Rabu, 06 November 2013

"ITSAR, MENDAHULUKAN ORANG LAIN DARI PADA DIRI KITA"

"Secara bahasa "Itsar" berarti mementingkan "orang lain" lebih dari diri sendiri.



PENGERTIAN "ITSAR"

Kita telusuri hutan "Itsar" dengan memahami terlebih dahulu maknanya. "Itsar" ini adalah akhlak khas seorang mukmin, iaitu "Mendahulukan kepentingan "orang lain"". Ia disimbolikkan dengan penyerahan nikmat duniawi yang kita miliki kepada saudara muslim yang lain agar dia bersenang-senang dengannya, sementara kita tidak merasakannya. Ia bererti kita menyerahkan sesuatu yang sukai kepada saudara yang lebih memerlukan. Kurang jelas?, mungkin contoh dapat membantu. Jadi  bersedialah untuk takjub dengan manifestasi "Itsar" di tahap tertinggi yang ditunjukkan oleh para sahabat Rasulullah SAW.
 
Dari segi fitrah setiap manusia yang masih terjaga fitrah kemanusiaannya juga dapat berbuat mulia, mementingkan "orang lain" dan bukan diri sendiri serta menolong "orang lain" tanpa memikirkan diri sendiri. Di Inggris pernah terjadi kasus penyelamatan seorang anak yang jatuh di rel kereta api oleh seorang laki-laki. Alhamdulillah anak itu bisa diselamatkan, namun sebelah tangan laki-laki itu putus tersambar kereta api yang melaju kencang. Mungkin seumur hidupnya anak tersebut takkan bisa melupakan jasa seseorang yang rela mengorbankan sebelah tangannya untuk menyelamatkan nyawanya.

Dari segi istilah, "Itsar" adalah salah satu manfaat diniyah (manfaat keagamaan) yang terwujud bila terjalin ukhuwah di antara orang-orang yang seaqidah. Ia juga dikatakan wujud maksimal ukhuwah Islamiyah yang dimiliki seseorang. Dalam rangka menggapai mardhatillah semata, seorang muslim bersedia berkorban mendahulukan kepentingan "orang lain" di atas dirinya sendiri.

URGENSI DAN KEUTAMAAN "ITSAR".

Dalam QS. At Taubah (9):128,  digambarkan sifat-sifat Rasulullah SAW. yang mudah berempati pada penderitaan "orang lain", senantiasa menginginkan kebaikan bagi orang lain dan santun serta pengasih dan penyayang terhadap sesama mukmin.

Kehidupan di dunia yang jauh dari sifat-sifat mulia akan dipenuhi keserakahan dan keegoisan, nafsi-nafsi, lu-lu, gua-gua. Semuanya mementingkan diri dan keluarganya saja termasuk para pemimpinnya yang mengidap penyakit kronis berupa KKN. Kehidupan yang individualistis (nafsi-nafsi) egoistis (mementingkan diri sendiri) dan apatis (masa bodoh terhadap orang lain) adalah cerminan masyarakat yang tidak menegakkan ukhuwah Islamiyah.

Contohnya kehidupan di masyarakat metropolis atau kosmopolis ada seorang tunawisma yang meninggal di dekat tempat sampah lalu dibawa ke RSCM akhirnya dikuburkan tanpa kehadiran sanak saudaranya. Atau orang-orang tua yang ditaruh di panti-panti jompo. Jarang dijenguk dan menjalani proses sakaratul maut sendirian tanpa didampingi atau ditalkinkan anak-cucu. Benar-benar mengenaskan. Sulit kita membayangkan keridhaan dan keberkahan Allah Taala akan tercurah kepada masyarakat yang jauh dari nilai-nilai kebaikan tersebut.

Rasulullah SAW. mengatakan bukan dari golongan kami orang yang tidur dalam keadaan kenyang sementara tetangganya kelaparan. Begitu pula di hadits lain “Bukan golongan kami orang yang tidak peduli pada urusan orang Islam”


Jadi sifat "Itsar" sangat penting untuk memerangi sifat-sifat buruk seperti egois, kikir, individualis dan sebagainya serta menumbuh-suburkan sifat-sifat mulia seperti peduli, empati, pemurah dan lain-lain.

Keutamaan orang yang berbuat "Itsar" di dunia ia akan dicintai oleh orang-orang yang pernah merasakan kebaikannya dan mempererat ukhuwah serta di akhirat nanti akan mendapatkan mimbar terbuat dari cahaya, naungan dan lindungan Allah Taala serta Al-Jannah (surga).

"Itsar" generasi salafus shalih
Rasulullah SAW. pernah bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq manusia.” Dan beliau dengan pujian Allah Taala dalam QS. Al Qalam (68):4, dan QS. At Taubah (9):128, yang menggambarkan sosok beliau yang mudah berempati, peka dan peduli terhadap penderitaan orang lain. Kemudian selalu menginginkan kebaikan bagi orang lain dan bersifat santun serta kasih sayang terhadap mukmin.

Bukti kemampuan berempati beliau, terlihat saat beliau segera tahu bahwa Abu Hurairah kelaparan tanpa harus diberitahu, padahal sebelumnya Abu Bakar dan Umar pun tak bisa menangkap sinyal-sinyal Abu Hurairah butuh bantuan.

Beliau tidak pernah menolak siapa saja yang minta bantuan dan pertolongan beliau padahal beliau sendiri sering kelaparan seperti nampak pada kisah beliau, Abu Bakar dan Umar ra sama-sama lapar dan dijamu makan oleh Abu Ayyub Al Anshari. Beliau meneteskan air mata kemudian berucap, “Kelak kalian akan ditanya akan nikmat ini, ketika kalian pergi dari rumah dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang”.

Beliau hidup sangat sederhana dan tidur di atas tikar jerami sampai Umar menangis melihatnya dan Fatimah kelak bersyair di tepi kuburan bapaknya, “Ya ayahhandaku punggungnya penuh dengan bilur-bilur tikar”. Tetapi beliau tidak mau tikarnya itu dilipat terlalu banyak di bagian atasnya sebagai bantal karena takut tidurnya terlalu nyenyak bila terlalu empuk, sehingga khawatir tidak bisa bangun shalat malam.

Rasulullah SAW. juga menegaskan bahwa dunia bukan dari dan untuk keluarga Muhammad di saat Fatimah mendapat perhiasan, bagian dari rampasan perang hingga akhirnya putrinya mengembalikannya. Ia juga menasihati Fatimah dan Ali dengan bacaan-bacaan dzikir pada saat mereka minta khadimah dari tawanan perang. Rasulullah SAW. juga menghukum keras istri-istrinya yang meminta penghidupan (maisah) yang lebih dan perhiasan dengan cara mengasingkan diri selama sebulan hingga akhirnya Allah menawarkan opsi dalam wahyu-Nya di surat At Tahrim. Apakah istri-istri Nabi tersebut memilih Nabi dan kehidupan akhirat ataukah dunia. Tentu saja mereka memilih Rasulullah dan surga kelak walaupun kini hidup prihatin di dunia. Terlihat betapa Rasulullah SAW. lebih mementingkan yang lain ketimbang diri dan keluarganya karena pada saat yang bersamaan beliau ridha saja para sahabat dan istri-istrinya hidup berkecukupan dan memakai perhiasan hasil rampasan perang serta memiliki khadimah.

Bahkan sampai di saat-saat terakhir kehidupannya pun beliau tetap memikirkan umatnya dan bukan dirinya dan keluarganya sehingga ia tidak mewariskan apa-apa bagi keluarganya. Ucapan yang keluar dari mulut beliau di akhir kehidupannya adalah, “Ummati….Ummati….” (Umatku…Umatku…)
Keteladanan Rasulullah SAW. dalam hal tersebut ternyata membias pula pada sahabat-sahabat yang utama seperti Abu Bakar, Abu Thalhah atau istri-istri beliau seperti Khadijah, Aisyah dan Zainab binti Jahsy serta Saudah binti Zum’ah.

Suatu saat ketika terjadi pengumpulan dana untuk berjihad fisabilillah semua sahabat berlomba-lomba untuk menginfaqkan segala yang dimilikinya. Termasuk sahabat-sahabat yang utama seperti Abu Bakar, Umar dan Utsman. Kemudian Rasulullah SAW. bertanya kepada Umar, “Bagitu banyak yang kau infaqkan Umar, adakah yang tersisa untuk keluargamu?” Umar pun lalu menjawab, “Sebanyak itu pula ya Rasulullah”. Jadi istilahnya fifty-fifty, atau separuh-separuh. Jawaban seperti itu pun meluncur pula dari lidah Utsman ketika ditanya juga oleh Rasulullah dengan pertanyaan yang sama. Namun tatkala pertanyaan tersebut diajukan kepada Abu Bakar As shidiq ra, jawabannya sungguh mencengangkan dan menimbulkan decak kagum.
“Untuk keluargaku kutinggalkan Allah dan RasulNya” Artinya keseluruhannya (100%) diinfaqkannya di jalan Allah, sedangkan urusan keluarganya ia pasrahkan kepada Allah. Umar sampai berucap, “Sungguh aku tak akan bisa mengalahkan Abu Bakar selama-lamanya”.

Begitu pula, pada saat Abu Bakar pergi hijrah mendampingi Rasulullah. Dananya dihabiskan untuk membiayai kepergiannya hijrah bersama Rasulullah. Namun istri dan putri-putrinya memang luar biasa pula. Ketika kakek Asma atau ayah Abu Bakar yakni Abu Quhafah marah-marah kepada Abu Bakar yang dianggapnya tidak bertanggung jawab meninggalkan keluarganya begitu saja, maka Asma menenangkan kakeknya yang buta itu dengan memperdengarkan bunyi kerikil-kerikil seolah itu kepingan dirham yang banyak. “Tenang saja kek, ayah tidak menyia-nyiakan kami”, ujar Asma. Barulah Abu Quhafah menjadi tenang.

Ada lagi kisah "Itsar" yang sangat indah dan diabadikan oleh Allah dalam QS. Al-Hasyr ayat 8 dan 9. Dalam terjemah singkat tafsir Ibnu Katsier jilid 8 diungkap tentang "Itsar" yang ditunjukkan orang-orang Anshar terhadap saudara-saudara mereka kaum muhajirin (QS. Al-Hasyr (59): 8)
Demi iman dan pembuktiannya kaum muhajirin meninggalkan sanak saudaranya, harta benda, dan kampung halamannya. Seperti Shuaib bin Sinan Ar Rumy yang dihadang dan dipaksa menyerahkan seluruh harta bendanya, dan Rasulullah SAW. bersabda : ‘Beruntunglah Abu Yahya (Shuaib) dengan perniagaannya (artinya rela melepas harta benda dunia dengan keridhaan Allah dan Rasul-Nya).

Ukhuwah Islamiyah yang dilandasi iman membuat suku Aus dan Khazraj di Yatsrib (kemudian menjadi Madinah) yang dahulunya bertikai menjadi damai dan bersaudara (QS. Aali 'Imraan (3): 103). Kemudian, membuat kaum Muhajirin yang datang dari Mekkah bersatu dengan kaum Anshar (penduduk asli Yatsrib) yang bersedia menolong dan menampung saudara-saudara seiman tersebut.

