Sabtu, 28 Februari 2015

"ISLAM RAHMATAN LIL 'ALAMIN"

"Islam" adalah agama "Rahmatan Lil ‘Alamin" artinya Islam merupakan agama yang membawa "rahmat" dan kesejahteraan bagi semua seluruh "alam" semesta, termasuk hewan, tumbuhan dan jin, apalagi sesama manusia". 



Sesuai dengan firman Allah dalam Surat al-Anbiya ayat 107 yang artinya, 

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) "rahmat" bagi semesta "alam”. 

"Islam" melarang manusia berlaku semena-mena terhadap makhluk Allah, lihat saja sabda Rasulullah SAW. sebagaimana yang terdapat dalam Hadis riwayat al-Imam al-Hakim, 

“Siapa yang dengan sewenang-wenang membunuh burung, atau hewan lain yang lebih kecil darinya, maka Allah akan meminta pertanggungjawaban kepadanya”. 

Burung tersebut mempunyai hak untuk disembelih dan dimakan, bukan dibunuh dan dilempar. Sungguh begitu indahnya "Islam" itu bukan? Dengan hewan saja tidak boleh sewenang-wenang, apalagi dengan manusia. Bayangkan jika manusia memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran "Islam", maka akan sungguh indah dan damainya dunia ini. 


Berikut ini adalah penafsiran "rahmatan lil ‘alamin" yang termaktub dalam Al Quran Surat Al Anbiya’ ayat 107, sebagaimana ditafsirkan secara ma’tsur oleh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya:

وَمَآ أَرْسَلْنَـكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِّلْعَـلَمِينَ

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) "rahmat" bagi semesta "alam" (QS Al Anbiya’: 107)


Di sini Allah SWT. berfirman kepada kita bahwa Dia telah menciptakan Muhammad SAW.  sebagai "rahmat" bagi seluruh "alam" ("rahmatan lil ‘alamin"), artinya, Dia mengirimnya sebagai "rahmat" untuk semua orang. Barangsiapa menerima "rahmat" ini dan berterima kasih atas berkah ini, dia akan bahagia di dunia dan akhirat. Namun, barangsiapa menolak dan mengingkarinya, dunia dan akhirat akan lepas darinya, seperti yang Allah SWT. firmankan:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُواْ نِعْمَتَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّواْ قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ – جَهَنَّمَ يَصْلَوْنَهَا وَبِئْسَ الْقَرَارُ

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah (perintah-perintah dan ajaran-ajaran Allah) dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan? Yaitu neraka jahannam; mereka masuk kedalamnya; dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.” (QS. Ibrahim:28-29)
Dan Allah SWT. befirman dalam Al Qur’an:

قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ هُدًى وَشِفَآءٌ وَالَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ فِى ءَاذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى أُوْلَـئِكَ يُنَادَوْنَ مِن مَّكَانٍ بَعِيدٍ

“Katakanlah: “Al-Qur'an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al-Qur'an itu suatu kegelapan bagi mereka (tidak memberi petunjuk bagi mereka). Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh.” (QS. Fushshilat:44)

Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya: Ibnu Abi‚ Umar telah menceritakan ke kami, Marwan Al-Fayari menceritakan ke kami, dari Yazid bin Kisan, dari Ibnu Abi Hazim bahwa Abu Hurairah Ra. berkata, bahwa telah dikatakan, “Wahai Rasulullah, berdoalah menentang kaum Musyrikin.”
Beliau berkata:

إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا، وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَة

Saya tidak dikirim sebagai kutukan, melainkan sebagai "rahmat".
Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim.

