam Mahsyar itu. Demikian menurut beberapa Hadits.


Mulai hisab dengan menerima buku catatan harian masing-masing yang selama hidupnya dicatat oleh malaikat Raqib dan Atid.

Dilakukan mizan (penilaian timbangan) terhadap segala macam amalan setiap orang, kecuali orang-orang "masuk surga" tanpa hisab.

Meniti shirat yang harus dilalui oleh keseluruhan yang ada di padang Mahsyar itu. Meniti shirat yang kedua bagi mereka yang telah selamat menitishirat yang pertama.


Pada saat itulah Allah memerintahkan kepada "anak"-"anak" (yang tadinya "meninggal dunia" selagi belum akil "baligh") untuk me"masuk"i "surga". Tetapi mereka memohon syafaat (pertolongan) kepada Allah agar kiranya dapat "masuk surga" bersama orang tua mereka. Memang mereka juga penuhi perintah Allah, untuk datang mendekati pintu "surga", tapi masih belum mau me"masuk"inya, sehingga Allah Yang Maha Mengetahui bertanya lagi:

“Mengapa Aku lihat "anak"-"anak" itu masih saja belum "masuk syurga"? "Masuk"lah kalian ke dalam "surga" itu”.



Pada saat itu mereka mengulangi permohonannya bagi orang tua mereka.

“Kami belum mau "masuk", sebelum orang tua kami yang menjadi asal pokok kami, dan ibu-ibu kami yang telah mengandung kami sembilan bulan dan kemudian membesarkan kami "masuk" juga bersama kami”.


Demikianlah mereka berhenti dekat pintu "surga", menunggu keputusan Allah SWT dengan penuh harapan. Akhirnya putusan yang dinanti-nantikan itu datang dengan segera, dengan firman Allah Yang Maha Mengetahui:

"Masuk"lah kalian ke dalam "surga" bersama orang tua kalian”.


Penegasan ini oleh Allah kira-kira dimaksudkan untuk menampakkan betapa besar keutamaan "anak"-"anak" dan betapa besar pula pengaruh ridla qadla dan qadar Allah, sabar dan puji syukur kehadirat-Nya.

Ya Allah.... Ya Tuhanku.....
Aku ikhlas dan ridha, Engkau telah mengambil "anak"ku "Isa Anja Asmara Bungin". Semoga kelak.... Allah mempertemukan aku dengan "anak"-"anak"ku  dan seluruh anggota keluargaku di "surga"MU.... 
 
Sumber:
1. yohang.net/rahmat-allah-yang-sangat-besar-hauzan-ar...
2. belencong-islam.blogspot.com/.../anak-kecil-meningg...
3. laely.widjajati.facebook/Add a description
4. Ficky.Andreari.facebook/belajar bikin comic
5. laely.widjajati.facebook/Add a descriptionWith Banda Go Trilyuner.
6. laely.widjajati.facebook/Suatu Pagi di #TelagaSarangan......
7. laely.widjajati.facebook/Add a description

"BAGAIMANA ORANG GILA DI AKHIRAT KELAK?"

"Ada anggapan bahwa "orang gila" tidak "masuk" ke  neraka  juga tidak ke "surga"
Ada   yang    beranggapan  akan      dicampur   dengan binatang-binatang. Anggapan    itu   menurut   saya    tidak   beralasan. Karena dalam agama tidak ada keterangannya.

"Orang gila" adalah "orang" yang hilang akalnya, "orang" seperti ini dalam Islam tidak dimintai pertanggung jawaban amalnya di Dunia.

(رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ: النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَالْمَجْنُوْنِ حَتَّى يُفِيْقَ، وَالصَّغِيْرِ حَتَّى يَبْلُغَ. (رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُوْ دَاوُوْدَ وَالنَّسَائِيُّ وَابْنُ مَاجَه
“Diangkat pena dari tiga "orang":. "Orang" tidur hingga dia bangun, "Orang gila" hingga dia sadar, Anak-anak sampai ia baligh.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa-i, dan Ibnu Majah).
Namun...ada masa-masanya:1. "Gila" dari kecil terus sampai meninggalnya"Orang gila" ini dapat dimasukkan bagian anak-anak, sedang anak-anak itu ditentukan "masuk surga", sebagaimana sabda Rasul dalam HR. Ahmad :”Nabi di dalam "surga", "orang" yang mati sahid di dalam "surga" dan anak-anak di dalam "surga".
2. "Gila" dari kecil kemudian sembuh sesudah baligh."Orang" ini nanti ada perhitungan amal baik dan amal buruknya sesudah ia sembuh dari "gila" dan baligh.3. "Gila" sesudah baligh sampai matiKalau ia "gila" sesudah baligh, maka dari waktu baligh sampai ia "gila" itu ada perhitungan amalnya.4. "Gila" yang putus-putusMenurut hadits diatas dalam masa "gila" perbuatannya tidak dihitung. Di dalam masa sehatnya yang putus-putus itu akan dihitung amal baik-buruknya.Jadi, bagaimana nantinya "orang gila" ketika meninggal dunia, apakah ia "masuk surga" atau neraka?

Jawabannya adalah kalau sebelum "gila" ia beragama islam, maka ketika meninggal ia "masuk surga", namun ketika sebelum "gila" ia beragama kafir (non muslim) maka ia "masuk" neraka. Bagaimana jika ia sudah "gila" sejak kecil (belum baligh)?
Jawabannya ia langsung "masuk surga" sebab anak yang mati belum baligh itu masih belum punya dosa sehingga kelak langsung "masuk surga".
Demikianlah garis-garis besar tentang keadaan "gila". Sumber:1. www.kaskus.co.id/.../sekilas-info-orang-gila-masuk-surga2. elwahdablogearekwaha.blogspot.com/.../kajian-islami3. gambar-kata.com416 x 555Search by image4. mforum.cari.com.my600 x 400Search by image5. Foto.daya.tahan.tubuh.orang.gila.oleh.unik.SegiEmpat

Kamis, 19 Maret 2015

"CARA MENGHILANGKAN BAU APEK/PENGAP DALAM KAMAR"

"Kamar" yang nyaman, bukan hanya bersih dari debu dan kotoran tapi juga harum menyegarkan". 

Tapi tumpukan buku-buku lama, pakaian kotor dan sampah kertas bisa menimbulkan "bau pengap" dan "apek" dalam "kamar".

Suasana
"kamar"  yang berantakan dan berbagai tumpukan barang tentu membuat Anda tidak nyaman. Jangan hanya mengeluh! Segera bangkit dari tempat tidur, bersihkan dan rapihkan "kamar" secara menyeluruh.
Seperti dikutip dari Helium, berikut ini cara tepat untuk menciptakan
"kamar" yang bersih dan harum.
1. Bersihkan "kamar" dari debu minimal seminggu sekali. 
Mulai dari bagian atas, seperti menyingkirkan debu di langit-langit, kotoran pada kipas angin, rak-rak, bagian atas bingkai foto atau berbagai ornamen yang ditempatkan dekat dinding. Kemudian bersihkan bagian meja, laci juga sandaran tempat tidur. Baru bersihkan lantai dan kolong-kolong tempat tidur, kolong meja dan rak. Membersihkan mulai dari bagian atas ke bawah ruangan akan memastikan kamar bersih maksimal dari debu.
2. Buang semua sampah dari "kamar" Anda 
Bersihkan laci/rak dari barang-barang yang sudah tidak terpakai. Dengan begitu, "kamar" Anda jadi lebih mudah diatur dan aromanya lebih segar. Terlalu banyak menumpuk barang membuat "kamar" terlihat 'kumuh' dan ber"bau apek". Sambil membersihkan, tentukan sudut untuk memisahkan kertas-kertas atau surat tidak terpakai yang belum sempat dibuang. Di sudut itu, Anda bisa menaruh tempat sampah. Sebaiknya area tersebut sering Anda lewati dan mudah dijangkau (di balik pintu, atau samping meja).
3. Cucilah sprei, sarung bantal dan selimut seminggu sekali
Gunakan deterjen dan pelembut dengan aroma bunga yang menyegarkan, seperti lavender, lilac atau musk. Aroma dari pelembut pakaian, akan membuat "kamar"  Anda terasa selalu bersih sehingga Anda rileks dan nyaman berada di dalamnya.
4. Pastikan sirkulasi udara di
"kamar" Anda berjalan dengan baik
Bukalah jendela setiap pagi. Terpaan angin sejuk dan udara pagi yang segar, bisa menghilangkan lembab dan "bau kamar" yang kurang sedap.
5. Gunakan pengharum
"kamar" alami.
Sangat dianjurkan kalau memakai pengharum ruangan, pakailah pengharum yang alami, bukan sintetis. Misalnya bunga-bungaan kering yang dibungkus kain kasa atau buntalan kain yang ditetesi minyak aromaterapi. Buatlah beberapa buah dan taruh di sudut tempat tidur, dekat jendela, pintu dan samping kipas angin.
6.Gunakan baking soda
Bila tercium "bau" tak sedap di "kamar", Anda bisa menghilangkannya dengan kantung kecil berisi baking soda. Tempatkan di area yang menyimpan sepatu, pakaian kotor atau tempat sampah.
7. Pilih keranjang yang berlubang-lubang untuk menaruh pakaian kotor. Lubang pada keranjang tidak akan membuat pakaian lembab dan meminimalisasi penyebaran "bau" tidak sedap.
Sumber:
1. tipskamu.blogspot.com/.../7-tips-membuat-kamar-selal...
2. www.kaskus.co.id › Home › FORUM › The Lounge


MusicPlaylistView Profile