Ketika sahabat-sahabat Nabi SAW. kaum Muhajirin tiba di Yatsrib (Madinah), mereka segera dipersaudarakan dengan orang-orang Anshar. Di antaranya Abdurrahman bin Auf dengan Sa’ad bin Raby yang kemudian menawarkan separuh hartanya dan 1 dari 2 istrinya untuk Abdurrahman bin Auf. Jika Sa’ad memiliki sifat "Itsar", maka kebalikannya Abdurrahman bin Auf memiliki sifat iffah (memelihara diri dari meminta-minta). Ia menolak halus tawaran Sa’ad bin Raby dan hanya minta ditunjukkan pasar. Ia pun berusaha sampai berhasil dalam perniagaannya bahkan merintis dan membangun pasar Ukaz yang menandingi pasarnya Yahudi.

Di ayat kesembilannya disebutkan ada orang Anshar yang tulus mencintai, tanpa pamrih dan mengutamakan kawan lebih dari diri sendiri, meskipun mereka merasa lapar. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, merekalah orang yang berbahagia dan beruntung.

Dalam hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah, sepasang suami istri yang memenuhi perintah Rasulullah SAW. untuk memberi makan musafir yang kelaparan itu adalah Abu Thalhah dan Ummu Sulaim/ Rumaisha binti Milhan. Mereka sendiri malam itu segera menidurkan anak-anak mereka yang lapar dan berpura-pura makan agar tamu mereka makan dengan tenang. Padahal yang sedang disantap oleh tamu mereka itu adalah saru porsi terakhir yang mereka miliki hari itu.

Di ayat 9 tersebut Allah menegaskan “Wa yu’ tsiruuna alaa anfusihim walau kana bihim khashan’shah” (mereka "Itsar" terhadap "orang lain" dibanding ke diri mereka sendiri walaupun mereka sendiri kelaparan).
Ketika keesokan hari Rasulullah SAW. berjumpa dengan Abu Thalhah, beliau bersabda, “Sungguh Allah sangat gembira (tersenyum) menyaksikan perbuatan Anda berdua”.

Hampir kesemua istri Nabi SAW. menunjukkan sifat pemurah dan "Itsar"nya. Istri pertama yang paling dicintainya, dan tak pernah dapat dilupakannya: Khadijah menunjukkan "Itsar" saat Rasulullah SAW. meminta pembantu Kahdijah: Zaid bin Haritsah untuk menjadi pembantunya. Beliau juga menginfaqkan seluruh harta kekayaannya untuk perjuangan fisabilillah menyebarkan agama Islam.

Istri Rasulullah seperti Zainab binti Jahsy yang pandai berwiraniaga juga terkenal dermawan dan suka membantu orang lain. Saudah bunti Zum’ah istri Rasulullah yang walaupun hanya berjualan roti kuah ala Thaif pun ikut berinfaq dengan hasil dagangannya.

Ummul mukminin Aisyah ra yang terkenal kepandaiannya sekaligus juga kedermawanannya pernah mendapat uang 40.000 dirham dari baitul mal. Oleh Aisyah harta itu segera dibagi-bagikan kepada fakir miskin sampai-sampai lupa menyisihkan sedikit saja untuk dirinya. Sampai ditegur Ummu Burdah yang membantunya, “Ya Ummul mukminin kenapa tak kau sisihkan sedikit saja untuk membeli makanan berbuka, bukankah engkau sedang berpuasa,” “Ya Ummu Burdah, kenapa tadi tak kau ingatkan”, jawab Aisyah tenang.

Kisah "Itsar" yang sangat heroik terjadi pada saat perang Yarmuk. Ikrimah bin Abu Jahl seorang mujahid bersama dua sahabat yang lain terbaring dengan luka-luka sangat parah. Ketika seorang sahabat hendak memberinya minum, ia menolak dan menyuruh air itu diberikan ke teman di sebelahnya. Ketika air itu akan diberikan ke sebelahnya, orang tersebut juga menyuruh diberikan lagi ke sebelahnya pula. Ia memilih mengalah pula pada saat-saat yang penting tersebut. Namun orang ketiga yang dimaksud sudah meninggal, ketika kembali lagi si pemberi minum ke sahabat yang tengah, ternyata ia sudah syahid juga. Dan ketika beranjak ke Ikrimah, ia pun telah syahid. Subhanallah dalam detik-detik terakhir kehidupan atau di saat-saat kritis sekalipun mereka tetap menjaga "Itsar" mereka.
 
Hal yang sangat kontras terjadi pada kita, saat kita menoleh ke kondisi umat Islam saat ini yang terpecah-pecah, tercabik-cabik dan terkotak-kotak.
Doa Nabi SAW.. yang dikabulkan saat meminta umatnya diselamatkan dari bahaya banjir dan kelaparan dan tidak dikabulkan saat meminta umatnya diselamatkan dari bahaya perpecahan, seyogianya membuat kita berfikir bahwa kerja mempersatukan umat adalah kerja besar yang harus diikhtiarkan secara maksimal baru kemudian Allah berkenan membantu (QS. Ar Ra'du (13): 11)
Bila kita melihat QS.Aali 'Imraan (3): 103, nyata jelas bahwa hanya dengan sama-sama I’tisham bi hablillah (berpegang teguh di jalan Allah) sajalah, persatuan hati dan persaudaraan akan terwujud.

Bayangkan saja seluruh muslim di dunia ini berebut-rebut untuk bersikap "Itsar" . Masya Allah... Pasti berwarna warni dunia ini dengan kasih sayang.

Semoga dengan mengamalkan "Itsar" ini, kita akan menjadi orang-orang yang akan mendapatkan naungan Allah di akhirat kelak, di mana tidak ada naungan kecuali naunganNya. Amin.

Sumber:
1. ari2abdillah.wordpress.com/.../itsar-puncak-persaudar...
2. uaasis.blogspot.com/2012/02/itsar-itu-bahagia.html
3. tajdid-dakwah.blogspot.com/.../itsar-di-dalam...
4. laely.widjajati.photos.facebook/menjalin-silaturrahmi....
5. laely.widjajati.photos.facebook/Mekarsari.....
6. laely.widjajati.photos.facebook/jangan-pernah-katakan-umur......
7. laely.widjajati.photos.facebook/Alhamdulillah...-bs-berteduh-dr....

tsar (لْإِيثَارُا ), secara bahasa bermakna melebihkan orang lain atas dirinya sendiri. Sifat ini termasuk akhlak mulia yang sudah mulai hilang di masa kita sekarang ini,  Padahal akhlak mulia ini adalah puncak tertinggi dari ukhuwah islamiyah dan merupakan hal yang sangat dicintai oleh Allah Ta’ala dan juga dicintai oleh setiap makhluk. Memang jika dilihat dari timbangan logika, hal ini merupakan hal yang sangat berat, mengorbankan dirinya sendiri demi kepentingan orang lain tanpa mendapatkan imbalan apapun. Akan tetapi di dalam agama islam, hal ini bukanlah suatu hal yang mustahil. Tinta emas sejarah telah menuliskannya, bagaimana sikap itsar kaum muslimin terhadap saudaranya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai sambutan orang-orang anshar terhadap orang-orang muhajirin,
وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang-orang yang  berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada memiliki keinginan di dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)
Imam Ibnu Abil ‘Izzi Al-Hanafi rahimahullah menjelaskan siapakah orang-orang yang dimaksud di dalam ayat ini,  “Mereka adalah golongan  As-Sabiqunal Awwalun, dari golongan muhajirin dan anshar, yaitu orang-orang yang berinfak sebelum penaklukan kota Makkah dan mereka juga orang-orang yang berperang, termasuk orang-orang berbai’at di bawah pohon (Bai’at Ar-Ridhwan), yang jumlah mereka lebih dari 1.400 orang.  (Lihat Syarah Al-’Aqidah Ath-Thahawiyah, Ibnu Abil ‘Izzi, Tahqiq Abdul Muhsin at-Turki dan Syu’aib al-Arna’uth I/692)
Inilah akhlak para sahabat Nabi yang mulia, mereka kaum Anshar benar-benar menyambut kaum Muhajirin yang datang kepada mereka, mereka menerima saudara-saudara mereka yang seiman dan seaqidah dengan tangan terbuka. Mereka para kaum Anshar saling berlomba-lomba memberikan segala apa yang mereka bisa berikan kepada sesama. Padahal saat itu mereka sendiri membutuhkan.

Selasa, 05 November 2013

"MANFAAT DAN KHASIAT LABU KUNING"

"Labu Kuning" atau waluh (bahasa jawa), salah satu buah yang biasa dijumpai pada saat bulan puasa, dan dijadikan sebagai bahan di minuman es kolak ini ternyata mempunyai beberapa kandungan vitamin, maupun zat yang dapat mencegah beberapa penyakit. 


"MANFAAT LABU KUNING".

"Manfaat Labu Kuning" sangat jarang diketahui oleh kebanyakan orang, namun kali ini saya akan memberikan beberapa "Manfaat Labu Kuning" dan "khasiat"nya bagi kesehatan.

1. "Labu Kuning" memiliki "manfaat" untuk menjaga pencernaan agar tetap bisa bekerja dengan baik karena mengandung serat yang cukup tinggi. Serat yang cukup menjauhkan kita dari sembelit, wasir, kanker kolon dan masalah pencernaan lainnya. Serat juga sangat direkomendasikan dalam diet sehat, diet untuk mengontrol kolesterol, diet penurunan berat badan dan diet untuk diabetes.
2. Dengan mengkonsumsi buah "Labu Kuning" secara teratur maka otomatis fungsi pankreas akan baik dan insulin bekerja dengan baik. Selain itu buah tersebut tidak menaikan zat gula darah dalam tubuh sehingga sangat baik untuk mencegah dan mengobati diabetes dan gula darah rendah, "Labu Kuning" kaya dengan kobalt, kobalt bisa aktif dalam metabolisme tubuh, meningkatkan fungsi hematopoietik, dan untuk berpartisipasi dalam sintesis vitamin B12. Vitamin B12 dalam tubuh adalah elemen penting dalam sel islet manusia. "Labu Kuning" bisa digunakan untuk pencegahan dan pengobatan diabetes dan efek khusus gula darah yang rendah.

3. "Labu Kuning" sangat baik untuk kesehatan ginjal dan mampu mencegah penuaan dini karena mengandung antioksidan. untuk mengobati bisul dan sebagai pencahar urin yang telah dikenal sejak lama.

4. "Labu Kuning" Kaya akan vitamin A, C dan E dan mineral, yang berfungsi untuk membantu meningkatkan kekebalan tubuh dan melawan radikal bebas.

5. "Labu Kuning" mengandung beta karoten yang dapat mencegah penyakit paru-paru serta kanker usus besar. Beta karoten juga baik untuk kesehatan jantung Anda.

6. Untuk melindungi mukosa lambung dan dapat membantu pencernaan.

7. Secara alami "Labu Kuning" mengandung omega 3 asam lemak yang sangat baik untuk kesehatan otak.

8. Biji buah "Labu Kuning"  mengandung alkaloid berguna sebagai anti kanker, yang sangat baik untuk mencegah  serangan sel kanker. Menghilangkan karsinogen, "Labu Kuning" dapat menghilangkan efek mutagenik nitrosamin karsinogenik, efektivitas anti kanker, dan untuk membantu pemulihan fungsi hati dan ginjal, meningkatkan kapasitas regeneratif sel-sel hati dan ginjal.

9. Biji dan kulit "Labu Kuning" mangandung  magnesium, kalium dan seng yang sangat dibutuhkan untuk kesehatan, yaitu baik untuk kekebalan, kekuatan dan kepadatan tulang. "Labu Kuning" juga sangat bagus untuk membantu melawan hipertensi atau tekanan darah tinggi.
10. "Labu Kuning" sangat baik untuk kesehatan ginjal dan jantung dan mampu mencegah penuaan dini karena mengandung antioksidan. untuk mengobati bisul dan sebagai pencahar urin telah dikenal lama, isi "Labu Kuning"  mengandung alkaloid berguna sebagai anti kanker, yang sangat baik untuk mencegah  serangan sel kanker. Khasiat buah "Labu Kuning" untuk perawatan kulit, mencegah tulang keropos, dan meningkatkan kekebalan/daya tahan tubuh.

11. Mengandung vitamin dan pectin, pectin memiliki adsorpsi yang baik, menghilangkan dan menghapus racun bakteri dalam tubuh dan zat berbahaya lainnya, seperti timah, merkuri, logam berat dan unsur radioaktif, dapat memainkan peranan detoksifikasi.

12. Untuk melindungi mukosa lambung dan membantu pencernaan,
"Labu Kuning" yang terkandung dalam pectin juga dapat melindungi lem lambung saluran mukosa, dari stimulasi makanan kasar, mempromosikan penyembuhan ulkus, cocok untuk pasien sakit perut. Bahan-bahan "Labu Kuning" dapat meningkatkan sekresi empedu, meningkatkan peristaltik lambung, membantu pencernaan makanan.  

13.
"Labu Kuning" ber"manfaat" juga untuk membantu pemulihan fungsi hati dan ginjal, meningkatkan kapasitas regeneratif sel-sel hati dan ginjal.

14. Untuk mempromosikan pertumbuhan dan perkembangan tubuh,
"Labu Kuning" kaya akan zinc, untuk berpartisipasi dalam tubuh manusia, sintesis asam nukleat, protein, komponen yang melekat hormon korteks adrenal zat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan manusia.
15. "Labu Kuning" juga memiliki berbagai nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh, mengandung Vitamin C, Vitamin A dan beta karoten sehingga sangat baik untuk menjaga kesehatan mata serta untuk meningkatkan daya tahan tubuh. 
15. Selain itu, labu juga kaya akan mineral seperti zat besi, fosfor kalium, dan kalsium. Kadar air dan serat  yang tinggi dalam "Labu Kuning" juga memiliki "manfaat" untuk pencernaan, demam, diare dan mengatasi peradangan. 

CARA MENGKONSUMSI "LABU KUNING".

Pada umumnya "Labu Kuning" bisa dikonsumsi dan cocok untuk orang gemuk, penderita diabetes dan orang tua. Mengkonsumsinya bisa dengan cara dikukus, dimasak, atau direbus. Untuk penderita diabetes "Labu Kuning" bisa dikonsumsi dengan cara memakannya dalam jumlah yang kecil  untuk jangka panjang. Untuk kecantikan pula, "Labu Kuning" juga dapat mengurangi munculnya pigmentasi wajah, pencegahan dan pengobatan jerawat.

TIPS MENYIMPAN "LABU KUNING".

Berikut ini beberapa tips untuk menyimpan "Labu Kuning":
1. "Labu Kuning" dan hijau sangat mudah untuk disimpan, pada umumnya labu dapat disimpan dalam kulkas selama 2 sampai 3 bulan, sehingga di jaman dahulu apabila kekurangan sayuran pada musim dingin, orang menggunakan labu sebagai sumber penting penyimpanan vitamin.
2. "Labu Kuning"  yang sudah dipotong dan kemudian disimpan nutrisi pentingnya akan mudah hilang, jadi yang terbaik  adalah dengan menyimpan dengan bungkus plastik internal sehingga saat disimpan dalam kulkas bisa tahan selama 5 sampai 6 hari.

3. Kulit "Labu Kuning" kaya dengan karoten dan vitamin yang bagus untuk kulit. Dengan cara memasak jantung labu  itu mengandung setara dengan 5 kali karoten pulp, jadi kulit, biji atau labunya semua bisa digunakan/dikonsumsi.

Itulah tadi beberapa "Manfaat Labu Kuning" Bagi Kesehatan yang jarang diketahui oleh kebanyakan orang. Semoga ber"manfaat"......
Sumber:
1. felippe-kharisma.blogspot.com/.../manfaat-la...
2. oveheaven07.blogspot.com › Tips
4. kasehat.com/berita-433-khasiat-labu-kuning-untuk-ke...
5. gudang.informasi.com/Khasiat-dan Manfaat-Labu-Kuning....
6. tipspetani.blogspot.com/Aneka-Manfaat-dan-Kandungan-Labu....
7. food.detik.com/Resep-Kue:-Talam-Labu-Kuning.....

"4 (EMPAT) BULAN HARAM MENURUT ISLAM"

"Ketika Allah mewahyukan di dalam al-Qur’an tentang adanya "Empat Bulan" terlarang bagi manusia dari total dua belas "bulan" maka "Empat Bulan" yang dimaksud dijelaskan oleh Nabi Muhammad sebagai tiga "bulan" berurutan dan satu "bulan" yang terpisah, masing-masing Dzulkaidah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab".



“Sesungguhnya bilangan "bulan" di sisi Allah adalah dua belas "bulan", dalam ketetapan Allah pada hari Dia menciptakan planet-planet dan bumi, diantaranya ada "Empat Bulan" terlarang. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri padanya. Perangilah orang-orang musyrik itu seluruhnya sebagaimana mereka memerangi kamu seluruhnya. Ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang memelihara diri.” (QS AT-Taubah (9) :36)

“Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas "bulan" diantaranya terdapat "Empat Bulan" yang dihormati, tiga "bulan" diantaranya berturut-turut Dzulqaidah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab Mudhar, yang terdapat diantara "bulan" Jumada tsaniah dan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Bakrah)

"Bulan" Muharram dikenal juga dengan sebutan “Syahrullah” ("Bulan" Allah) sebagaimana yang disampaikan Rasulullah SAW. dalam sebuah hadisnya. Para Ulama menyatakan bahwa penyandingan sesuatu pada yang lafdzul Jalalah (lafadz Allah) memiliki makna tasyrif (pemuliaan), sebagaimana istilah Baitullah, Rasulullah, Syaifullah, Khalilullah dan sebagainya.

