Minggu, 25 November 2012

"SOSIOLOGI PEDESAAN"

"Sosiologi Pedesaan" tumbuh pertama kali dan berkembang di Amerika Serikat. Pada mulanya ilmu ini bermula dari para pendeta Kristen yang hidup di daerah "pedesaan" (pertanian)".


"Sosiologi" memandang manusia sebagai makhluk yang multidimensi dan dihargai secara utuh. Manusia tidak hanya memiliki motivasi ekonomi (untung, efisien, kaya), namun memiliki dimensi-dimensi lain bahwa manusia juga punya motivasi, jiwa, orientasi hidup, etika, estetika, dunia batiniah, harga diri, hubungan transedental dengan Tuhan, dan lain-lain.  

Batasan "Sosiologi" adalah ilmu yang mempelajari manusia dalam hubungan kelompoknya. Yang mencakup hubungan di dalam dan antara kelompok-kelompok manusia. Unsur-unsur yang terdapat dalam batasan ini adalah manusia, hubungan dan kelompok. Perkataan socius dalam bahasa Latin yang berarti teman, dan logos adalah ilmu atau pengetahuan, teman disini mempunyai arti yang luas dari pada yang dimaksudkan sehari-hari, yaitu pihak lain dalam suatu hubungan. Jadi bisa diartikan kawan maupun lawan.

Sosiologi Pedesaan merupakan suatu cabang sosiologi yang mempelajari gejala sosial di pedesaan, berawal dari kata desa maka pengertian desa harus terlebih dahulu di pahami karena objek bagian dari ilmu sosiologi pedesaan adalah desa. Menurut Undang-undang No. 5 Tahun 1979 Tentang pemerintah daerah Desa adalah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat hukum, yang mempunyai organisasi pemerintahan terendah, langsung di bawah camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam ikatan negara kesatuan Republik Indonesia. Pengertian desa adalah suatu kesatuan hukum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat yang berkuasa mengadakan pemerintahan sendiri (Sutardjo Kartohadikusumo)
C.S. Kansil, Desa adalah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat termasuk di dalamnya kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai organisasi pemerntahan terendah langsung dibawah camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia
Sedangkan sosiologi pedesaan, banyak sekali ahli mengemukakan definisi sosiologi pedesaan dengan segala kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Merupakan suatu cabang sosiologi yang mempelajari gejala sosial di pedesaan sedangkan menurut beberapa ahli, Menurut T. Lynn Smith dan Paul E. Zapt sosiologi pedesaan adalah kumpulan pengetahuan yang telah disistematisasi yang dihasilkan lewat penerapan metode ilmiah ke dalam studi tentang masyarakat pedesaan, struktur organisasinya, proses-prosesnya, sistem sosialnya yang pokok dan perubahan-perubahannya (Rahardjo, 1999).
Priyotamtomo (2001) sosiologi pedesaan merupakan suatu studi yang melukiskan hubungan manusia di dalam dan antar kelompok yang ada di lingkungan pedesaan. Pengertian “pedesaan” mencakup wilayah yang disebut “rural” dibedakan dengan “urban”. Secara lengkap pedesaan diartikan sebagai kawasan tempat tinggal dan kerja yang secara jelas dapat dipisahkan dari kawasan yang lain yang disebut “kota
Smith dan Zopt (1970) melahirkan Sosiologi Pedesaan dan melahirkan definisi
Ilmu yang mengkaji hubungan anggota masyarakat di dalam dan antara kelompok kelompokdilingkungan pedesaan Rogers Ilmu yang mempelajari fenomena masyarakat dalam setting pedesaan
Berbeda sosiolog telah mendefinisikan sosiologi pedesaan dalam berbagai cara. Beberapa definisi dapat dipelajari di sini.
1. Sanderson mengatakan bahwa "adalah sosiologi pedesaan sosiologi pedesaan hidup di lingkungan pedesaan".
2. Bertand mengatakan bahwa dalam arti luas, "sosiologi pedesaan adalah studi tentang hubungan manusia dalam lingkungan pedesaan".
3. F. Stuard Chapin mendefinisikan sosiologi pedesaan sebagai berikut: "sosiologi pedesaan yang hidup adalah studi tentang penduduk pedesaan, organisasi sosial pedesaan dan proses-proses sosial komparatif, dalam masyarakat pedesaan".
4. AR Desai mengatakan bahwa " sosiologi pedesaan adalah ilmu masyarakat pedesaan ... Ini adalah ilmu tentang hukum perkembangan masyarakat pedesaan".
Hal ini jelas dari definisi yang disebutkan di atas bahwa studi sosiologi pedesaan interaksi sosial, aktivitas dan lembaga-lembaga dan perubahan sosial yang terjadi di masyarakat pedesaan. Ini studi pedesaan organisasi sosial, struktur dan mensetup. Memberikan kita bahwa pengetahuan tentang fenomena sosial pedesaan
"Sosiologi adalah studi tentang kehidupan sosial manusia, kelompok dan masyarakat. Hal ini yang memukau dan menarik perusahaan, karena sebagai subyek perilaku kita sendiri sebagai makhluk sosial. Ruang lingkup sosiologi sangat luas, mulai dari analisis lewat pertemuan antara individu di jalan sampai penyelidikan di seluruh dunia proses sosial ". Anthony Giddens ( "Sosiologi", 1989)
Ada pendapat yang selalu menekankan bahwa desa dianggap sebagai desa pertanian, padahal pada kenyataan ada juga desa yang nonpertanian.
Definisi lain masih menggambarkan desa dengan ideal yang artinya desa secara eksplisit berbeda dengan kota. Dengan banyaknya faktor-faktor eksternal yang masuk dan mempengaruhi kehidupan desa maka dapat dikatakan bahwa komunitas desa mulai berkembang ke arah komunitas kota, di mana adat-istiadat, tradisi atau pola kebudayaan tradisional desa mengalami proses perubahan.
Howard Newby mengatakan bahwa dalam mempelajari sosiologi pedesaan hendaknya diarahkan pada studi tentang adaptasi masyarakat desa terhadap pengaruh-pengaruh kapitalisme modern yang masuk ke desa.


Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/2241970-pengertian-sosiologi-pedesaan/#ixzz3mDBw3Tzb

"Sosiologi Pedesaan"adalah "Sosiologi" dari Kehidupan "Pedesaan". Maksud ungkapan tersebut ialah bahwa "Sosiologi Pedesaan" itu merupakan suatu pengetahuan yang sistematik sebagai hasil penerapan metode ilmiah di dalam upaya mempelajari masyarakat "pedesaan", struktur dan organisasi sosial yang ada, sistem dasar masyarakat, dan proses perubahan sosial yang terjadi. (Smith dan Zopf (1970) dalam "Sosiologi Pedesaan" (suatu pengantar)” Sugihen Bahrein T, 1991)

"Sosiologi Pedesaan" tumbuh pertama kali dan berkembang di Amerika Serikat. Pada mulanya ilmu ini bermula dari para pendeta Kristen yang hidup di daerah "pedesaan" (pertanian). Mereka tidak hanya memiliki permasalahan dalam kehidupan sosial mereka karena kedatangan para migran dan mengambil tanah yang tak bertuan, namun mereka juga mencoba menuliskan bagaimana kondisi sosial ekonomi masyarakat "pedesaan" di bagian utara negara itu. 

Lewat tulisan seperti itu mereka mencari pemecahan problema yang timbul di dalam masyarakat "pedesaan". Masalah-masalah tersebut timbul karena lahirnya industri di benua ini yang menyebabkan sebagian daerah "pedesaan" menjadi terbengkalai. "Sosiologi Pedesaan" pada saat itu cenderung dirangsang untuk ikut memperbaiki kehidupan masyarakat desa Amerika Serikat. Maka salah satu ciri khas "Sosiologi Pedesaan" adalah penekanannya pada aspek praktis, sekalipun masih dalam kategori ilmu murni (pure science). Di samping itu "Sosiologi Pedesaan" juga masih dilekati oleh komitmen moral yang kental untuk memperbaiki (membangun) kehidupan masyarakat desa. (Sugihen Bahrein T, 1991)

Pengertian "Sosiologi Pedesaan" memiliki beberapa versi yang berbeda, diantaranya ialah menurut Smith dan Zopt, "Sosiologi Pedesaan" adalah ilmu yang mengkaji hubungan anggota masyarakat di dalam dan antara kelompok-kelompok di lingkungan "pedesaan"

Sedang menurut Allan Johnson "Sosiologi Pedesaan" adalah ilmu yang mempelajari kehidupan dan perilaku, terutama dalam kaitannya dengan suatu sistem sosial dan bagaimana sistem tersebut mempengaruhi orang dan bagaimana pula orang yang terlibat didalamnya mempengaruhi sistem tersebut.

