Senin, 05 Agustus 2013

Apa Itu GADGET????"

"Gadget" merupakan sebuah istilah yang sering kita dengar utamanya bagi para blogger." 



Namun walaupun sering kita dengar terkadang kita belum mengerti Apa itu "Gadget" ? dan Pengertian "Gadget" sebenarnya apa?. Pada kesempatan ini saya akan mencoba apa itu "Gadget" dan pengertian "Gadget".

Apa itu "Gadget"?
 
Pengertian "Gadget" sebenarnya sangat luas. Kalau di otak saya, setiap kali mendengar kata "Gadget" maka yang terbayang adalah berbagai macam barang elektronik yang bentuknya kecil. Tapi sebenarnya ada definisi tentang pengertian "Gadget" ini.
 
Iseng-iseng melihat di wikipedia tentang pengertian "Gadget" ternyata ada. Nah di sana disebutkan bahwa pengertian "Gadget" adalah sebagai berikut:
 
A "Gadget" is a smalltechnological object (such as a device or an appliance) that has a particular function, but is often thought of as a novelty. "Gadget"s are invariably considered to be more unusually or cleverly designed than normal technology at the time of their invention. "Gadget"s are sometimes also referred to as gizmos. (Wikipedia.com)
 
Dalam bahasa Indonesia kira-kira pengertian "Gadget" tersebut artinya:

Sebuah
"Gadget" adalah sebuah obyek (alat atau barang elektronik) teknologi kecil yang memilki fungsi khusus, tetapi sering diasosiasikan sebagai sebuah inovasi atau barang baru.

"Gadget" adalah sebuah istilah yang berasal dari bahasa Inggris, yang artinya perangkat elektronik kecil yang memiliki fungsi khusus. Dalam bahasa Indonesia, "Gadget" disebut sebagai “acang”. Salah satu hal yang membedakan "Gadget" dengan perangkat elektronik lainnya adalah unsur “kebaruan”. Artinya, dari hari ke hari "Gadget" selalu muncul dengan menyajikan teknologi terbaru yang membuat hidup manusia menjadi lebih praktis.

Contoh-contoh dari "Gadget" diantaranya telepon pintar (smartphone) seperti iphone dan blackberry, serta netbook (perpaduan antara komputer portabel seperti notebook dan internet).

"Gadget" untuk Akses Internet
Salah satu fitur terkenal dan paling menarik dari "Gadget" adalah internet. “Siswa dapat dengan mudah mencari informasi apa pun untuk tugas-tugas sekolah di internet,” ujar Kak Daniel Kusnadi, mahasiswa Teknik Informatika dan salah satu pembicara di diskusi tersebut. Dalam diskusi tersebut, praktisi TI, Bapak Bambang Juwono memberikan contoh situs yang berguna untuk menambah wawasan kita, diantaranya stumbleupon.com dan thinkquest.org. Selain memperkaya wawasan, dengan "Gadget" yang menyediakan akses internet, kita bisa memperluas persahabatan melalui situs jejaring sosial seperti facebook, twitter atau multiply.

Efek Negatif "Gadget"
Walau memberi begitu banyak keuntungan bagi pemakainya, jika tidak bijak dalam menggunakannya, "Gadget" bisa memberi kerugian. Salah satunya, ketidakmampuan untuk hidup sendiri. “Coba saja, hampir tiap saat para pengguna facebook ingin bercerita tentang hidupnya kepada orang lain lewat update status,” ujar seorang rohaniawan, Romo Deshi Ramadhani, SJ.

Kemudahan akses internet lewat "Gadget" juga membuat kita semakin mudah dan cepat mendapat apa yang kita mau. “Akibatnya, anak-anak menjadi malas, tidak mau berusaha, dan tidak tahan banting,” begitu jelas psikolog anak dan remaja, Ibu Ratih Ibrahim. 
 
"Gadget"memang bisa memudahkan hidup kita, namun kita perlu membatasi waktu penggunaannya sehingga tidak mengganggu waktu berharga bersama keluarga dan sahabat. Selain itu, akseslah situs-situs yang memang bermanfaat dan membuat kita semakin cerdas! 
 
Sumber:
1. www.artikelbagus.com › GadgetTeknologi
2. ndonesiaindonesia.com › Elektronik & Gadget
3. beritanet.com/definisi-arti-gadget.....
4. portal.paseban.com/tips-trik-cara-menghemat-baterai
5. andrysida.blogspot.com/dampak-positif-dan-negatif-gadget....

Minggu, 04 Agustus 2013

"HATI-HATI DENGAN STATUS INBOX FACEBOOK"

"Hati-hati dengan Pesan di Chat "Facebook" ("Inbox") Anda ! Kalau tidak, maka rahasia Anda bisa terbongkar". 


Tulisan ini bukan hendak menakut-nakuti Anda, tapi cuma hendak memberi peringatan. Sebab sesuatu yang kecil bisa menyebabkan sesuatu yang besar. Salah satunya adalah isi Chatting "Facebook" di "Inbox" Anda.

Berkomunikasi lewat chat di "Facebook" ("Inbox") memang sesuatu yang menyenangkan. Fasilitas ini digunakan bukan hanya saja karena bersifat realtime, tapi karena dianggap lebih bisa menjaga kerahasiaan. Sebab kalau menulis atau memberi komentar di dinding akan diketahui oleh orang banyak.

Chat dalam "Facebook" ("Inbox") sama seperti dengan pesan. Semua chat yang kita lakukan juga akan tersimpan sebagai pesan. Tentu kita sering mengalami kejadian, ketika sedang melakukan chatting dan tiba-tiba koneksi teman chatting kita terputus, maka isi chatting kita dianggap sebagai pesan dan muncul di "Inbox".

Pesan kita di "Inbox" akan tetap tersimpan jika tidak dihapus. Begitu juga dengan isi percakapan kita di chat. Semuanya akan tersimpan sebelum dihapus. 
 
