Jumat, 09 Agustus 2013

"T E L E P A T I"

"Telepati" adalah kemampuan untuk berkomunikasi atau saling menukarkan informasi dengan orang lain tanpa menggunakan indera".



"Telepati" berasal dari dua kata yaitu : “tele” berarti “jauh” dan “pathos” berarti “perasaan”. "Telepati" secara harfiah artinya adalah “merasakan dari jarak jauh”.

"Telepati" adalah gejala alamiyah yang sudah ada sejak kita masih bayi. Semua anak bayi memiliki kemampuan "Telepati" secara alamiyah. Anak bayi belum mampu mengungkapkan perasaan dan keinginannya dengan kata kata. Ia menyampaikan dan mengungkapkan keinginannya melalui perasaan yang dipancarkan.

Ketika seorang ibu pergi berbelanja kepasar dan anak bayinya yang masih menyusu ditinggal sedang tidur di rumah, tiba tiba ia merasa gelisah dan ingat pada anak bayinya di rumah. Ia tidak bisa berkonsentrasi untuk belanja, fikirannya hanya tertuju pada bayinya. Air susunyapun mengalir dengan sendirinya, ia tidak bisa menahan keinginannya nuntuk segera pulang menemui bayinya. Ia segera kembali ke rumah, dan didapatinya anak bayinya sedang menangis, ia segera menggendong dan menyusui bayinya. Hatinya menjadi tentram dan anak bayinya pun berhenti menangis. Itulah hubungan "Telepati" yang dilakukan seorang bayi kepada ibunya.



Sejak bayi kita sudah mempunyai kemampuan telepati, karena pada anak bayi otak kanannya lebih dominan daripada otak kiri. Seiring dengan pertumbuhan usia, peranan otak kiri semakin dominan dan peranan otak kananpun berkurang, maka kemampuan berkomunikasi dengan "Telepati"pun berkurang pula. Sebenarnya kemampuan "Telepati" ini bisa diasah dan dirawat terus dengan melakukan latihan. "Telepati" adalah cara berkomunikasi menggunakan fikiran bawah sadar atau otak kanan. Setiap orang bisa melakukannya asal mau mencoba dan melatihnya, karena pada dasarnya ketika masih bayi semua orang pernah melakukan komunikasi dengan "Telepati". Kemampuan "Telepati" jadi berkurang karena kita lebih banyak menggunakan otak kiri daripada otak kanan. Pancaran sinyal "Telepati" dilakukan oleh fikiran bawah sadar melalui otak belahan kanan, dan diterima oleh penerima melalui otak belahan kanan pula. 

Signal yang diterima umumnya berupa perasaan. Hubungan "Telepati" biasanya lebih mudah dilakukan antara orang yang mempunyai hubungan emosi. Misalnya antara ibu/bapak dengan anaknya, abang dengan adik, dua orang yang sedang pacaran, karib kerabat, teman bisnis yang akrab, suami istri dan lain sebagainya. Saya pernah menerima signal "Telepati" dari ayah saya yang sedang sakit. Satu waktu ketika saya baru sampai di kantor saya, tiba-tiba saya ingat ayah saya dan ingin sekali menemuinya dengan segera. Keinginan saya untuk bertemu beliau begitu kuat, saya tidak bisa konsentrasi kerja. Akhirnya saya minta staf saya menyiapkan kendaraan dan mengantar saya ke rumah ayah di rumah. Sampai di rumah ayah, beliau keluar sambil memegang mulutnya yang tampak agak miring dan berkata: ”Bapak… sakit !” . Rupanya beliau terkena serangan stroke ringan, dan ingin sekali bertemu dengan saya, karena ketika itu belum ada fasilitas telepon sedang ia sangat butuh pada saya, tanpa sengaja fikiran yang kuat telah memancarkan signal "Telepati" yang kuat dan dapat saya terima. 

Sebenarnya dalam kehidupan sehari hari kita sering menerima pesan "Telepati", hanya saja kita kurang begitu memperhatikan. Satu ketika kita ingat seorang teman yang sudah lama tidak jumpa, ketika kita sedang melamun tentang teman tersebut, tiba-tiba telepon berdering, ternyata telepon dari teman yang sedang kita ingat itu. Ketika anda ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba teman yang di depan anda sudah mengucapkannya lebih dahulu. Ketika anda ingin menyusul seseorang yang bersepeda di depan anda, tiba-iba orang itu menengok pada anda. Dan banyak lagi kejadian sehari hari yang kurang kita perhatikan. 

Dalam sejarah tercatat nama Emanuel Swedenborgh seorang sarjana Swedia hidup di abad 18. Semula ia lebih cenderung mempelajari ilmu alam tetapi belakangan ia lebih tertarik dengan ilmu ghaib/occoultisme. Dalam suatu rapat yang dihadiri kalangan cendekiawan, tiba tiba Swedenborgh berlarian kesana kemari, mukanya pucat penuh kekawatiran. Seperti orang kurang waras ia mengatakan, baru saja terjadi kebakaran besar di Stockholm, rumah sahabatnya terbakar namun rumahnya selamat dari amukan api. Tiga hari kemudian ada kabar dari Stockholm bahwa kota itu mengalami kebakaran besar. Umumnya signal "Telepati" akan memancar kuat secara otomatis ketika saat seseorang berada pada kondisi terjepit, tertekan dan terdesak, dan saat seseorang dipengaruhi oleh perasaan emosi, takut, gembira, cemas, yang kuat. Pada saat itu fikiran bawah sadar (otak kanan) lebih dominan daripada fikiran sadar (otak kiri). 

Seorang dokter di Perancis bernama Andral mengisahkan suatu peristiwa ketika terjadi pertengkaran antara seorang petani dengan pandai besi. Petani itu mengeluh bahwa setiap malam jam 22 .00 – 24.00 telinganya diganggu suara gemuruh seperti besi beradu sehingga menyebabkan ia tidak bisa tidur. Mendengar penuturan petani itu, pagi harinya Andral memanggil pandai besi tetangganya dan bertanya kepada pandai besi itu, aktivitas apa saja yang dilakukannya sekitar jam 22.00 – 24.00. Pandai besi itu mengaku bahwa pada jam itu ia bekerja menempa besi sambil membayangkan wajah petani tetangganya yang telah mendholimnya, dan ia berharap suara besi yang ditempanya mampu menembus tembok kamarnya. Andral lalu berkata:” Baik keingananmu telah tercapai, mulai saat ini hentikanlah ulah jahatmu itu , atau aku adukan engkau kepada polisi” . Malam hari berikutnya pandai besi itu menghentikan kegiatannya tersebut dan petani itupun bisa tidur dengan tenang. 

Itulah beberapa gejala"Telepati"  yang bisa saja terjadi pada diri kita. Kasus serangan mental seperti yang dialami petani itu bisa saja terjadi pada siapapun. Terjadinya biasanya tidak disadari oleh pelaku maupun orang yang mengalami serangan, karena aktivitas ini memang berada pada wilayah fikiran bawah sadar. Untuk menghindari terjadinya serangan mental ini Rasulullah mengajarkan kita untuk selalu berlaku santun , jangan sampai menyakiti hati tetangga, atau orang di sekitar kita. Rasulullah mengingatkan kepada kita :”Takutilah do’a (jeritan) orang yang teraniaya , karena do’a orang yang teraniaya itu di ijabah”. 

Keluhan atau jeritan orang yang teraniaya biasanya diikuti dengan emosi yang kuat, ini akan memancarkan signal "Telepati". Karena itu Rasulullah mengingatkan kita agar jangan sampai mendholimi tetangga atau orang lain. Berlaku ramah dan santun terhadap tetangga sangat dianjurkan oleh Rasulullah. Kita juga dianjurkan untuk selalu memaafkan kesalahan orang lain. Karena kebencian, kemarahan yang disertai emosi yang kuat juga bisa memancarkan kekuatan "Telepati" . Getaran "Telepati" yang merusak ini disebut juga serangan mental. Untuk melindungi diri dari serangan ini Islam mengajarkan kita untuk selalu berlaku santun, jangan menyakiti hati orang lain. Disamping itu juga dianjurkan untuk membaca surat Al Ikhlas, Al Falaq dan An Nash. 

Serangan mental yang berupa "Telepati" ini biasanya terjadi pada orang yang berhubungan dekat atau memiliki hubungan emosi, seperti orang tua dengan anak, antara adik dan kakak, antara tetangga, sahabat karib, pasangan suami istri, orang yang berpacaran, antara majikan dengan karyawan dan lain sebagainya. Pasangan suami istri yang tidak akur , biasanya sering melakukan serangan ,mental antara satu dengan yang lainnya. Kalau sudah begitu ada saja kesialan yang akan dialami oleh rumah tangga itu, rezeki jadi seret, usaha terancam bangkrut, suasana di rumah tidak nyaman, panas dan selalu ingin bertengkar. Soal kecil jadi besar.
 
Kebanyakan kasus "Telepati" yang dialami orang terdiri dari dua hal mendasar, yakni "Telepati" terjadi antara dua orang atau lebih yang memiliki hubungan dekat (misalnya antara suami dan istri atau ibu dan anak), serta dalam situasi berbahaya. Ambil contoh kasus diatas. Seorang Ibu  terpeleset di kamar mandi. Untuk sesaat dalam kondisi sangat kesakitan, ia sangat kuat memikirkan Anaknya. Ia mungkin berpikir tidak akan lagi bisa melihat Anaknya. Oleh karena itu, secara bersamaan Anaknya menerima "Telepati" dari sang ibu. Anaknya menjadi gelisah, memikirkan sang ibu dan terdorong untuk pulang ke rumah.

"Telepati" dipercaya melibatkan fisiologis tubuh. Tidak semata-mata pikiran yang bekerja. Penelitian menunjukkan bahwa ketika seseorang menyampaikan sebuah informasi "Telepati"k kepada orang lain, terjadi perubahan fisiologis dalam diri pengirim. Pada saat seorang pengirim pesan diminta berkonsentrasi memikirkan penerima pesan, respon kulit galvanik atau GSR, yang merupakan detektor alamiah terhadap stres psikologis dalam diri seseorang, meningkat. Pada saat relaks, GSR-nya kembali menurun.

Penelitian di laboratorium tersebut juga menunjukkan bahwa pada saat pengirim pesan berkonsentrasi pada penerima pesan, dimana terjadi peningkatan GSR, penerima pesan juga mengalami kenaikan GSR. Saat pengirim pesan dalam kondisi relaks, secara otomatis, GSR penerima pesan juga ikut menurun. Padahal, penerima pesan tidak tahu apakah pengirim pesan sedang berkonsentrasi atau sedang relaks. Jadi, secara fisiologis, penerima pesan merespon perubahan fisiologis pengirim pesan.

Dalam bidang parapsikologi, "Telepati" dianggap sebagai suatu bentuk indera keenam di mana informasi dihubungkan melalui kemampuan psi. Hal ini sering dikategorikan sama dengan prekognisi dan kewaskitaan. Berbagai percobaan telah digunakan untuk menguji kemampuan "Telepati". Di antara yang paling terkenal adalah penggunaan kartu Zener dan metode Ganzfeld.
 
Banyak orang beranggapan, bahwa kemampuan "Telepati" tidak membutuhkan latihan apapun, dan menganggapnya itu adalah bagian dari BAKAT ALAMI saja, yang tidak perlu latihan. Tapi bagi orang yang telah mengerti, pasti menyadari bahwa kemampuan "Telepati" pada awalnya harus dilatih dan dibangun lebih dulu, kemudian semakin memantapkan kekuatannya dengan melatihnya secara hati-hati dan terus menerus…sehingga akan didapatkan hasil-hasil yang bermanfaat.
 
"Telepati", seperti kecakapan berpikir lainnya…dapat dipergunakan untuk maksud baik dan jahat. Di sini, kita dihadapkan pada masalah ETIKA dan MORAL. Apakah alasan Anda belajar dan berlatih "Telepati"? Coba Anda melihat dengan cermat alasan pribadi Anda untuk berlatih dan menggunakan kecakapan "Telepati" ini.
 
Secara umum, ada 3 pandangan pernyataan dari yang berhasrat untuk berlatih kecakapan "Telepati", yaitu:
  • Pertama, sekedar punya hasrat untuk mengetahui "Telepati", dan hanya ingin mengembangkannya untuk keuntungan pribadi tanpa melibatkan orang lain secara langsung.
  • Kedua, sangat berhasrat untuk bisa menguasai kekuatan "Telepati" dan mengembangkannya untuk melayani dan membantu orang lain.
  • Ketiga, merasa harus menggunakan kekuatan "Telepati" untuk menguasai orang lain, dan menentang keinginan mereka, agar mau menuruti kemauannya.

Sejauh mana pokok persoalan menyangkut hubungan "Telepati", tentu saja ada pertimbangan-pertimbangan dasar tertentu yang harus diperhitungkan…yaitu tentang tanggung jawab moral.
 
Kemampuan"Telepati"  adalah peranan dari OTAK KANAN, yang bertanggung jawab pada sisi emosi, imajinasi, dan intuisi kita…yang kesemuanya itu terpendam di dalam alam PIKIRAN BAWAH SADAR. Oleh sebab itu, langkah awal untuk berlatih kemampuan "Telepati" adalah Anda harus menghidupkan “mesin mental” di pikiran sadar Anda untuk bersiaga penuh kesadaran, bekerja sama dengan pikiran bawah sadar Anda.
 
Keyakinan dan percaya diri Anda adalah hal utama yang harus Anda punyai sebelum memulai berlatih "Telepati". Karena perlengkapan sebenarnya dari kemampuan "Telepati" adalah pada bagian tingkat SADAR PIKIRAN Anda yang dilingkupi oleh perasaan EMOSI JIWA secara rileks…baik Anda sebagai Pengirim atau Penerima.
 
Cobalah berkonsentrasi selama beberapa saat pada BAYANGAN PIKIRAN yang hendak Anda kirimkan kepada seseorang, juga pikirkan bahwa Anda sangat ingin memproyeksikan PESAN tersebut dari tempat Anda berada ke beberapa tempat yang jauh. Kemudian konsentrasikan bahwa si penerima pesan Anda di beberapa tempat yang jauh dari Anda, bisa menerima pesan dari Anda. Dan, jangan lupa untuk memberikan segenap perasaan emosi Anda pada saat berkonsentrasi mengirimkan pesan secara "Telepati" itu. Kekurangan dari nilai emosional atau jika tanpa ada perasaan emosi yang menyelubungi pesan…maka itu sering menyebabkan proses "Telepati" menjadi gagal.
 
Kebanyakan para Pemula gagal pada tahap awal ini, karena mereka merasa TEGANG saat melakukan konsentrasi dengan sepenuh emosi jiwa. Ketegangannya biasanya dilihat dari bahasa tubuhnya yang otomatis sudah menjelaskannya…misalnya dari alis mata yang berkerut, mata yang dipejamkan dengan sangat rapat, mengatupkan bibir rapat-rapat sampai monyong atau terlihat dari otot-otot tubuhnya yang keras menegang saat mencoba berkonsentrasi itu. Hal-hal TEGANG seperti ini harus Anda hindari…janganlah tegang pada saat melakukan konsentrasi.
 
Pada Latihan "Telepati", semua bagian tubuh dan pikiran haruslah rileks meskipun tetap konsentrasi dengan tingkat keheningan yang semakin dalam. Oleh sebab itu, sebelumnya Anda harus melatih diri untuk bisa rileks dan santai…meskipun dalam waktu bersamaan sedang melakukan KONSENTRASI PIKIRAN. 
 
Dengan mencapai kondisi atau keadaan rileks dan santai secara FISIK dan PIKIRAN, maka Anda sebagai si Pengirim pesan "Telepati" akan mendapatkan gambaran mental yang jelas, beserta balutan emosi Anda di sana. Gambaran mental yang Anda ciptakan dengan jelas ini juga seiring dengan kemauan dan kemampuan Anda untuk melatih kekuatan imajinasi visualisasi Anda, sehingga Anda mampu membentuk dan menggambarkan pesan Anda sejelas mungkin, yang selanjutnya itu akan otomatis tersimpan di dalam pikiran bawah sadar Anda…dan bisa Anda gunakan berulang-ulang.
 
Sumber:
1. id.wikipedia.org/wiki/Telepati
2. wuryanano.wordpress.com/.../mencoba-latihan-telepat...
3. www.fadhilza.com/.../mengasah-kemampuan-telepati....
4. laely.widjajati.photos.facebook/ASSALAMU'ALAIKUM-Wr-Wb-Met-Pagi-Smuanya-.....
5. laely.widjajati.photos.facebook/Jangan pernah katakan umurlah telah bertambah, tapi.....
6. laely.widjajati.photos.facebook/NARSIS dulu sm MBAKKU......
7. laely.widjajati.photos.facebook/Anak2 (10 Th Yg Lalu).......

Senin, 05 Agustus 2013

"KHASIAT DAN MANFAAT KURMA"

"Kurma" adalah sejenis tumbuhan (Palma) atau dikenali dalam bahasa saintifiknya sebagai Phonex dactylifera yang berbuah dan boleh dimakan sama ada yang masak atau yang mentah".



Kebanyakkan pohon "Kurma" tumbuh di Negara-negara Arab dan mempunyai berbagai-bagai jenis. "Kurma" yang terkenal ialah "Kurma" Mekkah dan Madinah yang dikatakan mempunyai berpuluh-puluh jenis. Di kalangan penduduk di Negara-negara Arab "Kurma" adalah makanan utama mereka, malah di kalangan orang kita juga "Kurma" sudah menjadi bahan makanan yang digemari. Selain rasanya yang manis dan tahan lama serta tidak perlu dimasak, "Kurma" juga mempunyai "khasiat" yang banyak dan menjadi makanan utama Baginda Rasulullah SAW.

"Kurma" (Phonex dactylifera) atau Tamar merupakan sejenis tumbuhan yang berbuah dan boleh dimakan ketika ia sudah masak atau masih mentah. "Kurma"  merupakan tumbuhan yang mempunyai pelbagai "khasiat" dan "manfaat" yang  sudah terbukti secara saintifik. Malah dalam kitab suci Al-Qur’an  terdapat 21 ayat yang menyebut tentang "Kurma". Baginda Rasulullah SAW juga sendiri telah beberapa kali menyebut perihal "Kurma" dan "khasiat"nya, dan "Kurma" amat sinonim dengan kisah Rasulullah SAW.
“Kemudian Kami tumbuhkan kerananya kebun "Kurma" dan anggur untuk kamu. Disana kamu peroleh buah-buahan yang banyak dan sebahagiannya kamu makan“ (QS. Al-Mukminah ayat 19)
“Barangsiapa yang memakan 7 biji tamar ‘Ajwah’, dia akan terkawal daripada kejutan syaitan dan sihir pada hari itu“.  (Sabda Rasulullah SAW.)
Manakala sudut sains mengatakan pula, bahwa kandungan protein di dalam "Kurma" adalah lebih kurang 2.5%, serat 8.0% dan kandungan gulanya juga sangat tinggi, yakni sampai 63%, majoritinya adalah glukosa. Lemak yang terkandung di dalamnya  sangat sedikit iaitu sekitar 0.4%. "Kurma" juga terkenal dalam dunia perubatan tradisional karena juga kaya dengan zat besi, kalsium, fosforus, sodium, potassium, vitamin A, C dan niasin.


APA SAJA "KHASIAT KURMA"?
1) Dapat segera diproses dan diserap, sekaligus memberikan tenaga segera
Mengandung gula  (monosaccharide) yang sangat tinggi malah lebih tinggi dari pisang. "Kurma" dapat  memberikan “tenaga segera” yang akan diserap oleh tubuh dengan cepat. Berbeda dengan kebanyakan buah-buahan lain yang mengadung sukrosa (disaccharide). Disaccharide seperti sukrosa harus dipecahkan dahulu oleh enzim sebelum bertukar menjadi monosaccharide lalu diserap tubuh sebagai tenaga.
“Rasulullah SAW berbuka puasa dengan beberapa biji buah "Kurma" sebelum sembahyang. Sekiranya tiada terdapat "Kurma", maka Rasulullah SAW akan berbuka dengan beberapa biji anggur. Sekiranya tiada anggur, maka Beliau meminum beberapa teguk air“ (Hadis Riwayat Ahmad)
Makan kurma ketika berbuka puasa amat bagus kerana pada waktu ini, kita perlukan tenaga segera, dan bukannya tenaga yang “lambat untuk dicerna” seperti yang terkandung dalam kebanyakkan makanan berlemak dan bergoreng yang lain.
2)  Kaya dengan serat dan potassium
"Kurma"  dimakan tanpa perlu membuang kulitnya dan pada kulitnya itulah terkandung serat. "Kurma" adalah  buah-buahan yang amat kaya dengan serat, serat larut maupun tak larut. Kita sering menganggap buah-buahan seperti pisang itu mengandung serat yang tinggi, tetapi tahukah anda, dalam 100g "Kurma" terdapat 8g serat sedangkan dalam 100g Pisang hanya terdapat 2.6g serat saja? Tinggi serat sangat baik untuk sistem pencernakan.
Selain itu "Kurma"  juga kaya dengan Potassium dan beberapa zat galian yang lain. Potassium adalah elektrolit yang akan menyeimbangkan kembali kandungan air dalam tubuh, terutama sepanjang waktu berpuasa. Tidak perlu membeli 100 Plus sekiranya khawatir akan kekurangan elektrolit ketika berbuka, memadai dengan beberapa biji "Kurma" dan air hangat. Potassium juga membantu memperkuat otot termasuk otot jantung dan mampu memelihara sistem saraf.
3)  Penguat memori
Selama ini yang kita ketahui hanya kismis yang baik untuk menguatkan daya ingatan, namun sebenarnya "Kurma" juga tidak kurang hebatnya. "Kurma" sangat bagus untuk kanak-kanak yang sedang dalam proses pertumbuhan.
4) Baik untuk wanita mengandung/bersalin.
Masih ingat kisah Maryam yang hanya memakan buah "Kurma" semasa melahirkan Nabi Isa AS? Menerusi malaikat Jibrail, Allah telah mewahyukan kepada ibu Isa yaitu Maryam binti Imran supaya menggoncang pohon "Kurma" sehingga gugur lantas memakannya tatkala lemah selepas bersalin.
“Dan goncangkan batang "Kurma" itu kepadanya, nanti ia gugurkan atasmu "Kurma" yang masak,” (QS.  Maryam, ayat 25)
Dan menurut sebuah laman web, buah "Kurma"  sangat baik untuk wanita mengandung dan akan memudahkan bagi wanita yang akan melahirkan anak dan akan mengurangi pendaran selama proses kelahiran. Malah dipercaya anak yang dilahirkan kelak  akan mempunyai sifat-sifat yang baik, penyabar, bersopan santun serta cerdas pemikirannya (Sabda Rasulullah).
5) Penawar Racun
Diriwayat oleh Aishah r.a., “Jika Barangsiapa yang selalu makan "Kurma" akan terhindar dari terkena racun yang dimakan.”
6) Membantu menyembuhkan penyakit
Dalam perubatan homeopati, biji "Kurma" dihaluskan seperti serbuk teh. "Kurma" direndam dan diminum untuk penyembuhan pelbagai jenis penyakit.
7) Mengobati gangguan usus dan sembelit
Ketidakserasian dengan gluten menghalang penyerapan zat-zat makanan secara sempurna. "Kurma" mencegah hal tersebut.
Sumber:
1.  penpatah.blogspot.com › Variasi
2. www.myberita.net/khasiat-kurma-berdasarkan-al-qura...
3. laely.widjajati.photos.facebook/ASSALAMU'ALAIKUM-Wr-.Wb-Met-Pagi-Met........
4. laely.widjajati.photos.facebook/Kelompok-NARSIS...........
5. laely.widjajati.photos.facebook/TIGA-GENERASI.........

Apa Itu GADGET????"

"Gadget" merupakan sebuah istilah yang sering kita dengar utamanya bagi para blogger." 



Namun walaupun sering kita dengar terkadang kita belum mengerti Apa itu "Gadget" ? dan Pengertian "Gadget" sebenarnya apa?. Pada kesempatan ini saya akan mencoba apa itu "Gadget" dan pengertian "Gadget".

Apa itu "Gadget"?
 
Pengertian "Gadget" sebenarnya sangat luas. Kalau di otak saya, setiap kali mendengar kata "Gadget" maka yang terbayang adalah berbagai macam barang elektronik yang bentuknya kecil. Tapi sebenarnya ada definisi tentang pengertian "Gadget" ini.
 
Iseng-iseng melihat di wikipedia tentang pengertian "Gadget" ternyata ada. Nah di sana disebutkan bahwa pengertian "Gadget" adalah sebagai berikut:
 
A "Gadget" is a smalltechnological object (such as a device or an appliance) that has a particular function, but is often thought of as a novelty. "Gadget"s are invariably considered to be more unusually or cleverly designed than normal technology at the time of their invention. "Gadget"s are sometimes also referred to as gizmos. (Wikipedia.com)
 
Dalam bahasa Indonesia kira-kira pengertian "Gadget" tersebut artinya:

Sebuah
"Gadget" adalah sebuah obyek (alat atau barang elektronik) teknologi kecil yang memilki fungsi khusus, tetapi sering diasosiasikan sebagai sebuah inovasi atau barang baru.

"Gadget" adalah sebuah istilah yang berasal dari bahasa Inggris, yang artinya perangkat elektronik kecil yang memiliki fungsi khusus. Dalam bahasa Indonesia, "Gadget" disebut sebagai “acang”. Salah satu hal yang membedakan "Gadget" dengan perangkat elektronik lainnya adalah unsur “kebaruan”. Artinya, dari hari ke hari "Gadget" selalu muncul dengan menyajikan teknologi terbaru yang membuat hidup manusia menjadi lebih praktis.

Contoh-contoh dari "Gadget" diantaranya telepon pintar (smartphone) seperti iphone dan blackberry, serta netbook (perpaduan antara komputer portabel seperti notebook dan internet).

"Gadget" untuk Akses Internet
Salah satu fitur terkenal dan paling menarik dari "Gadget" adalah internet. “Siswa dapat dengan mudah mencari informasi apa pun untuk tugas-tugas sekolah di internet,” ujar Kak Daniel Kusnadi, mahasiswa Teknik Informatika dan salah satu pembicara di diskusi tersebut. Dalam diskusi tersebut, praktisi TI, Bapak Bambang Juwono memberikan contoh situs yang berguna untuk menambah wawasan kita, diantaranya stumbleupon.com dan thinkquest.org. Selain memperkaya wawasan, dengan "Gadget" yang menyediakan akses internet, kita bisa memperluas persahabatan melalui situs jejaring sosial seperti facebook, twitter atau multiply.

Efek Negatif "Gadget"
Walau memberi begitu banyak keuntungan bagi pemakainya, jika tidak bijak dalam menggunakannya, "Gadget" bisa memberi kerugian. Salah satunya, ketidakmampuan untuk hidup sendiri. “Coba saja, hampir tiap saat para pengguna facebook ingin bercerita tentang hidupnya kepada orang lain lewat update status,” ujar seorang rohaniawan, Romo Deshi Ramadhani, SJ.

Kemudahan akses internet lewat "Gadget" juga membuat kita semakin mudah dan cepat mendapat apa yang kita mau. “Akibatnya, anak-anak menjadi malas, tidak mau berusaha, dan tidak tahan banting,” begitu jelas psikolog anak dan remaja, Ibu Ratih Ibrahim. 
 
"Gadget"memang bisa memudahkan hidup kita, namun kita perlu membatasi waktu penggunaannya sehingga tidak mengganggu waktu berharga bersama keluarga dan sahabat. Selain itu, akseslah situs-situs yang memang bermanfaat dan membuat kita semakin cerdas! 
 
Sumber:
1. www.artikelbagus.com › GadgetTeknologi
2. ndonesiaindonesia.com › Elektronik & Gadget
3. beritanet.com/definisi-arti-gadget.....
4. portal.paseban.com/tips-trik-cara-menghemat-baterai
5. andrysida.blogspot.com/dampak-positif-dan-negatif-gadget....

Minggu, 04 Agustus 2013

"HATI-HATI DENGAN STATUS INBOX FACEBOOK"

"Hati-hati dengan Pesan di Chat "Facebook" ("Inbox") Anda ! Kalau tidak, maka rahasia Anda bisa terbongkar". 


Tulisan ini bukan hendak menakut-nakuti Anda, tapi cuma hendak memberi peringatan. Sebab sesuatu yang kecil bisa menyebabkan sesuatu yang besar. Salah satunya adalah isi Chatting "Facebook" di "Inbox" Anda.

Berkomunikasi lewat chat di "Facebook" ("Inbox") memang sesuatu yang menyenangkan. Fasilitas ini digunakan bukan hanya saja karena bersifat realtime, tapi karena dianggap lebih bisa menjaga kerahasiaan. Sebab kalau menulis atau memberi komentar di dinding akan diketahui oleh orang banyak.

Chat dalam "Facebook" ("Inbox") sama seperti dengan pesan. Semua chat yang kita lakukan juga akan tersimpan sebagai pesan. Tentu kita sering mengalami kejadian, ketika sedang melakukan chatting dan tiba-tiba koneksi teman chatting kita terputus, maka isi chatting kita dianggap sebagai pesan dan muncul di "Inbox".

Pesan kita di "Inbox" akan tetap tersimpan jika tidak dihapus. Begitu juga dengan isi percakapan kita di chat. Semuanya akan tersimpan sebelum dihapus. 
 
Saat ini bahkan mobiilitas aktivis dakwah tak hanya memerlukan interaksi secara langsung saja (bartemu secara fisik maksudnya), tapi mengharuskan bertemu dalam dunia maya juga. Apalagi kalau aktivitis dakwah taraf Nasional, yang jarang sekali bisa bertemu secara langsung mengharuskan untuk berkomunikasi lewat dunia maya. Ada beberapa sarana yang saat ini memang banyak dibutuhkan aktivitas dakwah dalam dunia maya ini,, diantaranya Hp, email maupun sarana chat yang sekarang sedang gila-gilanya…Bermula karena elektronik sekarang menjadi kebutuhan yang penting selain Hp, maka banyak sekali para pemakai sarana ini, apalagi jaman sekarang yang udah tidak harus ke warnet lagi buat bisa internetan. Dengan mudah kita bisa internetan langsung dari Hp, Ipad ataupun Laptop, kita secara langsung soalnya kan dah banyak modem tuh,,, 

Kemudahan akses internet yang disediakan oleh berbagai provider membuat "Facebook" menjadi lebih popular. Di Indonesia "Facebook" merupakan situs yang tergolong banyak diminati, mungkin salah satunya karena "Facebook" termasuk situs yang ‘bersih dan tertutup’. Artinya kita bisa menyeleksi siapa saja yang kita ijinkan masuk dalam daftar teman kita. Kata temanku yang penggemar sastra, "Facebook" ibarat giant novel, dimana setiap penggunanya adalah karakter tersendiri dengan latar belakangnya yang berbeda-beda dan membangun kisah hidupnya sendiri pula. Mereka terhubung satu sama lain oleh hubungan saudara, teman, temannya teman, teman temannya teman, dan seterusnya. Pada halaman home, "Facebook"  menyediakan tempat untuk kita menulis apa yang sedang kita pikirkan, kemudian memberi kesempatan bagi teman-teman kita untuk mengomentarinya. 

Tadinya aku agak canggung dengan fasilitas ini. Apa yang kita tulis sedikit banyak akan menggambarkan bagaimana sosok kita sebenarnya. Aku merasa ruang ini menyerupai ruang untuk pembentukan karakter kita. Hmm… di jaman yang serba virtual ini, aku menemukan cara lain untuk mengenal orang yaitu melalui tulisan-tulisan pada kolom ‘what’s in your mind’ (Apa yang Anda pikirkan?), termasuk juga komentar-komentar yang menyertai status update tersebut, pada halaman home  "Facebook". Aku tertegun membaca note seorang teman “Ketika Iffah mulai luntur” (di balik fenomena "Facebook"). Sebuah note yang mengusik harga diri, moral etik dan kesantunan dalam komunikasi komunal. Wajah "Facebook"  semakin menampilkan make up penggunanya yang tak terhingga. Sebagai sebuah fenomena yang rata menggejala, "Facebook" semakin bergeser dari sekedar alternatif jalinan komunikasi di dunia maya. Ada user yang begitu cerdas memanfaatkan statusnya untuk menyampaikan pesan
yang bermanfaat. Menjadikannya sebagai alat penggerak solidaritas yang massif untuk menghimpun dukungan atas penderitaan orang lain. Ada yang mendisainnya sebagai link dakwah dan pesan Islam sebagai rahmatan lil alamin atau aktivitas lain dalam kerangka amar ma’ruf nahi munkar. Alhamdulillah, terhadap yang demikian ini, kita patut bersyukur dan mengapresiasinya dengan tulus. Tapi ada pula user yang menjadikan statusnya sebagai curhatan dan wallnya bagai “tembok ratapan” atas apa yang dialaminya seharian begitu naif. Ada yang sekedar iseng mengumbar kata yang tidak jelas apa makna di balik apa yang ia tulis. Yang lebih dari itu, ada pula "Facebook"er yang memanfaatkan status pertemanan mayanya sebagai alat mengelabui orang lain. Bahkan ada yang sengaja memasang “jerat” untuk orang yang dibidiknya. Terhadap yang demikian, sangat terasa bahwa pertemanan di dunia maya hanyalah mendiskon waktu tanpa mendapatkan manfaat apa-apa selain kesenangan semu belaka. Bahkan bisa jadi, "Facebook" tak ubahnya seperti menggali lubang ”sial” bagi penggunanya. Maka "Facebook", seperti sebilah pisau bermata dua. Bisa dibilang “STATUS FBMU…HARIMAUMU atau  bisa juga STATUS FB KAMU…HARGA DIRIMU”. 
Bermula dari pembicaraan aku dengan beberapa teman ternyata dunia maya inipun bisa mencetuskan ikhtilat di antara para aktivis dakwah, maka aku berfikir dan ingin membuat diskusi sharing tentang IKHTILAT DUNIA MAYA. Eits… Jangan tidur dulu yaah,,, aku mau mendongengkan sesuatu… (maksudnya ceritaiin deh, nanti kalo mendongeng bener-bener tidur lagi..!!!). Sebut saja nama akhwat itu Melati. Seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi ternama di Indonesia ini memenangkan award di angkatannya sebagai “TER-jaga”. Predikat itu memang wajar saja disandangnya. Hijab yang membalut tubuhnya dengan rapi, kata-kata yang dilontarkannya begitu tertata, lakunya penuh kesopanan, pandangan matanya jauh dari kesan “jelalatan”, dan sikapnya yang tidak berlebihan.Secara fisik, Melati terbilang menyejukkan mata yang memandangnya. Setidaknya beberapa ikhwah sempat menjulukinya Melati DiSas alias Dian Sastro (walaupun agak dipaksakan n_n). Namun, dengan segala kelembutan yang dimilikinya itu, tidak berarti Melati memiliki kadar ketegasan yang minim . Itulah sebabnya, mantan Ketua Keputrian organisasi keislaman kampus ini menjadi inspirasi dan kantung curahan hati rekan-rekan muslimah yang lain. Hampir tak seorangpun laki-laki yang berani menggodanya. Jangankan untuk mengajaknya diskusi, untuk sekadar menegurnya saja tampak sangat segan. Terbukti dari berbagai pengakuan ikhwan-ikhwan rekan kerjanya yang gak berani macam-macam dengan akhwat yang satu ini. Dalam radius 10 meter, Melati dapat membuat para ikhwan tiba-tiba sok cool dan jaim. Benarkah se-terjaga itu? Ternyata tidak juga. Setidaknya demikianlah yang diakui sendiri oleh Melati pada suatu ketika. "Inbox" message di "Facebook"nya Melati didominasi dengan pesan dari teman-teman ikhwannya. Mulai dari rekan sejawat hingga “senior dakwah”. Mulai dari yang misterius sampai yang terang-terangan. Mulai dari urusan umat sampai urusan pribadi. Mulai dari yang satu kampus sampai di luar kampus. Mulai dari pembahasan yang berbobot sampai yang kopong. Mulai dari taushiyah sampai rayuan. Mulai dari tawaran untuk bekerja sama sampai tawaran untuk berumah tangga bersama! (what??? Ckckck..). Melati bukanlah seorang yang terbilang popular dan menonjol. Entah bagaimana ikhwan-ikhwan tersebut mengenal -dalam arti sebenarnya- Melati.  Sebagian dari mereka tidak  Melati kenal dengan baik bahkan tidak kenal sama sekali. Tidak ada sangkaan sama sekali mereka ekspresif mengungkapkan perhatiannya di dunia maya. Maklumlah, jika di dunia nyata, mereka begitu mampu menjaga sikapnya. Perlakuan demikianlah yang akhirnya membuat Melati merasa bersalah karena merasa tidak mampu menjaga izzahnya dengan baik. Tidak ada asap kalau tak ada api, kan? Sahabat, aku yakin pastinya begitu banyak Melati-Melati lain yang mengalami hal yang sama (hayo, ngaku??). ya… Walaupun mungkin tidak “semeriah” (he? Semeriah?? kaya pertunjukkan besar aje^^) kisah nyata di atas. 
 
Sebagian dari para aktivis yang begitu menjaga image-nya seringkali menyembunyikan kenakalannya di balik perkembangan teknologi. Berbuat aji mumpung seolah tak seorang pun bisa tahu. Bersyukurlah Allah berkenan menutupi aib kejahiliyahan para aktivis yang seperti ini. Semoga kebarokahan dakwahnya tidak ikutan luntur kerena hal tersebut. Ada baiknya kita memperhatikan sebuah istilah menarik, yaitu Iktilat dunia maya. Ya… ini sih memang buat-buatan aja supaya kita lebih berhati-hati. Tapi tunggu sebentar, coba teruskan membaca tinjauan berikut ini. Ikhtilat menurut bahasa adalah bercampurnya sesuatu dengan sesuatu. (Lihat Lis?nul ?Arab 9/161-162). Adapun menurut istilah, ikhtilat adalah bercampur baur antara laki-laki dan perempuan yang tidak ada hubungan mahram pada suatu tempat. (Lihat Al-Mufashal f? Ahk?mil Mar’ah: 3/421).Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari balik tabir. Cara demikian itu lebih baik bagi hatimu dan hati mereka.” (Al-Ahz?b: 53).Ayat ini walaupun diturunkan kepada isteri-isteri Nabi shallallahu alaihi wa sallam- namun mencakup pula untuk semua umat Islam, karena telah tetap dalam qaidah Syar’iyyah: Letak pelajaran adalah pada keumuman lafazh bukan pada kekhususan sebab.

Sahabat, Sadarkah kita ketika sedang asyik sendiri berchatting atau kirim pesan "Inbox" dengan “si dia” di hadapan layar dunia maya, sejatinya kita sedang menjalin hubungan “berduan” dengan komunikan kita. Hanya kamu dan dia yang tahu. Memang ini secara fisik terpisah dan mungkin tidak seekstrim “itu”. Tapi setidaknya, waspadai gejolak hati yang bermain. Yang menjadi controller adalah kita sendiri. Jadi, ketika keimanan dalam diri seseorang meredup, maka hal apa yang menjamin tidak ada apa-apa di antara keduanya? Muroqobatullah (Merasakan pengawasan langsung dari Allah Azza wa Jalla) menjadi sebuah keniscayaan yang perlu selalu dipelihara setiap dari kita. Ingatlah, Sahabat, bahwa Allah selalu bersama kita dimana pun kita berada. Dia mengetahui setiap lintasan pikiran, setiap lirikan mata, dan setiap goresan rasa di hati kita. Jangan sampai Allah mendapati kita sedang bermaksiat dengan segala nikmat yang kita terima dariNya. Kecil atau besar, semuanya bukanlah perkara gratis tanpa pertanggungjawaban. Astaghfirullahal Adziim… 

Memang dunia dihiasi dengan hal-hal yang menarik hingga membuaikan para penikmatnya. Tak juga luput di kalangan aktivis dakwah. Butuh kebersamaan dalam usaha berbuat ma’ruf dan mencegah munkar. Karena syaitan senang pada orang-orang yang sendiri, itulah arti penting jama’ah. Semoga Allah menjaga kita di jama’ah dakwah ini. Jejaring sosial itu cukup ada manfaatnya juga sich.. Tapi, mengapa waktu itu sampai ada isu bahwa MUI Jawa Timur akan mengeluarkan fatwa haram "Facebook"? Banyak pro dan kontra yang terjadi, tapi bukan itu yang ingin aku bahas. Aku tidak ingin ikut-ikutan mengeluarkan fatwa, nanti akan lebih banyak protes..hihi (karena emang blom ada ilmunya ). Sedangkan menurut Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan Selatan (Kalsel) Prof H Asywadie Syukur Lc berpendapat, keberadaan "Facebook" (salah satu sarana komunikasi lewat dunia maya) bisa haram dan tidak. “Kita tidak bisa memfatwakan "Facebook" itu haram atau sebaliknya, kecuali melihat kontekstualnya,” kata alumnus Universitas Al Azhar Kairo Mesir itu.Demikian sedikit berita tentang isu fatwa haram "Facebook", tapi lagi-lagi bukan itu inti yang ingin aku sampaikan. Yang aku fikirkan mendengar isu tersebut adalah “tentu ada sesuatu hal yang bisa menyebabkan penggunaan "Facebook" menjadi haram”. Yah, minimal menimbulkan suatu mudhorat bagi diri sendiri atau orang lain. Dunia maya seringkali membuat orang lupa untuk mengontrol ucapan dan tindakan mereka, membuat mereka jadi lebih berani, karena merasa tidak diperhatikan secara langsung, walaupun sebenarnya banyak yang memperhatikan. Aku teringat ceramah seorang ustadz, yang intinya kalau kita berbicara lewat telpon atau sms dengan lawan jenis yang disenangi, maka keberanian kita akan jauh meningkat dari pada berbicara langsung, kita jadi tak segan mengeluarkan kata-kata rayuan dan semacamnya. Oleh karena itu dalam hal ini berbicara lewat telpon lebih “berbahaya” dari bertemu langsung. Beberapa potensial bahaya jejaring dunia maya antara lain ketagihan dan menghabiskan banyak waktu (melalaikan hati dari mengingat ALLAH), menjadi media penyebaran hal-hal berbau “haram”, kalau tidak hati-hati menulis status dan comment bisa menimbulkan prasangka buruk, fitnah, salah paham, dan sebagainya, karena yang membacanya banyak sekali dengan asumsi yang berbeda-beda. "Facebook" bisa juga menipu, misalnya foto atau profile yang ditampilkan tidak sesuai aslinya, sudah ingin melamar misalnya, setelah lihat aslinya eh kok beda ya? Berteman pada dasarnya adalah naluri. Siapapun memiliki kecenderungan mencari teman, menerima teman dan ingin diterima dalam status pertemanan. Sebab sifatnya yang naluriah (fitrah) itu, Islam mengajarkan agar pertemanan hendaknya diikat dalam bingkai saling menghormati, menghargai dan masing-masing pihak menjaga kehormatan pribadi orang lain dalam jalinan pertemanannya. Bahkan sangat dianjurkan apabila memilih atau menerima teman diniatkan untuk menjalin silaturrahim dan persaudaraan. Inilah kerangka dasar pertemanan yang patut dikembangkan dan diindahkan. Mungkin memang berteman di dunia maya menghadirkan sensasi tersendiri, tidak perlu mandi dan dandan untuk berteman (kita lagi ngapain juga orang lain tidak tahu ^^hihi), kita dapat merancang cerita tentang diri sendiri (politik pencitraan tea mereun), seseorang dapat membangun citranya di dunia maya, menjadi lebih relijius, lebih cantik dengan mempermak foto, menjadi suami/istri yang terlihat harmonis dengan foto2 mesra, menjadi orang tua yang terlihat berdedikasi dengan foto2 bareng anak-anak, atau menjadi lebih lembut, pengertian, menjadi apa saja yang bisa dirancang image-nya ^^ (Apakah setiap orang seperti itu? jawabnya tentu tidak, prasangka baik lebih utama didahulukan, mungkin cukup sebagai pengingat untuk diri sendiri  ^_^). Rambu-rambu jalinan pertemanan yang sehat dan hanif sebenarnya sudah sangat jelas kita miliki dalam khazanah Islam; dien yang kita junjung kemuliaannya. Begitu juga dari sisi kejiwaan maupun nilai-nilai moral. Baik nilai-nilai moral yang berkembang di masyarakat (sosial), apatah lagi nilai-nilai Islam sebagai nilai yang paling luhur dalam pola hubungan antar individu seperti telah disinggung. Seyogyanya, seorang "Facebook"er muslim atau muslimah harus setia menampilkan nilai-nilai Islami dan mengembangkannya setiap kali berinteraksi dengan teman di dinding "Facebook"nya. Namun kesadaran demikian belumlah merata dipahami setiap kita. Banyak teman, banyak perhatian, mungkin itu daya tarik dunia maya, seolah-olah kita selalu ada, dan selalu ada orang lain bersama kita. Tetapi aku merasa di tengah hiruk pikuk online online, ada sesuatu yang mengganggu, keramaiannya sering tidak diinginkan, update disana sini, arrrgghhhh pusiiinnnngggggg. Kalau misalnya, sedikit waktu luang online, tengah di perjalanan online, tengah menunggu online, tengah rapat online, tengah belajar online, tengah masak online, tengah ngasuh anak online, haduuhhh kumaha ieuh, kapan kontemplasinya, kapan inget Allah nya, kapan inget dosanya, kapan tobatnya. Mungkin sekarang perlu lebih banyak ruangan yang dahulu dipakai untuk tilawah, merenung, berpikir, shalat dengan khusyuk, juga ruangan-ruangan untuk bercengkrama dengan anak, obrolan dengan suami/istri, berkunjung, menengok tetangga. Singkatnya, agar eksis di dunia non maya (bukan berarti dunia maya tidak ada manfaatnya). Tapi lagi-lagi sesuatu yang berlebihan/over dosis, bukan hasil yang baik yang dituai. Mungkin, ada baiknya pula untuk saat ini aku masih mempertahankan HP yang lama, tanpa koneksi internet, tanpa bisa cek email, cek "Facebook"an, cekcok cekcokan, agar memang online hanya di depan laptop atau Ipad, jika tersambung internet di depan komputer. Selebihnya biarlah aku rasakan kemerdekaan dari hingar bingar online..online..dan..online…Sebenarnya tidak ada yang salah dalam menjalin persahabatan di dunia maya semisal di "Facebook", karena pada prinsipnya silaturahim itu akan menambah rezeki dan memperpanjang usia. Dan manusiawi juga mengungkapkan kekecewaan, selama dilakukan dengan cara yang benar. Permasalahan timbul ketika "Facebook" digunakan secara tidak bijaksana. Atau dengan kata lain, permasalahan akan timbul ketika kita lalai dalam menggunakan media dan fasilitas. Kelalaian pertama adalah kelalaian terhadap waktu. Terbuktilah bahwa waktu luang adalah salah satu nikmat yang kerap disia-siakan. Padahal waktu begitu cepat berlalu dan tidak akan dapat kembali. Padahal kelalaian terhadap waktu adalah kelalaian terhadap kehidupan itu sendiri. Dan kelalaian terhadap waktu pastinya akan berdampak terhadap tidak terpenuhinya amanah waktu yang lain. Waktu untuk bekerja, belajar, beristirahat, beribadah dan sebagainya. Efeknyapun juga terasa mulai dari kian menumpuknya pekerjaan, pemborosan listrik dan dana hingga terisolir dari komunitas sosial.Kelalaian selanjutnya adalah kelalaian terhadap bahaya lisan. Padahal sudah mafhum bahwa mulutmu adalah harimaumu. Betapa banyak orang yang celaka karena tergelincir lidahnya, pun tidak disengaja. Mulai dari canda yang tidak selayaknya hingga umpatan yang menyakitkan. Parahnya lagi, kata-kata yang terungkap adalah bukti tertulis yang tidak dapat hilang begitu saja. Dan ketika setiap kata dan aktivitas menjadi konsumsi publik, seketika itu pula sebagian aib kita akan terungkap.

Kelalaian yang tidak kalah berbahaya adalah kelalaian hati. Kelalaian hati dari mengingat Allah. Atau berbagai kelalaian yang mungkin timbul dari berbagai penyakit hati. Berbangga ketika status dan notenya banyak dikomentari. Ujub dengan status – status dahsyat yang menunjukkan berbagai kelebihan diri. Sombong dengan keelokan diri dan banyaknya kegiatan. Iri dan dengki hati terhadap teman yang (sepertinya) lebih beruntung. Atau takabur dengan data diri yang memang di atas kebanyakan orang. Sebagai contoh beberapa teman-teman "Facebook"ku yang statusnya berisi dengan kata-kata yang bagus mengandung makna dan hikmah, seakan ia terpedaya akan symbol yang bukan tidak mungkin dapat membuat kita celaka, itulah symbol jempol atau juga “like”, semakin banyak like semakin ia akan terpedaya. Terpedaya akan berbagai macam penyakit hati mulai dari ujub dsb. Jika ada yang nge”like” 20 orang, ia akan merasakan rasa yang teman-teman juga mengerti akan hal ini, karena aku yakin teman-teman pasti suka dengan symbol “suka” atau “like” ini.. dengan begitu ia akan membuat status dengan kata-kata yang sedemikian rupa, bisa berisi nasihat dan sebagainya. Tapi apakah merenungi, jika kita menulis begitu di status kita.. apakah kita seperti apa yang digambarkan seperti status yang dituliskan itu yang mungkin di “like” & dikomentari berpuluh-puluh teman kita?? Sudah berhasil dapat symbol “like” dari teman-temannya, ia pasti belum merasa puas, ia akan mencari-cari kata-kata yang sedemikian rupa itu.. entah itu di sebuah buku, Googling di internet, dan sebagainya. Dengan niatan agar mendapatkan symbol “like” lebih banyak dari status yang sudah-sudah. Tapi jika tidak mencerminkan diri kita juga dalam status-statusnya itu buat apa?? Bisa diambil kesimpulan hanya dengan kata “Apa yang Anda pikirkan?” atau ‘what’s in your mind?’ ini.. dapat membuat kita terbuai & terlena.. dan bukan tidak mungkin dapat menghinggapi penyakit hati, mulai dari sombong, ujub, riya, bahkan bisa juga munafik.. na’udzubillah…‘Ujub adalah mengagumi diri sendiri, yaitu ketika kita merasa bahwa diri kita memiliki kelebihan tertentu yang tidak dimiliki orang lain.Ibnul Mubarok pernah berkata, “Perasaan ‘ujub adalah ketika engkau merasa bahwa dirimu memiliki kelebihan tertentu yang tidak dimiliki oleh orang lain.”Imam Al Ghozali menuturkan, “Perasaan ‘ujub adalah kecintaan seseorang pada suatu karunia dan merasa memilikinya sendiri, tanpa mengembalikan keutamaannya kepada Allah. ”Memang setiap orang mempunyai kelebihan tertentu yang tidak dimiliki oleh orang lain, tetapi milik siapakah semua kelebihan itu ? Allah berfirman :“Bagi Allah semua kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antaranya.” (QS. Al Maidah : 120)Ujub merupakan salah satu sifat  nafsu lawwamah yang sangat tercela dan membahayakan, Tidak ada obat yang tepat untuk menghilangkan sifat ujub melainkan dengan cara menggantinya dengan sifat tawadhu. Munculnya sifat ujub  diawali dari rasa heran terhadap diri sendiri, karena melihat dirinya lebih hebat dan istimewa dari yang lain. Dari ujub selanjutnya muncul sifat sombong, yakni dengan cara mengecilkan dan meremehkan orang lain. Dan termasuk kelalaian adalah ketika ada berbagai pembenaran terhadap kelalaian yang sudah dilakukan. Memang faktanya begitu lah, untuk menyambung silaturahim lah, dan berbagai dalih lain yang jika dicari – cari memang tak akan ada habisnya. Mereka yang tidak punya "Facebook" karena ingin memelihara diri jelas lebih baik daripada mereka yang kerap membenarkan berbagai penyalahgunaan dan berdalih atas berbagai kelalaian. Lebih baik dibilang kurang gaul tapi selamat dibandingkan dianggap sok gaul tapi bertabur dosa dan maksiat. Seperti disampaikan salah seorang teman, "Facebook"  ibarat pisau yang manfaat atau mudharatnya tergantung penggunaannya, tulisan ini tidak hendak mengharamkan "Facebook" yang memang tidak ada dalil jelas yang mengharamkannya. Namun, lebih mengingatkan untuk lebih bijaksana dalam menggunaannya, termasuk waspada terhadap berbagai potensi kelalaian yang ada di dalamnya dan berbagai potensi pembenaran yang menyertainya. "Facebook" tetap bisa menjadi sarana silaturahim, memperkaya jaringan yang akan berguna untuk masa depan hingga menjadi sarana penyebar kebaikan dan kebermanfaatan. Namun bagaimanapun, pisau adalah benda tajam yang berbahaya. Jika tidak perlu dan digunakan untuk hal yang bermanfaat, sepertinya lebih bijak untuk tidak menggunakannya. Kalau masih ingin menggunakan jejaring sosial, maka kita wajib untuk lebih sadar dan hati-hati dalam menulis status, memberi comment, dan melakukan aktivitas lainnya,  sehingga tidak terjerumus ke dalam status fatwa “haram”. ^_^ itu bukan fatwa dari aku yah, tapi itu tergantung teman-teman menyikapinya gimana.. ^^


Mari berlomba-lomba menjadi manusia yang lebih baik,,, aku sendiri masih belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik. Semoga kita selalu istiqomah di jalan Nya… Saling mengingatkan dalam kebajikan yaa akhi wa ukhti,,, Bagaimana dengan antum semua?? Setuju atau tidak?? Kalo tidak setuju juga tidak apa-apa ini hanya sekelumit pendapat aku saja dan sekedar nasihat untuk teman-teman sekalian dan khususnya untuk diri aku pribadi…alfiyandi (fandie^^).:: Hidup Lebih Berarti Dengan Berbagi::.
 
Sumber;
1. www.carakumembuat.com › Facebook
2. https://www.facebook.com/.../hati-hati-dengan-status-facebookmu-tausiy.
3. laely.widjajati.photos.facebook/ALHAMDULILLAH...Limpahan RahmatMU pd saat Dhuha....
4. laely.widjajati.photos.profile.of.picturesfacebook/
5. laely.widjajati.photos.facebook/Hati-hati dg Hati.......
6. laely.widjajati.photos.facebook/Indahnya Kebersamaan..........
7. laely.widjajati.photos.facebook/mobile-uploud......


MusicPlaylistView Profile