Dari kedua pengertian diatas dapat dikatakan juga bahwa "Sosiologi Pedesaan" merupakan ilmu yang mengkaji kehidupan masyarakat, baik itu hubungan antar anggota masyarakat ataupun perilaku antar anggota masyarakat dan sistem yang berlaku dalam suatu masyarakat tertentu.

Jadi dapat dikatakan pula bahwa "Sosiologi Pedesaan" adalah "Sosiologi" yang melukiskan dan mencakup hubungan manusia di dalamnya dan antara kelompok – kelompok yang ada di lingkungan "pedesaan" (rural dalam bahasa inggris). Perkataan "pedesaan" dalam pemakaian sehari- hari mudah saja untuk dimengerti. Tetapi jika harus diberikan batasan yang tepat adalah sukar juga. Jika kita ikuti; Maksud untuk mempelajari "Sosiologi Pedesaan" adalah untuk mengumpulkan keterangan mengenai masyarakat "pedesaan" dan hubungan-hubungannya.yang melukiskan setelitinya tingkah laku, sikap, perasaan, motif, dan kegiatan manusia yang hidup dalam lingkungan "pedesaan" itu. Hasil dari penelitian s"Sosiologi Pedesaan" tadi dapat dipergunakan untuk usaha-usaha perbaikan penghidupan dan kehidupan manusia "pedesaan"; Misalnya usaha penyuluhan pertanian.

Banyak sekali ahli mengemukakan definisi "Sosiologi Pedesaan" dengan segala kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Ada pendapat yang selalu menekankan bahwa desa dianggap sebagai desa pertanian, padahal pada kenyataan ada juga desa yang nonpertanian. Definisi lain masih menggambarkan desa dengan ideal yang artinya desa secara eksplisit berbeda dengan kota. Dengan banyaknya faktor-faktor eksternal yang masuk dan mempengaruhi kehidupan desa maka dapat dikatakan bahwa komunitas desa mulai berkembang ke arah komunitas kota, di mana adat-istiadat, tradisi atau pola kebudayaan tradisional desa mengalami proses perubahan.
 
Pengertian "Sosiologi Pedesaan" adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat sebagai keseluruhan yakni hubungan antara manusia dengan manusia ,manusia dengan kelompok  dan kelompok dengan masyarakat ,baik formal maupun  material , baik statis maupun dinamis. "Pedesaan" berasal dari suku kata desa yang berasal dari bahasa Sansekerta yaitu desi yang berarti tempat tinggal. Pengertian desa disini adalah suatu kesatuan masyarakat dalam wilayah jelas baik menurut suasana yang formal maupun informal. dimana satuan terkecilnya terdiri dari keluarga yang mempunyai wilayah dan otonomi sendiri dalam penyelengaraan kehidupan dan keterikatan antara keluarga-keluarga dalam kelompok masyarakat terjadi sebagai akibat adanya unsur penguat yang bersifat religius, tradisi dan adat istiadat.
 
Howard Newby mengatakan bahwa dalam mempelajari "Sosiologi Pedesaan" hendaknya diarahkan pada studi tentang adaptasi masyarakat desa terhadap pengaruh-pengaruh kapitalisme modern yang masuk ke desa. Latar belakang munculnya spesialisi "Sosiologi Pedesaan" karena permasalahan sosial yang timbul di desa di Amerika Serikat, yaitu datangnya para migran dan mengambil tanah yang tak bertuan serta mulai berkembangnya era industrialisasi di Amerika Serikat

Sumber:
1. sosiologipedesaan.blogspot.com/ - Cache
2. pratamasandra.wordpress.com/2010/11/17/sosiologi-pedesaan/
3. blog.umy.ac.id/sakinah/2012/04/.../sosiologi-pedesaan-dan-perkotaan/ - Cache
4. fisipsosiologi.wordpress.com/mata-kuliah/sosiologi-pedesaan/ - Cache
5. mojopahitagrolestari.blogspot.com
6. susianah-affandy.blogspot.com
7. myanotes.blogspot.com

Sabtu, 24 November 2012

"REALITAS SOSIAL (BAHASAN SOSIOLOGI)"

"Seorang sosiolog harus bisa menyingkap berbagai tabir dan mengungkap tiap helai tabir menjadi suatu "realitas" yang tidak terduga".


"Realitas Sosial" adalah pengungkapan tabir menjadi suatu "realitas" yang tidak terduga oleh sosiolog dengan mengikuti aturan-aturan ilmiah dan melakukan pembuktian secara ilmiah dan objektif dengan pengendalian prasangka pribadi, dan pengamatan tabir secara jeli serta menghindari penilaian normatif. Berikut ini bahasan "Realitas Sosial" yang ada dalam masyarakat meliputi:

a. Interaksi "Sosial".
Ketika Anda bercakap-cakap dengan teman atau menghadap guru, berarti Anda telah melakukan interaksi "sosial". Interaksi "sosial" adalah cara-cara hubungan yang dapat dilihat apabila orang perorangan dan kelompok-kelompok manusia saling bertemu. Interaksi "sosial" dapat berupa hubungan antar pribadi, antara individu dengan kelompok, antar kelompok, dan antara individu dengan lingkungan.
 
b. Kebudayaan.
Sebagai makhluk yang memiliki akal dan budi, manusia menciptakan kebudayaan untuk melindungi diri dan memenuhi kebutuhan hidupnya.  Misalnya, dalam usaha melindungi diri dari cuaca, manusia menciptakan pakaian dan rumah. Untuk melindungi diri dari ancaman binatang buas, manusia menciptakan berbagai macam alat perlindungan.  Kebudayaan yang diciptakan manusia ini juga termasuk fakta "sosial" yang dikaji "sosiologi".

c. Nilai dan Norma "Sosial".
Apakah Anda dapat membayangkan hidup di dalam masyarakat tanpa aturan-aturan yang harus dipatuhi bersama? Apa yang akan terjadi apabila anak-anak di rumah merasa tidak perlu menghormati orang tuanya, dan orang tua merasa tidak perlu bertanggung jawab atas kehidupan anak-anaknya? Apa yang akan terjadi apabila para siswa di kelas merasa tidak wajib menghormati guru dan teman-temannya; para pengendara kendaraan di jalan bebas sebebas-bebasnya memakai jalan; dan para penjahat dibiarkan saja tanpa hukuman? Tentu yang terjadi adalah kekacauan. Di situlah peran nilai dan norma "sosial". Nilai "sosial" adalah sesuatu yang bersifat abstrak berupa prinsip-prinsip, patokan-patokan, anggapan, maupun keyakinan-keyakinan yang berlaku di suatu masyarakat. Prinsip-prinsip dalam nilai "sosial" itu menyangkut penilaian apakah sesuatu baik, benar, dan berhargayang seharusnya dimiliki dan dicapai oleh warga masyarakat. Norma "sosial" merupakan bentuk konkret dari nilai-nilai "sosial" yang berupa peraturan, kaidah, atau hukuman. Nilai dan norma "sosial" merupakan fakta yang ada dalam masyarakat, sehingga tidak bisa diabaikan dalam studi "sosiologi".

d. Stratifikasi "Sosial".
Di sekolah, Anda pasti merasa adanya perbedaan hak dan kewajiban antara guru dan murid. Di masyarakat atau desa juga terjadi perbedaan kedudukan seperti itu, misalnya si A termasuk orang kaya, sedang si B termasuk orang miskin. Bahkan, dalam masyarakat tradisional kita juga sering dibedakan adanya golongan bangsawan (priyayi) dengan golongan orang kebanyakan. Kenyataan bahwa manusia dalam masyarakat memiliki strata berbeda, tidak boleh diabaikan dalam kajian "Sosiologi", karena perbedaan itu memberikan dampak pada hubungan dengan kelompok lain dengan segala akibat baik dan buruknya. Golongan priyayi mempunyai strata paling atas pada masyarakat jawa tradisional.

e. Status dan Peran "Sosial".
Status "sosial" dapat disamakan dengan kedudukan, peringkat atau posisi seseorang dalam masyarakat. Di dalam suatu status, terkandung sejumlah hak dan kewajiban. Misalnya, seorang yang berstatus sebagai siswa, maka dia memiliki hak untuk mendapatkan ilmu dan sekaligus memiliki kewajiban untuk belajar dengan tekun. Status "sosial" berkaitan erat dengan peran "sosial". Status bersifat pasif, sedangkan peran "sosial" bersifat dinamis. Peran "sosial" adalah tingkah laku yang diharapkan muncul dari seseorang yang memiliki status tertentu. Misalnya, tingkah laku yang diharapkan dari seorang yang berstatus siswa adalah rajin belajar, hormat kepada guru, dan lain-lain. Baik peran maupun status "sosial" turut mewarnai keberadaan suatu masyarakat, karena itu turut dipelajari dalam "sosiologi".

Sumber:
1. prabugomong.wordpress.com/2010/09/26/pokok-bahasan-sosiologi/ - Cache
2. id.wikipedia.org/wiki/Sosiologi - Cache
3. ssyarof.blogspot.com/2012/07/realitas-sosial-di-masyarakat.html - Cache
4. dimensisosiologi.blogspot.com
5. kelompokprimer.blogspot.com
6. maryulismax.wordpress.com

















Realitas social budaya mengandung arti kenyataan-kenyataan social budaya di sekitar lingkungan masyarakat tertentu. Misalkan di jalan raya kamu melihat orang berlalu-lalang, baik yang mengendarai kendaraan bermotor atau para pejalan kaki. Contoh tersebut dikenal sebagai realitas social di masyarakat. Sebagai kumpulan mahluk yang dinamis, kita senantiasa menemukan realitas social dalam masyarakat.
Masyarakat terbentuk karena manusia menggunakan pikiran, perasaan dan keinginannya dalam memberikan reaksi terhadap lingkungannya. Hal ini terjadi karena manusia mempunyai dua kinginan pokok yaitu, keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lainnya dan keinginan untuk menyatu dengan lingkungan alamnya.
Menurut Soerjono Soekanto, merumuskan beberapa ciri masyarakat sebagai berikut:
 Masyarakat merupakan manusia yang hidup bersama. Tingkatan hidup bersama ini bisa dalam dimulai dari kelompok
 Hidup bersama untuk waktu yang cukup lama. Dalam hidup bersama ini akan terjadi interaksi. Interaksi yang berlangsung terus menerus akan melahirkan sistem interaksi yang akan nampak dalam peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antara manusia.
 Mereka sadar bahwa mereka merupakan satu kesatuan
 Mereka merupakan satu sistem hidup bersama. Sistem kehidupan bersama menimbulkan kebudayaan karena setiap anggota kelompok merasa dirinya terkait satu dengan yang lainnya.

Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/2045195-konsep-realitas-sosial/#ixzz3mEOQ40t6


"KHAYALAN SOSIOLOGIS (BAHASAN SOSIOLOGI)

"Khayalan Sosiologis" sebagai cara yang diperlukan untuk memahami apa yang terjadi di masyarakat maupun yang ada dalam diri manusia". 


Menurut Wright Mills, dengan "Khayalan Sosiologis", kita mampu memahami sejarah masyarakat,  riwayat hidup pribadi, dan hubungan antara keduanya. Alat untuk melakukan "Khayalan Sosiologis" adalah permasalahan (troubles) dan isu (issues). Permasalahan pribadi individu merupakan ancaman terhadap nilai-nilai pribadi. Isu merupakan hal yang ada di luar jangkauan kehidupan pribadi individu.Contoh, jika suatu daerah hanya memiliki satu orang yang menganggur, maka pengangguran itu adalah masalah. Masalah individual ini pemecahannya bisa lewat peningkatan keterampilan pribadi. Sementara jika di kota tersebut ada 12 juta penduduk yang menganggur dari 18 juta jiwa yang ada, maka pengangguran tersebut merupakan isu, yang pemecahannya menuntut kajian lebih luas lagi.

Mills didefinisikan "Khayalan Sosiologis" sebagai "kesadaran yang jelas tentang hubungan antara pengalaman dan masyarakat yang lebih luas."
"Khayalan Sosiologis" adalah kemampuan untuk beralih dari satu perspektif yang lain: dari politik ke psikologis; dari pemeriksaan dari keluarga tunggal untuk penilaian komparatif dari anggaran nasional dunia; dari sekolah teologi untuk pembentukan militer; dari pertimbangan industri minyak untuk studi puisi kontemporer.

