Sabtu, 23 Mei 2015

"API YANG TAK KUNJUNG PADAM DI MADURA"

"Sejak sekolah di Sekolah Dasar saya sudah sering mendengar "Api Yang Tak Kunjung Padam" di "Madura".


Namun baru usia 53 Th saya baru bisa mengunjunginya dan melihatnya dengan mata kepala sendiri. Subhanallah..... Memang luar biasa, "Api" itu selalu menyala sepanjang waktu. Allah Maha Besar dan Maha Kuasa atas alam raya CiptaanNYA ini.

"Api Yang Tak Kunjung Padam" ("Api" Abadi) terletak di Dusun Asem Manis Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan Kabupaten Pamekasan yang berjarak 4 km ke arah Selatan dari Kota Pamekasan. Tempat ini sangat unik karena wisata alam seperti ini hanya ada dua di Indonesia. Tempat wisata yang biasa disebut sebagai "Api Yang Tak Kunjung Padam" ini merupakan sebuah wisata alam yang masih alami. Namun sangat disayangkan, sewaktu saya mengunjungi tempat wisata ini (1 Mei 2015), jalan akses masuk ke "Api Yang Tak Kunjung Padam" ini rusak berat, sehingga kendaraan yang akan mengunjungi ke tempat ini harus berjalan super pelan. He3 he.....

"Api Yang Tak Kunjung Padam" ini merupakan "api" abadi yang tidak pernah "padam" meski diguyur hujan lebat sekalipun. Bukan berarti "api" ini akan tetap hidup di waktu hujan, melainkan mati apabila hujan dan akan menyala kembali setelah hujan berhenti. Nyala "Api Yang Tak Kunjung Padam" ini berada di dalam lingkaran pagar, jadi warga sekitar tidak perlu takut "api" ini akan menjalar ke rumah mereka. Jika tanah di sekitar titik "api" ini digali maka akan timbul nyala "api" yang besar berwarna biru seperti pada kompor gas dan bertekanan udara.

Pemilik kawasan wisata "Api Yang Tak Kunjung Padam" ini adalah Bapak H.Ali. Menurut beliau tanah ini adalah warisan turun temurun keluarganya. Banyak mitos yang menceritakan asal mula terbentuknya "Api Yang Tak Kunjung Padam" ini. Menurut cerita rakyat disana, mengapa daerah tersebut dapat memancarkan nyala "Api Yang Tak Kunjung Padam" adalah berawal dari seorang pemuda bernama Hadagi yang belajar islam. Kemudian ia menyebarkan ajaran islam di Desa Larangan Tokol tersebut. Karena kepandaiannya ia memperoleh julukan “Ki Moko” dari warga sekitar. Suatu ketika Ki Moko ingin mempersunting seorang putri Palembang dengan mas kawin berupa mata ikan yang ia dapatkan di Sungai Timur. Ikan itu sejenis lele yang kata orang "Madura" disebut dengan Juko’ Ketteng (Bahasa "Madura"). Kemudian mata ikan itu dibawa untuk dipersembahkan kepada Putri Palembang sebagai mas kawinnya. Peristiwa ajaib pun terjadi, mata ikan itu berubah menjadi mutiara. 

Pesta pernikahan pun dilangsungkan tepat di bawah pohon Palembang, karena keadaan yang gelap, maka Ki Moko menancapkan tongkatnya ke tanah. Peristiwa ajaib kembali terjadi. seketika muncullah "api" dari bekas tancapan tongkat tadi. Dan titik "api" itulah hingga kini masih terus menyala dan dinamakan dengan "Api Yang Tak Kunjung Padam".

Ternyata tanah di kawasan itu mengandung belerang yang kemudian bergesekan dengan O2, maka terjadilah fenomena "api" menyala itu. Sebenarnya ada dua tempat dimana "api" abadi itu menyala dan masih dalam satu kawasan. Yang pertama berada di tempat yang biasa dikunjungi para wisatawan, baik lokal maupun asing dan disebut dengan Apoy Lake ("Api" laki-laki). Satunya lagi berada tepat di dekat pintu masuk (di tengah sawah) yang biasa disebut dengan Apoy Bine’ ("Api" wanita). selain itu kawasan itu juga terdapat sumber air yang mengandung belerang, konon katanya bisa menyembuhkan berbagai jenis penyakit kulit. Tapi sekarang sumber air itu sudah tidak ada lagi karena pipanya macet.
 
Wisata "Api Yang Tak Kunjung Padam" ini buka 24 jam penuh. Tiket masuknya sebesar Rp10.000,00 untuk kendaraan roda empat dan parkir masih ditarik lagi sebesar Rp5000,00 untuk kendaraan roda empat. Karena kawasan wisata tersebut sangat indah apabila dinikmati malam hari maka daerah itu sering dijadikan sebagai tempat perkemahan. Kawasan wisata "Api Yang Tak Kunjung Padam" ini pernah dijadikan tempat Jambore Pramuka se-Jawa Timur pada Tahun 2006 yang lalu. Selain itu tempat ini merupakan salah satu tempat romantis bagi kaum muda-mudi yang ingin berkunjung kesana dengan orang spesial.

Namun semuanya kini beralih fungsi, "Api Yang Tak Kunjung Padam" bukan lagi sebuah tempat wisata alami dengan keunikan alamnya berupa tanah yang terus-menerus mengeluarkan nyala "api" yang indah. Kini tempat wisata "Api Yang Tak Kunjung Padam" ini lebih mirip perkampungan kumuh yang sesak dengan warga dan peralatan-peralatan rumah tangganya. Saya sendiri sebagai pengunjung, sangat menyayangkan  keberadaan tempat wisata di Pamekasan ini. Sangat diharapkan, pemerintah setempat mau segera melakukan penanganan serius terhadap tempat wisata yang sebenarnya cukup unik tersebut.

Pemerintah setempat seakan tidak tahu menahu dengan potensi dan aset yang sangat besar ini. Padahal apabila tempat-tempat wisata di "Madura" khususnya Pamekasan ini diperhatikan dan lebih diseriusi dalam pengelolaannya akan menjadi sebuah aset besar untuk mempromosikan "Madura" dan daerahnya kepada dunia dan masyarakat luas. Akses masuk ke tempat wisata "Api Yang Tak Kunjung Padam" ini pun menunjukkan bahwa kepedulian pemerintah sangat kurang, karena para pengunjung akan sangat sulit untuk mengenali tempat ini. Tanda masuk ke tempat ini sulit dilihat, sehingga orang yang belum pernah berkunjung ke tempat ini akan sulit untuk menemukannya. Ditambah lagi, kondisi jalan yang sangat memprihatinkan -- rusak berat, sehingga kendaraan harus berjalan sangat pelan untuk menuju ke lokasi wisata "Api Yang Tak Kunjung Padam" ini.

Semoga dengan adanya tulisan saya ini, ada aparatur pemerintah yang peduli sehingga mau meluangkan waktunya untuk memperjuangkan dan memperhatikan aset-aset wisata di daerah Pamekasan, khususnya wisata "Api Yang Tak Kunjung Padam" ini.


Sumber:
1. https://id-id.facebook.com/media/set/?set=a...type...
2. laely-widjajati.blogspot.com/.../may-day-di-batuampar...
3.  plat-m.com › Berita › Madura › Pamekasan
4. laely.widjajati.facebook/Api-Tak-Kunjung-Padam-(Pamekasan)
5. laely.widjajati.facebook/Gak-berani-dekat-takut-baju-terbakar.......
6. laely.widjajati.facebook/masak-nasi-He3-he......

0 komentar: