Sabtu, 09 Januari 2010

"PENGERTIAN SISTEM SOSIAL (MENURUT SOSIOLOGI)"

"Sistem sosial" merupakan ciptaan dari manusia, dalam hal ini "sistem sosial" terjadi karena manusia adalah makhluk sosial. Ada beberapa hal yang membuat manusia menciptakan "sistem sosial", antara lain karena : ...... "




Istilah "sistem" berasal dari bahasa Yunani "Systema" yang mempunyai pengertian :

a. Suatu keseluruhan yang tersusun dari sekian banyak bagian.


b. Hubungan yang berlangsung diantara satuan-satuan atau komponen secara teratur.


Jadi, dengan kata lain istilah "systema" itu mengandung arti sehimpunan bagian atau komponen yang saling berhubungan secara teratur dan merupakan satu keseluruhan. (Sumber: Tatang M. Amirin, Drs.).


Sedangkan pengertian "sistem sosial", menurut Jabal Tarik Ibrahim dalam bukunya Sosiologi Pedesaan, adalah sejumlah kegiatan atau sejumlah orang yang mempunyai hubungan timbal balik relatif konstan. Hubungan sejumlah orang dan kegiatannya itu berlangsung terus menerus. Dari tiga hal di atas terdapat tiga hal pokok, yaitu :



a. Dalam setiap "sistem sosial" ada sejumlah orang dan kegiatannya.



b. Dalam sustu "sistem sosial", orang-orang dan atau kegiatan-kegiatan itu berhubungan secara timbal-balik.


c. Hubungan yang bersifat timbal-balik dalam suatu "sistem sosial" bersifat konstan.




Dari uraian tadi menunjukkan bahwa "sistem sosial" merupakan kesatuan yang terdiri dari bagian-bagian (elemen atau komponen), yaitu :

a. orang dan atau kelompok beserta kegiatannya.
b. Hubungan sosial, termasuk di dalamnya norma-norma, dan nilai-nilai yang mengatur hubungan antar orang atau kelompok tersebut.


"Sistem sosial" merupakan ciptaan dari manusia, dalam hal ini "sistem sosial" terjadi karena manusia adalah makhluk sosial. Ada beberapa hal yang membuat manusia menciptakan "sistem sosial", antara lain karena :

a. Manusia mempunyai kebutuhan dasar biologi tertentu seperti pangan, papan, sandang dan seks.


b. Untuk memuaskan kebutuhan ini, manusia tergantung pada organisasi-organisasi kemasyarakatan.


c. Kenyataan di atas menciptakan kebutuhan-kebutuhan lain, yaitu kebutuhan sistem pada diri individu.


d. Pada akhirnya manusia berusaha untuk memaksimumkan kepuasan dari kebutuhan dirinya.


"Sistem sosial" mempengaruhi perilaku manusia, karena di dalam suatu "sistem sosial" tercakup pula nilai-nilai dan norma-norma yang merupakan aturan perilaku anggota-anggota masyarakat. Dalam setiap "sistem sosial" pada tingkat-tingkat tertentu selalu mempertahankan batas-batas yang memisahkan dan membedakan dari lingkungannya ("sistem sosial" lainnya). Selain itu, di dalam "sistem sosial"



ditemukan juga mekanisme-mekanisme yang dipergunakan atau berfungsi mempertahankan "sistem sosial" tersebut. (Sumber: Jabal tarik Ibrahim).



MASYARAKAT DESA SEBAGAI "SISTEM SOSIAL"

Menurut Bouman, desa adalah salah satu bentuk dari kehidupan bersama sebanyak beberapa ribu orang, hampir semuanya saling mengenal; kebanyakan yang termasuk di dalamnya hidup dari pertanian, perikanan dan sebagainya, usaha-usaha yang dapat dipengaruhi oleh hukum dan kehendak alam. Di desa, terdapat ikatan-ikatan keluarga yang rapat, taat pada tradisi dan kaidah-kaidah "sosial".


Masyarakat desa merupakan "sistem sosial" yang komprehensif, artinya di dalam masyarakat desa terdapat semua bentuk pengorganisasian atau lembaga-lembaga yang diperlukan untuk kelangsungan hidup atau untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar manusia.


Di era globalisasi seperti sekarang ini, hanya ada beberapa masyarakat desa yang masih mempertahankan upaya pemenuhan kebutuhan hidup dari dalam masyarakat desa sendiri.


Dalam masyarakat desa, jumlah kelompok atau kesatuan-kesatuan "sosial" tidak hanya satu. Oleh karena itu seorang warga masyarakat dapat menjadi anggota berbagai kelompok atau kesatuan "sosial" yang ada. Misalnya atas dasar kekerabatan, tempat tinggal, agama, politik dan lain-lain. (Sumber: Jabal Tarik Ibrahim).



"UNSUR UNSUR SISTEM SOSIAL"

"Para agen pembaharu yang modernis maupun ilmuwan yang menganut teori modernisasi dalam pengembangan masyarakat membagi "sistem sosial" menjadi dua kutub besar, yaitu "sistem sosial" tradisional dan "sistem sosial" modern."



Suatu "Sistem Sosial" yang menjadi pusat perhatian berbagai ilmu "sosial", pada dasarnya merupakan wadah dari proses-proses interaksi "sosial". Secara struktural, suatu "sistem sosial" akan mempunyai unsur-unsur pokok dan unsur-unsur pokok ini merupakan bagian yang menyatu di dalam "sistem sosial".


Menurut Alvin L. Bertrand, unsur-unsur pokok "sistem sosial" adalah sebagai berikut :

1. Keyakinan (pengetahuan).


2. Perasaan (sentimen).


3. Tujuan, sasaran atau cita-cita.


4. Norma.


5. Kedudukan - peranan.


6. Tingkatan atau pangkat (rank).


7. Kekuasaan atau pengaruh (power).


8. Sanksi.


9. Sarana atau fasilitas.


10.Tekanan ketegangan (stress strain).


1. KEPERCAYAAN/KEYAKINAN (PENGETAHUAN).

Setiap "sistem sosial" mempunyai unsur-unsur kepercayaan/keyakinan-keyakinan tertentu yang dipeluk dan ditaati oleh para warganya. Mungkin juga terdapat aneka ragam keyakinan umum yang dipeluknya di dalam suatu "sistem sosial". Akan tetapi hal itu tidaklah begitu penting. Dalam kenyataannya kepercayaan/keyakinan itu tidak mesti benar. Yang penting, kepercayaan/keyakinan tersebut dianggap benar atau tepat oleh warga yang hidup di dalam "sistem sosial" yang bersangkutan.


Kepercayaan adalah faktor yang mendasar yang mempengaruhi kesatuan "sistem sosial". Kepercayaan merupakan pemahaman terhadap semua aspek alam semesta yang dianggap sebagai suatu kebenaran mutlak. (Sumber: Soleman B. Taneko, SH).


Ada beberapa faktor yang dapat menimbulkan kepercayaan, antara lain :

a. Penampilan atau penampakan atau keatraktifan.


b. Kompetensi atau kewenangan.


c. Penguasaan terhadap materi.


d. Popularitas.


e. Kepribadian. (Sumber: Kusnadi, Dr. Ir. Ms.)



2. PERASAAN (SENTIMEN).

Faktor dasar yang lain dari "sistem sosial" adalah perasaan. Perasaan adalah suatu keadaan kejiwaan manusia yang menyangkut keadaan sekelilingnya, baik yang bersifat alamiah maupun "sosial". (Sumber: Soleman B. Taneko, SH.).


Perasaan sangat membantu menjelaskan pola-pola perilaku yang tidak bisa dijelaskan dengan cara lain. Dalam soal perasaan ini misalnya, dapat menjelaskan tentang sebab seorang ayah akan menghadapi bahaya apapun untuk menyelamatkan anaknya.


Proses elemental yang secara langsung membentuk perasaan adalah komunikasi perasaan. Hasil komunikasi itu lalu membangkitkan perasaan, yang bila sampai pada tingkatan tertentu harus diakui.


3. TUJUAN ATAU SASARAN.

Tujuan atau sasaran dari suatu "sistem sosial", paling jelas dapat dilihat dari fungsi sistem-sistem itu sendiri. Misalnya, keturunan merupakan fungsi dari keluarga, pendidikan merupakan fungsi dari lembaga persekolahan dan sebagainya. Tujuan pada dasarnya juga merupakan cita-cita yang harus dicapai melalui proses perubahan atau dengan jalan mempertahankan sesuatu. (Sumber: Soleman B. Taneko, SH).


Tujuan mempunyai beberapa fungsi, antara lain:

a. Sebagai pedoman. Tujuan berfungsi sebagai pedoman atau arah terhadap apa yang ingin dicapai oleh suatu "sistem sosial". Sebagai pedoman, suatu tujuan harus jelas, realistis, terukur dan memperhatikan dimensi waktu.


b. Sebagai motivasi. Tujuan organisasi harus dapat memotivasi seluruh anggota yang terlibat dalam suatu "sistem sosial" untuk ikut berperan serta atau berpartisipasi dalam seluruh kegiatan organisasi. Tujuan harus mencerminkan aspirasi anggota, sehingga organisasi "sosial" tersebut mendapat dukungan dari seluruh anggota.


c. Sebagai alat evaluasi. Fungsi ketiga dari tujuan adalah untuk mengevaluasi suatu organisasi "sosial". Kalau akan mengevaluasi suatu "sistem sosial" harus dikaitkan dulu dengan tujuannya. Evaluasi dilakukan untuk melihat keberhasilan suatu "sistem sosial". Juga untuk mengantisipasi, apabila ada suatu hambatan tidak akan terlalu berlarut-larut atau akan dapat segera diatasi. Evaluasi dilakukan sebelum, selama dan setelah kegiatan berlangsung, dengan kata lain evaluasi dilakukan sejak dimulai suatu kegiatan sampai kapanpun. (Sumber: Kusnadi, Dr. Ir. MS.).



4. NORMA.

Norma-norma "sosial" dapat dikatakan merupakan patokan tingkah laku yang diwajibkan atau dibenarkan di dalam situasi-situasi tertentu. Norma-norma menggambarkan tata tertib atau aturan-aturan permainan, dengan kata lain, norma memberikan petunjuk standard untuk bertingkah laku dan di dalam menilai tingkah laku. Ketertiban atau keteraturan merupakan unsur-unsur universal di dalam semua kebudayaan. Norma atau kaidah merupakan pedoman untuk bersikap atau berperilaku secara pantas di dalam suatu "sistem sosial". Wujudnya termasuk :

a. Falkways, atau aturan di dalam melakukan usaha yang dibenarkan oleh umum, akan tetapi sebetulnya tidak memiliki status paksaan atau kekerasan.


b. Mores, atau segala tingkah laku yang menjadi keharusan, dimana setiap orang wajib melakukan, dan


c. Hukum, di dalamnya menjelaskan dan mewajibkan ditaatinya proses serta mengekang tingkah laku yang berada di luar ruang lingkup mores tersebut.


5. KEDUDUKAN-PERANAN.

Status dapat didefinisikan sebagai kedudukan di dalam "sistem sosial" yang tidak tergantung pada para pelaku tersebut, sedang peranan dapat dikatakan sebagai suatu bagian dari status yang terdiri dari sekumpulan norma-norma "sosial".


Semua "sistem sosial", di dalamnya mesti terdapat berbagai macam kedudukan atau status, seperti misalnya suami-istri, anak laki-laki atau perempuan. Kedudukan atau status seseorang menentukan sifat dan tingkatan kewajiban serta tanggung-jawabnya di dalam masyarakat.


Seorang individu dapat menduduki status tertentu melalui dua macam yang berlainan :

a. Status yang dapat diperoleh secara otomatis (ascribet statutes), dan


b. Status yang didapatkan melalui hasil usaha (achieved statutes). Itu diperoleh setelah seseorang berusaha atau minimal setelah ia menjatuhkan pilihannya terhadap sesuatu.


Di dalam masyarakat :

a. Sudah ditentukan peranan-peranan "sosial" yang mesti dimainkan oleh seseorang yang menduduki suatu status, dan


b. Dapat diramalkan tingkah laku individu-individu di dalam mengikuti pola yang dibenarkan sesuai dengan peranannya masing-masing sewaktu mereka berinteraksi di masyarakatnya.


Karena itu, yang disebut penampilan peranan status (status-role performance) adalah proses penunjukkan atau penampilan dari posisi status dan peranan sebagai unsur-unsur struktural di dalam "sistem sosial". Peranan-peranan "sosial" saling terpadu sedemikian rupa, sehingga saling tunjang menunjang secara timbal-balik hal menyangkut tugas hak dan kewajiban.




6. KEKUASAAN (POWER).

Kekuasaan dalam suatu "sistem sosial" seringkali dikelompokkan menjadi dua jenis utama, yaitu otoritatif dan non-otoritatif. Kekuasaan otoritatif selalu bersandar pada posisi status, sedangkan non-otoritatif seperti pemaksaan dan kemampuan mempengaruhi orang lain tidaklah implisit dikarenakan posisi-posisi status.


7. TINGKATAN ATAU PANGKAT.

Tingkat atau pangkat sebagai unsur dari "sistem sosial" dapat dipandang sebagai kepangkatan sosial (social standing). Pangkat tersebut tergantung pada posisi-posisi status dan hubungan-hubungan peranan. Ada kemungkinan ditentukan orang-orang yang mempunyai pangkat bermiripan. Akan tetapi tidak ada satu "sistem sosial" manapun yang sama orang-orangnya berpangkat sama untuk selama-lamanya.



8. SANKSI (SANCTION).


Istilah sanksi digunakan oleh sosiolog untuk menyatakan sistem ganjaran atau tindakan (rewards) dan hukuman (punishment) yang berlaku pada suatu "sistem sosial". Ganjaran dan hukuman tersebut ditetapkan oleh masyarakat untuk menjaga tingkah laku mereka supaya sesuai dengan norma-norma yang berlaku.



9. SARANA (FACILITY).

Secara luas, sarana itu dapat dikatakan semua cara atau jalan yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan sistem itu sendiri.

Bukan sifat dari sarana itu yang penting di dalam "sistem sosial", tetapi para sosiolog lebih memusatkan perhatiannya pada masalah penggunaan dari sarana-sarana itu sendiri. Penggunaan sarana tersebut dipandang sebagai suatu proses yang erat hubungannya dengan "sistem-sistem sosial".


10. TEKANAN - TEGANGAN.

Dalam "sistem sosial" akan terdapat unsur-unsur tekanan-ketegangan dan hal itu mengakibatkan perpecahan (disorganization). Dengan kata lain, tidak ada satupun "sistem sosial" yang secara seratus persen teratur atau terorganisasikan dengan sempurna.



Soerjono Soekanto memberikan contoh secara konkrit mengenai unsur-unsur dari "sistem sosial" tersebut dengan mengambil keluarga batih sebagai salah satu "sistem sosial" :

1. Adanya suatu keyakinan/kepercayaan, bahwa terbentuknya keluarga batih merupakan kodrat alamiah.


2. Adanya perasaan dan pikiran tertentu dari anggota keluarga batih terhadap anggota lainnya yang mungkin terwujud dalam rasa saling menghargai, bersaing dan seterusnya.


3. Tujuan adanya keluarga batih adalah antara lain agar manusia mengalami sosialisasi dan mendapatkan jaminan akan ketenteraman hidupnya.


4. Setiap keluarga batih mempunyai norma-norma yang mengatur hubungan antara suami dengan istri, anak-anak dengan ayah atau ibunya.


5. Setiap anggota keluarga batih mempunyai kedudukan dan peranan masing-masing baik sarana internal maupun eksternal.


6. Di dalam setiap keluarga batih lazimnya terdapat proses pengawasan tertentu, yang semula datang dari orang tua yang dipengaruhi oleh pengawasan yang ada dalam masyarakat.


7. Sanksi-sanksi tertentu juga dikembangkan di dalam keluarga batih, yang diterapkan kepada mereka yang berbuat benar atau salah.


8. Sarana-sarana tertentu juga ada pada setiap keluarga batih, umpamanya sarana untuk mengadakan pengawasan, sosialisasi dan seterusnya.


9. Suatu keluarga batih akan memelihara kelestarian hidup maupun kelangsungannya di dalam proses yang serasi.


10. Secara sadar dan terencana (walaupun kadang-kadang mungkin tidak demikian) keluarga-keluarga batih berusaha untuk mencapai tingkat kualitas hidup tertentu yang diserasikannya dengan kualitas lingkungan alam maupun lingkungan sosialnya. (Sumber: Soleman B. Taneko, SH.).


"SISTEM SOSIAL" TRADISIONAL DAN "SISTEM SOSIAL" MODERN.

Para agen pembaharu yang modernis maupun ilmuwan yang menganut teori modernisasi dalam pengembangan masyarakat membagi "sistem sosial" menjadi dua kutub besar, yaitu "sistem sosial" tradisional dan "sistem sosial" modern.


Menurut Rogers dan Schoemaker, ciri-ciri "sistem sosial" tradisional adalah :

a. Kurang berorientasi pada perubahan.


b. Kurang maju dalam teknologi atau masih sederhana.


c. Relatif rendah kemelek-hurupannya (tingkat buta hurup tinggi).


d. Sedikit sekali komunikasi yang dilakukan oleh anggota "sistem' dengan pihak lain.


e. Kurang mampu menempatkan diri atau melihat dirinya dalam peranan orang lain, terutama peranan orang di luar "sistem".


Sebaliknya "sistem sosial" modern menurut Rogers dan Schoemaker mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

a. Pada umumnya mempunyai sikap positif terhadap perubahan.


b. Teknologinya sudah maju dengan "sistem " pembagian kerja yang kompleks.


c. Pendidikan dan ilmu pengetahuan dinilai tinggi.


d. Hubungan "sosial" lebih bersifat rasional dan bisnis dari pada bersifat emosional.


e. Pandangannya kosmopolit, karena anggota "sistem" sering berhubungan dengan orang luar, mudah memasukkan ide baru ke dalam "sistem sosial".


f. Anggota "sistem sosial" mampu berempati, dapat menghayati peranan orang lain yang betul-betul berbeda dengan dirinya sendiri.


Secara garis besar "sistem sosial" modern dicirikan oleh kemampuan "sistem sosial" itu untuk menyesuaikan diri dengan perubahan. Oleh karena itu kita sering menyebut orang tua yang sulit berubah dengan sebutan tradisional atau kolot, sebenarnya yang dimakseud adalah kelambanannya untuk berubah. Orang-orang yang fleksible terhadap perubahan-perubahan di sekitarnya disebut moderat.

"ORGANISASI SOSIAL PEDESAAN"

"Organisasi" dalam keadaan terbuka, menerima masukan misalnya nilai-nilai, sikap-sikap, pengaruh kelompok-kelompok lainnya dalam masyarakat, teknologi dan sebagainya. Onput ini diterima oleh "organisasi" sesuai dengan kemampuan dan keterbatasan yang dimilikinya."




"Organisasi" sebagai sebuah komponen dengan berbagai peranan masing-masing anggotanya, dengan sendirinya memiliki permasalahan tersendiri. Perjalanan suatu "organisasi" ibarat perahu layar yang menyinggahi bandar dan pelabuhan, bukan tanpa ombak dan batu karang melintang, tentu saja. Demikian juga perjalanan dan perkembangan "organisasi sosial pedesaan". Oleh sebab itu, adalah keliru bila ada pendapat yang mengatakan bahwa "organisasi sosial pedesaan" itu statis, tetap dan tak berkembang.


Perkembangan dan perubahan dalam "organisasi" justru merupakan salah satu ciri "organisasi" itu sendiri, termasuk "organisasi sosial pedesaan". Untuk "organisasi sosial pedesaan" di Indonesia misalnya, tidak terkecuali pula perkembangan dan perubahan-perubahan; apalagi pada dekade terakhir baru-baru ini melalui pembangunan dan modernisasi.


Perkembangan seringkali mengakibatkan perubahan, bahkan kadangkala perubahan atas apa yang ada sebelumnya. Demikian juga perkembangan desa, acapkali meminta setiap anggota masyarakat desa untuk bersedia merubaha sikap, pandangan dan kelakuannya, agar dengan demikian terjadilah modernisasi dan kemajuan masyarakat. Dalam keadaan demikian, tak jarang terjadi konflik baik kecil-kecilan maupun besar-besaran, pertentangan pendapat dan kelakuan di sana-sini. Konflik dapat terjadi antara lain karena perubahan itu sendiri, dapat pula karena datangnya gagasan baru yang dapat terjadi karena perbedaan pendapat diantara para pemimpin di "pedesaan".


Mengerti "organisasi sosial pedesaan" berarti memahami seluk beluk "organisasi"nya, mengerti secara menyeluruh ciri-ciri dan kelemahan serta kelebihannya. Menurut kenyataan selama ini, pemahaman atas "organisasi sosial pedesaan" sebenarnya merupakan kunci keberhasilan pengembangan "pedesaan". Oleh sebab itu kajian keadaan, masalah dan perkembangan "organisasi sosial pedesaan" sangat diperlukan.


Semoga, melalui tulisan ini makin nyata tentang "organisasi sosial pedesaan" dan bagaimana seharusnya memandangnya, mengembangkannya dan mendekatinya secara simpatik.


PENGERTIAN "ORGANISASI SOSIAL"

Dewasa ini banyak "organisasi sosial" yang dikembangkan oleh pemerintah sebagai sarana penunjang pembangunan, baik dalam rangka efisiensi usaha maupun untuk tujuan yang lain. Beberapa contoh "organisasi" yang dikembangkan oleh pemerintah antara lain : Koperasi Unit Desa, Himpunan Petani Pemakai Air dan lain-lain.


"Organisasi sosial" dapat dibentuk oleh masyarakat sesuai dengan kepentingannya. Misalnya Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, Lembaga Bantuan Hukum, Yayasan-yayasan yang mengelola berbagai kegiatan sesuai dengan misi masing-masing dan lain-lain. "Organisasi" yang dibentuk secara swadaya oleh masyarakat disebut Lembaga Swadaya Masyarakat / LSM (Non Goverment "Organization" / NGO). Umumnya Lembaga Swadaya Masyarakat dibentuk untuk mensejahterakan masyarakat dalam bidang-bidang kehidupan tertentu.


"Organisasi", menurut Amitai Etzioni, adalah unit "sosial" (atau pengelompokan manusia) yang sengaja dibentuk dan dibentuk kembali dengan penuh pertimbangan dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Pada umumnya "organisasi" ditandai oleh ciri-ciri sebagai berikut:

1. Adanya pembagian kerja, kekuasaan dan tanggung-jawab komunikasi;


2. Ada satu atau beberapa pusat kekuasaan yang berfungsi mengawasi usaha-usaha "organisasi" serta mengarahkan "organisasi" dalam mencapai tujuan;


3. Ada penggantian tenaga (kaderisasi) bila ada individu yang tak mampu menjalankan tugas-tugas "organisasi".


Pengertian "organisasi" yang lebih tajam adalah suatu sistem sosial yang bersifat langgeng, formal, memiliki identitas kolektif yang tegas, daftar anggotanya terinci dan mempunyai sifat hierarkis. Batasan ini menegaskan bahwa "organisasi sosial" merupakan sistem "sosial". Oleh karena itu konsep-konsep yang berhubungan dengan sistem "sosial" (struktur "sosial", fungsi dan integrasi) dapat digunakan untuk menganalisa "organisasi".


CLOSED SYSTEM DAN OPEN SYSTEM "ORGANISASI".

Karakteristik "organisasi" yang bersistem tertutup adalah adanya kecenderungan yang kuat untuk bergerak mencapai suatu keseimbangan dan entropi (equilibrium and entropy) yang statis. Sifat ini menunjukkan adanya kebekuan atau tepatnya keseimbangan yang beku (a static equilibrium). Istilah entropi mempunyai pengertian yang cenderung dipergunakan pada sistem yang tertutup dengan tidak adanya potensi berikutnya untuk membangkitkan daya kerja atau usaha transformasi. Millar, menyebutnya : Entropi dikenal sebagai suatu sistem yang menunjukkan kekacauan, ketidak-teraturan, tidak adanya pola kerja, atau "organisasi" yang diatur secara acak (randomness).


"Organisasi" dalam keadaan tertutup, tidak menerima masukan dari lingkungan. Sehingga setiap masukan yang mencoba memasuki daerah batas "organisasi" terpental kembali, seperti misalnya nilai, sikap, teknologi dan minat-minat dari kelompok penekanan tidak berdaya menembus batas "organisasi". Dalam keadaan semacam ini "organisasi" berada dalam kekosongan dan seperti entropi "organisasi" ini akan mati, karena tidak mempunyai potensi berikut untuk mengembangkan dirinya.


Sistem terbuka mempunyai interaksi hubungan yang berkelangsungan (continual interactions) dengan lingkungannya dan mencapai suatu tingkat dinamika tertentu atau keseimbangan yang dinamis; Sementara itu sistem ini masih mempunyai kemampuan yang berlanjut untuk melangsungkan kerja dan melakukan transformasi ke pihak lain. Sistem ini mempunyai proses putaran yang terbina yang menyebabkan daya hidupnya berkelangsungan. Dan "organisasi" dipandang sebagai hal yang dinamis dan senantiasa berubah, bukannya sebagai mesin yang bergerak operasinya ejeg, rutin dan statis.


"Organisasi" dalam keadaan terbuka, menerima masukan misalnya nilai-nilai, sikap-sikap, pengaruh kelompok-kelompok lainnya dalam masyarakat, teknologi dan sebagainya. Onput ini diterima oleh "organisasi" sesuai dengan kemampuan dan keterbatasan yang dimilikinya. Sehingga keterbukaan ini bukanlah keterbukaan yang mutlak (totality open), melainkan disesuaikan dengan kemampuan, dan keterbatasan "organisasi". Jadi tingkat keterbukaan itu ditentukan oleh bagaimana batas-batas "organisasi" itu mengijinkan pengaruh ke lingkungan masuk ke dalamnya. Selanjutnya masukan diproses ke dalam "organisasi", dan dirupakan sebagai hasilnya. Dan setelah hasil dirasakan oleh masyarakat, maka "organisasi" menerima umpan balik sebagai masukan baru. Demikian seterusnya "organisasi" hidup dalam ketergantungan dan interaksi yang dinamis dengan lingkungannya.


PENGGUNAAN PENGEMBANGAN "ORGANISASI" (ORGANIZATION DEVELOPMENT - OD) UNTUK MENGADAKAN PERUBAHAN.

"Organization" Development (OD), suatu istilah yang telah menjadi ungkapan umum, adalah suatu proses untuk mengadakan perubahan "organisasi". OD menerapkan banyak konsep dan teknik yang telah dikembangkan dalam bidang-bidang perilaku yang begitu beragam seperti hubungan-hubungan karyawan, sosiologi, antropologi, pendidikan manajemen, hubungan manusiawi dan psikologi klinik.


Singkatnya OD adalah suatu proses pemecahan masalah kelompok yang dimaksudkan untuk menghasilkan perubahan berencana dan tertib guna tujuan meningkatkan keefektifan seluruh kebudayaan suatu "organisasi".


Kegiatan-kegiatan yang disebut sebagai intervensi dimaksudkan untuk membantu anggota-anggota "organisasi" dalam menyesuaikan kepada teknologi yang cepat berubah dan kepada tipe-tipe anggota yang lebih menentang. Sesungguhnya setiap masalah "organisasi" dapat menjadi suatu pekerjaan bagi seorang pelaksana OD, yang berusaha mendiagnosa masalah-masalah yang spesifik, memberikan umpan balik kepada para anggota "organisasi" yang bertalian dengan pendapat-pendapatnya, dan kemudian membantu dalam mengembangkan strategi dan intervensi guna perbaikan "organisasi" keseluruhan.

Jumat, 01 Januari 2010

"MACAM MACAM KONTRASEPSI DAN PEMAKAIANNYA"

"Zaman sekarang banyak wanita lebih memilih oral "kontrasepsi" atau lebih dikenal sebagai pil KB. Kenapa begitu? Selain paling efektif, aman dan efek sampingnya relatif rendah, penggunaannya juga praktis."




Ada bermacam-macam alasan pribadi mengapa kita membutuhkan "kontrasepsi": Untuk mengatur jumlah dan jarak anak yang diinginkan, mencegah kehamilan di luar nikah dan mengurangi resiko terjangkit penyakit hubungan seksual. Secara internasional, "kontrasepsi " dibutuhkan untuk membatasi jumlah penduduk dunia dan menjamin ketersediaan sumber daya alam sehingga menjaga kualitas hidup manusia.
Mengambil keputusan yang tepat untuk sebuah keluarga yang terencana bukanlah hal yang mudah. Seyogyanya, pasangan harus mengetahui fakta dan informasi yang benar seputar "kontrasepsi", termasuk plus minusnya supaya semakin mantap membuat keputusan yang tepat.
Zaman sekarang banyak wanita lebih memilih oral "kontrasepsi" atau lebih dikenal sebagai pil KB. Kenapa begitu? Selain paling efektif, aman dan efek sampingnya relatif rendah, penggunaannya juga praktis.


Pil "Kontrasepsi" yang banyak beredar di pasaran umumnya tersedia dalam bentuk calendar pack. Setiap kemasan berisi 21 buah pil aktif yang harus diminum setiap hari selama 21 hari. Menstruasi akan terjadi saat minum plasebo atau pada interval 7 hari bebas minum pil.

Pil "Kontrasepsi" kombinasi mengandung estrogen dan progestin / progesteron. Ada pula pil "kontrasepsi" dengan efektivitas lebih rendah karena hanya mengandung progesteron (POP = progestin-only-pill), biasanya digunakan pada masa menyusui.


MACAM-MACAM "KONTRASEPSI".

Supaya dapat memutuskan pilihan yang paling tepat sesuai kebutuhan dan kondisi anda, kenalilah berbagai jenis alat "kontrasepsi" dan cari tahu mana yang sesuai untuk anda.


Efektivitas suatu metode "kontrasepsi" biasanya dinyatakan dengan angka z (PI/Pearl Index). Angka ini menunjukkan jumlah kehamilan yang terjadi pada 100 wanita bila menggunakan metode "kontrasepsi" tersebut selama 1 tahun. Angka PI yang semakin kecil menandakan semakin efektifnya metode"kontrasepsi" tersebut.



A. "Kontrasepsi" Sterilisasi.

Yaitu pencegahan kehamilan dengan mengikat sel indung telur pada wanita (tubektomi) atau testis pada pria (vasektomi). Proses sterilisasi ini harus dilakukan oleh ginekolog (dokter kandungan). Efektif bila anda memang ingin melakukan pencegahan kehamilan secara permanen, misalnya karena faktor usia.


B. "Kontrasepsi" Teknik.

1. Coitus interruptus (senggama terputus): Ejakulasi dilakukan diluar vagina. Efektivitasnya 75-80 %. Faktor kegagalan biasanya terjadi karena ada sperma yang sudah keluar sebelum ejakulasi, orgasme berulang atau terlambat menarik penis keluar.


2. Sistem kalender (pantang berkala): Tidak melakukan senggama pada masa subur, perlu kedisiplinan dan pengertian antara suami-istri karena sperma maupun sel telur (ovum) mampu bertahan hidup s/d 48 jam setelah ejakulasi. Efektivitasnya 75-80 %. Faktor kegagalan karena salah menghitung masa subur (saat ovulasi) atau siklus haid tidak teratur sehingga penghitungan tidak akurat.


3. Prolonged lactation atau menyusui, selama 3 bulan setelah melahirkan saat bayi hanya minum ASI dan menstruasi belum terjadi, otomatis anda tidak akan hamil. Tapi begitu ibu hanya menyusui < style="font-weight: bold; font-style: italic;">C. Kontrasepsi Mekanik.


1. Kondom: Efektif 75-85 %. Terbuat dari latex, ada kondom untuk pria maupun wanita serta berfungsi sebagai pemblokir / bomer sperma. Kegagalan umumnya karena kondom tidak dipasang sejak permulaan senggama atau terlambat menarik penis setelah ejakulasi sehingga kondom terlepas dan cairan sperma tumpah di dalam vagina.
Kekurangan metode ini :

- Mudah robek bila tergores kuku atau benda tajam lain.

- Membutuhkan waktu untuk pemasangan.

- Mengurangi sensasi seksual.


2. Spermatisida: Bahan kimia aktif untuk membunuh sperma, berbentuk cairan, krim atau tisu vagina yang harus dimasukkan ke dalam vagina 5 menit sebelum senggama. Efektivitasnya 70 %. Sayangnya dapat menyebabkan reaksi alergi. Kegagalan sering terjadi karena waktu larut yang belum cukup, jumlah spermatisida yang digunakan terlalu sedikit atau vagina sudah dibilas dalam waktu < onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://ictjogja.net/kesehatan/B1_8/iud2.gif">ce) atau spiral. Terbuat dari bahan polyyethylene yang diberi lilitan logam, umumnya tembaga (Cu) dan dipasang di mulut rahim. Efektivitasnya 92-94 %. Kelemahan alat ini yaitu dapat menimbulkan rasa nyeri di perut, infeksi panggul, pendarahan di luar masa menstruasi atau darah menstruasi lebih banyak dari biasanya.


IUS atau Intra Uterine System adalah bentuk "kontrasepsi" terbaru yang menggunakan hormon progesteron sebagai ganti logam. Cara kerjanya sama dengan IUD tembaga, ditambah dengan beberapa nilai plus:

- Lebih tidak nyeri dan kemungkinan menimbulkan pendarahan lebih kecil.

- Menstruasi menjadi lebih ringan (volume darah lebih sedikit) dan waktu haid lebih singkat.


D. 'Kontrasepsi' Hormonal.

Dengan fungsi utama untuk mencegah kehamilan (karena menghambat ovulasi), "kontrasepsi" ini juga biasa digunakan untuk mengatasi ketidak-seimbangan hormon estrogen dan progesteron dalam tubuh.



Harus diperhatikan beberapa faktor dalam pemakaian semua jenis obat yang bersifat hormonal, yaitu:

- Kontraindikasi mutlak (sama sekali tidak boleh diberikan): kehamilan, gejala thromboemboli, kelainan pembuluh darah otak, gangguan fungsi hati atau tumor dalam rahim.


- Kontraindikasi relatif (boleh diberikan dengan pengawasan intensif oleh dokter): penyakit kencing manis (DM), hipertensi, pendarahan vagina berat, penyakit ginjal dan jantung.


"Kontrasepsi" hormonal dapat berupa pil KB yang diminum sesuai petunjuk hitungan hari yang ada pada setiap blisternya, suntikan, susuk yang ditanam untuk periode tertentu, koyo KB atau spiral berhormon.



1. PIL "KONTRASEPSI" KOMBINASI (OC / ORAL "CONTRACEPTION").

Berupa lombinasi dosis rendah estrogen dan progesteron. Merupakan metode KB paling efektif karena bekerja dengan beberapa cara sekaligus, yaitu :

- Mencegah ovulasi (pematangan dan pelepasan sel telur).

- Meningkatkan kekentalan lendir leher rahim sehingga menghalangi masuknya sperma.

- Membuat dinding rongga rahim tidak siap menerima hasil pembuahan.


Bila pasien disiplin minum OC-nya, dapat dipastikan perlindungan "kontrasepsi" hampir 100 %. Selain itu, OC merupakan metode yang paling reversibel, artinya bila pengguna ingin hamil dapat langsung berhenti minum pil dan biasanya langsung hamil dalam 3 bulan.


Manfaat Tambahan OC.
Selain berfungsi sebagai alat kontrasepsi, OC ternyata juga memberikan manfaat yang tidak langsung berhubungan dengan efek "kontrasepsi" (non-contraceptive benefits) yaitu menyembuhkan atau mengurangi resiko terjadinya beberapa kelainan atau keluhan tertentu, seperti :

1. Menyembuhkan Kelainan Menstruasi.
Pil "kontrasepsi" dapat menyembuhkan beberapa kelainan menstruasi umum antara lain :

- Siklus menstruasi yang tidak teratur (iregular cycle).

- Darah yang keluar pada saat menstruasi terlalu banyak (hiper-menore).

- Sindroma sebelum haid (premenstrual syndrome / PMS).

- Haid dengan rasa nyeri hebat di perut (dismenore) Dengan mengkonsumsi OC, siklus haid menjadi teratur dan lebih ringan sehingga resiko terkena anemia dan defisiensi besi akan berkurang s/d 50 %.


2. Mengatasi Masalah Hiper-androgenisme.
Dalam tubuh wanita diproduksi hormon reproduksi estrogen, progesteron dan androgen. Hormon androgen (testosteron) yang umum disebut hormon reproduksi pria dibutuhkan oleh wanita dalam jumlah sangat sedikit (kurang lebih 0,5 mg / liter darah) untuk daya tahan tubuh dan gairah seksual (libido).


Wanita usia reproduktif (kurang lebih 15-40 tahun) sering mengalami ketidak-seimbangan hormonal, dimana produksi hormon androgennya akan meningkat sehingga terjadi hiper-androgen yang dapat menyebabkan :


- Masalah pada kulit dan rambut: kulit berminyak, komedo, jerawat, ketombe (yang dapat menyebabkan kebotakan) atau hirsutisme (pola tumbuh rambut pada wanita yang menyerupai pria / male hair pattern).

- Masalah ginekologis : gangguan siklus haid., PCOS (Poly-Cystic-Ovarian-Syndrome) yang dapat menyebabkan sulit punya anak. kegemukan (obesitas) dan abnormalitas metabolisme tubuh.


OC istimewa mengandung CPA (Siproteron Asetat), zat anti-androgen paling efektif saat ini yang bekerja khusus mengatasi masalah hiper-androgen dengan menekan produksi androgen (dalam tubuh) dan minyak (di bawah permukaan kulit) sehingga mencegah timbulnya komedo dan ketombe bahkan jerawat.


Berbeda dengan obat-obatan topikal dan antibiotik yang membunuh bakteri dan mengobati infeksi di permukaan kulit. CPA langsung bekerja pada akar masalah yaitu dengan mencegah produksi minyak yang berlebihan. Tetapi karena obat ini bekerja step-by-step dari dalam tubuh untuk menormalkan kadar hormon androgen, perbaikan pada kulit wajah baru dapat dilihat setelah 1-3 bulan pemakaian.


Manfaat Pencegahan, yaitu OC mengurangi resiko terkena :

- Infeksi pada organ reproduksi internal, s/d 50 %.

- Kanker ovarium dan endometrium, s/d 40 %.

- Benjolan jinak payudara, s/d 40 %.

- Kista ovarium, s/d 80 %.

- Infertilitas primer, s/d 40 %.

- Kehamilan ektopik (di luar kandungan), s/d 90 %.


Cara Minum OC :

OC harus diminum setiap hari dengan cara mengikuti petunjuk nama hari yang tertera di blisternya. Untuk memulai blister pertama anda, mulailah minum pil pada hari pertama hsid, misalnya: anda mendapat haid hari Rabu maka ambil pil yang di bawahnya anda tanda Rabu. Lanjutkan minum pil setiap hari sampai habis (21 hari) yang pasti jatuh pada hari Selasa. Kemudian berhenti minum pil selama 7 hari (akan terjadi menstruasi). Setelah 7 hari bebas pil ini, lanjutkan minum pil dari kemasan yang baru pada hari Rabu lagi. Jadi untuk blister kedua dan seterusnya, selalu ikuti siklus 21 hari minum pil + 7 hari bebas tablet.



2. SUNTIK.
Tersedia suntik 1 bulan (estrogen + progesteron) dan 3 bulan (depot progesteron, tidak terjadi haid). Cukup praktis tetapi karena memasukkan hormon sekaligus untuk 1 atau 3 bulan, orang yang sensitif sering mengalami efek samping yang agak berat.


3. SUSUK KB (IMPLAN).
Depot progesteron, pemasangan dan pencabutan harus dengan operasi kecil.


4. KOYO KB (PATCH).
Ditempelkan di kulit setiap minggu, sayangnya bagi yang berkulit sensitif sering menimbulkan reaksi alergi.


TIPS MEMILIH ALAT "KONTRASEPSI".

Tidak ada metode "kontrasepsi" yang efektif 100 % atau dapat cocok untuk semua orang, jadi jangan mendasarkan pemilihan "kontrasepsi" anda pada situasi orang lain. Konsultasikan dengan ginekolog mengenai kelebihan dan kekurangan setiap metode untuk kondisi anda.


Tentukan berapa lama anda ingin menunda kehamilan : temporer atau permanen. Bila anda membutuhkan "kontrasepsi" dalam jangka waktu tidak terlalu lama (< style="font-weight: bold; font-style: italic;">"kontrasepsi" yang mengandung estrogen karena dikhawatirkan akan mengurangi produksi ASI.


Bila anda ingin menggunakan "kontrasepsi" hormonal, perhatikan sejarah kesehatan anda, misalnya riwayat penyakit diabetes kronis, jantung, ginjal, thromboemboli dan hormone-dependent-cancer.


Lakukan pemeriksaan pap smear, mamografi dan tekanan darah secara teratur (misalnya 1 x per tahun) selama menggunakan alat "kontrasepsi".


Gunakan OC berfungsi ganda dengan kandungan CPA (anti-androgen), sehingga anda mendapatkan manfaat ganda : ber-KB sambil mendapatkan kulit wajah halus bebas minyak dan jerawat sekaligus berbagai manfaat "non-contraceptive".


MusicPlaylistView Profile