"Khayalan Sosiologis": Penerapan berpikir imajinatif untuk bertanya dan menjawab pertanyaan "sosiologis". Seseorang menggunakan "Khayalan Sosiologis" menganggap dirinya menjauh" dari rutinitas kehidupan sehari-hari akrab. (Glidden A12)

Cara lain untuk menggambarkan "Khayalan Sosiologis" adalah pemahaman bahwa hasil sosial dibentuk oleh konteks sosial, aktor, dan tindakan sosial. Untuk memperluas definisi tersebut, itu adalah pemahaman bahwa beberapa hal dalam masyarakat dapat menyebabkan hasil tertentu. Para aktor yang disebutkan dalam definisi hal-hal seperti norma dan motif, konteks sosial seperti negara dan periode waktu dan tindakan sosial adalah hal yang kita lakukan yang mempengaruhi orang lain. Hal yang kita lakukan adalah dibentuk oleh situasi kita berada, nilai-nilai kita, cara orang di sekitar kita bertindak, dan bagaimana semua berhubungan dengan beberapa jenis hasil. "Khayalan Sosiologis" juga dapat dianggap sebagai kemampuan untuk melihat hal-hal sosial, bagaimana mereka berinteraksi, dan saling mempengaruhi.

"Khayalan Sosiologis" juga dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk melihat bagaimana situasi "sosiologis" bermain keluar karena bagaimana orang berbeda dan keadaan sosial berbeda. Ini adalah cara berpikir tentang hal-hal dalam masyarakat yang telah menyebabkan semacam hasil, dan memahami apa yang menyebabkan menyebabkan hasil tersebut. Hal-hal yang membentuk hasil ini termasuk (namun tidak terbatas pada): norma-norma sosial , apa yang orang ingin mendapatkan keluar dari sesuatu (mereka motif untuk melakukan sesuatu), dan konteks sosial di mana mereka tinggal (ex. - negara, periode waktu, orang-orang dengan siapa mereka bergaul). Pada dasarnya, sebagai satu aspek dari "Khayalan Sosiologis", apa yang orang lakukan adalah dibentuk oleh semua hal yang menghasilkan semacam hasil.

"Khayalan Sosiologis" adalah kemampuan untuk melihat hal-hal sosial dan bagaimana mereka berinteraksi dan saling mempengaruhi. Untuk memiliki "Khayalan Sosiologis", seseorang harus mampu menarik diri dari situasi itu dan berpikir dari sudut pandang alternatif. Hal ini membutuhkan untuk "berpikir diri kita menjauh dari rutinitas sehari-hari kita dan melihat mereka baru". Untuk memperoleh pengetahuan, adalah penting untuk tidak mengikuti rutinitas, melainkan untuk membebaskan diri dari kedekatan keadaan pribadi dan meletakkan segala sesuatu ke dalam konteks yang lebih luas. Tindakan orang jauh lebih penting daripada tindakan itu sendiri.

"Khayalan Sosiologis" adalah kemampuan untuk beralih dari satu perspektif yang la in. Mills percaya pada kekuatan "Khayalan Sosiologis" untuk menghubungkan "masalah pr ibadi untuk isu-isu publik." Ada dorongan untuk mengetahui arti historis dan "sosiologis" dari individu tunggal dalam masyarakat, terutama pada periode di mana ia memiliki kualitas dan keberadaannya. Untuk melakukan yang satu ini mungkin menggunakan "Khayalan Sosiologis" untuk lebih memahami adegan sejarah lebih besar dalam hal maknanya bagi diri batin dan karir eksternal dari berbagai individu.

Perspektif lain adalah bahwa Mills memilih "sosiologi" karena ia merasa itu adalah disiplin yang "... dapat menawarkan konsep dan keterampilan untuk mengekspos dan menanggapi ketidakadilan sosial."  Dia akhirnya menjadi kecewa dengan profesinya "sosiologi" karena dia merasa telah melepaskan tanggung jawabnya, yang dikritik da lam buku klasiknya, "Khayalan Sosiologis". Dalam beberapa kelas pengantar "sosiologi", "Khayalan Sosiologis" yang dibesarkan, bersama dengan Mills dan bagaimana ia ditandai "Khayalan Sosiologis" sebagai sebuah kualitas penting dari pikiran yang akan membantu laki-laki dan perempuan "untuk menggunakan informasi dan mengembangkan alasan dalam rangka mencapai penjumlahan jelas dari apa yang terjadi di dunia dan apa yang mungkin terjadi dalam diri mereka ". 