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa ‘Amr bin Abi Qurrah Al-Kindi berkata: “Hudzaifah Ra. ada di Al Mada’in dan dia menyebutkan sesuatu, bahwa Rasulullah SAW.  telah bersabda. Hudzaifah datang ke Salman Ra. dan Salman berkata: ‘Ya, Hudzaifah, Rasulullah SAW.  kadang-kadang marah dan berbicara dalam kondisi demikian, dan kadang-kadang senang dan berbicara dalam kondisi demikian. Saya tahu bahwa Rasulullah SAW. telah menyapa kami dan berkata:

أَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي سَبَبْتُهُ (سَبَّةً) فِي غَضَبِي أَوْ لَعَنْتُهُ لَعْنَةً، فَإِنَّمَا أَنَا رَجُلٌ مِنْ وَلَدِ آدَمَ أَغْضَبُ كَمَا تَغْضَبُونَ، إِنَّمَا بَعَثَنِي اللهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ فَاجْعَلْهَا صَلَاةً عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَة

Sebagian umatku telah aku cerca atau aku maki ketika aku marah – karena aku adalah salah seorang dari keturunan Adam, dan aku bisa menjadi marah seperti dirimu. Tetapi Allah SWT. telah mengirimku sebagai "rahmat" untuk seluruh "alam", sehingga aku akan membuat itu (marahku) sebagai berkah buatnya di hari kebangkitan.”

Kisah ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Ahmad bin Yunus, dari Ya’idah. Mungkin ditanyakan: Apa bentuk"rahmat"  yang diperoleh bagi mereka yang kafir terhadap beliau SAW., Jawabannya adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Ja’far, dari Ibn ‘Abbas Ra. mengenai ayat ini:

وَمَآ أَرْسَلْنَـكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِّلْعَـلَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) "rahmat" bagi semesta "alam.

Dia berkata, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, "rahmat" akan ditetapkan atasnya di dunia ini dan akhirat. Barangsiapa tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, akan dilindungi dari apa yang telah menimpa bangsa-bangsa terdahulu (kemusnahan), seperti gempa bumi dan hujan batu.”

Berdasarkan penafsiran ayat tersebut oleh Ibnu Katsir, adakah yang menafsirkan ayat tersebut berbicara tentang toleransi?


Ustadz Muhammad Idrus Ramli,  Pengurus Lajnah Ta’lif  wan Nasyr PWNU Jawa Timur, mengatakan, “Dalam kitab-kitab Tafsir, tidak ditemukan keterkaitan makna "rahmatan lil ‘alamin" dengan sikap toleransi yang berlebih-lebihan dengan komunitas non-Muslim. Ini berangkat dari kenyataan bahwa "rahmatan lil ‘alamin" sangat erat kaitannya dengan kerasulan Nabi SAW., yakni penyampaian ajaran "Islam" kepada umatnya. Maka seorang Muslim, dalam menghayati dan menerapkan pesan "Islam rahmatan lil alamin" tidak boleh menghilangkan misi dakwah yang dibawa oleh Islam itu sendiri. Misalnya, memberikan khutbah dalam acara kebaktian agama lain, menjaga keamanan tempat ibadah agama lain dan acara ritual agama lain, atau doa bersama lintas agama dengan alasan itu adalah “Islam rahmatan lil ‘alamin”.   Kegiatan-kegiatan semacam itu justru mengaburkan makna "rahmatan lil ‘alamin" yang berkaitan erat dengan misi dakwah "Islam".

Dapat disimpulkan bahwa "Rahmatan lil’al 'amin" adalah rasa kasih sayang Allah SWT, karunia dan nikmat yang diberikan kepada makhluknya diseluruh "alam" semesta. Maka maksud dari "Islam rahmatan lil’al 'amin" adalah "Islam" yang kehadirannya di tengah kehidupan masyarakat mewujudkan rasa kedamaian dan rasa tentram bagi manusia dan "alam" semesta. "Rahmat" yang diberikan berupa "Islam" meliputi segala dimensi kehidupan manusia. Allah mengutus rasulnya Muhammad sebagai petunjuk kepada manusia. Agar manusia senantiasa berjalan di jalan yang benar. "Islam" membawa "rahmat" dan kesejahteraan tidak hanya manusia saja, melainkan seluruh "alam" semesta termasuk hewan, tumbuhan, jin dan sesama manusia, sebagaimana firman  Allah dalam surat Al – Anbiya : 107 yang telah dijelaskan di atas. 

Agar sesuai dengan fungsinya bahwa agama "Islam" adalah "Rahmatan lil’al 'amin" maka sebagai umat muslim harus memahami akan makna tentang agama "Islam" dan apa yang diperintahkan dan dilarang dalam agama "Islam"."Islam"  mengajarkan banyak ilmu pengetahuan. Diantaranya fiqih, hadist dan akidah akhlaq. Agama "Islam" mengajarkan banyak hal yang aplikasiannya dilaksanakan dalam kehidupan sehari – hari. Selain itu juga, "Islam" mengajarkan tentang moral dan akhlak. Sehingga manusia dapat mengetahui mana yang membawa dampak baik dan buruk dalam kehidupannya. Selain itu juga "Islam" dapat memperbaiki akhlak dan moral seseorang dengan ajaran dan aturan – aturan syariat yang sesuai dengan kaidah i"Islam".

Sumber:
1. https://saidalfaraby.wordpress.com/.../islam-adalah-aga...
2. https://priyayimuslim.wordpress.com/.../tafsir-ayat-rah...
3. edukasi.kompasiana.com/.../islam-rahmatan-lilalamin-...
6. laely.widjajati.facebook/Mau-Bikin-Kripik-Pisang...........
7. laely.widjajati.facebook/Add-a-description
8. laely.widjajati.facebook/Add-a-descriptionWith-Banda-Anja-Tamara-Bungin.

"ISTIQOMAH MENURUT ISLAM"

"Seseorang yang "Istiqomah" memiliki pendirian yang stabil dalam menuju Ridha Allah". 


Dia tidak tergoyahkan oleh usia, lingkungan atau ujian dan cercaan. Dia bagaikan karang yang melawan tempaan ombak.

"Istiqomah" dalam kacamata "Islam" itu seperti apa sih?

Kata "Istiqomah" secara bahasa berarti : Tegak dan Lurus.

Sedangkan secara Istilah, para salafus shalih memberikan beberapa definisi, diantaranya :
  1. Abu Bakar Ash Shiddiq ra. : "Hendaknya kamu tidak menyekutukan Allah dengan apapun juga".
  2. Umar bin Khattab ra. : "Hendaknya kita bertahan dalam satu perintah atau larangan, tidak berpaling seperti berpalingnya seekor musang".
  3. Utsman bin Affan ra. : "Istiqomah" artinya ikhlas".
  4. Ali bin Abi Thalib ra : "Istiqomah" adalah melaksanakan kewajian".
  5. Ibnu Abbas ra. : "Istiqomah" mengandung 3 macam arti: "Istiqomah" dengan lisan (yaitu bertahan terus mengucapkan kalimat syahadat), "Istiqomah" dengan hati (artinya terus melakukan niat yang jujur) dan "Istiqomah" dengan jiwa (senantiasa melaksanakan ibadah dan ketaatan secara terus-menerus).
  6. Ar Raaghib : "Tetap berada di atas jalan yang lurus" [istiqomah, Dr. Ahmad bin Yusuf Ad Duraiwisy, Darul Haq].
  7. Imam An Nawawi : "Tetap alam ketaatan" (Kitab Riyadhus Shalihin). Sehingga "Istiqomah" mengandung pengertian : "tetap dalam ketaatan dan di atas jalan yang lurus dalam beribadah kepada Allah 'Azza wa Jalla".
  8. Mujahid : "Istiqomah" adalah komitment terhadap syahadat tauhid sampai bertemu dengan Allah Taala”.
  9. Ibnu Taimiah : “Mereka ber"Istiqomah" dalam mencintai dan beribadah kepada-Nya tanpa menoleh kiri kanan”. Dengan kata lain "Istiqomah" mengandung suatu arti mendalam dalam beribadah kepada-Nya, mencintai sepenuh hati dalam mencari Ridha-Nya.
Sedangkan balasan bagi Hamba Allah yang "Istiqomah" adalah sebagaimana Firman Allah SWT: 

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka ("Istiqomah"), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan bergembiralah dengan jannah (surga) yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS Fushilat [41]: 30)

Keimanan kepada Allah menuntut sikap "Istiqomah". Keyakinan hati, kebenaran lisan dan kesungguhan dalam amal adalah unsur-unsur keimanan yang mesti dijalankan dengan "Istiqomah". "Istiqomah" yang berarti keteguhan dalam memegang prinsip, merupakan bukti jelas kekuatan iman seseorang.


Rasulullah SAW. juga bersabda, “Katakanlah: “Rabbku adalah Allah” dan "Istiqomah"! (HR Tirmidzi)

Pantas jika Allah menjanjikan keutamaan yang besar untuk orang-orang yang "Istiqomah" dalam imannya. Pada ayat yang disebutkan di muka, menurut ahli tafsir, Allah memberitakan bahwa ketika orang-orang yang "Istiqomah" itu mati, akan turun kepada mereka para malaikat seraya berkata,“Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan bergembiralah dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”

Tidak takut dan tidak bersedih. Itulah yang akan dirasakan oleh orang-orang yang "Istiqomah" ketika mereka meninggalkan alam fana ini. Para ulama juga menjelaskan, bahwa maksud tidak takut adalah mereka tidak takut dengan apa yang akan mereka hadapi setelah hari kematian mereka.  Adapun maksud mereka tidak bersedih adalah mereka tidak bersedih dengan apa yang mereka tinggalkan selama di dunia.

Perasaan ini akan dialami oleh semua orang yang "Istiqomah". Termasuk orang-orang yang ketika di dunia sangat bahagia, berharta dan berkedudukan tinggi. Karena kebahagiaan yang akan mereka terima di akhirat, jauh lebih baik dari apa yang selama ini mereka rasakan di dunia.

Sebaliknya, orang-orang yang tidak beriman, tidak "Istiqomah", berlaku maksiat dan sombong, kelak yang akan dirasakannya adalah ketakutan yang mencekam dan kesedihan yang mendalam. Hingga walaupun di dunia mereka adalah orang yang paling sengsara. Karena, kesengsaraannya selama mereka di dunia, masih jauh lebih baik dari kerugian yang akan diterimanya di akhirat.

Orang-orang yang "Istiqomah" itu juga bergembira dengan surga yang dijanjikan Allah; tempat segala kenikmatan, sebagai balasan yang Allah gambarkan dengan firmannya dalam hadis qudsi, “Sesuatu yang tidak ada satu mata pun yang pernah melihatnya, tidak ada satu telinga pun yang pernah mendengarnya dan tidak pernah terlintas sedikitpun dalam hati manusia.” (HR Bukhari Muslim)

Sedangkan ciri khas "Istiqomah" ada dua:
 
1. Yakin. Orang yang "Istiqomah" itu haqqul yakiin, Allah akan menurunkan malaikat yang buahnya adalah derajat kekasih Allah dalam situasi apapun, sekalipun jiwa taruhannya, dia tenang. Tenang ini tidak bisa diminta dari orang, tidak bisa dibeli. Tenang itu milik Allah.
 
Huwalladzi andzala sakiinah fii qulubil mu’miniin,” Dialah Allah yang menurunkan sakinah di hati orang yang beriman.
 
Orang yang dikaruniai ketenangan, jernih dalam segala kondisi itulah Rasulullah, para sahabat, para ulama yang benar-benar pecinta Allah. Orang yang "Istiqomah" akan tidak ada takutnya dan tidak sedih dengan dunia berikut isinya.
 
2. Mendapat Keutamaan, seperti dalam QS Fusilat ayat 30:
“Sesungguhnya orang- orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami adalah Allah’ dan mereka "Istiqomah" pada pendirian mereka maka para malaikat akan turun kepada mereka dan mengatakan jangan merasa takut dan jangan kamu merasa sedih, bergembiralah kamu memperoleh surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”
 
Sesungguhnya orang yang mengatakan, Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka tetap "Istiqomah" maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Merekalah orang-orang yang mewarisi surga, kekal didalamnya sebagai balasan apa yang sudah dilakukan.” (QS Al- Ahqof: 13-14)
 
Dalam salah satu hadits, salah satu sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Ya, Rasul ajarkan kepadaku agama "Islam", ucapan yang mencakup seluruhnya sehingga aku tidak bertanya lagi kepadamu sesudah ini.” Beliau menjawab, “Yakinlah kepada Allah dan "Istiqomah" (HR. Muslim)
 
Kalau orang sudah dapat keyakinan kepada Allah kemudian dia "Istiqomah" dalam keyakinannya, "Istiqomah" dalam amalnya, "Istiqomah" dalam keikhlasannya, dapatlah dunia berikut isinya. Insya Allah derajatnya bisa mencapai derajat kekasih Allah.

 
Cara Agar Tetap Istiqomah
 
1. Menjiwai syahadatAshadu an laa illaha illAllah wa ashadu anna Muhammadarrosululloh. Syahadat yang bagus adalah hatinya benar-benar tidak menuhankan apapun selain Allah. Kalau sudah bulat hati ke Allah, maka mahluk, harta, kedudukan duniawi, popularitas tidak jadi sandaran. Makanya, setiap orang yang hatinya masih menganggap ada selain Allah yang bisa memberi nikmat, memberi karunia, memberikan manfaat maka amalnya ditujukan untuk sesuatu, ini sulit untuk "Istiqomah", karena sesuatunya itu akan berhenti juga, bisa berhenti memperhatikan, bisa berhenti memberi, dan sebagainya.
 
Berkahnya orang "Istiqomah" itu dicintai Allah, selain dijaga malaikat dicintai Allah. Orang yang "Istiqomah" itu kalaupun suatu saat Allah menahannya dari beramal, pahalanya insya Allah dapat. Misalnya kita"Istiqomah"  sholat jama’ah, lalu Allah menakdirkan sakit atau hujan lebat, itu pahalanya tetap dapat. Atau kita "Istiqomah" tiap malam tahajud, suatu saat Allah memberikan tidur yang pulas karena capek habis belajar, habis kerja, itu tetap dapat pahala tahajud.
 
2. Pelajari ibadah yang paling membuat kita nyaman dan memahami ilmunya dengan baik. Ada orang yang mampu menghapal Al-Qur'an dengan baik, ada orang yang bagus tahajudnya, ada yang bagus shaum Senin-Kamis atau shaum Daud-nya kuat, ada yang bagus wiridnya, ada yang bagus sedekahnya. Lakukan ibadah secara bertahap saja karena Allah juga sudah tahu persis keterbatasan kita, yang penting kualitasnya terjaga.
 
3. Pelajari dalil (ibadahnya) dengan baik dan amalkan, mencontoh Rasulullah yang saat mau tidur membaca doa, baca ayat Kursi, surat Al- Fatihah, Al- Ikhlas, Al- Falaq, An- Nas, lalu usap ke wajah. Gunanya melakukan itupun untuk keselamatan diri. Atau menjaga wudhu. Ini amalan para kekasih Allah, selalu menjaga diri suci. Siapa tahu nanti waktu sholat masuk kita tidak dapat air, kalau dalam keadaan wudhu kan lebih mudah.
 
4. Sering membaca kisah orang-orang soleh yang inspiratif, kisah para sahabat, ulama atau orang- orang yang memang memiliki ketenangan. Seperti Sayid Qutub yang menjelang wafat, sikapnya tetap tenang, jernih, wajahnya jernih walaupun dipukul, dicambuk, hanya menyebut nama Allah ketika mau diseret ke tiang gantungan.
 
5. Tidak bosan bertaubat. Dengan taubat, nanti hati makin bening, makin adem, makin ajeg, makin banyak yang bisa kita lihat dalam hidup ini. Kalau taubatnya bagus, rezeki nanti kelihatan, jalan keluar juga kelihatan. Persoalan pasti banyak, tapi jangan takut. Tidak ada yang harus kita takuti dengan persoalan kita, orang yang gelisah tuh pasti sebanding dengan tingkat kecintaannya kepada duniawi. 

Semoga Allah SWT. selalu menuntun dan memberikan Hidayah-NYA kepada kita, sehingga kita bisa tergolong orang yang "Istiqomah".


Sumber:
1. https://id-id.facebook.com/.../istiqomah.../485365417...
2. muslim.or.id/.../inilah-balasan-bagi-yang-istiqomah.ht...
3. daaruttauhiid.org/artikel/.../keutamaan-istiqomah.html
4. laely.widjajati.facebook/Add-a-description
8. laely.widjajati.facebook/Add-a-description

Jumat, 27 Februari 2015

"MANFAAT ENERGI LISTRIK BAGI KEHIDUPAN MANUSIA"

"Energi Listrik" merupakan salah satu faktor pendukung penting bagi kehidupan manusia karena banyak sekali peralatan yang biasa kita gunakan menggunakan "Listrik" sebagai sumber "Energi"nya.



"Manfaat energi listrik" dalam kehidupan sehari-hari sangatlah banyak, kalau kita cermati saat ini hampir semua aktifitas dalam kehidupan melibatkan "Listrik", mulai dari memasak, belajar, bekerja, dan semua yang kita lakukan tak lepas dari adanya tegangan "Listrik". Melihat dari hal tersebut dapat diketahui betapa penting adanya arus "Listrik" dalam hidup ini, dan kita tidak akan dapat lepas dari penggunaan "Listrik" meski hanya sehari.

Coba anda bayangkan, kalau seandainya terjadi pemadaman
"Listrik" dalam jangka waktu yang lama. Pasti akan banyak rutinitas yang terkendala karena hal tersebut, untuk itu tidak dapat dipungkiri kalau "manfaat listrik" di kehidupan ini sangat v1tal.

Berikut ini beberapa "manfaat" atau kegunaan
"Listrik" dalam kehidupan kita:
  1. Sebagai penerangan, kita dapat menikmati malam yang indah dengan cahaya lampu yang bersumber dari "Listrik" PLN.
  2. Sebagai sumber "energi", dengan adanya "Listrik" maka banyak sekali barang yang dapat dioperasikan dan bekerja, antara lain televisi, kulkas, penanak nasi, setrika, dan sebagainya.
Dan sangat banyak lagi kegunaan "energi listrik" yang sangat kita perlukan dalam kehidupan, sehingga "Listrik" sudah merupakan sebuah kebutuhan pokok yang harus terpenuhi dalam keseharian kita. Untuk itu, tidak ada salahnya kalau kita me"manfaat"kan "Listrik" dengan sebaik-baiknya guna mencegah kerusakan dan borosnya sumber "energi listrik" di planet ini. 

Sistem "Listrik" yang masuk ke rumah kita, jika menggunakan sistem "Listrik" 1 fase, biasanya terdiri atas 3 kabel:

Pertama adalah kabel fase (berwarna merah/hitam/kuning) yang merupakan sumber listrik bolak-balik (fase positif dan fase negatif berbolak-balik terus menerus). Kabel ini adalah kabel yang membawa tegangan dari pembangkit tenaga listrik (PLN misalnya); kabel ini biasanya dinamakan kabel panas (hot), dapat dibandingkan seperti kutub positif pada sistem listrik arus searah (walaupun secara fisika adalah tidak tepat).

Kedua adalah kabel netral (berwarna biru). Kabel ini pada dasarnya adalah kabel acuan tegangan nol, yang disambungkan ke tanah di pembangkit tenaga "Listrik", pada titik-titik tertentu (pada tiang "Listrik") jaringan "Listrik" dipasang kabel netral ini untuk disambungkan ke ground terutama pada trafo penurun tegangan dari saluran tegangan tinggi tiga jalur menjadi tiga jalur fase ditambah jalur ground (empat jalur) yang akan disalurkan ke rumah-rumah atau kelainnya.

Untuk mengatasi kebocoran (induksi) "Listrik" dari peralatan tiap rumah dipasang kabel tanah atau ground (berwarna hijau-kuning) dihubungkan dengan logam (elektroda) yang ditancapkan ke tanah untuk disatukan dengan saluran kabel netral dari jala "Listrik" dipasang pada jarak terdekat dengan alat meteran "Listrik" atau dekat dengan sikring.

Dalam kejadian-kejadian badai "Listrik" luar angkasa (space electrical storm) yang besar, ada kemungkinan arus akan mengalir dari acuan tanah yang satu ke acuan tanah lain yang jauh letaknya. Fenomena alami ini bisa memicu kejadian mati lampu berskala besar.


Ketiga adalah kabel tanah atau Ground (berwarna hijau-kuning). Kabel ini adalah acuan nol di lokasi pemakai, yang disambungkan ke tanah (ground) di rumah pemakai, kabel ini benar-benar berasal dari logam yang ditanam di tanah di rumah kita, kabel ini merupakan kabel pengamanan yang disambungkan ke badan (chassis) alat-alat "Listrik" di rumah untuk memastikan bahwa pemakai alat tersebut tidak akan mengalami kejutan "Listrik".

Kabel ketiga ini jarang dipasang di rumah-rumah penduduk, pastikan teknisi (instalatir) "Listrik" anda memasang kabel tanah (ground) pada sistem "Listrik" di rumah. Pemasang ini penting, karena merupakan syarat mutlak bagi keselamatan anda dari bahaya kejutan "Listrik" yang bisa berakibat fatal dan juga beberapa alat-alat "Listrik" yang sensitif tidak akan bekerja dengan baik jika ada induksi "Listrik" yang muncul di chassisnya (misalnya karena efek arus Eddy).
BERKAWAN DENGAN "LISTRIK"

Aliran "Listrik" mengalir dari saluran positif ke saluran negatif. Dengan "Listrik" arus searah jika kita memegang hanya kabel positif (tapi tidak memegang kabel negatif), "Listrik" tidak akan mengalir ke tubuh kita (kita tidak terkena strum). Demikian pula jika kita hanya memegang saluran negatif.

Dengan "Listrik" arus bolak-balik,"Listrik"  bisa juga mengalir ke bumi (atau lantai rumah). Hal ini disebabkan oleh sistem per"Listrik"an yang menggunakan bumi sebagai acuan tegangan netral (ground). Acuan ini, yang biasanya dipasang di dua tempat (satu di ground di tiang "Listrik" dan satu lagi di ground di rumah). Karena itu jika kita memegang sumber "Listrik" dan kaki kita menginjak bumi atau tangan kita menyentuh dinding, perbedaan tegangan antara kabel "Listrik" di tangan dengan tegangan di kaki (ground), membuat"Listrik"  mengalir dari tangan ke kaki sehingga kita akan mengalami kejutan "Listrik" (terkena strum).

Daya "Listrik" dapat disimpan, misalnya pada sebuah aki atau batere. "Listrik" yang kecil, misalnya yang tersimpan dalam batere, tidak akan memberi efek setrum pada tubuh. Pada aki mobil yang besar, biasanya ada sedikit efek setrum, meskipun tidak terlalu besar dan berbahaya. "Listrik" mengalir dari kutub positif batere/aki ke kutub negatif.

Sumber:
1. www.kopi-ireng.com › Iptek
2. www.biyamin.com/2013/.../manfaat-energi-listrik.htm...
3. id.wikipedia.org/wiki/Listrik


MusicPlaylistView Profile