Saat ini bahkan mobiilitas aktivis dakwah tak hanya memerlukan interaksi secara langsung saja (bartemu secara fisik maksudnya), tapi mengharuskan bertemu dalam dunia maya juga. Apalagi kalau aktivitis dakwah taraf Nasional, yang jarang sekali bisa bertemu secara langsung mengharuskan untuk berkomunikasi lewat dunia maya. Ada beberapa sarana yang saat ini memang banyak dibutuhkan aktivitas dakwah dalam dunia maya ini,, diantaranya Hp, email maupun sarana chat yang sekarang sedang gila-gilanya…Bermula karena elektronik sekarang menjadi kebutuhan yang penting selain Hp, maka banyak sekali para pemakai sarana ini, apalagi jaman sekarang yang udah tidak harus ke warnet lagi buat bisa internetan. Dengan mudah kita bisa internetan langsung dari Hp, Ipad ataupun Laptop, kita secara langsung soalnya kan dah banyak modem tuh,,, 

Kemudahan akses internet yang disediakan oleh berbagai provider membuat "Facebook" menjadi lebih popular. Di Indonesia "Facebook" merupakan situs yang tergolong banyak diminati, mungkin salah satunya karena "Facebook" termasuk situs yang ‘bersih dan tertutup’. Artinya kita bisa menyeleksi siapa saja yang kita ijinkan masuk dalam daftar teman kita. Kata temanku yang penggemar sastra, "Facebook" ibarat giant novel, dimana setiap penggunanya adalah karakter tersendiri dengan latar belakangnya yang berbeda-beda dan membangun kisah hidupnya sendiri pula. Mereka terhubung satu sama lain oleh hubungan saudara, teman, temannya teman, teman temannya teman, dan seterusnya. Pada halaman home, "Facebook"  menyediakan tempat untuk kita menulis apa yang sedang kita pikirkan, kemudian memberi kesempatan bagi teman-teman kita untuk mengomentarinya. 

Tadinya aku agak canggung dengan fasilitas ini. Apa yang kita tulis sedikit banyak akan menggambarkan bagaimana sosok kita sebenarnya. Aku merasa ruang ini menyerupai ruang untuk pembentukan karakter kita. Hmm… di jaman yang serba virtual ini, aku menemukan cara lain untuk mengenal orang yaitu melalui tulisan-tulisan pada kolom ‘what’s in your mind’ (Apa yang Anda pikirkan?), termasuk juga komentar-komentar yang menyertai status update tersebut, pada halaman home  "Facebook". Aku tertegun membaca note seorang teman “Ketika Iffah mulai luntur” (di balik fenomena "Facebook"). Sebuah note yang mengusik harga diri, moral etik dan kesantunan dalam komunikasi komunal. Wajah "Facebook"  semakin menampilkan make up penggunanya yang tak terhingga. Sebagai sebuah fenomena yang rata menggejala, "Facebook" semakin bergeser dari sekedar alternatif jalinan komunikasi di dunia maya. Ada user yang begitu cerdas memanfaatkan statusnya untuk menyampaikan pesan
yang bermanfaat. Menjadikannya sebagai alat penggerak solidaritas yang massif untuk menghimpun dukungan atas penderitaan orang lain. Ada yang mendisainnya sebagai link dakwah dan pesan Islam sebagai rahmatan lil alamin atau aktivitas lain dalam kerangka amar ma’ruf nahi munkar. Alhamdulillah, terhadap yang demikian ini, kita patut bersyukur dan mengapresiasinya dengan tulus. Tapi ada pula user yang menjadikan statusnya sebagai curhatan dan wallnya bagai “tembok ratapan” atas apa yang dialaminya seharian begitu naif. Ada yang sekedar iseng mengumbar kata yang tidak jelas apa makna di balik apa yang ia tulis. Yang lebih dari itu, ada pula "Facebook"er yang memanfaatkan status pertemanan mayanya sebagai alat mengelabui orang lain. Bahkan ada yang sengaja memasang “jerat” untuk orang yang dibidiknya. Terhadap yang demikian, sangat terasa bahwa pertemanan di dunia maya hanyalah mendiskon waktu tanpa mendapatkan manfaat apa-apa selain kesenangan semu belaka. Bahkan bisa jadi, "Facebook" tak ubahnya seperti menggali lubang ”sial” bagi penggunanya. Maka "Facebook", seperti sebilah pisau bermata dua. Bisa dibilang “STATUS FBMU…HARIMAUMU atau  bisa juga STATUS FB KAMU…HARGA DIRIMU”. 
Bermula dari pembicaraan aku dengan beberapa teman ternyata dunia maya inipun bisa mencetuskan ikhtilat di antara para aktivis dakwah, maka aku berfikir dan ingin membuat diskusi sharing tentang IKHTILAT DUNIA MAYA. Eits… Jangan tidur dulu yaah,,, aku mau mendongengkan sesuatu… (maksudnya ceritaiin deh, nanti kalo mendongeng bener-bener tidur lagi..!!!). Sebut saja nama akhwat itu Melati. Seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi ternama di Indonesia ini memenangkan award di angkatannya sebagai “TER-jaga”. Predikat itu memang wajar saja disandangnya. Hijab yang membalut tubuhnya dengan rapi, kata-kata yang dilontarkannya begitu tertata, lakunya penuh kesopanan, pandangan matanya jauh dari kesan “jelalatan”, dan sikapnya yang tidak berlebihan.Secara fisik, Melati terbilang menyejukkan mata yang memandangnya. Setidaknya beberapa ikhwah sempat menjulukinya Melati DiSas alias Dian Sastro (walaupun agak dipaksakan n_n). Namun, dengan segala kelembutan yang dimilikinya itu, tidak berarti Melati memiliki kadar ketegasan yang minim . Itulah sebabnya, mantan Ketua Keputrian organisasi keislaman kampus ini menjadi inspirasi dan kantung curahan hati rekan-rekan muslimah yang lain. Hampir tak seorangpun laki-laki yang berani menggodanya. Jangankan untuk mengajaknya diskusi, untuk sekadar menegurnya saja tampak sangat segan. Terbukti dari berbagai pengakuan ikhwan-ikhwan rekan kerjanya yang gak berani macam-macam dengan akhwat yang satu ini. Dalam radius 10 meter, Melati dapat membuat para ikhwan tiba-tiba sok cool dan jaim. Benarkah se-terjaga itu? Ternyata tidak juga. Setidaknya demikianlah yang diakui sendiri oleh Melati pada suatu ketika. "Inbox" message di "Facebook"nya Melati didominasi dengan pesan dari teman-teman ikhwannya. Mulai dari rekan sejawat hingga “senior dakwah”. Mulai dari yang misterius sampai yang terang-terangan. Mulai dari urusan umat sampai urusan pribadi. Mulai dari yang satu kampus sampai di luar kampus. Mulai dari pembahasan yang berbobot sampai yang kopong. Mulai dari taushiyah sampai rayuan. Mulai dari tawaran untuk bekerja sama sampai tawaran untuk berumah tangga bersama! (what??? Ckckck..). Melati bukanlah seorang yang terbilang popular dan menonjol. Entah bagaimana ikhwan-ikhwan tersebut mengenal -dalam arti sebenarnya- Melati.  Sebagian dari mereka tidak  Melati kenal dengan baik bahkan tidak kenal sama sekali. Tidak ada sangkaan sama sekali mereka ekspresif mengungkapkan perhatiannya di dunia maya. Maklumlah, jika di dunia nyata, mereka begitu mampu menjaga sikapnya. Perlakuan demikianlah yang akhirnya membuat Melati merasa bersalah karena merasa tidak mampu menjaga izzahnya dengan baik. Tidak ada asap kalau tak ada api, kan? Sahabat, aku yakin pastinya begitu banyak Melati-Melati lain yang mengalami hal yang sama (hayo, ngaku??). ya… Walaupun mungkin tidak “semeriah” (he? Semeriah?? kaya pertunjukkan besar aje^^) kisah nyata di atas. 
 
Sebagian dari para aktivis yang begitu menjaga image-nya seringkali menyembunyikan kenakalannya di balik perkembangan teknologi. Berbuat aji mumpung seolah tak seorang pun bisa tahu. Bersyukurlah Allah berkenan menutupi aib kejahiliyahan para aktivis yang seperti ini. Semoga kebarokahan dakwahnya tidak ikutan luntur kerena hal tersebut. Ada baiknya kita memperhatikan sebuah istilah menarik, yaitu Iktilat dunia maya. Ya… ini sih memang buat-buatan aja supaya kita lebih berhati-hati. Tapi tunggu sebentar, coba teruskan membaca tinjauan berikut ini. Ikhtilat menurut bahasa adalah bercampurnya sesuatu dengan sesuatu. (Lihat Lis?nul ?Arab 9/161-162). Adapun menurut istilah, ikhtilat adalah bercampur baur antara laki-laki dan perempuan yang tidak ada hubungan mahram pada suatu tempat. (Lihat Al-Mufashal f? Ahk?mil Mar’ah: 3/421).Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari balik tabir. Cara demikian itu lebih baik bagi hatimu dan hati mereka.” (Al-Ahz?b: 53).Ayat ini walaupun diturunkan kepada isteri-isteri Nabi shallallahu alaihi wa sallam- namun mencakup pula untuk semua umat Islam, karena telah tetap dalam qaidah Syar’iyyah: Letak pelajaran adalah pada keumuman lafazh bukan pada kekhususan sebab.

Sahabat, Sadarkah kita ketika sedang asyik sendiri berchatting atau kirim pesan "Inbox" dengan “si dia” di hadapan layar dunia maya, sejatinya kita sedang menjalin hubungan “berduan” dengan komunikan kita. Hanya kamu dan dia yang tahu. Memang ini secara fisik terpisah dan mungkin tidak seekstrim “itu”. Tapi setidaknya, waspadai gejolak hati yang bermain. Yang menjadi controller adalah kita sendiri. Jadi, ketika keimanan dalam diri seseorang meredup, maka hal apa yang menjamin tidak ada apa-apa di antara keduanya? Muroqobatullah (Merasakan pengawasan langsung dari Allah Azza wa Jalla) menjadi sebuah keniscayaan yang perlu selalu dipelihara setiap dari kita. Ingatlah, Sahabat, bahwa Allah selalu bersama kita dimana pun kita berada. Dia mengetahui setiap lintasan pikiran, setiap lirikan mata, dan setiap goresan rasa di hati kita. Jangan sampai Allah mendapati kita sedang bermaksiat dengan segala nikmat yang kita terima dariNya. Kecil atau besar, semuanya bukanlah perkara gratis tanpa pertanggungjawaban. Astaghfirullahal Adziim… 

Memang dunia dihiasi dengan hal-hal yang menarik hingga membuaikan para penikmatnya. Tak juga luput di kalangan aktivis dakwah. Butuh kebersamaan dalam usaha berbuat ma’ruf dan mencegah munkar. Karena syaitan senang pada orang-orang yang sendiri, itulah arti penting jama’ah. Semoga Allah menjaga kita di jama’ah dakwah ini. Jejaring sosial itu cukup ada manfaatnya juga sich.. Tapi, mengapa waktu itu sampai ada isu bahwa MUI Jawa Timur akan mengeluarkan fatwa haram "Facebook"? Banyak pro dan kontra yang terjadi, tapi bukan itu yang ingin aku bahas. Aku tidak ingin ikut-ikutan mengeluarkan fatwa, nanti akan lebih banyak protes..hihi (karena emang blom ada ilmunya ). Sedangkan menurut Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan Selatan (Kalsel) Prof H Asywadie Syukur Lc berpendapat, keberadaan "Facebook" (salah satu sarana komunikasi lewat dunia maya) bisa haram dan tidak. “Kita tidak bisa memfatwakan "Facebook" itu haram atau sebaliknya, kecuali melihat kontekstualnya,” kata alumnus Universitas Al Azhar Kairo Mesir itu.Demikian sedikit berita tentang isu fatwa haram "Facebook", tapi lagi-lagi bukan itu inti yang ingin aku sampaikan. Yang aku fikirkan mendengar isu tersebut adalah “tentu ada sesuatu hal yang bisa menyebabkan penggunaan "Facebook" menjadi haram”. Yah, minimal menimbulkan suatu mudhorat bagi diri sendiri atau orang lain. Dunia maya seringkali membuat orang lupa untuk mengontrol ucapan dan tindakan mereka, membuat mereka jadi lebih berani, karena merasa tidak diperhatikan secara langsung, walaupun sebenarnya banyak yang memperhatikan. Aku teringat ceramah seorang ustadz, yang intinya kalau kita berbicara lewat telpon atau sms dengan lawan jenis yang disenangi, maka keberanian kita akan jauh meningkat dari pada berbicara langsung, kita jadi tak segan mengeluarkan kata-kata rayuan dan semacamnya. Oleh karena itu dalam hal ini berbicara lewat telpon lebih “berbahaya” dari bertemu langsung. Beberapa potensial bahaya jejaring dunia maya antara lain ketagihan dan menghabiskan banyak waktu (melalaikan hati dari mengingat ALLAH), menjadi media penyebaran hal-hal berbau “haram”, kalau tidak hati-hati menulis status dan comment bisa menimbulkan prasangka buruk, fitnah, salah paham, dan sebagainya, karena yang membacanya banyak sekali dengan asumsi yang berbeda-beda. "Facebook" bisa juga menipu, misalnya foto atau profile yang ditampilkan tidak sesuai aslinya, sudah ingin melamar misalnya, setelah lihat aslinya eh kok beda ya? Berteman pada dasarnya adalah naluri. Siapapun memiliki kecenderungan mencari teman, menerima teman dan ingin diterima dalam status pertemanan. Sebab sifatnya yang naluriah (fitrah) itu, Islam mengajarkan agar pertemanan hendaknya diikat dalam bingkai saling menghormati, menghargai dan masing-masing pihak menjaga kehormatan pribadi orang lain dalam jalinan pertemanannya. Bahkan sangat dianjurkan apabila memilih atau menerima teman diniatkan untuk menjalin silaturrahim dan persaudaraan. Inilah kerangka dasar pertemanan yang patut dikembangkan dan diindahkan. Mungkin memang berteman di dunia maya menghadirkan sensasi tersendiri, tidak perlu mandi dan dandan untuk berteman (kita lagi ngapain juga orang lain tidak tahu ^^hihi), kita dapat merancang cerita tentang diri sendiri (politik pencitraan tea mereun), seseorang dapat membangun citranya di dunia maya, menjadi lebih relijius, lebih cantik dengan mempermak foto, menjadi suami/istri yang terlihat harmonis dengan foto2 mesra, menjadi orang tua yang terlihat berdedikasi dengan foto2 bareng anak-anak, atau menjadi lebih lembut, pengertian, menjadi apa saja yang bisa dirancang image-nya ^^ (Apakah setiap orang seperti itu? jawabnya tentu tidak, prasangka baik lebih utama didahulukan, mungkin cukup sebagai pengingat untuk diri sendiri  ^_^). Rambu-rambu jalinan pertemanan yang sehat dan hanif sebenarnya sudah sangat jelas kita miliki dalam khazanah Islam; dien yang kita junjung kemuliaannya. Begitu juga dari sisi kejiwaan maupun nilai-nilai moral. Baik nilai-nilai moral yang berkembang di masyarakat (sosial), apatah lagi nilai-nilai Islam sebagai nilai yang paling luhur dalam pola hubungan antar individu seperti telah disinggung. Seyogyanya, seorang "Facebook"er muslim atau muslimah harus setia menampilkan nilai-nilai Islami dan mengembangkannya setiap kali berinteraksi dengan teman di dinding "Facebook"nya. Namun kesadaran demikian belumlah merata dipahami setiap kita. Banyak teman, banyak perhatian, mungkin itu daya tarik dunia maya, seolah-olah kita selalu ada, dan selalu ada orang lain bersama kita. Tetapi aku merasa di tengah hiruk pikuk online online, ada sesuatu yang mengganggu, keramaiannya sering tidak diinginkan, update disana sini, arrrgghhhh pusiiinnnngggggg. Kalau misalnya, sedikit waktu luang online, tengah di perjalanan online, tengah menunggu online, tengah rapat online, tengah belajar online, tengah masak online, tengah ngasuh anak online, haduuhhh kumaha ieuh, kapan kontemplasinya, kapan inget Allah nya, kapan inget dosanya, kapan tobatnya. Mungkin sekarang perlu lebih banyak ruangan yang dahulu dipakai untuk tilawah, merenung, berpikir, shalat dengan khusyuk, juga ruangan-ruangan untuk bercengkrama dengan anak, obrolan dengan suami/istri, berkunjung, menengok tetangga. Singkatnya, agar eksis di dunia non maya (bukan berarti dunia maya tidak ada manfaatnya). Tapi lagi-lagi sesuatu yang berlebihan/over dosis, bukan hasil yang baik yang dituai. Mungkin, ada baiknya pula untuk saat ini aku masih mempertahankan HP yang lama, tanpa koneksi internet, tanpa bisa cek email, cek "Facebook"an, cekcok cekcokan, agar memang online hanya di depan laptop atau Ipad, jika tersambung internet di depan komputer. Selebihnya biarlah aku rasakan kemerdekaan dari hingar bingar online..online..dan..online…Sebenarnya tidak ada yang salah dalam menjalin persahabatan di dunia maya semisal di "Facebook", karena pada prinsipnya silaturahim itu akan menambah rezeki dan memperpanjang usia. Dan manusiawi juga mengungkapkan kekecewaan, selama dilakukan dengan cara yang benar. Permasalahan timbul ketika "Facebook" digunakan secara tidak bijaksana. Atau dengan kata lain, permasalahan akan timbul ketika kita lalai dalam menggunakan media dan fasilitas. Kelalaian pertama adalah kelalaian terhadap waktu. Terbuktilah bahwa waktu luang adalah salah satu nikmat yang kerap disia-siakan. Padahal waktu begitu cepat berlalu dan tidak akan dapat kembali. Padahal kelalaian terhadap waktu adalah kelalaian terhadap kehidupan itu sendiri. Dan kelalaian terhadap waktu pastinya akan berdampak terhadap tidak terpenuhinya amanah waktu yang lain. Waktu untuk bekerja, belajar, beristirahat, beribadah dan sebagainya. Efeknyapun juga terasa mulai dari kian menumpuknya pekerjaan, pemborosan listrik dan dana hingga terisolir dari komunitas sosial.Kelalaian selanjutnya adalah kelalaian terhadap bahaya lisan. Padahal sudah mafhum bahwa mulutmu adalah harimaumu. Betapa banyak orang yang celaka karena tergelincir lidahnya, pun tidak disengaja. Mulai dari canda yang tidak selayaknya hingga umpatan yang menyakitkan. Parahnya lagi, kata-kata yang terungkap adalah bukti tertulis yang tidak dapat hilang begitu saja. Dan ketika setiap kata dan aktivitas menjadi konsumsi publik, seketika itu pula sebagian aib kita akan terungkap.

Kelalaian yang tidak kalah berbahaya adalah kelalaian hati. Kelalaian hati dari mengingat Allah. Atau berbagai kelalaian yang mungkin timbul dari berbagai penyakit hati. Berbangga ketika status dan notenya banyak dikomentari. Ujub dengan status – status dahsyat yang menunjukkan berbagai kelebihan diri. Sombong dengan keelokan diri dan banyaknya kegiatan. Iri dan dengki hati terhadap teman yang (sepertinya) lebih beruntung. Atau takabur dengan data diri yang memang di atas kebanyakan orang. Sebagai contoh beberapa teman-teman "Facebook"ku yang statusnya berisi dengan kata-kata yang bagus mengandung makna dan hikmah, seakan ia terpedaya akan symbol yang bukan tidak mungkin dapat membuat kita celaka, itulah symbol jempol atau juga “like”, semakin banyak like semakin ia akan terpedaya. Terpedaya akan berbagai macam penyakit hati mulai dari ujub dsb. Jika ada yang nge”like” 20 orang, ia akan merasakan rasa yang teman-teman juga mengerti akan hal ini, karena aku yakin teman-teman pasti suka dengan symbol “suka” atau “like” ini.. dengan begitu ia akan membuat status dengan kata-kata yang sedemikian rupa, bisa berisi nasihat dan sebagainya. Tapi apakah merenungi, jika kita menulis begitu di status kita.. apakah kita seperti apa yang digambarkan seperti status yang dituliskan itu yang mungkin di “like” & dikomentari berpuluh-puluh teman kita?? Sudah berhasil dapat symbol “like” dari teman-temannya, ia pasti belum merasa puas, ia akan mencari-cari kata-kata yang sedemikian rupa itu.. entah itu di sebuah buku, Googling di internet, dan sebagainya. Dengan niatan agar mendapatkan symbol “like” lebih banyak dari status yang sudah-sudah. Tapi jika tidak mencerminkan diri kita juga dalam status-statusnya itu buat apa?? Bisa diambil kesimpulan hanya dengan kata “Apa yang Anda pikirkan?” atau ‘what’s in your mind?’ ini.. dapat membuat kita terbuai & terlena.. dan bukan tidak mungkin dapat menghinggapi penyakit hati, mulai dari sombong, ujub, riya, bahkan bisa juga munafik.. na’udzubillah…‘Ujub adalah mengagumi diri sendiri, yaitu ketika kita merasa bahwa diri kita memiliki kelebihan tertentu yang tidak dimiliki orang lain.Ibnul Mubarok pernah berkata, “Perasaan ‘ujub adalah ketika engkau merasa bahwa dirimu memiliki kelebihan tertentu yang tidak dimiliki oleh orang lain.”Imam Al Ghozali menuturkan, “Perasaan ‘ujub adalah kecintaan seseorang pada suatu karunia dan merasa memilikinya sendiri, tanpa mengembalikan keutamaannya kepada Allah. ”Memang setiap orang mempunyai kelebihan tertentu yang tidak dimiliki oleh orang lain, tetapi milik siapakah semua kelebihan itu ? Allah berfirman :“Bagi Allah semua kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antaranya.” (QS. Al Maidah : 120)Ujub merupakan salah satu sifat  nafsu lawwamah yang sangat tercela dan membahayakan, Tidak ada obat yang tepat untuk menghilangkan sifat ujub melainkan dengan cara menggantinya dengan sifat tawadhu. Munculnya sifat ujub  diawali dari rasa heran terhadap diri sendiri, karena melihat dirinya lebih hebat dan istimewa dari yang lain. Dari ujub selanjutnya muncul sifat sombong, yakni dengan cara mengecilkan dan meremehkan orang lain. Dan termasuk kelalaian adalah ketika ada berbagai pembenaran terhadap kelalaian yang sudah dilakukan. Memang faktanya begitu lah, untuk menyambung silaturahim lah, dan berbagai dalih lain yang jika dicari – cari memang tak akan ada habisnya. Mereka yang tidak punya "Facebook" karena ingin memelihara diri jelas lebih baik daripada mereka yang kerap membenarkan berbagai penyalahgunaan dan berdalih atas berbagai kelalaian. Lebih baik dibilang kurang gaul tapi selamat dibandingkan dianggap sok gaul tapi bertabur dosa dan maksiat. Seperti disampaikan salah seorang teman, "Facebook"  ibarat pisau yang manfaat atau mudharatnya tergantung penggunaannya, tulisan ini tidak hendak mengharamkan "Facebook" yang memang tidak ada dalil jelas yang mengharamkannya. Namun, lebih mengingatkan untuk lebih bijaksana dalam menggunaannya, termasuk waspada terhadap berbagai potensi kelalaian yang ada di dalamnya dan berbagai potensi pembenaran yang menyertainya. "Facebook" tetap bisa menjadi sarana silaturahim, memperkaya jaringan yang akan berguna untuk masa depan hingga menjadi sarana penyebar kebaikan dan kebermanfaatan. Namun bagaimanapun, pisau adalah benda tajam yang berbahaya. Jika tidak perlu dan digunakan untuk hal yang bermanfaat, sepertinya lebih bijak untuk tidak menggunakannya. Kalau masih ingin menggunakan jejaring sosial, maka kita wajib untuk lebih sadar dan hati-hati dalam menulis status, memberi comment, dan melakukan aktivitas lainnya,  sehingga tidak terjerumus ke dalam status fatwa “haram”. ^_^ itu bukan fatwa dari aku yah, tapi itu tergantung teman-teman menyikapinya gimana.. ^^


Mari berlomba-lomba menjadi manusia yang lebih baik,,, aku sendiri masih belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik. Semoga kita selalu istiqomah di jalan Nya… Saling mengingatkan dalam kebajikan yaa akhi wa ukhti,,, Bagaimana dengan antum semua?? Setuju atau tidak?? Kalo tidak setuju juga tidak apa-apa ini hanya sekelumit pendapat aku saja dan sekedar nasihat untuk teman-teman sekalian dan khususnya untuk diri aku pribadi…alfiyandi (fandie^^).:: Hidup Lebih Berarti Dengan Berbagi::.
 
Sumber;
1. www.carakumembuat.com › Facebook
2. https://www.facebook.com/.../hati-hati-dengan-status-facebookmu-tausiy.
3. laely.widjajati.photos.facebook/ALHAMDULILLAH...Limpahan RahmatMU pd saat Dhuha....
4. laely.widjajati.photos.profile.of.picturesfacebook/
5. laely.widjajati.photos.facebook/Hati-hati dg Hati.......
6. laely.widjajati.photos.facebook/Indahnya Kebersamaan..........
7. laely.widjajati.photos.facebook/mobile-uploud......

Sabtu, 03 Agustus 2013

"PERKEMBANGAN PSIKOLOGIS REMAJA"

"Bicara tentang "psikologis remaja" tentu tak lepas dari perkembangan "psikologis remaja", yang mana dapat dikatakan suatu fase perkembangan yang dialami seseorang ketika memasuki usia 12-22 tahun." 



Masa "remaja" merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Hal ini sering membuat bingung baik oleh si "remaja" sendiri dan orang tua. Banyak "remaja" terjerumus ke dalam kerusakan moral ketika mencoba mencari jati diri. Begitu juga, orang tua sering kali tidak tahu harus berbuat apa kepada anak "remaja"nya yang sepertinya mulai nakal. Disinilah fungsi "psikologi remaja", yaitu untuk memahami cara berpikir para "remaja".

Pada fase perkembangan "psikologis remaja", anak harus mampu meninggalkan sifat kekanak-kanakannya. 

Perkembangan "Psikologi Remaja"

1. Siapa "Remaja" itu?

Menurut Sri Rumini & Siti Sundari (2004: 53) masa "remaja" adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek/ fungsi untuk memasuki masa dewasa. Rentang waktu usia "remaja" ini biasanya dibedakan atas tiga, yaitu 12 – 15 tahun = masa "remaja" awal, 15 – 18 tahun = masa "remaja" pertengahan, dan 18 – 21 tahun = masa "remaja" akhir.
  
2. Ciri-ciri atau Karakteristik "Psikologi Remaja"

a. Perkembangan Fisik "Psikologi Remaja"

Fase "remaja" adalah periode kehidupan manusia yang sangat strategis, penting dan berdampak luas bagi perkembangan berikutnya. Pada "remaja" awal, pertumbuhan fisiknya sangat pesat tetapi tidak proporsional, misalnya pada hidung, tangan, dan kaki. Pada "remaja" akhir,proporsi tubuh mencapai ukuran tubuh orang dewasa dalam semua bagiannya (Syamsu Yusuf :2005). Berkaitan dengan perkembangan fisik ini, perkembangan terpenting adalah aspek seksualitas ini dapat dipilah menjadi dua bagian, yakni :

1) Ciri-ciri Seks Primer
Perkembangan "psikologis remaja" pria mengalami pertumbuhan pesat pada organ testis, pembuluh yang memproduksi sperma dan kelenjar prostat. Kematangan organ-organ seksualitas ini memungkinkan "remaja" pria, sekitar usia 14 – 15 tahun, mengalami “mimpi basah”, keluar sperma. Pada "remaja" wanita, terjadi pertumbuhan cepat pada organ rahim dan ovarium yang memproduksi ovum (sel telur) dan hormon untuk kehamilan. Akibatnya terjadilah siklus “menarche” (menstruasi pertama). Siklus awal menstruasi sering diiringi dengan sakit kepala, sakit pinggang, kelelahan, depresi, dan mudah tersinggung. Psi
kologi remaja
2) Ciri-ciri Seks Sekunder
Perkembangan "psikologis remaja" pada seksualitas sekunder adalah pertumbuhan yang melengkapi kematangan individu sehingga tampak sebagai lelaki atau perempuan. "Remaja" pria mengalami pertumbuhan bulu-bulu pada kumis, jambang, janggut, tangan, kaki, ketiak, dan kelaminnya. Pada pria telah tumbuh jakun dan suara "remaja" pria berubah menjadi parau dan rendah. Kulit berubah menjadi kasar. Pada "remaja" wanita juga mengalami pertumbuhan bulu-bulu secara lebih terbatas, yakni pada ketiak dan kelamin. Pertumbuhan juga terjadi pada kelenjar yang bakal memproduksi air susu di buah dada, serta pertumbuhan pada pinggul sehingga menjadi wanita dewasa secara proporsional.

b. Perkembangan Kognitif "Psikologi Remaja"

Pertumbuhan otak mencapai kesempurnaan pada usia 12–20 thn secara fungsional, perkembangan kognitif (kemampuan berfikir) "remaja" dapat digambarkan sebagai berikut

a. Secara intelektual "remaja" mulai dapat berfikir logis tentang gagasan abstrak
b. Berfungsinya kegiatan kognitif tingkat tinggi yaitu membuat rencana, strategi, membuat keputusan-keputusan, serta memecahkan masalah
c. Sudah mampu menggunakan abstraksi-abstraksi, membedakan yang konkrit dengan yang abstrak
d. Munculnya kemampuan nalar secara ilmiah, belajar menguji hipotesis
e. Memikirkan masa depan, perencanaan, dan mengeksplorasi alternatif untuk mencapainya psikologi remaja
f. Mulai menyadari proses berfikir efisien dan belajar berinstropeksi
g. Wawasan berfikirnya semakin meluas, bisa meliputi agama, keadilan, moralitas, dan identitas (jati diri)

c. Perkembangan Emosi "Psikologi Remaja"

"Remaja" mengalami puncak emosionalitasnya, perkembangan emosi tingkat tinggi. Perkembangan emosi "remaja" awal menunjukkan sifat sensitif, reaktif yang kuat, emosinya bersifat negatif dan temperamental (mudah tersinggung, marah, sedih, dan murung). Sedangkan "remaja" akhir sudah mulai mampu mengendalikannya. "Remaja" yang berkembang di lingkungan yang kurang kondusif, kematangan emosionalnya terhambat. Sehingga sering mengalami akibat negatif berupa tingkah laku “salah suai”, misalnya : psikologi remaja
1) Agresif : melawan, keras kepala, berkelahi, suka menggangu dan lain-lainnya
2) Lari dari kenyataan (regresif) : suka melamun, pendiam, senang menyendiri, mengkonsumsi obat penenang, minuman keras, atau obat terlarang

Sedangkan "remaja" yang tinggal di lingkungan yang kondusif dan harmonis dapat membantu kematangan emosi "remaja" menjadi :

1) Adekuasi (ketepatan) emosi : cinta, kasih sayang, simpati, altruis (senang menolong), respek (sikap hormat dan menghormati orang lain), ramah, dan lain-lainnya
2) Mengendalikan emosi : tidak mudah tersinggung, tidak agresif, wajar, optimistik, tidak meledak-ledak, menghadapi kegagalan secara sehat dan bijak

d. Pekembangan Moral "Psikologi Remaja"

"Remaja" sudah mampu berperilaku yang tidak hanya mengejar kepuasan fisik saja, tetapi meningkat pada tatanan "psikologis" (rasa diterima, dihargai, dan penilaian positif dari orang lain). ps
ikologi remaja
e. Perkembangan Sosial "Psikologi Remaja"

"Remaja" telah mengalami perkembangan kemampuan untuk memahami orang lain (social cognition) dan menjalin persahabatan. "Remaja" memilih teman yang memiliki sifat dan kualitas "psikologis" yang relatif sama dengan dirinya, misalnya sama hobi, minat, sikap, nilai-nilai, dan kepribadiannya. 

Perkembangan sikap yang cukup rawan pada "remaja" adalah sikap comformity yaitu kecenderungan untuk menyerah dan mengikuti bagaimana teman sebayanya berbuat. Misalnya dalam hal pendapat, pikiran, nilai-nilai, gaya hidup, kebiasaan, kegemaran, keinginan, dan lain-lainnya.

f. Perkembangan Kepribadian "Psikologi Remaja"

"Psikologi remaja". Isu sentral pada "remaja" adalah masa berkembangnya identitas diri (jati diri) yang bakal menjadi dasar bagi masa dewasa. "Remaja" mulai sibuk dan heboh dengan problem “siapa saya?” (Who am I ?). Terkait dengan hal tersebut "remaja" juga risau mencari idola-idola dalam hidupnya yang dijadikan tokoh panutan dan kebanggaan. Faktor-faktor penting dalam perkembangan integritas pribadi "remaja" ("psikologi remaja") adalah :

1) Pertumbuhan fisik semakin dewasa, membawa konsekuensi untuk berperilaku dewasa pula
2) Kematangan seksual berimplikasi kepada dorongan dan emosi-emosi baru
3) Munculnya kesadaran terhadap diri dan mengevaluasi kembali obsesi dan cita-citanya
4) Kebutuhan interaksi dan persahabatan lebih luas dengan teman sejenis dan lawan jenis
5) Munculnya konflik-konflik sebagai akibat masa transisi dari masa anak menuju dewasa. "Remaja" akhir sudah mulai dapat memahami, mengarahkan, mengembangkan, dan memelihara identitas diri


Tindakan antisipasi "remaja" akhir adalah: 

1) Berusaha bersikap hati-hati dalam berperilaku dan menyikapi kelebihan dirinya
2) Mengkaji tujuan dan keputusan untuk menjadi model manusia yang diidamkan
3) Memperhatikan etika masyarakat, kehendak orang tua, dan sikap teman-temannya
4) Mengembangkan sikap-sikap pribadinya

g. Perkembangan Kesadaran Beragama 

Iman dan hati adalah penentu perilaku dan perbuatan seseorang. Bagaimana perkembangan spiritual ini terjadi pada "psikologis remaja"? Sesuai dengan perkembangannya kemampuan kritis "psikologis remaja" hingga menyoroti nilai-nilai agama dengan cermat. Mereka mulai membawa nilai-nilai agama ke dalam kalbu dan kehidupannya. Tetapi mereka juga mengamati secara kritis kepincangan-kepincangan di masyarakat yang gaya hidupnya kurang memedulikan nilai agama, bersifat munafik, tidak jujur, dan perilaku amoral lainnya. Di sinilah idealisme keimanan dan spiritual "remaja" mengalami benturan-benturan dan ujian.

Sumber:
1. belajarpsikologi.com › Psikologi Remaja
2. www.psikoterapis.com/?en_psikologi-remaja%2C64
3. laely.widjajati.photos.facebook/ASSALAMU'ALAIKUM Wr.-Wb.-Met-Pagi-Smuanya.-Met-Aktivitas............
4. laely.widjajati.photos.facebook/LOMBOK.........TOMAT.............
5. laely.widjajati.photos.facebook/with-najma-ilma......

"ARTI SEBUAH MA'AF"

"Maaf", satu kata yang mungkin mudah bagi setiap orang ucapkan tetapi tidak mudah dilakukan".

Bukannya tidak ingin me"Maaf"kan. Tapi "Maaf" yang benar-benar diutarakan dengan tulus dan "Maaf" yang sekedar diucapkan tanpa beban ketika berbuat kesalahan terasa berbeda.
That's why saya muak pada orang-orang yang selalu bilang
"Maaf"..."Maaf"...dan "Maaf". Toh, diulangi lagi lalu minta "Maaf" lagi. Begitu seterusnya.
Semakin mudah kata
"Maaf" yang keluar, semakin pudar nilai dari arti sebuah "Maaf". Bahkan tak bernilai.

Jika beberapa kesalahan dianggap clear dengan kata
"Maaf" kecenderungan untuk mengulangi tetap ada.
"Gakpapa, yang penting kan udah minta
"Maaf"
"Maaf" ya"
 
"Maaf" ya"
"Maaf" ya"
"Maaf"in aku ya!"

Meminta
"Maaf"lah dengan sungguh-sungguh dan niat yang tulus serta rasa bersalah sehingga tidak ingin mengulangi lagi.
Kesalahan adalah kesalahan. Dimana salah tidak akan menjadi benar dengan kata
"Maaf". Karena "Maaf" hanya sebagai permintaan untuk men-Tolerir kesalahan yang telah diperbuat.

Sumber:
1. anisagumay.blogspot.com/.../arti-sebuah-kata-maaf.ht...
2. pohonsingkong.blogspot.com/.../arti-sebuah-maaf.htm...

Jumat, 02 Agustus 2013

"HUKUM WANITA MELAKSANAKAN I'TIKAF"

"Karena yang sering melaksanakan "i’tikaf" adalah para lelaki, muncul kesan bahwa ibadah "i’tikaf" khusus dilaksanakan oleh kaum Adam". 



Sehingga ada anggapan bahwa kaum "wanita" tidak disyariatkan untuk melaksanakannya. Bagaimana sebenarnya hukum "i’tikaf" ini bagi kaum "wanita" yang juga ingin mendapatkan pahala besar melalui ibadah puncak di bulan penuh berkah?

"I’tikaf" termasuk amal shalih yang disyariatkan pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadlan. Dan sesungguhnya Nabi SAW biasa ber"i’tikaf" pada sepuluh hari terahir dari Ramadlan itu. Dalam Shahih Al-Bukhari (2026) dan Muslim (1172) dari jalur ‘Urwah, dari Aisyah radliyallaahu 'anha,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

"Adalah Nabi SAW ber"i’tikaf" pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadlan hingga Allah mewafatkannya. Kemudian "i’tikaf" dilanjutkan oleh istri-istri beliau." Hal itu menunjukkan bahwa"i’tikaf"  disyariatkan bagi kaum laki-laki dan wanita. Para ulama juga telah berijma’ (bersepakat) "i’tikaf" laki-laki tidak sah kecuali di masjid. Mereka berdalil dengan firman Allah SWT,

 وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

"Dan janganlah kamu campuri mereka itu (istri-istrimua), sedang kamu ber"i’tikaf" dalam masjid." (QS. Al-Baqarah: 187) dan juga dengan dasar pelaksanaan Nabi SAW yang di masjid.

Jumhur ulama dari kalangan Madhab Hanafi, Maliki, syafi’i, Hambali, dan lainnya  berpandangan bahwa kaum "wanita" seperti laki-laki, tidak sah "i’tikaf"nya kecuali di masjid. Maka tidak sah "i’tikaf" yang dilaksanakannya di masjid rumahnya. Pendapat ini berbeda
dengan yang dipahami madhab Hambali, mereka berkata, “Sah "i’tikaf" seorang "wanita" yang dilaksanakan di masjid rumahnya.” Sedangkan pendapat jumhur jelas lebih benar, karena pada dasarnya laki-laki dan "wanita" sama dalam hukum kecuali ada dalil yang menghususkannya. Karena itu disyariatkan bagi "wanita" yang akan ber"i’tikaf" untuk melaksanakannya di masjid-masjid. Namun perlu diketahui, bagi "wanita" yang memiliki suami tidak boleh ber"i’tikaf" kecuali dengan izin suaminya menurut pendapat jumhur ulama. Nabi SAW telah bersabda,

لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِه

Janganlah seorang "wanita" berpuasa sementara suaminya ada bersamanya, kecuali dengan seizinnya.” (HR. Al-Bukhari no. 5195 dan Muslim no. 1026 dari jalur Thariq Abu al-Zinad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah radliyallaahu 'anhu)

Apabila dalam urusan puasa saja seperti ini maka dalam "i’tikaf" jauh lebih (ditekankan untuk mendapat izin dari suaminya), karena hak-hak suaminya yang akan terabaikan jauh lebih banyak.

