Kamis, 17 Februari 2011

"DEFINISI ILMU"

"Definisi ilmu" menurut Dr. Ir. Hidajat Nataatmadja, dalam tulisannya yang berjudul "Beberapa Konsepsi Dasar Mengenai Ekonomi Islam", bahwa ternyata konsepsi kita mengenai "ilmu" perlu didudukkan kembali."

Hal ini karena arti kata "ilmu" sebagaimana yang kita pergunakan sehari-hari ternyata tidak sejalan dengan ajaran Islam. "Definisi" mengenai "ilmu" seperti yang dikatakan oleh Dr. Ir. Hidajat Nataatmadja, "Ilmu" adalah mu'jizat Illahiyah yang bisa diberikan kepada manusia yang dikehendakinya, sehingga dengan mu'jizat itu manusia bisa mengenal dirinya dan obyek-obyek di sekitarnya dan dengan demikian bisa berperan sebagai master di bumi (Khalifatullah), yang berarti turut mengelola obyek-obyek dan manusia di sekitarnya dalam arti menjaga kelestariannya serta mensyukuri segala rahmat Illahi yang tersedia baginya.


Dari "definisi" tadi muncul sifat-sifat "ilmu" sebagai berikut:
1. "Ilmu" itu sendiri adalah gaib.
2. "Ilmu" hanya Allah yang punya.
3. Manusia hanya mempunyai hak pakai.
4. Manusia tidak bisa memberikan "ilmu" kepada orang lain.
5. "Ilmu" tidak bisa didefinisikan secara rasional.
6. "Ilmu" tidak bisa melekat di buku.
7. "Ilmu" juga tidak bisa melekat di kepala sebagai hapalan, karena tempat "ilmu" hanyalah satu, yakni hati sebagai kias manifestasi keperiadaban Ruh.


Selanjutnya, dalam bukunya "Krisis Global "Ilmu" Pengetahuan dan Penyembuhannya (Iqra, 1982), Dr. Ir. Hidajat Nataatmadja membedakan mengenai "Ilmu" Subyektif dan "Ilmu" Obyektif. "Ilmu" Obyektif berimpit dengan sains, yakni "ilmu" mengenai benda-benda. Sedangkan "Ilmu" Subyektif dapat dipandang sebagai "ilmu" agama dalam arti yang murni, "ilmu" mengenai manusia sebagai makhluk spiritual. Namun telah diungkapkan juga bahwa agama dalam arti luas juga mengandung ajaran dasar mengenai "ilmu" obyektif, yakni menentukan paradigma "ilmu" obyektif yang harus diterapkan supaya "ilmu" obyektif itu tidak menyimpang dari ajaran yang hak. Agama tidak lain adalah wahyu Illahiyah yang mengajarkan bagaimana manusia mengaktualisasikan fitrahnya sejalan dengan kehendak Illahi.
Sebenarnya "ilmu" itu banyak sekali ragamnya, misalnya "ilmu" seni budaya, "ilmu" ramal, dan sebagainya. Namun yang menjadi ajang dalam tulisan ini adalah sains, "ilmu" obyektif, dihubungkan dengan ajaran agama. Karena dalam hal itulah kita menghadapi kerancuan yang sangat membingungkan kita semua, sehingga perilaku manusia-manusia yang mengaku beriman ternyata terlalu sering mengecewakan kita sendiri.


Untuk memperoleh "ilmu" yang hak, adalah dengan menjalankan syariat agama dan berjuang untuk mengamalkan syariat ke"ilmu"an itu di dunia nyata. Apabila kedua tindakan itu dilaksanakan, Insya'Allah, kita akan memperoleh dua hikmah ijtihad yang telah dijanjikan, yakni hikmah bagi si pemegang "ilmu" dan hikmah bagi orang-orang lainnya. Itulah ciri dari "ilmu" Islam yang hak, "ilmu" yang diridhai Allah. 
"Ilmu" batil pun dapat sangat menguntungkan bagi si pemegang "ilmu", seperti "ilmu" paling yang dapat mendatangkan kekayaan yang berlimpah-limpah bagi sang maling. Namun ciri dari "ilmu" batil adalah munculnya kesengsaraan bagi orang lain. Demikian pula seandainya kita termasuk manusia yang pandai dan berkuasa, maka hikmah "ilmu" batil akan sangat besar bagi kita. Namun perlu diketahui bahwa hikmah itu merupakan kesengsaraan bagi manusia lain, atau bagi kelestarian lingkungan.
"Ilmu" merupakan salah satu dari Asma'ul Husna yang menyata di hati. Al-Qur'an mengajarkan bahwa Nama Allah yang Pertama adalah Rahman-Rahim, yang dalam dunia rasa menjelma dalam bentuk Cinta mutmainnah. Karena itu timbulnya "ilmu" selalu dibarengi dengan munculnya cinta di hati. Oleh karena itu Einstein menyatakan bahwa Syarat kreativitas, yakni syarat manusia ber"ilmu", adalah rasa simpati terhadap obyek-obyek yang kita amati. Einstein juga yakin bahwa kreativitas akan muncul di 'titik  pusat gravitasi kesadaran emosional'. Ya itulah Cinta. Karena itu bekerjalah karena Allah, dengan Asma'ul Husna di hati. Karena itu sembahyanglah 24 jam sehari, yakni bagaimana menerapkan ajaran sembahyang selama kita melaksanakan segala tugas kita. Itulah arti kaum Muslimin sejati.


Membina kreativitas sebagaimana dikiaskan di atas, dalam arti verbal, sungguh tidak sulit, sungguh sangat sederhana sekali. Namun perlu diketahui bahwa aktuasi dari ritus kreativitas yang sederhana itu bukan main sulitnya. Itulah jalan jihad yang harus kita tempuh, supaya kita benar-benar mendapat restu Allah untuk diberi "ilmu".

(Sumber: Sepercik Pemikiran Tentang Ekonomi Islam, Sebuah bunga rampai yang disunting oleh M. Natsir Arsyad).

"Ilmu" ibarat pisau, yang anda gunakan untuk memasak atau untuk membunuh orang.

Hanya sesungguhnya Tuhan kamu adalah Allah yang tiada Tuhan melainkan Dia. "Ilmu"-Nya meliputi segala sesuatu. (Al-Qur'an, Surat Thaahaa, Ayat 98).

Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, sedang "ilmu" mereka tidak dapat meliputi "ilmu"-Nya. (Al-Qur'an, Surat Thaahaa, Ayat 110).

Maha Tinggi Allah, Raja Yang Benar. Dan janganlah engkau tergesa-gesa membaca Qur'an sebelum selesai diwahyukan kepada engkau, dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku "ilmu". (Al-Qur'an, Surat Thaahaa, Ayat 114).

Orang yang memudahkan jalan untuk menuntut "ilmu", Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Sesungguhnya para malaikat membentangkan sayapnya (kepada orang yang menuntut "ilmu") karena senang kepada orang yang mencari "ilmu". (Hadis Riwayat At-Tirmidzi).  

Rasulullah SAW. bersabda:
"Tidaklah seseorang mendapatkan sesuatu yang lebih berharga dari pada  "ilmu" karena "ilmu" mengantarkan pemiliknya kepada petunjuk dan mencegahnya dari kebinasaan. Seseorang tidak dapat lurus agamanya sebelum lurus akalnya". (ath-Thabrani)

0 komentar: