Sabtu, 11 Juli 2009

"PEKERJAAN YANG HARUS SEGERA DILAKSANAKAN"

"Kalau kita me"laksanakan" suatu "pekerjaan" harus kita pikirkan terlebih dahulu, hal ini supaya tidak ada penyesalan di kemudian hari."





Namun ada beberapa kegiatan atau "pekerjaan" yang dalam ajaran agama Islam dianjurkan supaya "pekerjaan" itu harus segera di"laksanakan", yaitu :

1. "Pekerjaan" Pertama: Memberi makan tamu apabila tamu itu menginap. Apabila kita kedatangan tamu, kita harus memulyakan tamu kita. Kalau dalam adat Jawa, apabila kita kedatangan tamu, kita harus gupuh, lungguh, suguh. Jadi gupuh -- kita menyambut tamu dengan gembira tidak boleh malas-malasan atau merasa ogah-ogahan. Lungguh -- tamu yang datang kita persilahkan duduk dan kita ajak dialog dengan hati yang tulus. Suguh -- tamu yang datang kita beri hidangan minimal minuman. Apalagi apabila tamu yang datang itu menginap di rumah kita, tamu kita beri hidangan makanan seperti yang kita makan sehari-hari, dan tidak perlu mengada-ada-- apalagi sampai berhutang.


2. "Pekerjaan" Kedua: Mengurusi mayat/jenazah orang meninggal dunia. Apabila ada orang meninggal dunia, kita harus segera memandikannya, kemudian mengkafani dan menshalati jenazah tersebut. Kemudian harus segera memakamkan
nya, jangan sampai menginap di rumah sampai berhari-hari. Memakamkan jenazah ini yang lebih utama adalah di daerah dimana orang tersebut meninggal dunia.


3. "Pekerjaan" Ketiga: Menikahkan anak perempuan apabila sudah waktunya (baligh). Apabila kita mempunyai anak perempuan, apabila sudah waktunya menikah, kita dianjurkan untuk segera menikahkannya. Hal ini untuk menjaga agar tidak terjadi salah pergaulan seperti yang akhir-akhir ini banyak terjadi.


4. "Pekerjaan" Keempat: Membayar hutang apabila sudah jatuh tempo. Kita diwajibkan segera membayar hutang kita kepada orang lain apabila kita sudah mampu membayarnya. Kalau kita sudah memiliki uang, jangan sampai kita menunda-nunda untuk melunasi hutang kita. Jangan sampai uang yang ada malah kita pergunakan untuk keperluan lain, sehingga kita tidak bisa melunasinya lagi. Apabila anda merasa kesulitan dalam membayar hutang, ada amalan do'a yang bisa anda baca sebagai berikut :



 
Apabila anda membaca do'a di atas dengan bersungguh-sungguh, maka Insya'Allah anda akan dimudahkan jalan oleh Allah SWT mendapat rezki yang diridhai -Nya, sehingga anda akan mudah untuk melunasi hutang-hutang anda.


5. "Pekerjaan" Kelima: Bertaubat dari dosa-dosa yang terlanjur kita lakukan. Kita hidup di dunia ini bagaikan mampir minum, jadi jangan sampai kita menunda-nunda untuk bertaubat, karena kita sebagai manusia tidak mengetahui kapan kita akan mati. Kita bertaubat tidak perlu menunggu sampai kita tua, karena malaikat pencabut nyawa akan datang menjemput kita apabila sudah waktunya.


Jadi kita sebagai umat Islam, kita sangat dianjurkan untuk mensegerakan me"laksanakan" 5 (lima) "pekerjaan" diatas. Karena kelima "pekerjaan" diatas apabila tidak segera di"laksanakan" justru akan menimbulkan masalah yang baru lagi.

Jumat, 10 Juli 2009

"ORANG YANG MENDAPAT RAHMAT ALLAH"

"Ciri-ciri "orang" yang mendapat "Rahmat Allah" SWT adalah : (Sumber : Al-Qur'an Surat Al-Baqarah Ayat 218 ) :




1. "Orang" Yang Beriman.

Beriman yang dimaksudkan disini adalah beriman yang tidak hanya sekedar meyakini saja, akan tetapi mengaplikasikan apa yang diyakininya dalam kehidupan sehari-hari. Yaitu ada produk-produk amalan kebajikan dan kemaslahatan sebagai pembuktian keimanannya.

2. "Orang" Yang Berhijrah.

Yaitu "orang" yang punya keinginan yang kuat untuk berhijrah ke arah yang lebih baik. "Orang" seperti ini selalu punya kesiapan untuk mentransformasikan diri dari kemaksiatan dan kemunkaran menjadi "orang" yang selalu berbuat kebajikan dan kemaslahatan. Hijrah ini adalah merupakan tuntutan keimanan yang harus dilaksanakan.



3."Orang" Yang Berjihad Di Jalan "Allah".

"Orang"-"orang" seperti ini selalu turut serta terlibat dalam menebarkan kebajikan. "Orang" seperti ini memiliki mental pejuang yang sangat tinggi. Sebisa apapun harus terlibat dalam menebarkan kebaikan dalam kehidupan.


Semoga "Allah" SWT selalu memberi kekuatan kepada kita, sehingga kita dapat selalu berjihad di jalan "Allah".


Rabu, 08 Juli 2009

"AYAT AL-QUR'AN TENTANG GAIB"

"Hanya Allah-lah yang mengetahui hal yang "gaib", seperti yang dijelaskan dalam "Al-Qur'an" Surat
Fathir Ayat 38 : "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui yang "gaib" di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati".



Hal ini juga dijelaskan dalam "Al-Qur'an" Surat Az-Zumar Ayat 46 : Katakanlah, "Ya Allah Pencipta langit dan bumi, yang mengetahui yang "gaib" dan yang nyata, Engkaulah yang memutuskan diantara hamba-hamba-Mu tentang apa yang mereka memperselisihkannya"

Kalau ada yang mengatakan bahwa jin atau manusia itu mengetahui yang "gaib", itu hanya kebohongan belaka. Allah telah menunjukkan bahwa jin tidak mengetahui yang "gaib". Hal ini seperti yang dikisahkan dalam "Al-Qur'an" Surat Saba' Ayat 14 : "Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian atasnya (Sulaiman), tidak ada yang menunjukkan kepada mereka atas kematiannya, kecuali rayap yang memakan rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala dia (Sulaiman) tersungkur, jelaslah bagi jin itu bahwa sekiranya mereka mengetahui yang "gaib", tidaklah mereka tinggal didalam siksaan yang menghinakan itu."

Sabtu, 04 Juli 2009

"3 (TiGa) AMaLaN UTaMa"

"Manusia diciptakan oleh Allah SWT dan diberi kehidupan di dunia ini agar tidak melakukan kerusakan di muka bumi. "



Manusia diberi akal supaya mau ber"amal" shaleh yang dapat bermanfaat bagi alam semesta.


Ada 3(tiga) "amal"an utama yang dapat dilakukan manusia agar kualitas imannya dapat selalu terjaga. yaitu :



1. "Amal"an Pertama: Mencari Ilmu. Mencari ilmu diwajibkan bagi setiap umat Islam. Ayat pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW adalah "Iqra'", "bacalah". Membaca adalah perintah Allah yang pertama. Jadi Islam itu agama yang sangat memerangi kebodohan. Semua "amal"an ibadah ada ilmunya, maka dari itu kita dituntut untuk menuntut ilmu sejak kita lahir hingga masuk liang lahat.
Membacapun tidak sembarang membaca, tetapi "Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakanmu (Surat Al-Alaq, Ayat 1). Orang yang berilmu derajatnya akan diangkat oleh Allah SWT. Kalau kita mau sukses dalam kehidupan dunia maupun akhirat, kita harus menggunakan ilmu, maka dari itu menuntut ilmu itu wajib hukumnya bagi setiap muslim.


2. "Amal"an Kedua: Berjuang di jalan Allah untuk membela agama. Muslim yang berilmu berjuang dengan ilmu yang dimilikinya. Muslim yang kaya berjuang dengan memanfaatkan hartanya untuk kesejahteraan bagi orang lain. Bagi yang kuat dapat berjuang dengan kekuatannya untuk menolong orang lain. Bagi muslim yang tidak memiliki ilmu, harta ataupun kekuatan dapat berjuang dengan cara memanjatkan do'a kepada Allah SWT. Bagi yang tidak bisa ber"amal" dengan ilmu, harta, kekuatan dan do'a; dapat berjuang dengan diam. Dari pada mengumpat atau menjelek-jelekkan orang lain lebih baik diam.



3. "Amal"an Ketiga: Bekerja mencari nafkah untuk keluarganya. Muslim yang bekerja dengan niat memberikan nafkah yang halal dan barokah untuk keluarganya (orang tua, istri dan anak-anaknya), dengan tujuan supaya keluarganya tidak menjadi pengemis, adalah termasuk "amal"an utama yang mendapat pahala yang sangat besar. Mencari nafkah disini termasuk berjuang melawan kemiskinan.

"PeReMPuAN YaNG TiDaK BoLeH AnDa KaWiNi"

"Dalam Islam telah diajarkan siapa "perempuan-perempuan" yang tidak boleh dikawini (dinikahi)."


Dalam Al-Qur'an Surat An-Nisa' Ayat 23 dijelaskan : "Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anak "perempuan"mu, saudara-saudara "perempuan"mu, saudara-saudara "perempuan" ayahmu, saudara-saudara "perempuan" ibumu, anak-anak "perempuan" dari saudara laki-lakimu/anak-anak "perempuan" dari saudara "perempuan"mu, ibu-ibu yang menyusukanmu, saudara-saudara "perempuan" yang sesusuan, ibu-ibu istrimu (mertua), anak-anak tiri yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri; tetapi jika kamu belum mencampuri mereka, maka tidaklah berdosa atasmu (mengawini anak tiri itu), istri-istri anak kandungmu (menantu) dan mengumpulkan (mengawini) dua "perempuan" yang bersaudara kecuali pada masa yang telah lalu Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."







Disamping macam-macam "perempuan" seperti yang telah disebutkan di atas, "perempuan" yang tidak boleh anda kawini (nikahi) adalah "perempuan" yang masih berstatus menjadi istri dari seorang laki-laki.

Jumat, 03 Juli 2009

"ISLAM KAFFAH - BERTAUHID SECARA TOTALITAS"

"Kita sering mendengar bahwa dalam kehidupan sehari-hari ini banyak orang yang beragama "Islam" hanya "Islam" status yang hanya memenuhi formalitas yang tercantum dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP), atau lebih dikenal dengan "Islam" KTP atau "Islam" Abangan.


Na'udzubillah..... mudah-mudahan kita tidak termasuk dari golongan itu.


Sebagai umat "Islam" seharusnya kita beragama "Islam" secara "Kaffah". "Islam Kaffah" itu sebenarnya berkenaan dengan aqidah. Sebagai orang "Islam" kita tidak boleh menyembah Allah SWT dengan setengah-setengah. Kita dituntut untuk bertauhid dengan penuh totalitas. Beragama "Islam" secara "Kaffah" berarti tidak sinkretisme, yaitu tidak mencampur adukkan berbagai ajaran agama.


Ada beberapa cara yang dapat kita laksanakan untuk mewujudkan "Islam" secara "Kaffah", antara lain:

1. Memperluas wilayah pemahaman kita terhadap "Islam". Misalnya, kita sudah memahami shalat, kita diwajibkan untuk memahami ibadah-ibadah lainnya, karena "Islam" tidak hanya shalat, akan tetapi masih banyak ibadah-ibadah lain yang wajib kita pahami dan dilaksanakan misalnya zakat, puasa, haji dan seterusnya.


2. Memperluas wilayah kerja/amal kita. Misalnya kalau kita sudah melaksanakan ibadah shalat wajib, maka kita perluas lagi dengan melaksanakan ibadah shalat sunnah; Kalau kita sudah melaksanakan puasa wajib, kita perluas lagi dengan melaksanakan puasa sunnah; Dan seterusnya.


3. Kita berupaya secara terus menerus untuk menutup peluang setan masuk mempengaruhi dalam kehidupan kita. Jangan biarkan setan mencari peluang untuk mempengaruhi ketaatan kita kepada Allah SWT. Misalnya, kita sudah melaksanakan ibadah dengan baik menurut kita, namun kita masih sering membuka aurat kita. Jangan biarkan aurat kita terlihat oleh orang lain dengan dalih kita masih belum siap untuk menutup aurat kita. Padahal menutup aurat adalah perintah Allah juga.


Subhanallah..... Semoga kita termasuk orang yang diberi petunjuk oleh Allah SWT untuk menjadi orang "Islam" yang melaksanakan seluruh ibadah agama "Islam" secara "Kaffah".

Senin, 29 Juni 2009

"JILBAB / KERUDUNG"

Allah memerintahkan kepada seluruh wanita mukmin untuk mengenakan "jilbab". Hal ini seperti yang telah difirmankan

Allahdalam Al-Qur'an Surat
Al Ahzaab Ayat 59 : "Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan perempuan-perempuan mukmin, "Hendaklah mereka memakai "jilbab"nya atas dirinya". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, maka mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".

Difirmankan juga dalam Al-Qur'an Surat An-Nuur Ayat 31: "Katakanlah kepada mukmin perempuan, hendaklah menundukkan pandangan mereka dan menjaga kehormatan mereka. Dan janganlah menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yang kelihatan dari padanya. Hendaklah mereka menutupi dada dengan "kerudung"nya. ......."

Kalau kita membaca 2 (dua) Ayat di atas, maka memakai "jilbab" / "kerudung" adalah wajib hukumnya bagi seluruh wanita mukmin di seluruh dunia, utamanya wanita yang sudah baligh.


Pakaian "jilbab" bermanfaat sebagai wahana untuk mengontrol diri (self control) seorang wanita dari kemungkinan melakukan hal-hal yang kurang senonoh. Juga sebagai identitas bahwa pemakai bukan seorang yang senang digoda atau diganggu.

Melihat fenomena "jilbab" belakangan ini, satu sisi membuat kita gembira dan sisi lainnya menjadikan kita prihatin. Gembira--- Apabila kita kembali ke era beberapa belas tahun lalu, kemerdekaan ber"jilbab" susah didapatkan,  apalagi bila bersinggungan dengan birokrasi. Ber"jilbab" tidak bisa leluasa. Malah bisa menuai sanksi. Berbeda dengan saat ini, orang ber"jilbab" ada di mana-mana. Di sekolah hingga perkantoran dan birokrasi lainnya tidak ada larangan, bahkan menjadi trend yang menggembirakan.

Yang membuat prihatin, di tengah maraknya euforia ber"jilbab" itu terselip kesalah-pahaman menggunakannya. Banyak orang ber"jilbab" tetapi dibalut pakaian minim dan menonjolkan aurat yang seharusnya tertutupi. Mengapa bisa demikian? Rasulullah bersabda: "Para wanita yang berpakaian tetapi (pada hakikatnya) telanjang, lenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta, mereka tidak akan masuk surga dan tiada mencium semerbak harumnya surga." (Hadits Riwayat Abu Daud).

Syariat untuk ber"jilbab" ada, tentu dengan maksud dan tujuan mulia. Banyak penelitian menguak rahasia perintah ber"jilbab". Disamping untuk mengenali pribadi muslim dan mencegah gangguan orang jahat, dari sisi kesehatan ternyata ada faedahnya. Seorang dokter Kanada, dalam laporannya melalui kantor berita Reuters, telah menyatakan bahwa sesungguhnya wanita muslimah yang ber"jilbab", bukan hanya menunjukkan kesederhanaan saja tetapi juga akan terlindung dari kanker hidung dan tenggorokan. Hal ini diyakini karena "jilbab" mampu mencegah penetrasi banyak virus.

Menurut Farikh Narzuqi, MA, Sekretarus Ikatan Dai Indonesia (IKADI), salah satu hikmah perintah ber"jilbab" adalah terjaganya kehormatan seorang wanita terutama saat keluar rumah. Secara fitrah, wanita itu berada di rumah. Tapi kan tidak mungkin wanita selalu di rumah. Ada juga kebutuhan menuntut ilmu atau berkiprah di masyarakat. Agar tetap terjaga kehormatannya, maka Islam memerintahkan penggunaan "jilbab".

Kita tidak boleh lalai bahwa zaman sekarang lebih aman dari pada zaman jahiliyah di masa sebelum Islam. Islam telah mengatur cara muslimah berbusana serta mengingatkan untuk selalu menjaga diri. Selain ber"jilbab", para muslimah harus mengenakan 'pakaian malu. Jangan membuat pria tergoda. Tidak semua pria imannya kuat.

Ber"jilbab" adalah amal ibadah. Dan tiap amal harus dengan ilmu. Pelajari hikmah dan manfaat ber"jilbab". Kalau paham kan mantap. Jangan seperti siswi yang "jilbab"nya dilepas dan dimasukkan tas begitu keluar dari sekolah. Para ibu harus juga memberi contoh. Anaknya ber"jilbab" saat sekolah atau TPA, tapi ibunya yan g mengantar malah tidak ber"jilbab".

(Sumber: Majalah Al-Falah, Edisi 277, April 2011).


MusicPlaylistView Profile