Rasulullah SAW.  bersabda : “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di "bulan" Allah Muharram. Sedangkan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam”. (HR. Muslim, Abu Daud, Tarmizi, Nasai’ dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah dengan status hadis marfu’)

Dari Nukman bin Saad dari Ali bin Abi Thalib, : Telah bertanya kepada beliau seorang lelaki. Katanya, ”Apakah "bulan" yang engkau suruh aku berpuasa selepas "bulan" Ramadhan?”, Maka jawab Ali, ”Aku tidak pernah mendengar seseorang bertanya mengenai perkara ini melainkan seorang lelaki yang aku telah dengar bagaimana dia bertanya kepada Rasululullah SAW. sedangkan aku duduk disampingnya. Maka katanya, ”Wahai Rasulullah! apakah"bulan"  yang engkau suruh aku berpuasa selepas "bulan" Ramadhan?”. Jawab Nabi Saw, ”Sekiranya engkau berpuasa selepas "bulan" Ramadhan maka berpuasalah "bulan" Muharram maka sesungguhnya ia merupakan "bulan" Allah padanya hari Allah telah mengampunkan dosa padanya atas kaum dan akan mengampun padanya atas kaum”. (HR. Tirmidzi dengan status hadis hasan gharib)

Secara bahasa atau maknawiah "Bulan Haram" adalah "bulan" yang disucikan dimana orang dilarang berperang kecuali kalau diserang, juga dilarang membunuh binatang darat buruan untuk menjamin kelangsungan kehidupan makhluk hidup (suaka margasatwa). 

Mereka bertanya tentang berperang pada "Bulan Haram". Katakanlah: “Berperang dalam "bulan" itu adalah dosa besar. Namun menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil "Haram" dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) dari pada membunuh. (QS AL-Baqarah (2) :217)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa diantara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya. (QS AL-Maaidah (5) :95)

Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan di"haram"kan atasmu (manangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. Dan bertaqwalah kepada Allah yang kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan. (QS AL-Maaidah (5) :96)

Sejak jaman jahiliah, masyarakat Arab pra "Islam" telah mewarisi tradisi berhaji kebaitullah dari Nabi Ibrahim as, yang dengan berlalunya perjalanan waktu tradisi haji tersebut mengalami kodifikasi sedemikian rupa sehingga menyimpang dari ketentuan yang seharusnya. Selama musim haji tersebut, mereka juga dipercaya telah mengenal adanya ke"Empat Bulan" yang di"haram"kan perbuatan zalim tersebut. "Bulan" Dzulqaidah misalnya, adalah "bulan" dimana orang-orang secara bertahap mulai bersiap untuk berangkat ataupun menunaikan ibadah haji. "Bulan" Dzulhijjah adalah waktu pelaksanaan ibadah haji itu sendiri. Dan "bulan" Muharram merupakan "bulan" dimana “para haji” itu kembali ke kampung dan komunitas mereka masing-masing. Sedangkan "bulan" Rajab adalah pertengahan tahun waktu orang berkesempatan ziarah atau umrah. Atas dasar inilah, pada "Empat Bulan" itu tidak pantas terjadi kezaliman ataupun huru-hara. Masyarakat harus menciptakan rasa aman dan kondusif bagi terselenggaranya ibadah haji dan umrah secara baik walaupun tata cara pelaksanaan haji yang mereka lakukan kala itu sudah bergeser jauh dari petunjuk Nabi Ibrahim as. 

Allah menjelaskan kepada kita bahwa ibadah haji yang dilakukan masyarakat Jahiliah pada masa itu adalah sebagai berikut : “Shalat mereka di sekitar Baitullah itu lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan”. (QS AL-Anfaal (8) :35).

Segala usaha untuk berbuat zalim pada "bulan"-"bulan" itu haruslah ditunda, semua bentuk peperangan, kekejaman, perpecahan, agresi haruslah dihentikan ataupun ditunda sampai berlalunya "bulan"-"bulan" tersebut. Jadi mungkin yang dikehendaki oleh Allah adalah selama "Bulan Haram" tertentu bumi ini harusnya suci dari pertumpahan darah serta hal-hal yang berkaitan dengan perselisihan diantara manusia. Sebagian ulama mengatan bila larangan pada "Bulan Haram" ini pada jaman sekarang tidak lagi berlaku. Karena ia telah dimansukhan atau dibatalkan Allah setelah penaklukkan Mekkah oleh Nabi Muhammad Saw. 

Oleh sebab itulah menurut mereka, "bulan" Muharram akhirnya dinyatakan sebagai "bulan"  Allah (shahrullah). Berkaitan dengan ini, seorang cendikiawan muslim kontemporer Indonesia pada era tahun 80-an, Nazwar Syamsu, menepis anggapan tersebut. Beliau mencoba mengkorelasikan antara penetapan Empat Bulan" terlarang ini dengan Sains modern. Dalam salah satu seri bukunya “Tauhid dan Logika” yang berjudul “Al-Qur’an tentang Shalat, Puasa dan Waktu”, Nazwar Syamsu menulis bila keEmpat Bulan" tersebut berkaitan dengan posisi bumi terhadap matahari[1]. Seperti yang kita ketahui bumi bergerak mengelilingi matahari dalam orbit berbentuk Oval. Lingkaran orbit oval seperti bentuk telur itu memiliki titik Aphelion dan titik Perihelion. Titik perihelion sendiri adalah titik terdekat bumi dengan matahari sementara titik Aphelion yaitu titik terjauh bumi dari matahari.

Sewaktu Bumi berada pada titik perihelion ini, gaya tarik-menariknya sangatlah kuat terhadap matahari sehingga ketika itu gelombang laut tampak lebih besar daripada biasanya (pasang). Keadaan bumi pada fase ini adalah serius sekali, dan ini terjadinya pada "bulan" Muharram. Setelah itu bumi mulai melayang lambat dan paling lambat sewaktu berada di titik Aphelionnya yaitu "bulan" Rajab. Setelah itu Bumi kembali melayang cepat karena ditarik oleh gravitasi matahari pada "bulan" kesebelas dan dua belas, yaitu Dzulqaidah dan Dzulhijjah. Puncaknya di "bulan" Dzulhijjah orang diperintahkan untuk melakukan haji dengan bertawaf mengitari Ka’bah sebagai Baitullah, pusat peribadahan umat "Islam" sebagaimana juga planet-planet di setiap galaksi melakukan rotasi. Dari pelajaran Fisika kita mengetahui bahwa semesta, galaksi, tata surya dan planet, masing-masing mengalami perputaran. Setiap putaran tentunya memiliki pusat putaran yang langsung menjadi pusat benda angkasa itu. Semuanya bagaikan bola atau roda yang senantiasa berputar. Galaksi terdekat dengan bumi kita adalah berjarak 170.000 tahun cahaya. Dan diperkirakan bahwa pada setiap galaksi akan terdapat sistem matahari sebagaimana yang ada pada galaksi bima sakti kita ini. Dan jika setiap galaksi memiliki sistem matahari tersebut, maka tentunya keadaan dari planet-planet yang mengitari galaksi tersebut juga tidak akab berbeda jauh dengan keadaan planet-planet yang ada dalam wilayah galaksi Bima sakti.

Itulah sebabnya mengapa Muharram, Rajab, Zulkaidah, dan Zulhijjah dinamakan "Empat Bulan" terlarang di dalam al-Qur’an. Pada "bulan"-"bulan" itu Bumi sedang mengalami tarikan kuat dan tarikan lemahnya pada matahari sehingga manusia yang ada di bumi bagaikan diberi peringatan tentang kekuasaan dan kasih sayang Allah terhadap manusia. Andai Dia mau, sangatlah mudah sekali untuk melepaskan bumi ini dari garis orbitnya sehingga terhisab oleh matahari, hanya karena kasih sayang-Nya saja maka semua tetap berjalan dengan semestinya.

Sesungguhnya Allah menahan langit (planet-planet) dan bumi supaya jangan lenyap (lepas dari orbitnya). Dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (QS Faathir (35) :41)

Jadi intinya adalah ke"Empat Bulan" tersebut masih menjadi "Empat Bulan" yang mestinya tetap dihormati, dimuliakan dan di"haram"kan seluruh bentuk kemaksiatan maupun pertumpahan darah sampai kapanpun. Di "bulan" haji sebagai puncak Perihelion, orang diserukan untuk melakukan ibadah korban sebagai wujud kesadaran sosialnya pada mereka yang tidak mampu, menebarkan kasih sayang pada kalangan yang papa dan kekurangan serta banyak menyebut nama Allah selaku ungkapan syukur atas nikmat-Nya yang tidak dapat dihitung. 


Katakanlah : Jika laut menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, pasti akan habis laut itu sebelum usai kalimat-kalimat Tuhanku (tertulis), meskipun (lalu) kita datangkan tambahan (laut) sebanyak itu juga (QS AL-Kahf I (18) :109)

Dalam hal ini saya setuju dengan apa yang dikemukakan oleh Nazwar Syamsu tersebut, dimana ke"Empat Bulan" mulia yang disebut oleh al-Qur’an tetap berlaku sampai kapanpun. Adanya penetapan "Empat Bulan" mulia yang dilarang kemaksiatan ini sangatlah penting, terutama larangan yang ada kaitannya dengan pemburuan hewan-hewan liar sebagaimana firman Allah pada surah AL-Maaidah ayat 95 :
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan ketika kamu sedang ihram. (QS AL-Maaidah (5) :95)

Pada fase-fase yang ada di"Bulan Haram" itu, terdapat musim panas dimana kebanyakan hewan liar melahirkan. Dengan membunuh seekor hewan liar pada hakekatnya kita tidak hanya membunuh satu hewan itu saja tapi juga membunuh semua anaknya yang belum mampu mencari makan sendiri ataupun melindungi diri mereka dari gangguan hewan lain termasuk kadangkala bapaknya sendiri (contohnya seperti harimau). Dengan demikian perintah Allah tersebut mengandung tuntunan bagi kita untuk mau perduli dengan kemaslahatan makhluk hidup lain di luar manusia. Kita harus mampu memberikan perlindungan pada margasatwa untuk menjaga kelestariannya serta keseimbangan ekosistem dunia.

“Binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya tidak lain dari umat-umat (juga) seperti kamu.” (QS Al-An’am (6) :38)

Dari penjelasan di atas terdapat beberapa perkara yang perlu diketahui oleh kaum muslimin secara umum, dan terkhusus bagi mereka yang akan melaksanakan ibadah puasa 'Asyura (berpuasa di hari kesepuluh dari "bulan" Muharram), adalah :

Pertama : Melaksanakan puasa satu hari sebelumnya, yaitu pada tanggal sembilan Muharram, karena Rasulullah SAW. telah bersabda:

إذا كان العام المقبل إن شاء الله صمنا اليوم التاسع

"Jika masih mendapati tahun depan dengan izin Allah, maka aku akan berpuasa pada hari yang kesembilan." (HR. Muslim: 1134)

Akan tetapi takdir berbicara lain, karena Allah menakdirkan bahwa tahun tersebut adalah tahun dimana beliau mendapati.
Kedua : Bahwasanya hari 'Asyura dalam sejarah "Islam" melewati "empat" fase, yaitu:
1.    Tatkala Rasulullah SAW. berpuasa pada hari tersebut bersama kaum jahiliah di Mekkah.
2.    Tatkala beliau SAW. beranjak dari Mekkah menuju Madinah, dan mendapati kaum yahudi berpuasa pada hari Asyura. Maka beliau pun berpuasa dan memerintahkan para sahabatnya agar berpuasa pada hari tersebut.
3.    Setelah turunnya kewajiban untuk berpuasa di
"bulan" Ramadhan, hukum berpuasa di hari 'Asyura menjadi mustahab dan bukan wajib.
4.    Diakhir hayatnya Rasulullah SAW., beliau berniat untuk berpuasa pada hari kesembilan dari Muharram guna menyelisihi kaum yahudi yang hanya mengkhususkan puasa   mereka pada hari kesepuluh ('Asyura).

Ketiga : Telah ditanya Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin, dengan bentuk pertanyaan sebagai berikut :

ما تقولون في صيام يوم بعد عاشوراء و المشروع الصيام قبله، هل الصيام بعد عاشوراء ثبت به حديث صحيح عن الرسول  صلى الله عليه و سلم؟
فأجاب فضيلته بقوله: في مسند الإمام أحمد: (صوموا يوما قبله أو يوما بعده خالفوا اليهود). و مخالفة اليهود تكون إما بصوم اليوم التاسع كما قال النبي صلى الله عليه و سلم: (لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع). يعني مع العاشر، و تكون بصوم يوم بعده، لأن اليهود كانو يفردون اليوم العاشر، فتحصل مخالفتهم بصيام يوم قبله أو يوم بعده، و قد ذكر ابن القيم رحمه الله في زاد المعاد أن صيام عاشوراء أربعة أنواع:
١. إما أن يصوم اليوم العاشر وحده.
٢. أو مع التاسع.
٣. أو مع الحادي العشر.
٤. أو يصوم الثلاثة، و صوم الثلاثة يكون فيه فائدة أيضا، و هي الحصول على صيام ثلاثة أيام من الشهر


" Apa pendapat anda tentang puasa yang dilakukan sehari setelah hari 'Asyura (pada tanggal sebelas Muharram,pen) dan disyariatkannya berpuasa pada hari sebelumnya (tanggal sembilan Muharram,pen)? Apakah berpuasa satu hari setelah hari 'Asyura (yaitu pada tanggal sebelas) telah datang hadits yang shahih dari Rasulullah 'SAW. berkenaan dengannya?"

Maka beliau menjawab: "Dalam Musnad Al Imam Ahmad, Rasulullah SAW. bersabda: "Berpuasalah kalian pada satu hari sebelum atau sesudahnya, dan selisihilah kaum yahudi." Dan penyelisihan terhadap kaum yahudi itu bisa direalisasikan dengan berpuasa pada tanggal sembilan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW.: "Jikalau aku masih ada hingga tahun depan, pasti aku akan berpuasa pada hari kesembilan." yakni bersamaan dengan hari 'Asyura. Dan bisa juga dilakukan dengan berpuasa pada satu hari setelahnya (tanggal sebelas), karena yang dilakukan oleh kaum yahudi hanyalah berpuasa pada hari kesepuluh. Maka engkau telah menyelisihi mereka, tatkala engkau berpuasa pada satu hari sebelum ataupun setelahnya. Dan telah disebutkan oleh Ibnul Qayyim Rahimahullah dalam Zadul Ma'ad, bahwasanya berpuasa di hari Asyura itu ada empat macam:
1. Berpuasa hanya pada tanggal sepuluh (Muharram).
2. Atau bersamaan dengan tanggal sembilannya.
3. Atau bersamaan dengan tanggal sebelasnya.
4. Atau dengan berpuasa pada tiga hari tersebut, yang juga terdapat faedah didalamnya, yaitu puasa tiga hari dalam satu
"bulan" ." (Majmu' Fatawa wa Rasail Al 'Utsaimin: jilid ke-20, hal.38)
Maka dari pelajaran diatas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwasanya amalan yang paling utama dalam hal ini adalah ketika ia melaksanakan puasa 'Asyura bersamaan dengan satu hari sebelum dan setelahnya, yakni pada hari ke sembilan, sepuluh, dan sebelas Muharram. Dan hal ini akan melahirkan kebaikan lainnya yaitu puasa tiga hari dalam se"bulan", yang telah dinyatakan oleh Rasulullah SAW. bahwa berpuasa tiga hari pada setiap "bulan" itu setara dengan seorang yang berpuasa sepanjang zaman. Kemudian yang berikutnya adalah puasa di hari 'Asyura dan satu hari sebelumnya, yakni pada hari kesembilan, dan sepuluh, dan inilah yang diniatkan oleh Rasulullah SAW.. Kemudian yang berikutnya adalah puasa di hari Asyura dan satu hari setelahnya, yakni pada hari kesepuluh dan sebelas. Dan yang terakhir adalah puasa yang hanya dilakukan pada hari Asyura, yaitu di hari kesepuluh pada "bulan" Muharram.Pada Akhirnya, jika dalam tulisan yang ringkas ini ada yang mencocoki kebenaran maka segala puji bagi Allah ta'ala, dan tidaklah hal tersebut datang melainkan dari sisi-Nya dan dari pertolongan-Nya. Apabila disana terdapat kurangan dan kekeliruan maka itu semua bersumber dari diri kami pribadi yang tidak akan pernah luput dari kesalahan dan kedhaliman.
 
Sumber:
1. arsiparmansyah.wordpress.com/.../empat-bula...
2. salafybpp.com/.../136-keutamaan-bulan-bulan-haram-...
3. laely.widjajati.photos.facebook/Anggrek-Putih.......
4. laely.widjajati.photos.facebook/PENGHARUM-TEH......
5. laely.widjajati.photos.facebook/MET-MALAM-SMUAX-MET-ISTIRAHAT....
6. laely.widjajati.photos.facebook/Bismillahi-Tawakaltu-Alallah....
7. laely.widjajati.photos.facebook/LukisanMU di Ufuk Timur (Rabu, 9 Okt 2013, 04.59 WIB).....


MusicPlaylistView Profile