Jumat, 25 November 2011

"Sebab-Sebab Gugurnya Hukuman Dari Orang-Orang Yang Berbuat Maksiat"

"Apabila seorang hamba mukmin terjebak dalam ke"maksiat"an, maka sesungguhnya Allah SWT telah membukakan pintu-pintu rahmat-Nya bagi para hamba-Nya supaya mereka dapat terbebas dari "hukuman" yang menimpanya, apabila telah mengikhlaskan diri bertakwa."


Dengan demikian, penyesalan dan kesengsaraan akan menimpa orang yang tidak mengetahui "sebab"-"sebab" digugurkannya "hukuman" tersebut.
Menurut penulis kitab Syah Al-Akidah Ath-Thahawiyah, ada 11 (sebelas) "sebab" digugurkannya "hukuman" dari  ke"maksiat"an, yaitu:
"Sebab" pertama: Taubah.
Allah SWT berfirman dalam Surat Maryam ayat 59-60: "Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun."

Adapun taubat yang menggugurkan "hukuman" yaitu taubat nashuha, yakni taubat yang murni muncul dari hati, tidak terbatas pada ucapan dengan lidah. Selain itu, taubat nashuha harus disertai dengan penyesalan atas ke"maksiat"an yang telah dikerjakannya di masa lalu, dan bertekat untuk tidak kembali mengulanginya, serta mengerjakan amal saleh.

Posisi taubat yang dapat menjadi salah satu faktor penyebab diampuninya segala dosa dan tidak ditimpakan "hukuman" atasnya, telah disepakati oleh seluruh umat, dan tidak ada sesuatupun yan g menjadi faktor penyebab diampuninya segala dosa kecuali taubat.


"Sebab" kedua: Permohonan ampun (istighfar).
Allah berfirman dalam Surat Al-Anfal ayat 33: "Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun."

Pada tataran realitas, sesungguhnya istighfar termasuk dalam makna taubat, mengingat istighfar merupakan bentuk permohonan ampun atas segala dosa yang dilakukan oleh seorang hamba, sehingga hal ini termasuk dalam penyesalan yang dipersembahkan manusia, karena memohon ampun merupakan ciri atau tanda penyesalan ini. Namun, taubat memiliki nilai tambah dari pada istighfar, yang terletak pada adanya tekad untuk menjauhi ke"maksiat"an di masa mendatang.

"Sebab" ketiga: Mengerjakan kebaikan-kebaikan.
Allah berfirman dalam Surat Al-Hud ayat 114: "Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapus (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk."

"Sebab" keempat: Tertimpa musibah-musibah duniawi.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW.: "Tiada seorang mukmin yang tertimpa sesuatu penyakit, kepedihan, kesengsaraan, kegundahan, atau kesedihan sampai keputus-asaan menimpanya, kecuali Allah pasti menghapuskan kesalahan-kesalahannya."

Ketahuilah, penghapusan kesalahan-kesalahan itu dapat menjadi "sebab" terjebak dalam ke"maksiat"an itu sendiri. Apabila orang yang diuji tertimpa cubaan/musibah itu bersabar, maka ia akan memperoleh pahala yang baru melebihi penghapusan kesalahan-kesalahannya. Sebaliknya, jika ia membenci musibah tersebut maka ia akan memperoleh dosa yang baru pula, dan penghapusan kesalahan-kesalahannya itu masih tetap tersisa dengan tertimpanya musibah tersebut.

"Sebab" kelima: Siksa kubur.

"Sebab" keenam: Kepayahan dan kedahsyatan Hari Kiamat.

"Sebab" kedelapan: Syafaat bagi orang yang diizinkan Allah untuk mnemperolehnya pada Hari Kiamat.
Allah berfitman pada Surat An-Nisa' ayat 48: "Dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu."

"Sebab" kesembilan: Do'a kaum mukminin dan permohonan ampun mereka selama hidup dan sesudah mati.

"Sebab" kesepuluh: yaitu sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Nabi SAW, bahwasanya beliau bersabda: "Apabila kaum mukminin telah terbebas dari neraka, maka mereka ditahan di suatu jembatan antara surga dan neraka, diberilah balasan atas kedzaliman-kedzaliman yang dikerjakan mereka di dunia, hingga apabila telah bersih (dari kedzaliman-kedzaliman tersebut), dizinkanlah mereka untuk masuk ke dalam surga. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, niscaya tempat tinggal salah seorang dari mereka di surga itu lebih kokoh dari pada rumahnya ketika di dunia."

"Sebab" kesebelas: Pahala shadaqah, membaca Al-Qur'an, menunaikan ibadah haji, atau yang semisal dengan itu.

(Sumber: Tamasya Ke Negeri Akhirat, oleh Syaikh Mahmud Al-Mishri).

0 komentar: