Minggu, 15 April 2012

"Manfaat Tanaman Kosambi"

"Kosambi" atau "kesambi" (Schleichera oleosa) adalah pohon yang bisa tumbuh di daerah kering, Termasuk kerabat dekat rambutan, karena sama-sama dari suku Sapindaceae".


Batang "kosambi" bisa tumbuh setinggi 15-40 meter, dengan diameter batang 60-175 cm. Di Indonesia ditemukan dua jenis "kosambi" yakni, "kosambi" kerikil dan "kosambi" kebo (kerbau). Ciri khas perbedaannya terletak pada daun dan kulit batang. Jenis  "kosambi" kerikil mempunyai daun yang lebih kecil dan memanjang. Bentuk percabangan liar, dan kulitnya tipis dibandingkan dengan jenis "kosambi" kebo. Sedangkan "kosambi" jenis kerbau memiliki daun yang melebar pada ujungnya dan kulit kayu yang lebih tebal. Bentuk percabangan teratur dan tegak lurus ke atas.

Tumbuhan "kosambi" ini tersebar di seluruh Asia Tenggara dan di Indonesia dapat ditemukan di ketinggian 0-1.200 meter dari permukaan laut. Salah satu indikator pertumbuhan "kosambi" adalah jati. Pada wilayah yang ditumbuhi jati liar biasanya diikuti tumbuhnya "kosambi". Di Jawa, tanaman "kosambi" digunakan sebagai tanaman pengisi (sekat bakar) dalam hutan jati. Kayu "kosambi" mempunyai struktur padat, rapat, kusut sangat keras dan lebih berat dari kayu besi. Karena itu apabila dapat mencapai umur yang lebih matang, kayunya berubah warna dari merah muda menjadi kelabu dan tidak berurat. Oleh karena itu dulu kayu "kosambi" banyak digunakan untuk bahan pembuatan jangkar untuk perahu kecil. Bahkan di Kabupaten Bulukumba, kayu "kosambi" merupakan bahan dasar untuk membuat perahu. Selain itu, kayu "kosambi" sangat kuat dan keras. Namun demikian, salah satu kelemahannya, kayu "kosambi" kurang awet. Sehingga sangat unggul sebagai kayu bakar dan pembuatan arang. Arang dari kayu "kosambi" sangat cocok untuk pembakaran dan bahkan lebih baik dari pada arang kayu jati dan kayu asam. Oleh karena itu, penanaman "kosambi" untuk produksi kayu bakar perlu dikembangkan terutama pada daerah pengembangan industri pembakaran dan wilayah yang sulit bahan bakar untuk rumah tangga,

Kulit kayu "kosambi" dapat di"manfaat"kan sebagai penyamak kulit. Menurut hasil penelitian, dalam analisis kimia kulit "kosambi" ditemukan 6,1-14,3% zat penyamak. Bahkan dahulu orang Bali dan Madura me"manfaat"kan kulit kayu "kosambi" sebagai obat kulit yang sangat manjur, terutama terhadap kudis dan penyakit kulit lainnya. Daun muda "kosambi" bisa di"manfaat".kan sebagai sayur asam Bahkan dapat simakan mentah dan di"manfaat"kan  sebagai lalapan meski rasanya sepat. Daun kering "kosambi" dapat dibakar dan asapnya di"manfaat"kan untuk pengobatan (pengasapan) penyakit kudis dan gatal-gatal.
Buah "kosambi" yang masih hijau dapat dimakan dan diolah sebagai asinan, Buah yang sudah masak berwama kuning atau kemerah-merahan yang dapat di"manfaat"kan sebagai buah meja dengan ciri rasa asam kemanis-manisan. Buah "kosambi" yang sudah masak sangat digemari oleh monyet dan burung, termasuk anak-anak. Di beberapa daerah, buah "kosambi" yang sudah masak dapat di"manfaat"kan sebagai manisan.

Biji "kosambi" dilapisi dan diselimuti oleh kulit yang berwama cokelat, bentuknya bulat panjang dengan ukuran antara 6-14 mm. Mudah pecah dan daging bijinya mengandung 70 persen minyak sangat ber"manfaat" sebagai bahan pembuatan minyak gosok. Minyak yang berasal dari biji "kosambi" sangat baik untuk mengobati penyakit dalam, kudis dan luka-luka. Dalam upaya pengembangan biodisel, biji "kosambi" dapat diolah menjadi minyak pelumas, pembuatan lilin, industri batik, dan bahan membuat sabun. Menurut beberapa hasil penelitian, kulit biji "kosambi" sangat cocok untuk pertumbuhan jagung lokal.

Pada masa perjuangan, minyak "kosambi" terkenal di kalangan tentara Kraton Jogjakarta sebagai minyak gosok badan, dan disebut dengan minyak Makassar. Minyak ini dibawa tentara Raja Gowa yang membantu kraton, yang dikenal dengan nama minyak nileo. Hasil penelitian menyebutkan, minyak biji "kosambi" dapat pula diolah menjadi salep dan industri obat-obatan lainnya. Minyak biji "kosambi" biasanya diberi tambahan ramuan pengharum dan dijadikan minyak gosok badan. Sangat berkhasiat/ber"manfaat" dalam pengobatan penyakit punggung dan dada pada penderita batuk. Apabila di"manfaat"kan sebagai minyak rambut maka dapat merangsang pertumbuhan rambut (anti botak).

Selain banyak tumbuh liar di pekarangan, "kosambi" merupakan tanaman komoditas Perhutani selain jati, mahoni, dan sengon. Semasa penjajahan Belanda, "kosambi" sudah ditanam besar-besaran termasuk di antaranya di wilayah Perhutani KPH Probolinggo. Sekitar 3.500 hektare areal hutan yang membentang sepanjang perbatasan Kabupaten Probolinggo-Kabupaten Situbondo merupakan hamparan hutan "kosambi". Selain kayunya, Perhutani me"manfaat"kan pohon "kosambi" untuk inang (induk) budidaya serangga (kutu) lak. Sekresi dari kutu lak itu menghasilkan lak, yang bisa diolah menjadi berbagai bahan mulai minyak cat hingga wadah (kapsul) untuk obat-obatan. Lak sendiri baru masuk ke Indonesia pertama kali pada 1936. Saat itu Dr P. Van der Goot membawa bibit kutu lak dari India untuk dibudidayakan di Indonesia.
Kalau penjajah Belanda berhasil mengembangkan kutu lak yang menghasilkan lak, belakangan setelah 66 tahun Indonesia merdeka, ada dua investor Jepang yang tertarik terhadap "kosambi". Dua investor Jepang itu, Hakikiko Morita dan Katsuhito Segawa tertarik untuk mengolah buah "kosambi" menjadi bahan bakar nabati (biofuel). Kedua investor itu awal Oktober (2011) lalu menemui Perum Perhutani KPH Probolinggo, juga Bupati Probolinggo Hasan Aminuddin. Intinya, mereka tertarik memanfaatkan buah "kosambi" di area hutan "kosambi" seluas 3.500 hektare, yang selama ini tidak di"manfaat"kan.

“Saya dengar sejak jaman Belanda, "kosambi" hanya diambil kayu dan di"manfaat"kan untuk budidaya kutu lak. Padahal buahnya bisa diolah untuk biofuel,” ujar Morita saat menemui Bupati Hasan. Keduanya bermaksud membangun pabrik pengolahan buah "kosambi" menjadi biofuel di Desa Pajurangan, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo. Awalnya investor itu bermaksud membangun pabrik di Situbondo, namun dengan pertimbangan kedekatan dengan pelabuhan Tanjung, Tembaga, Kota Probolinggo akhimya bakal lokasi pabrik dipindahkan ke Probolinggo.

“Silakan kalau tertarik berinvestasi di Probolinggo. Prinsipnya asalkan bisa mensejahterakan warga Probolinggo, kami terima dengan tangan terbuka,” ujar Bupati Hasan. Bupati juga mempersilakan investor membebaskan lahan di Desa Pajurangan. Diharapkan kelak investor mau melibatkan warga sekitar menjadi tenaga kerja di pabrik tersebut. Morita mengatakan, dengan jaminan dari Bupati Probolinggo dan ketersediaan hutan "kosambi" seluas 3.500 hektare, bakal menjadi garansi berdirinya pabrik pengolahan buah "kosambi".

Selama ini buah "kosambi" memang dibiarkan terbuang percuma paling hanya dijadikan bibit untuk perluasan lahan "kosambi" . Buah "kosambi" yang mirip kelengkeng itu biasanya disukai binatang hutan seperti monyet dan musang. "Kosambi" termasuk tanaman yang mempunyai sifat toleran terhadap tumbuhan lainnya. Dalam pengembangan tanaman jati, "kosambi" merupakan pasangan yang paling ideal. Bahkan dalam berbagai literatur dikemukakan bahwa pada umumnya dimana ada pertumbuhan jati secara alami/liar di situ pasti terdapat "kosambi" yang dapat tumbuh dengan baik.

Selain toleran terhadap sesama pepohonan, "kosambi" dapat berasosiasi dengan tanaman holtikultura, antara lain jagung dan kacang-kacangan. Beberapa hasil penelitian menunjukkan, bungkil/kulit biji "kosambi" sangat cocok di"manfaat"kan sebagai pupuk pada tanaman jagung. Dengan demikian pe"manfaat"an ruang tumbuh sekitar tanaman "kosambi" dapat di"manfaat"kan untuk tanaman pangan dan obat-obatan, sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Tanaman "kosambi" juga tahan terhadap api dan kekeringan, dapat tumbuh di lahan kritis, tidak disenangi hewan dan rimbun sepanjang pertumbuhannya.

Mengenai "manfaat" tanaman "kosambi" ini ada kisah yang sangat menarik:
Pada zaman dahulu kala, ada seorang tokoh agama di wilayah Kerajaan Bangkalan yang bernama Sayyid Husen. Beliau wafat dibunuh oleh Prajurit Kerajaan atas perintah Raja. Sebenarnya beliau tidak bersalah karena hanya difitnah. Beliau wafat meninggalkan dua orang putra. Dua orang putranya ini sepakat untuk lari guna menyelamatkan diri.

Putra sulung beliau yang bernama Syekh Abdul Mannan. lari dan menjauhkan diri dari wilayah kekuasaan Raja Bangkalan. Hari demi hari dilaluinya dengan sengsara dan penuh penderitaan, namun beliau menerima semua itu dengan tabah dan sabar. Hingga akhirnya, sampailah beliau di sebuah hutan lebat di tengah perbukitan di wilayah Batu Ampar ( Kabupaten Pamekasan ). Di hutan inilah akhirnya beliau merasakan ketenangan dalam hatinya. Kemudian di tempat ini pula beliau  bertapa / bertirakat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam melaksanakan hajatnya beliau memilih tempat di bawah Pohon "Kosambi".

Hari berganti minggu, bulan berganti tahun, tahun demi tahun berlalu..... Syahdan tapa beliau  di bawah pohon "Kosambi" ini berlangsung selama 41 tahun (Wallahu'alam yang sebenarnya berapa lama, tidak perlu diperdebatkan).  Kalau beliau bisa bertahan hidup, walau bertapa sekian lama itu adalah kehendak Allah SWT.  Sebagaimana para pemuda yang tinggal di dalam gua Kahfi selama 309 tahun, mereka bisa  bertahan hidup sekian lama (Al-Qur'an Surat Al-Kahfi Ayat 25), hal itu semua atas kehendak Allah SWT.  Saat memulai tapa itu beliau berumur 21 tahun. Hingga akhirnya beliau ditemukan anak seorang penduduk desa ( Wanita ) yang sedang mencari kayu di hutan. Beliau diketemukan sudah dalam keadaan tua, berbadan kurus kering duduk bersila di bawah pohon "Kosambi" dengan tubuh yang hampir terlilit penuh oleh akar pohon "Kosambi". Karena beliau bertapa di bawah Pohon "Kosambi" inilah yang akhirnya beliau dijuluki dengan Buju' Kosambi". Buju' adalah Bahasa Madura yang berarti Buyut. Sedangkan "Kesambi" atau "Kosambi" (Schleichera oleosa) adalah nama sejenis pohon daerah kering, kerabat rambutan dari suku Sapindaceae. yang mempunyai banyak "manfaat" seperti yang telah dijelaskan di atas. Jadi Buju' "Kosambi" berarti Buyut yang pernah bertapa di bawah Pohon "Kosambi".

Singkat cerita akhirnya Syekh Abdul Mannan (Buju' " Kosambi") dibawa ke rumahnya. Dari hubungan tersebut, timbullah kesepakatan antara orang tua si anak tersebut untuk menjodohkan Syekh abdul Mannan  (Buju' "Kosambi") dengan salah seorang putrinya. Sebagai tanda terima kasih, beliau memilih si sulung sebagai istrinya, walaupun dalam kenyataannya sisulung menderita penyakit kulit. Anehnya terjadi keajaiban di hari ke 41 pernikahan mereka. Saat itu juga sang istri yang semula menderita penyakit kulit tiba-tiba sembuh seketika. Dan bukan hanya itu kulitnya bertambah putih bersih dan cantik jelita, sampai-sampai kecantikannya tersiar kemana-mana. Dan konon kabarnya pula bahwa Raja Sumenep mengagumi dan tertarik akan kecantikan istri Syekh Abdul Mannan ini.
Keajaiban itu terjadi atas kehendak Allah SWT. Beliau hidup berdiam diri sekian lama di bawah pohon "Kosambi", tentunya khasiat tanaman "Kosambi" ini akan merasuk dalam tubuh beliau. Sehingga dapat dimungkinkan, apabila orang berdekatan dengan beliau akan  mendapat "manfaat" apa yang terkandung dalam tubuh beliau. Sehingga tidak mengherankan, kalau istrinya yang semula buruk rupa karena menderita penyakit kulit, akhirnya bisa sembuh karena setiap hari hidup bersama.

Itulah kisah keajaiban yang terjadi berkaitan dengan pohon "Kosambi", yang dapat kita ambil sebagai pelajaran.

Sumber:
1. perumperhutani.com/tag/tumpangsari/page/5/
2. Sejarah Auliya' Batu Ampar. Disusun oleh: KH. Ach. Fauzy Damanhuri. 

0 komentar: