Jumat, 18 Juni 2010

"SUMPAH PEMUDA DAN IMPLEMENTASINYA"

"Sumpah "Pemuda" dalam kongres "pemuda" Indonesia pada tanggal 28 Oktober 1928 merupakan produk nasional yang bernilai tonggak sejarah yang sangat luhur, yang wajib kita lestarikan dan kita teladani."


Sumpah "Pemuda" merupakan salah satu contoh yang besar dan agung produk dari aktivitas sosial kemasyarakatan "pemuda" Indonesia pada 82 tahun yang silam. Hasil itu lahir dari perjuangan terus menerus yang tak kenal menyerah yang dilandasi oleh kepercayaan pada diri sendiri yang sangat kuat. Bagaimana dengan generasi "muda" kita dalam era pembangunan dewasa ini?


Kita semua harus terus beramal, melakukan aktivitas sosial kemayarakatan yang berupa karya-karya baru untuk menjawab segala tantangan dan memenuhi semua hajat dan keperluan bangsa pada masa sekarang ini. Tidak ada alasan untuk berpangku tangan sambil melamun tentang kejayaan nenek moyang pada masa silam sedangkan kita sendiri hanya bermalas-malasan dalam keterbelakangan.


Seperti yang telah dikatakan oleh Dr. Muhammad Iqbal kepada generasi "muda":
Di jalan ini tak ada tempat berhenti,
sikap lamban berarti mati.
Mereka yang bergerak,
merekalah yang di depan yang menunggu,
sejenak sekalipun,
pasti tergilas.


Pada era pesatnya kemajuan teknologi informasi dewasa ini, dirasakan bahwa nilai-nilai budaya barat yang destruktif telah melanda kita semua dengan deras, khususnya generasi "muda". Alat-alat informasi yang modern dan serba canggih itu ternyata padat dengan pesan-pesan yang mendorong hidup mewah, konsumerisme, free sex, perilaku agresif dan sekularisme, yang dampak negatifnya sangat nyata kita rasakan.


Disamping dampak negatif, banyak pula manfaat yang dapat dan wajib diambil dari kemajuan teknologi informasi. Misalnya, dengan bantuan komputer kita akan dapat menerima mengolah dan menyampaikan informasi tentang masalah-masalah umat secara lebih cepat, lebih lengkap dan lebih akurat sehingga akan sangat membantu dalam menegakkan asas musyawarah yang merupakan satu nilai/sila sosial dasar dalam kehidupan umat Islam dan bangsa Indonesia. Dengan bantuan teknologi informasi yang modern pula generasi "muda" tampak makin pandai dan kritis dalam berpikir, makin rasional dan makin luas/universal pandangan hidupnya. Hal itu semua akan banyak pengaruhnya terhadap aktivitas sosial angkatan "muda" sehingga harus dipertimbangkan dan disaring sebaik-baiknya supaya hasilnya positif dalam mensukseskan pembangunan nasional menuju era tinggal landas dan abad ke 21 mendatang.


Harapan kita supaya para umara dan ulama bersatu padu dalam mendorong dan mengarahkan para "pemuda" kita supaya mereka melaksanakan aktivitas sosial kemasyarakatan dalam bentuk program-program kerja yang terarah, terpadu, paralel dan sinkron dalam rangka menuju suksesnya era tinggal landas. Tugas para umara akan lebih dititik beratkan pada bidang hablul minannas, sedangkan tugas para ulama akan lebih dititik beratkan pada bidang hablul minallah --- Walaupun sebenarnya keduanya tidak terpisahkan dan saling tumpang tindih, sehingga hanya menyangkut bidang spesialisasi atau profesi saja. Keduanya harus tetap menyatu dan terpadu sebagai dwitunggal sehingga tidak terjadi dikhotomi.


Adanya aktivitas sosial kemasyarakatan di kalangan "pemuda" adalah hal yang wajar sebagai konsekwensi dari manusia sebagai makhluk sosial di samping sebagai makhluk pribadi. Dalam era pembanguan seperti sekarang ini dimana terjadi proses perubahan yang berlangsung secara terus menerus menuju ke keadaan yang lebih baik, generasi "muda" dituntut untuk mengetahui segala masalah yang dihadapi bangsa dan negara secara tepat dan benar.


Generasi "muda" harus berpartisipasi aktif dalam menanggulangi dan mengatasi masalah-masalah yang ada, mengantisipasi timbulnya masalah baru supaya bangsa kita tidak terjerumus ke dalam pola hidup konsumerisme, diperlukan usaha yang sungguh-sungguh untuk membiasakan pola hidup sederhana dalam arti menyesuaikan diri dengan kemampuan yang ada.


Betapapun beratnya permasalahan yang kita hadapi, kita dan semua generasi "muda" harus tetap optimistik melihat ke masa depan dan pantang menyerah. Dengan modal dasar iman dan taqwa kepada Allah yang terus kita pertebal, maka akan tumbuh kepercayaan pada diri sendiri untuk mampu dan kuat dalam mengatasi setiap kesulitan.

(Sumber: Majalah Ilmiah Triwulanan UII Yogyakarta, Nomor 4 Tahun X - Triwulan 1/1989).

0 komentar:


MusicPlaylistView Profile