Sabtu, 28 Februari 2015

"RESAH DAN SELISAH"

"Siapapun orangnya, pasti pernah merasakan apa yang disebut dengan "Resah", "Gelisah", sedih, susah, kecewa, gundah gulana, nestapa."



Siapapun dia, apa itu pejabat atau rakyat jelata, apa dia kaya atau miskin, yang cakep atau yang sedang-sedang saja, laki laki atau perempuan, tua atau muda. Siapapun itu, tanpa kecuali. Ketika hati sedang gundah gulana, dan tatkala hati itu sedang dirundung sebuah bencana ke"gelisah"an dan ke"resah"an, maka kemanakah anda akan meminta pertolongan?   Minta pertolongan pada jin,  syetan, ataukah kepada sesama manusia lainnya?

Memang pada situasi yang demikian ini kebanyakan orang tidak mampu berpikir jernih, bahkan tidak mampu berpikir rasional. Itulah sebabnya dalam kondisi hati yang "resah", gunda gulana begini ini banyak orang yang terjerumus ke jalan yang sesat, yang hitam, minta pertolongan selain Allah, yaitu minta tolong pada makhluk jin, syetan.
 
Ada juga  sementara orang  minta tolong pada orang lain, setidak-tidaknya kalau semua persoalan dicurahkan pada seseorang, terasa agak plong hati ini. Itulah sebabnya, masa kini tumbuh subur bak cendawan di musim hujan biro-biro konsultasi, biro semacam ini jadi laris manis bagai kacang goreng.
 
Sebaik-baik penolong adalah Allah SWT, Dialah satu satunya dzat yang serba maha, maha pengasih dan penyayang, maha kaya, maha Agung, maha perkasa, dan maha-maha lainnya. Nah, kalau sudah demikian, mengapa kita mesti bingung untuk mencari pertolongan kapada yang lain, selain Allah?
 
Laa haula walaa Quwwata illa billaah..(tiada kekuatan melainkan kekuatan-Nya),   lalu apakah patut kita untuk mengambil penolong selain Allah dan ‘orang-orang yang beriman’.  Jadi kita sudah tahu kan apa akhirnya.. yaitu : kembalilah kepada Allah.  Nah itulah  solusi terbaik, seiringan dengan teman’ (yaitu teman dari orang-orang yang beriman).
 
Entah mengapa hati itu kadang terasa "gelisah" dengan sendirinya, seolah-olah ada sesuatu hal yang sedang disesalkan atau tidak disenangi. Bisa jadi itu adalah bisikan dari syetan atau bisa jadi juga itu adalah sebuah insting akan sebuah perasaan yang berkaitan erat dengan persahabatan dan persaudaraan,  bisa jadi juga hasil akhir yang tidak seperti kita harapkan, kita sudah memeprhitungkan dari segala aspek, hasilnya pasti menguntungkan, namun ternyata hasil akhirnya jauh dari yang diharapkan. Sewaktu hati itu sedang "gelisah" akan sesuatu polemik yang dihadapi, maka carilah ‘sandaran hati’ untuk dunia dan akheratmu.
 
Yaitu suatu ‘sandaran’‘ yang mampu membuat kita berlapang dada, berbagi dan saling merasakan. Dan tahukah anda  kemana sandaran itu harus dicari? Kemana lagi kalau tidak pada Allah dan orang-orang yang beriman.
 
Jangankan kita sebagai manusia biasa, bahkan Rasulullah SAW. pun pernah mengalami keadaan tersebut pada tahun ke-10 masa kenabiannya. Pada masa yang masyhur dengan ‘amul huzni (tahun duka cita) itu, beliau ditinggal wafat oleh pamannya, Abu Thalib, kemudian dua bulan disusul dengan wafatnya istri yang sangat beliau sayangi, Khadijah bintu Khuwailid. 
 
Ya dimaklumi saja jika kita sebagai manusia merasakan ke"gelisah"an, gundah gulana, kecemasan, ke"resah"an ataupun kekhawatiran. 
 
Hati ini, pada dasarnya telah diciptakan bersih oleh Allah SWT. bersih dari berbagai macam penyakit. Namun, seiring dengan nafas kehidupan yang terus berhembus dan kian menua dalam rimba kehidupan, perlahan hati pun mulai terkontaminasi, terkotori, dan akhirnya menjadi tempat bersemayamnya berbagai macam penyakit, yang salah satunya adalah penyakit "gelisah" itu tadi.
 
"Gelisah", memang satu penyakit hati yang sangat berbahaya namun hampir tidak pernah dipertimbangkan oleh kebanyakan manusia. Karena, biasanya mereka sudah memiliki cara masing-masing untuk menghilangkan "gelisah" tersebut. Ada yang menghilangkannya dengan cara-cara yang sesuai atau tidak melanggar syariat, namun banyak pula yang menghilangkan penyakit tersebut dengan cara-cara yang menyimpang dari syariat. Akibatnya, "gelisah" mereka hilang, dosa pun menerkam.
 
ALLAH SWT. telah menciptakan dan menganugerahkan hati bagi manusia sebagai salah satu perangkat kehidupan yang sangat vital, yang akan membantu melihat dan mendengar seruan Allah SWT., yang akan membantunya dapat merasakan apa yang tengah dirasakan oleh orang lain. Namun, kita juga mengetahui bahwa segala sesuatu itu ada, tiada, terjadi, dan tidak terjadi hanya karena Allah SWT. Dari sana, kita juga tahu bahwa Allah SWT-lah yang telah menciptakan penyakit, dan Allah SWT-lah yang memiliki penawarnya. Dan satu-satunya penawar yang paling efektif dan tidak bertentangan dengan syariat Islam untuk menangkal atau mengobati penyakit "gelisah" adalah dengan cara selalu mengingat Allah SWT, sebagaimana telah dikatakan dengan jelas oleh Allah SWT di dalam Al-Qur'an, yang artinya:
 
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’du : 28)
   
Dalam keseharian semua orang membutuhkan katenangan hati, dan untuk mendapatkan ketenangan hati bukanlah hal yang mustahil. Allah SWT mengajarkan kepada kita langkah nyata mendapatkan ketenangan hati, yaitu dengan berdzikir, ingatlah, dengan dzikir mengingat Allah hati akan tentram. Sebaliknya, ketika kita jarang ingat kepada Allah, hati akan kering dan gersang.
 
Bagaimana cara Islami untuk menenangkan hati kita yang sedang dalam keadaan "gelisah" sesuai Syari’at Islam tentunya. Di antaranya adalah :
 
1.      Sabar
Hal pertama yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ketika menghadapi cobaan yang tiada henti adalah dengan meneguhkan jiwa dalam bingkai kesabaran. Karena dengan kesabaran itulah seseorang akan lebih bisa menghadapi setiap masalah berat yang mendatanginya.

Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (Qs. Al-Baqarah 153).

Selain menenangkan jiwa, sabar juga dapat menstabilkan kacaunya akal pikiran akibat beratnya beban yang dihadapi. Ujian yang Tuhan berikan kepada kita itu sebenarnya untuk menguji keimanan kita. Jika kita sabar melewai cobaan dan ujian akan meningkatlah level iman kita. Bukankan Allah itu menguji hamba-Nya sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. Jika ujian itu datang padanya, berarti Allah yakin kita bisa melewatinya. Allah saja yakin, masa kita Ngga sih…

2.      Adukanlah semua itu kepada Allah
Ketika seseorang menghadapi persoalan yang sangat berat, maka sudah pasti akan mencari sesuatu yang dapat dijadikan tempat mengadu dan mencurahkan isi hati yang telah menjadi beban baginya selama ini. Allah sudah mengingatkan hamba-Nya di dalam ayat yang dibaca setiap muslim minimal 17 kali dalam sehari:

“Hanya kepada-Mulah kami menyembah, dan hanya kepada-Mulah kami meminta pertolongan” (QS. Al Fatihah 5).

Ketika keluhan itu diadukan kepada Sang Maha Pencipta, maka akan meringankan beban berat yang kita derita. Kalo kita curhat sama teman, mungkin malah akan membuka aib kita sendiri malah kan????.....
Ok…..
Mungkin di antara kalian ada yang lebih milih curhat sama teman. Syukur teman kita bisa dipercaya dan tidak menyebar luaskan masalah kita, lha kalau teman kita ember alias tidak bisa jaga rahasia, yang ada malah menambah masalah karena aib kita diumbar-umbar. Sudah deh…… curhatnya sama Sang Pencipta saja.

Ya...... 
Mengingat bahwa manusia adalah makhluk yang banyak sekali dalam mengeluh, tentu ketika keluhan itu diadukan kepada Sang Maha Pencipta, maka semua itu akan meringankan beban berat yang selama ini kita derita.
Rasulullah SAW. ketika menghadapi berbagai persoalan pun, maka hal yang akan beliau lakukan adalah mengadu ujian tersebut kepada Allah Ta’ala. Karena hanya Allah lah tempat bergantung bagi setiap makhluk.


3.      Positive thinking
Positive thinking atau berpikir positif, perkara tersebut sangatlah membantu kita untuk mengatasi rasa "gelisah" yang sedang kita rasa. Karena dengan berpikir positif, maka segala bentuk kesukaran dan beban yang ada dalam diri kita menjadi terobati karena adanya sikap bahwa segala masalah yang dihadapi, pastilah mempunyai jalan yang lebih baik dan jalan keluar  yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Akan selalu ada jalan jika kita percaya kalau Allah SWT akan menoong kita. Intinya, kita harus selalu berfikir positif sama Allah, jangan pernah suudzhon sama Sang Pencipta. Ini sejalan dengan firman Allah SWT. dalam ayat berikut;

“Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (Qs Al-Insyirah 5-6).

Ini janji Allah di dalam Al-Qur’an. Akan selallu ada kemudahan di setiap kesulitan. Masih ragu juga sama janji Allah.??????...

4.      Dzikrullah (Mengingat Allah)
Naaaaahhh…
Ini yang paling penting. Orang yang senantiasa mengingat Allah SWT. dalam segala hal yang dikerjakan. Tentunya akan menjadikan nilai positif bagi dirinya, terutama dalam jiwanya. Karena dengan mengingat Allah segala persoalan yang dihadapi, maka jiwa akan menghadapinya lebih tenang. Sehingga rasa "gelisah" yang ada dalam diri bisa perlahan-lahan dihilangkan. Dan sudah merupakan janji Allah SWT., bagi siapa saja yang mengingatnya, maka di dalam hatinya pastilah terisi dengan ketenteraman-ketenteraman yang tidak bisa didapatkan melainkan hanya dengan mengingat-Nya.
Satu hal yang harus diingat adalah, untuk dapat selalu mengingat Allah SWT dan berhasil menghapus atau menangkal rasa "gelisah", dzikir tidak hanya dilakukan sebatas ucapan lisan dan atau hati saja. Dzikir kepada Allah SWT. merupakan rangkaian aktivitas yang melibatkan segenap hati, lisan, dan juga perbuatan. Tanpa bersatunya ketiga aspek tersebut, maka sulit pula atau bahkan tidak mungkin bagi hati kita untuk bersatu dengan Allah SWT.

5.      Sholat
Sholat yang merupakan ibadah paling utama bagi umat muslim juga merupakan salah satu sarana penangkal dan penawar berbagai macam penyakit hati yang bersarang di dalam dada manusia. Jelas saja, sholat merupakan ibadah yang totalitas hanya mengingat kepada Allah SWT., yang secara total juga hanya diisi dengan kalimat-kalimat dzikrullah, ayat-ayat Allah SWT.
Allah berfirman :

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur'an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang , gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.” (QS.Az Zumar : 23)

Sholat merupakan aktivitas komunikasi langsung dengan Allah SWT., Zat yang menggenggam dan menguasai segala hati, yang menciptakan penyakit dan yang menyembuhkannya tanpa rasa sakit. Jika seseorang telah terhubung dan berkomunikasi dengan Allah SWT. secara langsung dalam sholat yang khusyuk, maka mustahil baginya terserang penyakit "gelisah". Karena "gelisah" menyerang hati, dan Allah SWT-lah yang menggenggam dan menguasai segala hati.
 
Bersabar, mengadu kepada Allah, berpikir positif, Dzikrullah, dan sholat adalah solusi segala persoalan, termasuk masalah penyakit hati termasuk rasa "gelisah", "resah", gundah, gulana, galau ato papun itu.

Sebagaimana firman-Nya:

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenteram” (Qs Ar-Ra’du 28).

Berbeda dengan orang-orang yang lalai kepada Allah, yang dimana jiwa-jiwa mereka hanya terisi dengan rasa ke"gelisah"an, galau, "resah" serta kecemasan semata. Tanpa ada sama sekali yang bisa menenangkan jiwanya.
Tentunya, sesudah mengetahui tentang faktor-faktor yang dapat mengatasi persoalan "gelisah", maka jadilah orang yang selalu dekat kepada Allah SWT. Bersabar, berpikir positif, mengingat Allah, serta mengadukan semua persoalan kepada-Nya merupakan kunci dari segala persoalan yang sedang dihadapi. Maka dari itu, Janganlah galau atau "gelisah" karena sesungguhnya Allah bersama kita.
 
Bukankah Allah telah berjanji dalam firmanNya Sesudah kesulitan pasti ada kemudahan, sesudah kesulitan ada kemudahan  janji itu diulang sampai dua kali dalam satu surat.  Kita percaya, janji Allah tidak pernah ingkar,  lalu mengapa kita masih galau.  Kata Chrisye dalam lirik lagunya, “badai pasti berlalu”.  So, seberat apapun masalah yang menimpa kita, adukan pada Allah. 
 
Sumber: 
1. blogasyifanuralif.blogspot.com/.../ketika-hati-ini-mera...
2. diarikupribadi.blogspot.com/.../cara-islami-menenang...
 

0 komentar: