Senin, 29 November 2010

"MENGELOLA DAN MENGURANGI SAMPAH"

"Sampah" terbaik adalah yang tanpa dihasilkan dan tidak membuang "sampah" adalah pengelolaan tersukses."


"Sampah" merupakan masalah kita bersama. Tentunya kita masih ingat dengan kasus "sampah" di seputar Kota Bandung dan Cimahi yang tidak terangkut dan menumpuk di beberapa sudut kota. Tumpukan "sampah" yang terlihat menunjukkan volume "sampah" yang dihasilkan oleh warga tidaklah sedikit.

Banyak hal yang dapat kita lakukan supaya "sampah" yang dibuang ke TPA tidak terlalu banyak. Salah satunya adalah dengan peduli daur ulang. Sepintas terdengar mudah namun terkadang sulit dilakukan. Apabila dicermati, sebenarnya lebih banyak membutuhkan energi untuk menghasilkan produk daur ulang dari pada membeli produk baru yang sama.

Apabila kita membeli produk daur ulang, harga produk ini akan menjadi lebih murah. Kita sudah menciptakan pasar tersendiri bagi produk-produk daur ulang sekaligus mendukung gaya hidup yang ramah lingkungan.

Ada baiknya, sebelum membeli cek apakah produk yang hendak dibeli terbuat dari bahan yang dapat didaur ulang atau tidak. Hal ini dapat dilihat dari logo atau gambar yang ada kemasannya. Hal ini disebabkan tidak semua produk daur ulang mencantumkan tanda daur ulang.

Sebagai informasi, aluminium, kaleng, gelas kaca dan karton kertas adalah produk-produk yang dapat didaur ulang.

Selain memilih produk yang dapat didaur ulang, untuk mengurangi "sampah" kita juga dapat berhemat kertas. Tanpa sadar, saat kita berjalan-jalan pun kita terbiasa membuang begitu banyak kertas. Pada saat mengunjungi pameran misalnya. Berapa lembar brosur yang diambil dari stan pameran lalu dibuang begitu saja? Tidak hanya 2 atau 3 lembar yang dibuang. Hal kecil yang terlihat sepele seperti ini harus diperhatikan supaya volume "sampah" yang dihasilkan tidak terlalu banyak.

MENGURANGI VOLUME "SAMPAH".
Meskipun berat "sampah" tidak dapat dikurangi, volume "sampah" masih dapat ditekan hingga lebih dari setengahnya. Jadi, tumpukan "sampah" tidak lekas memenuhi tempat "sampah" dalam waktu singkat. Caranya, kosongkan isi lalu tekan kaleng atau wadah kemasan hingga gepeng sebelum membuangnya. Sedangkan plastik pembungkus perlu dilipat rapi terlebih dahulu. Selanjutnya, lebih baik mnerobek kertas menjadi lembaran kecil ketimbang meremasnya. "Sampah" dibuang ke tempat pembuangan sementara hanya jika sudah mencapai kapaasitas maksimum pada tempatnya.


JANGAN BUANG "SAMPAH" SEMBARANGAN.
Pernyataan klasik ini memang harus diterapkan. "Sampah" yang dibuang sembarangan - terutama "sampah" non organik, biasanya akan lepas dari proses daur ulang dan akhirnya mencemari lingkungan karena lama atau sulit terurai secara alami. Dapat juga masuk ke aliran air seperti selokan dan sungai lalu menyumbatnya. Bayangkan saat hujan turun dan saluran air tertutup timbunan sampah, bencana banjir pun siap melanda kita.


"SAMPAH" PERMEN KARET.
Mengunyah permen karet memang menyenangkan. Namun.... gunakan kertas kemasan sebagai pembungkus pada saat membuangnya. Hal ini supaya permen tak lengket dan menempel di sembarang tempat. Perlu diketahui, bahwa meskipun berukuran kecil ternyata dibutuhkan waktu 5 tahun agar permen karet terurai dalam tanah.


PILAH PILIH "SAMPAH".
Melenyapkan "sampah" rumah tangga dengan membakarnya bukan solusi terbaik. Asap hasil pembakaran dapat memperparah polusi udara. Volume "sampah"pun tidak musnah sepenuhnya, hanya berkurang sekitar 90%. Cara terbaik adalah dengan memilah "sampah" berdasarkan jenisnya. Tindakan ini akan mempermudah pemulung saat menyortir "sampah" yang nantinya akan didaur ulang. "Sampah" organik rumah tangga yang telah disortir dan tidak digunakan untuk bahan kompos (tulang, makanan basi, kulit buah yang keras dan lain-lain) dapat dibuang dengan plastik bio bag.


"SAMPAH" ORGANIK DAN ANORGANIK.
Untuk mempermudah pengelolaan "sampah" nantinya, tidak ada salahnya apabila kita telah memisahkan "sampah" rumah tangga sejak awal. Saiapkan saja dua tempat "sampah" di dapur, untuk "sampah" organik dan anorganik. Selanjutnya, "sampah" organik (sisa sayuran, buah, daging dan tulang) merupakan "sampah" yang mudah diurai dan dapat diolah menjadi kompos. Supaya proses pembusukan lebih cepat, cacah tumpukan "sampah" hingga potongan terkecil. Hasil pengomposan ini nantinya digunakan sebagai pupuk untuk menyuburkan tanaman di kebun. Sedangkan "sampah" an organik seeperti kertas, kardus, botol, kaleng dan plastik dapat diberikan atau dijual ke pemulung. Lingkungan terjaga, uang dapur pun bertambah. Asyiiiiik kan?
Pemilahan "sampah" menurut jenisnya:
a. "Sampah" Organik:
- Bahan pengomposan : sisa sayuran, serutan kayu, kulit buah, rumput dan rontokan dedaunan, kulit telur, teh dan bubuk kopi.
- Untuk dibuang: makanan basi atau bersantan, tulang, produk turunan susu.
b. "Sampah" Anorganik:
- Plastik: Sedotan, kantung plastik, botol plastik, kantung kemasan.
- Kertas: Kardus, koran, majalah, kertas kemasan.
- Kaca: Botol, gelas, piring, toples kaca.
- Logam: Kaleng, paku, kawat.


"SAMPAH" PERANGKAP HEWAN.
  Jangan buang begitu saja "sampah" botol dan kaleng minuman, terutama di halaman. Alasannya, akan banyak serangga dan mamalia kecil yang tanpa sengaja terjebak masuk ke dalam botol dan tidak dapat keluar lagi. Akhirnya, binatang tersebut akan mati kelaparan di dalam botol. Begitu juga dengan kaleng bergigi tajam dapat melukai hewan liar yang kebetulan menginjaknya. Apabila tidak ditimbun atau dibuang di tempat "sampah", kaleng dan botol bekas dapat juga menjadi sarang nyamuk dan sumber penyakit.

0 komentar:


MusicPlaylistView Profile