Jumat, 13 Maret 2015

"APA SIH ARTINYA MODUS?"

"Apa sih artinya "Modus"? Yang biasa diucapkan anak-anak muda atau anak Ghaul jaman sekarang".



Dulu, kalau mendengar kata "Modus", yang dibayangkan adalah sesuatu yang berhubungan dengan kriminalitas dan pelanggaran hukum. Sering banget dengar kata "Modus" operandi, yang sering digunakan di koran-koran atau televisi kalau ada berita kejahatan, misalnya pencurian motor dengan "Modus" menukar plat nomor kendaraan, atau perampokan dengan "Modus" pembiusan. "Modus" juga digunakan di pelajaran matematika, untuk menunjukkan nilai yang paling sering muncul dalam suatu kelompok data.
Kalau menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, "Modus" adalah:
"Modus" mo.dus
[n] (1) cara; (2) Ling bentuk verba yg mengungkapkan suasana kejiwaan sehubungan dengan perbuatan menurut tafsiran pembicara tentang apa yang diucapkannya; (3) nilai yang paling besar frekuensinya dl suatu deretan nilai; (4) angka statistik yg paling sering muncul dl populasi atau sampel

Beberapa tahun belakangan ini anak-anak muda sepertinya semakin kreatif dalam berbagai bidang. Salah satunya dalam mempergunakan kata-kata dalam pergaulan sehari-hari. Ada beberapa kata yang akhir-akhir ini mengalami perubahan fungsi. Salah satu kata tersebut adalah kata "Modus". Entah itu kemajuan atau kemunduran, soal itu serahkan saja pada ahlinya. Yang pasti saya mengamati ada beberapa kata dalam bahasa Indonesia yang dulu jarang digunakan sehari-hari, sekarang malah menjadi bahasa pergaulan baik di dunia nyata maupun di dunia maya.


"Modus" sebenarnya berasal dari bahasa latin "Modus" Operandi", yang artinya kira - kira "Mode of Operation" atau "Cara beroperasi". Istilah ini digunakan untuk mendeskripsikan kebiasaan atau cara kerja seseorang. Istilah ini sering kali digunakan dalam tugas polisi, ketika mendiskusikan tentang seorang kriminal dan cara kerjanya.
 
Namun "Modus" seringkali disalah-artikan sebagai motif, padahal memiliki arti yang berbeda.  Kata "Modus" ini juga  dianggap bahasa "gaul" oleh anak-anak muda jaman sekarang. "Modus"  ini kata yang lagi ngHITS banget di kalangan anak-anak GHAUL jaman sekarang. Setelah saya cari-cari di Google, ternyata saya menemukan beberapa arti dari "Modus" di kalangan anak-anak muda. Ini adalah beberapa arti dari kata "Modus" yang saya dapatkan dari hasil wara-wiri di social media : antara lain: 

1. "Modal Dusta"..... Ternyata  "Modus"  merupakan  kata-kata yang singkatannya "Modal Dusta".

2. Namun "Modus" bisa juga diartikan memiliki niat lain di balik pekerjaan lain yang dilakukan.
Contoh : A : "Eh, ngerjain tugas bareng yuk?" | B : "Ah,
"Modus" mulu lo bilang aja mau deket-deket sama gw."

3. Bisa berarti juga satu cewek cantik yang selalu digodain sama semua orang:
Contoh:
guru ; eh sekretarisnya cantik yah
murid ; yah "Modus" banged dah  

4. Motif tapi sering diartikan alasan yang bukan merupakan alasan sebenarnya
dia itu nanyain fisika cuma "Modus", padahal mau pdkt

5. Ada maksud lain:
Lo harus hati-hati sama kebaikan dia, siapa tahu "Modus".

Sumber:
1. shelviaramadhani.blogspot.com/
2. yudha444.blogspot.com/.../istilah-istilah-gaul-yang-se...
3. kitabgaul.com/word/modus
4. https://id.answers.yahoo.com/question/index?qid...
5. buamdelonge.blogspot.com/.../galau-dan-modus.html

"BERSABAR TERHADAP PEMIMPIN YANG DZALIM"

"Ta’at kepada "pemimpin" adalah suatu kewajiban sebagaimana disebutkan dalam Al Kitab dan As Sunnah. 

Di antaranya Allah SWT. berfirman,


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An Nisa’ [4] : 59)

Ibnu Abil ‘Izz mengatakan,

“Hukum mentaati "pemimpin" adalah wajib, walaupun mereka berbuat "dzalim" (kepada kita). Jika kita keluar dari mentaati mereka maka akan timbul kerusakan yang lebih besar dari ke"dzalim"an yang mereka perbuat. Bahkan ber"sabar" terhadap ke"dzalim"an mereka dapat melebur dosa-dosa dan akan melipat gandakan pahala. Allah SWT. tidak menjadikan mereka berbuat "dzalim" selain disebabkan karena kerusakan yang ada pada diri kita juga. Ingatlah, yang namanya balasan sesuai dengan amal perbuatan yang dilakukan (al jaza’ min jinsil ‘amal). Oleh karena itu, hendaklah kita bersungguh-sungguh dalam istigfar dan taubat serta berusaha mengoreksi amalan kita.


Perhatikanlah firman Allah SWT. berikut,


وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ


“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syura [42] : 30)


أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ



“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”.” (QS. Ali Imran [3] : 165)


مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ


“Apa saja ni’mat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. An Nisa’ [4] : 79)


Allah SWT. juga berfirman,


وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ


“Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang "dzalim" itu menjadi teman bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS. Al An’am [6] : 129)


Apabila rakyat menginginkan terbebas dari ke"dzalim"an seorang "pemimpin", maka hendaklah mereka meninggalkan ke"dzalim"an.


(Inilah nasehat yang sangat bagus dari seorang ulama Robbani. Lihat Syarh Aqidah Ath Thohawiyah, hal. 381, Darul ‘Aqidah)

Nabi SAW., bersabda, "Nanti setelah aku akan ada seorang "pemimpin" yang tidak mendapat petunjukku (dalam ilmu) dan tidak pula melaksanakan sunnahku (dalam amal). Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia." Aku berkata, "Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?" Beliau bersabda, "Dengarlah dan ta'at kepada "pemimpin"mu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta'at kepada mereka." (HR. Muslim no.1847)


Dari Ibnu 'Abbas, Nabi SAW., bersabda, "Barangsiapa melihat sesuatu pada "pemimpin"nya sesuatu yang tidak ia sukai, maka ber"sabar"lah. Karena barangsiapa yang melepaskan diri satu jengkal saja dari jama'ah, maka ia mati seperti matinya jahiliyah. (mati dalam keadaan jelek dan bukan mati kafir)." (HR. Bukhari no.7054, dan Muslim no.1849)
 
Sumber:
1. rumaysho.com › Jalan Kebenaran
2. https://id-id.facebook.com/.../10151516606956213
6. laely.widjajati.facebook/#SinGGaSaNa.... (23082014)

Senin, 09 Maret 2015

"DUNIA INI PANGGUNG SANDIWARA"

"Ingat sebait kalimat lagu yang dilantunkan Ahmad Albar "Dunia ini panggung sandiwara", ceritanya mudah berubah".



Benarkah "dunia ini" memang "panggung sandiwara"? Sekadar mereduksikan persoalan, "dunia" bisa dipahami sebagai "panggung sandiwara". Seperti halnya "sandiwara" benaran dengan berbagai tokoh dan lakon yang protagonis dan antagonis, juga ada klimaks dan antiklimaks, "panggung sandiwara" kehidupan kita pun tampaknya seperti itu. Ada orang yang sedang pada tahap antiklimaks dalam hidupnya.

Dalam kalimat pertama dari sebuah monolog berjudul “As You Like It”, William Shakespeare juga mengatakan, “All the world’s a stage“. Ini sebuah ekspresi jujur yang menegaskan eksistensi manusia di "dunia". Sebagai sebuah "panggung sandiwara", setiap orang memainkan perannya masing-masing.  

"Dunia ini panggung sandiwara" adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It. Monolog ini mengumpamakan "dunia ini" sebagai sebuah "panggung sandiwara" dan kehidupan manusia seperti sebuah "sandiwara", dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia: bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon, dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya".

Maksud Shakespeare adalah bahwa "dunia ini" tidak lain adalah "panggung" teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki "dunia" teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan. Ini adalah salah satu bagian dari karya Shakespeare yang paling sering dikutip.

Hidup didunia bersifat sementara . Apa apa yang ada didunia inipun hanya fatamorgana, tipuan dan tipuan. Ibarat sebuah panggung sandiwara yang sangat besar. Firman Allah SWT maksudnya : "Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?" (Surah Al-An'Am ayat 32) “Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Al- Hadid: 20) Sebagaimana suatu panggung sandiwara maka tokoh tokohnya hanya mengikut saja apa kehendak sutradara. Setiap ucapan perbuatan dan tingkah laku pemainnya hanya tunduk pada sang sutradara . Kadang ada adegan adu mulut bahkan ada adegan adu jotos sekalipun tetapi jangan lupa semua ini hanyalah sandiwara bukan sungguhan. Jangan sampai diantara pemain kemudian keluar dari skenario, ketika adegan dimarahi lalu benar benar ketakutan sehingga lari terbirit birit keluar dari panggung atau saking emosinya benar benar berkelahi dengan pemain lainnya sementara dalam skenario tidak ada adegan tersebut. Copy and WIN : http://bit.ly/copynwin

Copy and WIN : http://bit.ly/copynwin
Hidup di "dunia" bersifat sementara. Semua yang ada di "dunia ini" pun hanya fatamorgana, tipuan dan tipuan. Ibarat sebuah "panggung sandiwara" yang sangat besar. 

Firman Allah SWT. yang artinya:
"Dan tiadalah kehidupan "dunia ini", selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?" (QS. Al-An'am: 32)
 
"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan "dunia" itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan "dunia ini" tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu". (QS. Al-Hadid: 20)

Jadi kalau "dunia ini panggung sandiwara", maka sebaiknya kita berperan sebagai tokoh yang baik-baik sajalah yang bisa bermanfaat bagi alam semesta ini supaya amalan kebaikan kita kelak dapat kita bawa ke kehidupan akhirat kelak. Semoga Allah menuntun kita untuk selalu melangkah di jalan yang lurus, sehingga kita dapat mengakhiri "sandiwara" kita di "dunia ini" dengan khusnul khatimah. Aamiin Ya Rabbal Alamiin.....
Hidup didunia bersifat sementara . Apa apa yang ada didunia inipun hanya fatamorgana, tipuan dan tipuan. Ibarat sebuah panggung sandiwara yang sangat besar. Copy and WIN : http://bit.ly/copynwin

Copy and WIN : http://bit.ly/copynwinHidup
 
Sumber:
1. sosbud.kompasiana.com/.../hidup-ini-panggung-sandi...
2. id.wikipedia.org/.../Dunia_ini_p...
3. quran-terjemah.org/al-an-am/32.html
4. ihaqy.blogspot.com/.../hakikat-dunia-interpretasi-qs.ht...
5. drtamtomo.blogspot.com/.../dunia-ini-panggung-sandi...
6. laely.widjajati.facebook/Add-a-description-With-Banda-Go-Trilyuner.
7. laely.widjajati.facebook/Mekarsari —

Minggu, 08 Maret 2015

"KHARISMA"

"Kharisma" adalah sebuah aura khas yang dimiliki seseorang sejak lahir dan berkembang seiring bertambahnya ilmu dan pengalamannya yang membuatnya terlihat “berbeda” dari yang lain". 



"Kharisma" itu sendiri merupakan ciri khas unik seseorang, sehingga tidak bisa ditiru oleh orang lain. "Kharisma" adalah pengolahan diri seseorang dimana, orang tersebut terus menerus mengembangkan kelebihan dirinya, yang bisa memancar keluar membuat orang lain menjadi bisa merasakannya atau bisa menjadi penggemar (pengikut) yang fanatik untuk dirinya. Dan seperti Inner Beauty dimana inner beauty (kecantikan batin) bisa menjadi inner power (kekuatan'dalam') maka "Kharisma"pun demikian, orang akan merasakan jika berhadapan dengan seseorang yang mempunyai "Kharisma", energi postif memancar keluar memberi daya tarik pada orang yang berinteraksi."Kharisma", tidak bisa digembar-gemborkan oleh diri sendiri, dimana seseorang bisa bertepuk dada, menyatakan dirinya punya "Kharisma" atau punya inner beauty. Maka kesimpulannya "Kharisma" maupun Inner Beauty bisa dirasakan, bisa terlihat oleh orang lain bukan sebagai pengakuan oleh diri sendiri.

APA SIH "KHARISMA" ITU?

Individu yang "Kharisma"tik terlihat dari kemampuan mereka menarik perhatian dan meyakinkan orang lain. Dengan adanya gabungan karakteristik tersebut dengan kompetensi organisasional dan bisnis yang memadai akan membuat kebanyakan orang akan melihat dan berkata  “Wah, orang itu adalah pemimpin besar.”


Sebelum kita lanjutkan, mari kita bicara tentang definisi dari kata "Kharisma". Ada beberapa definisi yang bisa ditemukan:
  • “Kemampuan untuk mengembangkan atau memberi inspirasi komitmen ideologis pada orang lain.”
  • “Daya tarik pribadi yang memungkinkan untuk mempengaruhi orang lain.”
  • “Kata "Kharisma" (dari kata Yunani "Kharisma" atau artinya hadiah), sering digunakan dalam bentuk ini untuk menggambarkan kemampuan untuk pesona atau mempengaruhi orang.”
Tentu saja menginspirasi orang lain untuk bertindak positif merupakan faktor penting dalam keberhasilan dalam kepemimpinan, seperti halnya kemampuan untuk membantu orang lain berkomitmen untuk mengembangkan ide. Bahkan dengan memiliki ‘daya tarik pribadi’, terlihat baik, fasih berbicara dengan orang lain, dan keterampilan interpersonal yang baik selalu berguna bagi seorang pemimpin. Tapi ketika "Kharisma" menjadi pertimbangan utama dalam menentukan baik tidaknya seorang pemimpin maka bisa terjadi kekecewaan bagi pengikutnya. Pernahkah Anda sadari dari sudut pandang ini seorang Mahatma Gandhi dan Adolf Hitler sama "Kharisma"tiknya?

Istilah "Kharisma" adalah nilai yang netral: ia tidak membedakan antara baik/bermoral dan jahat/tak bermoral. "Kharisma" dapat mengakibatkan fanatisme buta dan megalomaniacs yang berbahaya, atau untuk menjadi pengorbanan diri heroik dalam pelayanan yang menguntungkan organisasinya.

MEMBANGUN
"KHARISMA" 


Seseorang yang mempunyai "Kharisma" bisa membuat seseorang menjadi idola, pemimpin yang dikagumi bahkan mempunyai pengikut yang ‘rela mati' untuknya seperti kita kenal beberapa tokoh dunia yang ber"Kharisma", dan banyak tokoh yang mempunyai "Kharisma" ternyata bukanlah seseorang yang mempunyai kedudukan atau harta berlimpah tapi seperti banyak diungkapkan dimana beberapa nama seperti Nabi Muhamad SAW, dan masih banyak tokoh lainnya dimana banyak cerita mengungkapkan bila mereka berceramah, bukan saja memukau manusia bahkan burung yang terbangpun akan hinggap dulu di dahan pohon untuk turut mendengarkannya.

Sebagai contoh yang hidup pada zaman ini yaitu ibu Theresa dari Calcuta, dimana seorang teman Victor Chandrawira yang kebetulan bisa hadir dalam kesempatan itu, bersaksi: pada saat Women World Summit di Beijing September 1996 dimana sejumlah ibu negara dan tokoh-tokoh wanita dunia berkumpul dengan beragam gemanya, di tengah kebisingan obrolan antar mereka mendadak suasana bisa sunyi hening tácala, seorang ibu tua dengan pakaian sederhana dan badan yang tua renta berjalan memasuki arena, yang ternyata ibu tersebut adalah Ibu Theresa yang begitu ber
"Kharisma" sehingga bisa membuat semua mulut terdiam, mata terbelalak padahal dia sosok tua yang sederhana.

Melihat penampilan wanita tua sederhana di tengah gemerlapnya pakaian dan anggunnya penampilan para ibu negara seluruh dunia, maka apanya yang membuatnya bisa membungkamkan mulut dan membelalakan mata orang banyak..? Tentu saja jawabannya adalah
"Kharisma"nya.! Beliau membangunnya dengan berbuat baik sepanjang hidupnya, dimana perbuatannya melebihi kebanyakan orang di dunia ini, dan mungkin sampai saat ini belum tergantikan sejak kematiannya."Kharisma" bisa dibangun, dipupuk dengan perbuatan baik yang terus menerus dan membuahkan sesuatu yang berguna untuk orang lain dan melakukannya dengan kesungguhan hati untuk mendapatkannya."Kharisma" sebuah perbuatan nurani dimana seseorang bisa menyeimbangkan dirinya, untuk berbuat dengan mementingkan kepentingan orang lain di atas kepentingan ego diri, bisa memikirkan perasaan orang lain, bisa bekerja dengan kasih sayang tanpa pamrih untuk kesejahteraan orang lain, bisa bekerjasama dengan baik dengan semua unsur tim kerja.


"Kharisma" tidak hanya dapat memberikan daya tarik pribadi tetapi juga dapat sebagai salah satu penunjang sukses berkarir. Ada beberapa kiat untuk membangun  "Kharisma" berikut ini dan praktekkan, serta lihat apa hasilnya pada diri Anda.
1. Menciptakan Daya Tarik Pribadi
2. Menunjukan Sikap Bersahabat
3. Hindari Sikap Menunduk
4. Jangan Lupakan Etika dan Sopan Santun
5. Jalin Kontak Mata Saat Bicara
6. Jangan Takut Untuk Dipuji
7. Jangan Takut jadi Pusat Perhatian  

Silahkan Anda coba, rasakan dan nikmati hasilnya. Selamat mencoba, semoga Anda berhasil menjadi orang yang ber"Kharisma".

Sumber:
1. https://id-id.facebook.com/.../posts/465163740183716
2. aampuh.blogspot.com/.../arti-dari-kata-kharisma.html
3. www.bizresult.com/?mn=Refleksi&article_id=11
4. https://id.answers.yahoo.com/question/index?qid...
5. laely.widjajati.facebook/Kondangan-(23082014)
6. laely.widjajati.facebook/Ketua-FKPI-Sidoarjo.....
7. laely.widjajati.facebook/Kok-di-blakang-q-bnyak-"ULAR"nya-ya???????????

Sabtu, 07 Maret 2015

"MANFAAT BERAS HITAM"

Di Indonesia, masyarakat lebih banyak yang mengenal ketan "Hitam" dibanding "Beras Hitam". "Beras Hitam" banyak tumbuh di wilayah Asia.



Meskipun warnanya sama-sama "Hitam", "Beras Hitam" berbeda dari ketan "Hitam". Begitu pula dengan kandungan nutrisinya. Sifat dan teksturnya mirip dengan "Beras" biasa dibanding ketan.

Secara umum terdapat tiga macam "Beras", yakni "Beras" putih (Oryza sativa), "Beras" merah (Oryza glaberrima) dan "Beras Hitam" (Oryza sativa L. indica). Dari ketiga jenis itu, "Beras" putih paling banyak dikonsumsi disusul dengan "Beras" merah dan terakhir "Beras Hitam".

"Beras Hitam" memiliki segudang "manfaat" bagi kesehatan. Dalam sejarahnya, "Beras Hitam" dianggap sebagai makanan para raja. Di Cina, "Beras Hitam" pernah disebut sebagai "Beras" terlarang (forbiden rice). Karena pada masa itu yang boleh mengkonsumsi "Beras Hitam" hanya keluarga kerajaan.

Dari segi rasa, "Beras Hitam" sedikit pera tidak begitu “pulen” seperti "Beras" putih. Untuk memasaknya, dibutuhkan lebih banyak air dan waktu lebih lama. Setelah matang, "Beras Hitam" memiliki aroma kuat yang menguggah selera makan.

"Manfaat beras hitam"

Kalau membaca sejumlah literatur yang bertebaran di dunia maya, "Beras Hitam" digembar-gemborkan seperti obat segala hal yang bisa menyembuhkan segala hal. Namun benarkah itu? mari kita tinjau lagi dengan seksama.

"Beras Hitam" adalah bahan pangan, bukan obat. Walaupun bisa saja berfungsi obat pada keadaan tertentu. Seperti pangan pada umumnya, "manfaat" atau khasiat yang ada pada "Beras Hitam" lebih kepada pencegahan penyakit dari pada mengobati. Ada pun "manfaat" utama "Beras Hitam" adalah sebagai berikut:

1. Mencegah Kanker.
"Beras Hitam" dikatakan ber"manfaat" mencegah karena dalam "Beras Hitam" memiliki kandungan antosianin yang tinggi. Berdasarkan banyak riset, antosianin ini merupakan salah satu antioksidan yang sangat kuat. Sebagaimana diketahui secara luas, zat antioksidan berperan aktif untuk mencegah penyakit kanker.

2. Mencegah Diabetes.
Nilai kalori "Beras Hitam" terendah dibanding dengan jenis "Beras" lainnya, yaitu sekitar 362 kcal per 100 gram. Kandungan kalori ini berkaitan erat dengan indeks glikemik. Indeks glikemik merupakan angka yang menujukkan seberapa besar suatu makanan bisa meningkatkan kadar gula dalam darah setelah dikonsumsi. Semakin tinggi indeks glikemik, maka makanan tersebut akan memicu kenaikan gula darah semakin tinggi pula. Sehingga"Beras Hitam"  digolongkan sebagai pangan sehat dan dianjurkan bagi penderita diabetes.

3. Mencegah Penyakit Jantung.
"Beras Hitam" memiliki kandungan serat yang tinggi. Ini terasa dari rasanya yang sedikit pera, tidak sepulen "Beras" putih. Setiap makanan yang memiliki kada serat tinggi tentu akan berperan aktif memelihara kesehatan jantung Anda.

4. Obat Anemia.
Kandungan zat besi "Beras Hitam" tinggi mencapai 15,52 ppm. Zat besi merupakan salah satu unsur penting dalam pembentukan darah (hemoglobin). Karena itu makanan yang kaya akan zat besi sangat dianjurkan bagi penderita anemia.

5. Anti Aging (Anti Penuaan).
Hal ini masih terkait dengan antioksidan dalam "Beras Hitam". Antioksidan diketahui juga berperan dalam memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak. Sehingga apabila sel-sel tubuh cepat memperbaiki diri, seseorang akan terlihat lebih bugar dan awet muda.

Sumber:
1. alamtani.com › Agrosiana › Pangan & gizi
2. health.kompas.com/.../Mengenal.Keunggulan.Manfaat...

Jumat, 06 Maret 2015

"GUYONAN / HUMOR DALAM ISLAM"

"Humor" atau "Guyonan" adalah salah satu hal yang dapat mengundang senyum dan tawa seseorang". 



Tidak dapat dipungkiri bahwa tersenyum dan tertawa merupakan salah satu kebutuhan dalam hidup manusia.  Di sela-sela kesibukan dalam bekerja untuk mencari nafkah, "Humor" atau "Guyonan" menjadi warna penting untuk menghidupkan kembali suasana hati. Seorang yang "Humor"is pun lebih disenangi dari pada seorang yang dingin. "Humor" juga dapat memberikan banyak manfaat, antara lain:
  1. dapat mengurangi rasa sakit,

  2. dapat membuat hati menjadi rileks,

  3. dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh,

  4. dapat mengurangi stres, dan

  5. dapat mengurangi rasa takut yang tidak perlu.
Di dalam ajaran "Islam" yang begitu komprehensif pun ada batasan-batasan seseorang untuk "Guyonan" yang apabila dipatuhi akan melahirkan "Humor"-"Humor" yang positif, manusiawi, tidak ada unsur menyakiti hati, dan tidak ada unsur dusta atau kebohongan. Batasan-batasan "Humor" di dalam "Islam",  antara lain:
  1. Tetap berada pada tujuan bahwa "Humor" sekedar untuk menghidupkan suasana dan tidak berlebihan, misalnya sampai harus menjatuhkan kehormatan orang lain

  2. Tidak boleh menjadikan tauhid, yang merupakan inti ajaran Islam, sebagai bahan "Guyonan".

  3. Tidak ada perkataan yang mengandung dusta (kebohongan) di saat "Guyonan" sebagaimana Rasullullah SAW bersabda, “Aku menjamin dengan sebuah istana di bagian tepi surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun ia berada di pihak yang benar, sebuah istana di bagian tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meski ia sedang bercanda, dan istana di bagian atas surga bagi seseorang yang memperbaiki akhlaknya.” (HR. Abu Dawud).

    Rasullullah SAW pun telah memberi ancaman terhadap orang yang berdusta untuk membuat orang lain tertawa dengan sabda beliau, “Celakalah seseorang yang berbicara dusta untuk membuat orang tertawa, celakalah ia, celakalah ia.” (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi)
    Para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai, Rasullullah! Apakah engkau juga bersendau gurau bersama kami?” Maka Rasulullah SAW dengan sabdanya, “Betul, hanya saja aku selalu berkata benar.” (HR. Imam Ahmad dengan derajat shahih)

  4. Tidak menakut-nakuti seorang muslim dalam bercanda. Rasullullah SAW bersabda, “Janganlah salah seorang dari kalian mengambil barang milik saudaranya, baik bercanda maupun bersungguh-sungguh.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
    Rasullullah SAW. juga bersabda, “Tidak halal bagi seorang muslim untuk menakut-nakuti muslim yang lain.” (HR. Abu Dawud)

  5. Tidak boleh  melecehkan sekelompok orang tertentu, misalnya bercanda dengan melecehkan penduduk daerah tertentu, atau profesi tertentu, bahasa tertentu dan lain sebagainya, yang perbuatan ini sangat dilarang.

  6. Menghindari "Guyonan" yang berisi tuduhan dan fitnah terhadap orang lain. Sebagian orang "Guyonan" dengan temannya lalu mencela, memfitnahnya, atau menyifatinya dengan perbuatan yang keji untuk membuat orang lain tertawa.

  7. Menghindari "Guyonan" dengan aksi atau kata-kata yang buruk.  Allah telah berfirman, yang artinya, “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kalian.” (QS. al-Isra’:53)

  8. Tidak banyak tertawa sebagaimana Rasulullah SAW telah mengingatkan agar tidak banyak tertawa, “Janganlah kalian banyak tertawa. Sesungguhnya banyak tertawa dapat mematikan hati.” (HR. Ibnu Majah)
"Dalam "Islam" sama sekali tidak ada larangan "Humor" dan cara "Guyonan".  Tentu saja selama masih berada dalam koridor yang benar. Kita tidak diperbolehkan bercanda yang berlebihan hingga akhirnya jatuh pada ghibah atau olok-olok. Misalnya, memanggil nama seseorang dengan julukan cacat yang dimilikinya. Sebagai contoh, seorang yang kakinya mengalami kecacatan sejak lahir hingga jalannya agak terpincang-pincang, lalu kita panggil dengan Si Pincang. Meskipun panggilan itu benar, tapi bisa jadi olok-olok yang menyakitkan hati pemiliknya. Padahal, pastilah tidak ada orang yang ingin lahir dalam kondisi cacat.

Al Qur’an juga telah melarang dengan tegas sikap olok-olok ini seperti yang tercantum dalam surat Al Hujurat ayat 11,

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan-perempuan lain, karena boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.”
Dalam kehidupan keseharian, Rasulullah SAW. juga kadang "Guyonan". Suatu hari ada seorang nenek yang bertanya sama Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, apa aku bisa masuk surga?”
Nabi Muhammad SAW menjawab, “Di surga tidak ada orang tua.”
Mendengar jawaban itu, si nenek tentu saja terpukul dan sangat sedih. Namun kekecewaannya tidak berlangsung lama. Rasulullah SAW kembali berkata, “Di surga yang tinggal hanya mereka yang muda. Orang yang sudah tua di dunia akan kembali jadi muda saat berada di surga.”

Para ahli hadits, menilai "Humor" Rasulullah SAW ini, selain melahirkan senyum, juga membawa kabar gembira. Terutama bagi kalangan lansia. Dimaksudkan agar para lansia terus meningkatkan keimanan dan amalnya kepada Allah SWT.

Di lain waktu, Rasulullah SAW juga bercanda atau "Guyonan" dengan sahabatnya, Anas bin Malik. Beliau memanggil Anas dengan panggilan, “Wahai Pemilik Dua Telinga!”

Tentu saja ini "Humor" yang benar dan tidak keluar jalur. Anas bin Malik pasti memiliki dua telinga, bukan empat telinga.

"Humor" dan cara bercanda Rasulullah SAW tidak pernah lepas kontrol. Apa yang dilakukannya, tidak pernah melanggar kesopanan dan tidak ada mudaratnya.


Dalam literatur "Islam" masa lalu, cukup banyak tokoh-tokoh muslim yang telah menghasilkan karya-karya "Humor". Namun "Humor" dan "Guyonan" mereka selalu mengandung unsur akidah, muamalah dan akhlak. Di antaranya Nasruddin Hoja, Hani al Arabiy, dan Abu Nawas.

Para tokoh "Humor" ini, digambarkan sebagai manusia-manusia unik. Dari ucapan dan perbuatan mereka, semuanya mengandung pengajaran dan dakwah.
Sumber:
1. kanzunqalam.com/2010/08/02/humor-dalam-islam/
2. hiburan.kompasiana.com/humor/.../humor-ala-rasulull..
6.geena84.deviantart.com851×500Search by imageCute muslimah by geena84


MusicPlaylistView Profile