Jumat, 19 Juni 2009

"InDaHNYa HiDuP SeDeRHaNa"

"Budaya "hidup sederhana" merupakan salah satu budaya yang harus kita tanamkan kuat-kuat dalam diri kita masing-masing."



"Hidup Sederhana" adalah merupakan perintah Allah dan Sunnah Rasul.



Allah SWT telah berfirman dalam Al-Qur'an, Surat Al-Furqan, ayat 67 : "Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak pula mereka kikir. Dan adalah pembelanjaan itu di tengah-tengah antara yang demikian".


Maks
ud dari ayat tadi adalah memerintahkan kita agar dalam ke"hidup"an sehari-hari kita tidak menghambur-hamburkan harta titipan Allah SWT dan juga tidak boleh berlaku kikir terhadap siapapun. Kalau kita hemat, itu tidak berarti kita harus kikir.



Jadi "hidup sederhana" itu adalah merupakan perintah Allah SWT. seperti yang difirmankan oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an Surat Al-Isra' ayat 26-27 : "Dan berikanlah keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu saudaranya setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya".


Sangatlah jelas, bahwa sikap boros lebih dekat kepada perilaku setan. Maka dari itu, budaya "sederhana" merupakan salah satu budaya yang harus kita tanamkan kuat-kuat dalam diri kita masing-masing. "Hidup" dengan budaya "sederhana" bukan berarti tidak boleh membeli barang-barang yang bagus, mahal dan bermerek. Boleh-boleh saja........



Pada kenyataannya kalau kita berlaku boros, sama sekali tidak akan menjadi amal kebaikan bagi kita. Kita dapat mengambil hikmah dari krisis ekonomi yang menimpa hampir seluruh bangsa



didunia. Salah satunya kita harus benar-benar pandai mengendalikan keinginan kita. Tidak semua keinginan harus dipenuhi. Akan tetapi kita harus benar-benar tahu mana keinginan dan mana kebutuhan.



Belanjakanlah harta kita hanya untuk barang yang kita butuhkan saja. Kalau saja kita masih dapat bertahan
dengan barang lain yang lebih sederhana, maka lebih bijak kalau kita tidak melakukan pembelian.


Dapat kita perhatikan dalam ke"hidup"an keseharian kita. Orang yang memiliki harta, ada kecenderungan untuk menjadi pecinta harta. Semakin bagus, makin mahal, makin senang, maka makin cintalah seseorang itu kepada harta yang dimilikinya.

Selain dari pada itu, maka ingin pulalah seseorang itu untuk memamerkannya. Terkadang apa saja ingin selalu dipamerkannya. Ada yang pamer kendaraan, rumah, mebel, pakaian dan sebagainya yang dipunyainya dipamerkan. Sikap ini muncul disebabkan karena salah satunya kita ini ingin tampil wah....... lebih bermerek akan lebih keren dari pada orang lain. Padahal, sebenarnya makin bermerek barang yang kita miliki justru akan menyiksa diri kita, karena ada perasaan dalam diri kita takut kehilangan barang yang kita miliki. Harta yang dimiliki justru menjerumuskan, membelenggu dan menjebak kita dalam kubangan tipu daya harta, karena kita salah dalam menyikapinya. (Sumber : K.H. Abdullah Gymnastiar dalam tulisannya yang berjudul "Hidup" Indah dengan Bersahaja dalam majalah Al-Falah).


Maka dari itu semua, marilah kita biasakan untuk senantiasa "hidup" dalam ke"sederhana"an dalam setiap yang kita lakukan. Apabila budaya "hidup sederhana" ini kita lestarikan, Insya'Allah dalam kondisi ekonomi apapun, Allah akan menganugerahkan kepada kita kemampuan untuk menjadi orang yang terpelihara dari perbuatan sia-sia dan pemborosan.
Amiin Ya Raobbal Alamiin..........

0 komentar: