"Konsep "kemitraan" kebanyakan ditafsirkan tanpa batas dengan istri punya kewajiban untuk mencari nafkah, sedangkan suami punya kewajiban mengurus "rumah tangga" termasuk mendidik anak-anaknya".
Anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, orang tualah yang membentuknya menjadi baik atau buruk. Ajaran ini kemudian dibenarkan oleh teori Tabularasa, bahwa setiap anak yang lahir itu bagaikan secarik kertas putih, orang tualah yang mewarnai dirinya menjadi merah, biru dan sebagainya.
Konsep di atas menggariskan bahwa begitu dominan peranan "keluarga" dalam melakukan "pembinaan" terhadap anak-anaknya. Dalam arti bahwa masa depan anak tergantung pada bagaimana sebuah "keluarga" memerankan fungsi "pembinaan" kepada ana-anaknya mulai dari dalam kandungan ibu sampai menjadi dewasa.
"Pembinaan keluarga" di atas tergantung pada bagaimana peranan orang tua dalam melaksanakan tugasnya dalam "keluarga" sebagai orang tua, sebagai pendidik dan atau sebagai panutan yang senantiasa dipedomani, digugu dan ditiru oleh anak-anaknya. Produk-produk "pembinaan keluarga" inilah yang senantiasa mendominasi kepribadian ana
Melihat hal ini maka sebenarnya aba

"KEMITRAAN" YANG MEMBINGUNGKAN.
Hampir semua ibu-ibu modern (ibu-ibu yang hidup di kota), akan mengatakan bahwa membantu suami untuk mencari nafkah itu adalah sangat penti
Konsep "kemitraan" kebanyakan ditafsirkan tanpa batas dengan istri punya kewajiban untuk mencari nafkah, sedangkan suami punya kewajiban mengurus "rumah tangga" termasuk mendidik anak-anaknya. Se
Persoalannya sekarang pada "pembinaan" anak dalam "keluarga", bahwa setiap anak membutuhkan panutan dari orang tuanya. Untuk membentuk karakter mereka dibutuhkan profil orang tua yang jelas dengan peranannya masing-masing. Kepada anak-anak laki-laki dibutuhkan profil seorang ayah yang kuat dan tangguh, seorang pahlawan yang selalu membantu yang lemah, sebagai pencari nafkah bagi istri dan anak-anaknya, seperti layaknya seorang laki-laki yang ia pahami dalam legenda-legenda rakyat. Begitu pula bagi anak-anak perempuan, membutuhkan profil seorang ibu yang lemah lembut,,sabar, yang selalu mendongeng menjelang tidur, merawat anak-anaknya dan senantiasa menunggu mereka di rumah.

Kenyataannya menjadi terbalik, anak-anak tidak mampu menjadikan orang tuanya sebagai profil ideal. Sedangkan orang tua terus membingungkan mereka dengan peranan dan kesibukan orang tua masing-masing. Anak perempuan tidak mampu meniru ibunya yang 'super woman' dan anak laki-laki merasa enggap menirukan ayahnya yang feminim. Anak-anak menjadi kehilangan pegangan dan orang tua menjadi tidak berwibawa di hadapan anak-anaknya, karena tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut orang tua yang sama dengan apa yang dilihat dari tingkah laku orang tuanya itu. Ayah berkali-kali melarang anaknya untuk tidak merokok, padahal anaknya melihat ayahnya menghabiskan rokok berbatang-batang dalam waktu sejam
Kehilangan panutan di rumah memaksakan anak-anak mencari pengganti kehilangan itu di luar rumah. Muncullah tokoh Rambo, tokoh Super force, tokoh Nobita dsn Dorsemon dan tokoh-tokoh lainnya. Sayangnya Rambo berambut gondrong, senang berkelahi dan berpakaian compang-camping serta peminum, dan Super Force senang membunuh orang walau untuk membela kebenaran, sedangkan Nobita-Doraemon terlalu senang materi. Akhirnya tokoh-tokoh ini lebih berkesan di hati anak-anak, karena satu kalipun tak pernah mendustai mereka. Anak dan o
SEBUAH ALTERNATIF "PEMBINAAN".
Dalam masyarakat Timur, termasuk masyarakat Indonesia, masih memandang "keluarga" inti (nuclear family) adalah bagian yang utuh dari "keluarga" besar (extende-family) atau sebaliknya. Pada "keluarga" besar, disana terhadap ayah, ibu, anak, nenek dan saudara-saudara lainnya. Pada kebanyakan masyarakat, terutama di kota, merasa bahwa perkawinan seseorang telah memisahkan dia dengan "keluarga" besarnya. Karena itu semua persoalan "rumah tangga" termasuk anak-anak adalah tanggung-jawab dirinya yang justru sedang tidak berdaya menghadapi kesibukan "keluarga"nya itu. Alternatif yang praktis adalah mempekerjakan Pembantu "Rumah Tangga" (PRT). Pada persoalan-persoalan tertentu PRT mungkin adalah jawaban, akan tetapi bukan jawaban bagi rentang "pembinaan" anak yang sedang terbengkalai. Karena "pembinaan" membutuhkan profil orang mirip dengan orang tua anak. Karena itu nenek, sebut saja Mbah Eyang atau Mbah Kakung merupakan sumber dan alternatif "pembinaan" anak-anak terbaik manakala "keluarga" inti (istri dan suami) tidak mampu melaksanakan fungsi "pembinaan" secara
Masalahnya sekarang, mungkinkah setiap nenek bersedia menjadi penyambung jerami "pembinaan" cucu-cucunya, dan bagaimana keikhlasan orang tua melepaskan anak-anaknya menjadi asuhan nenek mereka, mungkin ini lebih baik, lebih manusiawi dan mungkin akan serba lebih untuk "pembinaan" anak-anak dari pada mereka harus terlantar atau seperti yang terjadi pada film Home Alone.
0 komentar:
Posting Komentar