Sabtu, 29 Januari 2011

"LIMA PILIHAN HIDUP"

"Insan shalih adalah insan yang unggul di segala tempat dan zaman. Dalam pribadi insan shalih dapat ditemukan "Lima Pilihan Hidup".

"Lima Pilihan Hidup" itu adalah:

1. "Hidup" yang mengalir berdasarkan 'suara hati' apa adanya, juga pengetahuan apa adanya.
Tindakan, ungkapan, bahasa dan perkataan memiliki bentuk yang berbeda pada setiap orang. Sepanjang semua itu dilakukan dengan penuh ketulusan dan berdasarkan kapasitas pengetahuan yang dimilikinya, itu semua berarti selaras dengan kehendak Allah SWT.

2. Ke"hidup"an sebagai hasil integrasi antara pengetahuan yang dimiliki dengan amal praktik keseharian.
Hampir semua dari kita melakukan perbuatan yang salah bukan karena tidak/belum tahu. Perbuatan salah kita lakukan dengan kesadaran dan pengetahuan bahwa perbuatan tersebut memang salah. Mengapa kita cenderung untuk melakukan dan mengulangi perbuatan yang salah? Disinilah perjuangan kita. Kita harus berjuang melawan keinginan diri sendiri yang cenderung salah dan melanggar.

3. Menghindari dan meninggalkan perbuatan yang jelas-jelas tidak bermanfaat bagi diri kita dan siapapun.
Kita harus memilah dan memilih, karena hal ini merupakan bagian dari kebebasan yang dikaruniakan Allah kepada kita. tindakan yang bermanfaat dan tindakan yang sama sekali tidak bermanfaat bagi kita dan orang lain. Manfaat pribadi, sosial, maupun spiritual dari setiap perbuatan yang akan kita lakukan hendaknya dipertanyakan secara memadai. Apabila ada manfaat yang dapat diperoleh --- Lakukanlah !

4. "Hidup" tanpa mengambil keuntungan dari kelemahan, keburukan, dan musibah orang lain.
Kita patut menghindari sikap dan perilaku mengambil keuntungan dari kesalahan orang lain, selama kesalahan itu bersifat manusiawi. Tidak ada satu pun manusia yang serba hebat di segala bidang, oleh karena itu kesalahan dan kelemahan yang manusiawi mestinya dimaafkan karena dapat terjadi pada setiap orang. Kessalahan dan kelemahan yang manusiawi itu sangat mungkin terjadi pula pada diri kita.

5. Menerima kenyataan yang telah terjadi (takdir) dan mengusahkan masa depan yang lebih baik (ikhtiar).
Inilah sikap "hidup" yang di satu sisi menerima ketentuan Allah, dan di sisi lain menjalankan kebebasan pribadi yang telah diberkati oleh Allah kepada kita.

(Sumber: 9 Jalan untuk Cerdas Emosi dan Cerdas Spiritual, oleh Muhammad Wahyuni Nafis).

0 komentar: