Jumat, 16 Desember 2011

"Ciri Munafik"

"Ciri "munafik" itu ada empat. Bila semuanya ada pada seseorang, maka orang itu "munafik" murni. Bila satu sifat saja ada pada seseorang, maka orang itu punya satu sifat "munafik" sebelum ia meninggalkannya. Keempat ciri "munafik" itu ialah:
1. Jika dipercaya ia khianat,   
2. Jika bicara ia dusta, 
3. Jika berjanji ia ingkar, dan 
4. Jika berderma ia curang." (Muttafaq 'alaih).

Rabu, 14 Desember 2011

"Nazar Dalam Konsep Islam"

"Nazar" adalah seorang Muslim yang mewajibkan dirinya taat kepada Allah untuk mengerjakan suatu perbuatan yang tidak wajib sebelum ia ber"nazar", misalnya: "Demi Allah, wajib bagiku puasa hari tertentu, atau salat dua rakaat."


HUKUM "NAZAR"

Diizinkan "nazar" secara mutlak dengan maksud mencari keridhaan Allah, seperti "nazar" untuk melakukan salat, puasa ataupun sedekah. "Nazar" tersebut wajib dipenuhi.

Dimakruhkan (kurang disenangi) "nazar" yang dikaitkan dengan sesuatu, misalnya seseorang mengatakan: "Jika Allah menyembuhkan sakutku, maka aku akan berpuasa hari anu, atau aku akan bersedekah sekian." Hal ini sejalan dengan pernyataan Ibn Umar, dalam Hadits Riwayat Muttafaq 'alaih:

"Rasulullah melarang "nazar", dan ia berkata: Sesungguhnya "nazar" itu tidak bisa menolak sesuatu, dan esungguhnya dengan "nazar" dikeluarkan harta orang yang kikir."

Diharamkan "nazar", jika dimaksudkan bukan mencari keridhaan Allah, seperti "nazar" pada kuburan para aulia atu arwah orang-orang yang saleh, misalnya ia menyatakan: "Wahai tuanku, fulan, jika Allah menyembuhkan sakitku, maka aku akan menyembelih anu pada kuburmu, atau aku akan bersedekah untuk kamu dengan anu." Karena perbuatan yang semacam ini memalingkan ibadah kepada selain Allah. Dan ini termasuk perbuatan syirik yang diharamkan Allah. Sebagaimana firman Allah dalam Surat An-Nisa' ayat 36:
"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa-pun...."

MACAM-MACAM "NAZAR".

1. "Nazar" mutlak, yaitu yang keluar seperti berita biasa, misalnya seorang Muslim berkata: "Karena Allah wajib bagiku puasa tiga hari atau memberi makan kepada sepuluh orang miskin." Dengan "nazar" tersebut, ia bermaksud ingin mendekatkan diri kepada Allah. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah dalam Surat An-Nahl ayat 91:
"Dan tepatilah perjanjian dengan Allah, apabila kamu berjanji...."
Dan juga dalam Surat Al-Hajj ayat 29:
".... dan hendaklah mereka menyempurnakan "nazar"-"nazar" mereka...."

2. "Nazar" mutlak yang tidak ditentukan, misalnya seorang Muslim menyatakan: "Bagiku "nazar" tetapi tidak disebutkan "nazar" apa. "Nazar" ini hukumnya wajib dipenuhi dengan kifarat sumpah. Hal ini sejalan dengan Hadits yang diriwayatkan Muslim, bahwa Nabi SAW bersabda:

"Kifarat "nazar" itu, apabila tidak disebutkan jenisnya, maka sama dengan kifarat sumpah."

Menurut satu pendapat, dianggap cukup apabila dipenuhi sesuatu yang dianggap paling sedikit dalam "nazar", msalnya salat dua rakaat atau puasa satu hari.

3. "Nazar" yang dikaitkan dengan perbuatan Allah yaitu "nazar" yang keluar semacam ada syaratnya. Misalnya seorang Muslim menyatakan: "Jika Allah menyembuhkan penyakitku, atau mengembalikan barangku yang hilang, maka aku akan memberikan makanan sekian kepada orang Muslim, atau aku akan puasa sekian hari."

"Nazar" semacam ini walaupun dianggap makruh (kurang baik) tetapi wajib dipenuhinya. Apabila Allah telah memenuhi kebutuhannya, maka wajib bagi orang itu untuk mengerjakan apa yang disebutnya ibadah. Sebagaimana dijelaskan dalam Hadits Riwayat Bukhari, bahwa Rasulullah bersabda: "Barangsiapa yang ber"nazar" untuk taat kepada Allah, maka hendaknya ia taat kepada Allah."
Jika Allah tidak memenuhi kebutuhannya, maka tidak wajib bagi orang itu memenuhi "nazar"nya.

4. "Nazar" iyang dikaitkan dengan pekerjaan makhluk, yaitu "nazar" orang yang keras hati, misalnya ia menyatakan: "Aku akan berpuasa satu bulan, jika aku melakukan anu dan anu, atau tergelincir pada anu dan anu, aau aku akan mengeluarkan hartaku anu dan anu, jika aku melakukan sesatu."

Hukum "nazar" ini, bagi orang tersebut boleh memilih antara memenuhi "nazar"nya atau kifarat sumpah, apabila ia melanggar sesuatu yang ia kaitkan dengan "nazar"nya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah: "Tidak ada "nazar" dalam keadaan marah, dan kifaratnya adalah kifarat sumpah." (Said di dalam kitab sunannya).

Biasanya "nazar" ini tidak akan terjadi kecuali orang yang bersangkutan dalam keadaan marah, dan hanya bermaksud melarang orang lain un tuk tidak mengerjakan atau meninggalkan sesuatu.

5. "Nazar" maksiat, yaitu "nazar" untuk mengerjakan sesuatu yang diharamkan, atau meninggalkan yang diwajibkan. Misalnya "nazar" untuk memukul seorang Muslim atau "nazar" untuk meninggalkan salat. Hukum "nazar" ini adalah haram memenuhinya. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Hadits Riwayat Ahmad, Tirmidzi, Ibn Majah, Abu Daud dan Nasa'i, bahwa Rasulullah bersabda: 

"Barangsiapa ber"nazar" untuk taat kepada Allah. maka hendaknya ia taat kepada-Nya. Dan barangsiapa yang ber"nazar" maksiat kepada-Nya, maka janganlah melakukannya."

Hanya saja sebagian ahli ilmu berpendapat, bagi pelakunya harus membayar kifarat sumpah. Sebagaimana Sabda Rasulullah:

"Tidak ada "nazar" dalam hal kemaksiatan, dan kifaratnya adalah kifarat sumpah." (Abu Daud dengan lafaz:... dan tidak pada yang dimiliki anak Adam...).

6. "Nazar" dengan sesuatu yang tidak dimilikinya atau di luar kemampuannya. Misalnya ia ber"nazar" untuk memrdekakan hamba sahaya, atau akan bersedekah dengan setumpuk emas misalnya. Hukumnya orang itu harus melakukan kifarat. Sebagaimana Sabda Rasulullah:

"Tidak ada "nazar" dalam hal yang tidak dimilikinya." (Abdurrazaq dan Nasa'i, dengan lafaz: Tidak ada "nazar" untuk maksiat kepada Allah, juga pada yang tidak dimiliki).

7. "Nazar" mengharamkan sesuatu yang dihalalkan Allah, misalnya ber"nazar" mengharamkan makanan dan minuman yang halal. Hukumnya adalah tidak boleh mengharamkan sesuatu yang dihalalkan oleh Allah, kecuali istri. Barangsiapa yang ber"nazar" mengharamkan istrinya, maka wajib baginya membayar kifarat zihar. Jika yang diharamkan itu selain istri, maka wajib kifarat sumpah.

PERLU DIPERHATIKAN:

1. Barangsiapa yang ber"nazar" dengan seluruh hartanya, maka dianggap cukup jika mengeluarkan sepertiganya, jika "nazar"nya itu bersifat mtlak. Jika "nazar"nya itu "nazar" orang yang dalam keadaan marah (emosional), maka cukuplah dengan membayar kifarat sumpah.

2. Barangsiapa yang ber"nazar" untuk suatu ketaatan, kemudian meninggal dunia, maka walinya bertindak sebagai penggantinya. Karena ada satu riwayat sahih yang menyatakan bahwa seorang wanita berkata kepada Ibn Umar bahwa ibunya ber"nazar" untuk salat di masjid Quba, kemudian meninggal dunia (sebelum melaksanakannya), maka Ibn Umar menyuruh wanita itu melaksanakan salat bagi ibunya di masjid Quba.

 (Sumber: Pedoman Hidup Muslim, Oleh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi).

Selasa, 13 Desember 2011

"Salat Witir"

"Salat witir" adalah sunah yang wajib, tidak pantas ditinggal dalam hal apa pun dan dikerjakan malam hari sesudah "salat" Isya. Disebut "witir" karena ganjil."


Diantara "salat" sunah sebelum "witir" adalah dua sampai dua belas rakaat, kemudian "salat witir", karena Rasulullah melakukannya berdasar hadits sahih. Waktu "salat witir" sesudah "salat" Isya sampai sebelum akhir malam lebih utama dari awal malam, kecuali bagi yang takut tidak bisa bangun. Sebagaimana dijelaskan Hadits Riwayat Muslim, bahwa Rasulullah bersabda:

"Siapa diantara kamu mengira tidak bisa bangun pada akhir malam, hendaklah ia "witir" pada awal malam. Dan siapa diantaramu mengira akan bisa bangun pada akhir malam, maka "salat" pada akhir malam. Sebab "salat" pada akhir malam dihadiri (malaikat) dan itu yang paling utama."

Bila seseorang tidur dan tidak bangu sebelum subuh, hendaklah "witir" diqadai sebelum "salat" subuh. Sebagaimana Hadits Riwayat Abu Daud (hadits sahih), Rasulullah SAW bersabda:

"Siapa yang tidak "witir" karena ketiduran atau lupa, hendaklah ia "salat witir", tatkala dia ingat."

Hadits Riwayat Hakim (Hadits sahih), Rasulullah SAW bersabda:

"Apabila salah seorang diantaramu bangun subuh dan belum "witir", maka hendaklah ia "salat witir" (diqadai)."

Hadits Riwayat Abu Daud dan Nasa'i, swanad hasan;

Disunahkan pada dua rakat pertama membaca Surat Al-A'la dan Al-Kafirun. Dan pada rakaat "witir" membaca Surat Al-Ikhlas dan Muawazatain (Al-Falaq dan An-Nas) sesudah baca Fatihah.

Makruh melakukan beberapa kali "salat witir" dalam satu malam, sebagaimana Hadits Riwayat Tirmidzi, hadits hasan, Rasulullah bersabda:

"Tak ada dua "witir" dalam satu malam."

Siapa yang melakukan "salat witir" pada awal malam, kemudian dia bangun dan ingin "salat" sunah, maka "salat"lah dan tidak perlu "salat witir" lagi.

(Sumber: Pedoman Hidup Muslim, Oleh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi).

Sabtu, 10 Desember 2011

"Obat Penolak Sihir"

"Sihir" adalah jimat-jimat, mantera-mantera dan bundelan-bundelan yang dapat berpengaruh pada jiwa dan badan seseorang, ada yang dapat menyakitkan, memporak-porandakan kehidupan suami istri dan mematikan nyawa seseorang."


Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 102:
"Dan mereka mengikut apa-apa yang dibaca oleh setan-setan pada zaman kerajaan Sulaiman, sedang Sulaiman tidak kafir, tetapi setan-setnlah yang kafir. Mereka mengajarkan "sihir" kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut; dan keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sehingga keduanya berkata, "Sesungguhnya kami hanya (membawa) fitnah (cobaan), sebab itu janganlah engkau ingkar." Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu (tentang "sihir") yang dengannya mereka menceraikan seorang (suami) dari istrinya. Dan mereka tidak memberi mudarat kepada seorangpun dngan "sihir"nya, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari apa yang memudaratkan mereka dan tidak memberi manfaat kepada mereka. Dan sungguh mereka telah mengetahui bahwa siapa yang menukar (menggunakan) "sihir", tiadalah baginya bagian (kebaikan) di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya (dengan "sihir") kalau mereka mengetahui".

"Sihir" itu memang benar adanya. Karena itu Allah memerintahkan kepada kita semua agar berlindung diri kepada-Nya dari "sihir" itu. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Falaq:
"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
1. Katakanlah "Aku berlindung kepada Tuhan (yang menguasai) cuaca subuh,
2. dari kejahatan makhluk-Nya,
3. dan dari kejahatan malam apabila telah gelap,
4. dan dari kejahatan tukang-tukang "sihir" yang meniup pada ikatan,
5. dan dari kejahatan pendengki apabila dia dengki".

"Sihir" itu termasuk perkara pengrusak yang dapat membinasakan orang yang mengerjakannya di dunia dan menyebabkan siksa (adzab) di akhirat kelak.

Maka dari itu berarti kita harus berupaya untuk menghindari bahaya yang akan mengancam kita terhadap, misalnya "sihir" itu. Sebab "sihir" adalah merupakan penyakit ghaib (yang tidak bisa dilihat dengan mata), maka peng"obat"annya pun harus menggunakan resep Ilahiyah, sebagai berikut:

1. Membaca Surat Al-Falaq;
2. Membaca Surat Yunus ayat ke 81;
3. Membaca Surat Al-Anbiya' ayat ke 70;
4. Dilanjutkan membaca Surat Al-Furqan ayat ke 23;
5. Dilanjutkan membaca Surat Al-Mu'min ayat ke 78;
6. Dilanjutkan membaca Surat An-Nur ayat ke 39;
7. Dilanjutkan membaca Surat Al-A'raf ayat 118 dan 119;
8. Dan yang terakhir/sebagai pamungkas, membaca Hauqalah, yaitu Laa haula walaa quwwata illaa bil laahil 'aliyyil 'adhiim.

Sebagai perbendaharaan ilmu pengetahuan, maka akan kami kemukakan bentuk dan macam-macam "sihir", antara lain sebagai berikut:

1. 'IYAFAH.
Caranya dengan memasukkan burung ke dalam sangkar, kemudian dibentak. Hal ini dikerjakan pada zaman jahiliyyah. Kalau terbangnya ke atas, ke samping kanan atau ke depan, berarti orang yang niat mengerjakan sesuatu itu alamat akan menemui keberhasilan, karenanya maka niat itu dapat dilaksanakan. Kalau terbangnya  turun, ke kiri atau ke belakang, maka niatnya itu digagalkan. Dan kemana saja arah burung terbang di dalam sangkar itu.

2. THIYARAH (menentukan nasib dengan suara).
Yaitu berprasangka jelek terhadap suara yang timbul dari burung tertentu dan arah terbangnya.

3. ATH-THARQU (ramalan dengan garis).
Caranya dengan menggarisi tanah atau memukul-mukul pasir, atau memukul dengan batu kecil-kecil (kerikil). Apakah batu-batu kecil itu dapat menjawab atau berbicara? Itulah menunjukkan kebodohan mereka.

4. AT-TANJIM (perbintangan, astrologi).
Caranya dengan mengambil petunjuk dari situasi falak sebagai pedoman atau atas kejadian di bumi. Dan ilmu nujum (astrologi) untuk mengetahui berita-berita ghaib, itulah kebatilan yang dilarang.

5. Tukang-tukang "sihir" apabila hendak menyihir, mereka membundeli benang dan meniupi tiap-tiap bundel sehingga berbentuk "sihir" yang mereka harapkan.

6. NAMIMAH.
Ialah orang yang berusaha mengadu domba di antara manusia, berarti dia mengerjakan "sihir", karena dia dapat mengubah dan menggoncangkan hati mereka dan dia dapat merusak hubungan di antara mereka.

7. BAYAN susunan kata yang indah), yang dapat memutar-balikkan yang haq menjadi bathil dan yang bathil menjadi benar.

(Sumber: Ilmu Mujarobat, Oleh Labib MZ dan Maftuh Ahnan). 

"Salat Gerhana Matahari (Kusuf) dan Salat Gerhana Bulan (Khusuf)"

"Sesungguhnya "matahari" dan "bulan" keduanya menjadi bukti Kekuasaan Allah. Kedua "gerhana" terjadi bukan karena matinya seseorang dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Jika kamu melihat kedua "gerhana" itu maka "salat"lah." (Sabda Rasulullah SAW. menurut HR. Bukhari)

"Salat gerhana" hukumnya adalah sunah muakad bagi laki-laki dan perempuan.

Pada waktu terjadi "gerhana matahari" dan "gerhana bulan" disunahkan untuk memperbanyak zikir, takbir, istighfar, do'a, sedekah, berbuat kebaikan dan menghubungkan silaturahmi. Hal ini sebagaimana Sabda Rasulullah SAW. dalam HR. Bukhari: 
"Sesungguhnya "matahari" dan "bulan", keduanya menjadi bukti Kekuasaan Allah. Keduanya terjadi bukan karena matinya seseorang dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Jika kamu melihat "gerhana", maka berdo'alah kepada Allah, bertakbirlah, bersedekahlah dan lakukan "salat gerhana".

Cara melaksanakan "Salat Gerhana Matahari", sebagaimana dijelaskan dalam HR. Muslim: 
Aisyah berkata: Telah terjadi "gerhana matahari" di masa Rasulullah hidup. Maka Nabi pun keluar rumah dan masuk majjid, lalu berdiri dan takbir, sedan di belakangnya orang berdiri dalam saf. Rasulullah membaca bacaan yang panjang. Kemudian takbir lalu ruku' yang lama namun lebih pendek dari bacaan pertama. Kemudian beliau mengangkat kepalanya, lalu mengucapkan samiallahu liman hamidah, Rabbana lakal hamd. Kemudian berdiri lagi, lalu membaca bacaan yang lebih pendek dari bacaan pertama, lalu takbir dan ruku' dan lebih singkat dari ruku' pertama. Kemudian bangkit sambil mengucap amiallahu liman hamidah, Rabbana lakal hamd, kemudian sujud. Setelah itu melakukan rakaat kedua, sama seperti pada rakaat pertama, hingga sempurnalah empat kali ruku' dan empat kali sujud, dan "matahari"pun terang kembali. Kemudian beliau berdiri, lalu berkhutbah di hadapan mereka, dimulai dengan memuji Allah, kemudian bersabda:
"Sesungguhnya "matahari" dan "bulan", keduanya menjadi bukti Kekuasaan Allah. Keduanya tidak terjadi karena kematian atau kelahiran seseorang. Bila kamu melihatnya, maka kerjakanlah "salat".

"Salat gerhana bulan" tidak ada perbedaan dengan "salat gerhana matahari".
HR. Muslim menjelaskan, bahwa Rasulullah bersabda: "Jika kamu melihat "gerhana bulan", maka bangkitlah untuk "salat".

Sebagian ahli ilmu berpendapat bahwa "salat gerhana bulan" seperti "salat"-"salat" sunah lainnya. Yaitu dilakukan di rumah, sendiri-sendiri atau di masjid-masjid, tapi tidak berjama'ah, karena Rasulullah telah memberi contoh seperti pada "salat gerhana matahari".
Namun siapa menghendaki, boleh "salat" berjamaah atau sendirian, karena yang diminta adalah melaksanakan "salat" dan berdo'a.

(Sumber: Pedoman Hidup Muslim, Oleh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi).

Jumat, 09 Desember 2011

"Istri Pangeran Diponegoro"

"Pangeran Diponegoro", konon katanya  pernah menikahi 8 orang wanita."


Sepanjang hidupnya, tercatat ada delapan wanita yang pernah menjadi "istri" "Pangeran Diponegoro": 


1. "Istri" Pertama: Pernikahan pertama, terjadi tahun 1803 dengan Raden Ayu (RA) Retna Madubrongto, putri Kyahi Gedhe Dadapan, dari desa Dadapan, sub distrik Tempel, dekat perbatasan Kedu dan Jogyakarta.  

2. "Istri"  Kedua: Pernikahan Kedua, tanggal 27 Pebruari 1807 dengan Raden Ajeng Supadmi (R.A. Retnakusuma), putri Raden Tumenggung Natawijaya III, Bupati Panolan, Jipang.  

3. "Istri" Ketiga: Pernikahan Ketiga, tahun 1808 dengan R.A. Retnodewati. Baik Madubrongto maupun Retnodewati wafat sewaktu "Pangeran Diponegoro" masih berada di Tegalrejo.  

4. "Istri" Keempat: Dua tahun kemudian di awal tahun 1810 "Pangeran Diponegoro" melakukan perjalanan ke wilayah timur dan menikah untuk yang keempat dengan Raden Ayu Citrowati, putri Raden Tumenggung Ronggo Parwirosentiko dengan salah satu istri selir. Tidak lama setelah melahirkan anaknya Raden Ayu Citrowati meninggal dalam kerusuhan di Madiun. Bayi yang baru saja dilahirkan kemudian dibawa oleh Ki Tembi seorang sahabat "Pangeran Diponegoro". Oleh "Pangeran Diponegoro" bayi tersebut diserahkan kepada Ki Tembi untuk diasuh. Dan diberi nama Singlon yang artinya adalah nama samaran sehingga bayi tersebut terkenal dengan nama Raden Mas Singlon.

5. "Istri" Kelima, dinikahi pada tanggal 28 September 1814, yakni R.A. Maduretno, putri Raden Rangga Prawiradirjo III dengan Ratu Maduretno (putri HB II), jadi saudara seayah dengan Sentot Prawirodirjo, tetapi lain ibu. Ketika "Pangeran Diponegoro" dinobatkan sebagai Sultan Abdulhamid, dia diangkat sebagai permaisuri bergelar Kanjeng Ratu Kedaton.l 18 Pebruari 1828.  

6. "Istri" Keenam: Pada bulan Januari 1828 "Pangeran Diponegoro" menikahi R.A. Retnaningrum, putri "Pangeran" Penengah atau Dipawiyana II.  

7. "Istri" Ketujuh, R.A. Retnaningsih, putri Raden Tumenggung Sumoprawiro, Bupati Jipang Kepadhangan, dan  

8. "Istri" Kedelapan, R.A. Retnakumala, putri Kyahi Guru Kasongan (Babad, P. XIX, b. 21-26; Lihat juga Carey, 2007:767-769). 6)


"Pangeran Diponegoro" adalah putra sulung Hamengkubuwana III, seorang raja Mataram di Yogyakarta. Lahir pada tanggal 11 November 1785 di Yogyakarta dari seorang garwa ampeyan (selir) bernama R.A. Mangkarawati, yaitu seorang garwa ampeyan (istri non permaisuri) yang berasal dari Pacitan. "Pangeran Diponegoro" bernama kecil Raden Mas Ontowiryo.




Dalam perjuangannya, "Pangeran Diponegoro" dibantu oleh puteranya bernama Bagus Singlon atau Ki Sodewo. Ki Sodewo melakukan peperangan di wilayah Kulon Progo dan Bagelen. Ki Sodewo memiliki ibu bernama Citrowati yang meninggal dalam penyerbuan Belanda.

Setidaknya "Pangeran Diponegoro" mempunyai 17 putra dan 5 orang putri, yang semuanya kini hidup  tersebar di  Indonesia, termasuk  Jawa, Sulawesi  &  Maluku.

Referensi:
1. Sejarah Singkat  "Pangeran Diponegoro", Tugas Kewarganegaraan, Oleh: Zulkarnaen  A.(0 8/2 72 79 8/TK/3 45 95).
2.  Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.
3. RA. Mangkarawati - Keturunan (Inventaris). 

Minggu, 04 Desember 2011

"Kedzaliman di Dunia dan Akhirat"

"Orang yang "dzalim" sangat rugi di "dunia" dan di "akhirat". Adapun kerugian di "dunia" bahwa Allah SWT mengharamkan dirinya dari nikmat hidayah."


Allah SWT berfirman: "Allah tidak akan memberi hidayah pada orang-orang yang "dzalim".

Dengan demikian, Allah mengharamkan kenikmatan yang paling agung dalam alam semesta ini kepada orang yang "dzalim". Bahkan Allah SWT menunda penyiksaan kepada orang-orang"dzalim".
Rasulullah SAW bersabda: "Allah akan menyiksa orang-orang yang "dzalim".

Allah SWT berfirman dalam Surat Hud ayat 102: "Dan begitulah adzab Tuhanmu apabila Dia mengadzab penduduk negeri-negeri yang berbuat "dzalim", sesungguhnya adzabNya sangat pedih lagi kasar."

Allah mengabulkan do'a yang di"dzalim"i, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
"Takutlah dengan do'a yang ter"dzalim"i, karena ia dibawa oleh awan, Allah berfirman, "Demi kemuliaan-Ku Aku akan menolong walau beberapa saat."

Rasulullah SAW bersabda: "Takutlah dengan do'a orang yang ter"dzalim"i, walaupun kafir, karena tidak ada yang menghalangi do'anya."

Dari Abdullah bin Salam, ketika Allah menciptakan makhluk, mereka sama sejajar, mereka mengangkat kepalanya ke langit. Mereka berkata, "Ya Tuhan, bersama siapa Engkau?" Dia menjawab, "Bersama orang yang ter"dzalim"i sampai haknya dikembalikan."

(Sumber: Tamasya Ke Negeri Akhirat, oleh Syaikh Mahmud Al-Mishri).


MusicPlaylistView Profile