Begitu juga perlu diingatkan, bahwa apabila kondisi diamnya seorang "wanita" di masjid tidak terjamin keamananya, seperti keberadaannya di situ membahayakan bagi dirinya atau akan menjadi tontonan, maka ia tidak boleh ber"i’tikaf". Karena itulah para fuqaha’ menganjurkan bagi "wanita" apabila ber"i’tikaf" supaya menutup diri dengan kemah dan semisalnya
berdasarkan perbuatan Aisyah, Hafshah, Zainab pada masa Nabi SAW

Diterangkan dalam Shahih Al-Bukhari (2033) dan Muslim (1173) dari jalur Yahya bin Sa’id bin Amrah, dari Aisyah,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَادَ أَنْ يَعْتَكِفَ فَلَمَّا انْصَرَفَ إِلَى الْمَكَانِ الَّذِي أَرَادَ أَنْ يَعْتَكِفَ إِذَا أَخْبِيَةٌ خِبَاءُ عَائِشَةَ وَخِبَاءُ حَفْصَةَ وَخِبَاءُ زَيْنَبَ
Bahwasanya Nabi SAW hendak ber"i’tikaf" Maka ketika beliau beranjak ke tempat yang hendak dijadikan ber"i’tikaf" di sana sudah ada beberapa kemah, yaitu kemah Aisyah, kemah Hafshah, dan kemah Zainab.

Semua itu menunjukkan bahwa disyariatkan mengadakan penutup (satir) bagi "wanita" yang ber"i’tikaf" dengan tenda (kemah) dan semisalnya. Wallahu Ta’ala a’lam.

Sumber:
1. www.voa-islam.com/.../bolehkah-wanita-melaksanaka...
2. laely.widjajati.timeline.photos.facebook/AYO-I'TIKAF....
3. laely.widjajati.timeline.photos.facebook/Bismikallahumma-ahya-wa-amuutu

4. laely.widjajati.timeline.photos.facebook/ALHAMDULILLAH ATAS SMUA BERKAH-MU, JADIKANLAH-HAMBA-MU-INI-ORG-YG-PANDAI-BERSYUKUR.....

"KERIKIL PENGGANJAL PERUT RASULULLAH SAW"

"Islam sampai kepada kita saat ini tidak lain berkat jasa Baginda "Rasulullah SAW" sebagai sosok penyampai risalah Allah yang benar dan diridhai". 
 
Dan nanti di padang mahsyar, tiap umat Islam pasti akan meminta syafa’at dari beliau dan menginginkan berada di barisan beliau. 
 
Namun, pengakuan tidaklah cukup sekadar pengakuan. Pasti yang mengaku umat beliau akan berusaha mengikuti jejak beliau dengan jalan mengikuti sunnah-sunnah beliau dan senantiasa membasahi bibir ini dengan mendoakan beliau dengan cara memperbanyak shalawat kepada "Rasulullah"
 
Sejarah tak akan mampu mengingkari betapa indahnya akhlak dan budi pekerti "Rasulullah" tercinta, Sayyidina Muhammad ShAW hingga salah seorang istri beliau, Sayyidatina Aisyah mengatakan bahwa akhlak "Rasulullah" adalah “Al-Qur’an”. Tidak satu perkataan "Rasulullah" merupakan implementasi dari hawa nafsu beliau, melainkan adalah berasal dari wahyu illahi. Begitu halus dan lembutnya perilaku keseharian beliau. "Rasulullah" adalah sosok yang mandiri dengan sifat tawadhu’ yang tiada tandingnya.
 
Beliau pernah menjahit sendiri pakaiannya yang koyak tanpa harus menyuruh istrinya. Dalam berkeluarga, beliau adalah sosok yang ringan tangan dan tidak segan-segan untuk membantu pekerjaan istrinya di dapur.
Selain itu dikisahkan bahwa beliau tiada merasa canggung makan disamping seorang tua yang penuh kudis, kotor lagi miskin. Beliau adalah sosok yang paling sabar dimana ketika itu pernah kain beliau ditarik oleh seorang Badui hingga membekas merah di lehernya, namun beliau hanya diam dan tidak marah.
 
Dalam satu riwayat dikisahkan bahwa ketika "Rasulullah SAW" mengimami shalat berjamaah, para sahabat mendapati seolah-olah setiap "Rasulullah SAW" berpindah rukun terasa susah sekali dan terdengar bunyi yang aneh.

Seusai shalat, salah seorang sahabat, Sayyidina Umar bin Khattab RA bertanya, "Yaa "Rasulullah", kami melihat seolah-olah baginda menanggung penderitaan yang amat berat. Sedang sakitkah engkau yaa "Rasulullah"?"

"Tidak yaa Umar!. Alhamdulillah aku sehat dan segar" jawab Rasulullah.

"Yaa "Rasulullah", mengapa setiap kali baginda menggerakkan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi-sendi tubuh baginda saling bergesekkan? Kami yakin baginda sedang sakit". Desak Sayyidina Umar penuh cemas.

Akhirnya, "Rasulullah" pun mengangkat jubahnya. Para sahabat terkejut ketika mendapati perut "Rasulullah SAW" yang kempis tengah dililit oleh sehelai kain yang berisi batu "kerikil" sebagai penahan rasa lapar. Ternyata, batu-batu "kerikil" itulah yang menimbulkan bunyi aneh setiap kali tubuh "Rasulullah SAW" bergerak.

Para sahabat pun berkata, "Yaa "Rasulullah", adakah bila baginda menyatakan lapar dan tidak punya makanan, kami tidak akan mencarikannya untuk tuan?"

Baginda "Rasulullah" pun menjawab dengan lembut, "Tidak para sahabatku. Aku tau, apapun akan kalian korbankan demi "Rasul"mu. Tetapi, apa jawabanku nanti di hadapan Allah, apabila aku sebagai pemimpin, menjadi beban bagi umatnya? Biarlah rasa lapar ini sbagai hadiah dari Allah buatku, agar kelak umatku tidak ada yang kelaparan di dunia ini, lebih-lebih di akhirat nanti"

Teramat agung pribadi "Rasulullah SAW" sehingga para sahabat yang ditanya oleh seorang badui tentang akhlak "Rasulullah SAW" hanya mampu menangis karena tak sanggup untuk menggambarkan betapa mulia akhlak beliau SAW ! Beliau diutus tidak lain untuk menyempurnakan akhlak manusia dan sebagai suri tauladan yang baik sepanjang zaman.


اللهم صلِّ وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعيــــــن
 
 Sumber:
1.  mutakhorij-assunniyyah.blogspot.com/.../kerikil-kerik...
2.  www.jurnalhajiumroh.com/.../kisah-rasulullah-dan-bat...
3.  laely.widjajati.facebook.photos/GOOD-NIGHT-4-ALL....... NICE DREAM.....
4.  laely.widjajati.facebook.photos/Waktunya-Shalat-Duha....


MusicPlaylistView Profile