Penggunaan "Khayalan Sosiologis" dalam film Keuntungan menggunakan film populer untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap topik "sosiologis" diakui secara luas. Mereka yang mengajar kursus di masalah sosial laporan menggunakan film untuk mengajar tentang perang, untuk membantu siswa dalam mengadopsi perspektif global dan untuk menghadapi isu-isu hubungan ras. Ada manfaat menggunakan film sebagai bagian dari pendekatan multimedia untuk mengajar kursus di budaya populer. Hal ini juga memberikan siswa "sosiologi" medis dengan studi kasus untuk tangan-pengalaman observasional. Ini mengakui nilai film sebagai dokumentasi historis perubahan dalam gagasan budaya, bahan, dan lembaga. Film digunakan dalam kursus pengantar "sosiologi" untuk menunjukkan relevansi saat ini pemikiran "sosiologis" dan untuk menunjukkan bagaimana "Khayalan Sosiologis" membantu kita memahami dunia sosial kita. Asumsi yang mendasarinya adalah bahwa "Khayalan Sosiologis" yang terbaik dikembangkan dan dilaksanakan di kelas pengantar dengan menghubungkan bahan-bahan baru dalam konteks teori konflik dan fungsionalisme.

Sumber:
1. id.wikipedia.org/wiki/Sosiologi - Cache
2. prabugomong.wordpress.com/2010/10/.../pokok-bahasan-sosiologi-2/ - Cache
3. ml.scribd.com/doc/66037665/khayalan-sosiologis - Cache
4. genio-wunderkind.blogspot.com
5. v4nired.wordpress.com
6. socius3.wordpress.com

"TINDAKAN SOSIAL (BAHASAN SOSIOLOGI)"

"Tindakan Sosial" sebagai "tindakan" yang dilakukan dengan mempertimbangkan perilaku orang lain".


Contoh "Tindakan Sosial", menanam bunga untuk kesenangan pribadi bukan merupakan "Tindakan Sosial", tetapi menanam bunga untuk diikutsertakan dalam sebuah lomba sehingga mendapat perhatian orang lain, merupakan "Tindakan Sosial". Setiap hari kamu melakukan "tindakan" dengan maksud dan tujuan tertentu. "Tindakan" itu umumnya berkaitan dengan orang lain, mengingat kodratmu sebagai makhluk "sosial".

Dalam kehidupan "sosial" dengan Tuhan maupun dalam hubungannya dengan alam sekitar dan masyarakat tentu diwarnai dengan berbagai macam "tindakan" atau perbuatan, tentu perbuatan ini diperoleh melalui proses belajar baik secara formal maupun informal. "Tindakan" ini menunjukkan bahwa manusia selalu aktif dan tidak bisa diam dalam menjalani hidup ini. Mereka harus bekerja, belajar dan berhubungan dengan manusia lainnya, tentunya ini mempunyai motif tertentu. Nah, setiap perbuatan manusia yang dilakukan dengan maksud maupun tujuan tertentu ini dinamakan "Tindakan Sosial". Menurut Max Webber , "Tindakan Sosial" ialah perbuatan manusia yang dilakukan untuk mempengaruhi individu lain di dalam masyarakat. Sebagaimana telah dikatakan di atas bahwa "tindakan" ini sangat erat kaintannya dengan kehidupan masyarakat. Hal ini dikarenakan manusia memiliki dorongan untuk hidup bermasyarakat. Sejak lahir manusia mempunyai naluri untuk hidup bersama manusia lain. Ini dipengaruhi oleh faktor –faktor antara lain :
a. Dorongan untuk memenuhi kebutuhan hidup
b. Dorongan untuk mempertahankan kelangsungan hidup
c. Dorongan untuk melanjutkan keturunan

PENGERTIAN "TINDAKAN SOSIAL".

Kita sebagai makhluk hidup senantiasa melakukan "tindakan"-"tindakan" untuk mencapai tujuan tertentu. "Tindakan" merupakan suatu perbuatan, perilaku, atau aksi yang dilakukan oleh manusia sepanjang hidupnya guna mencapai tujuan tertentu. Misalnya kamu les bahasa Inggris dengan tujuan agar kamu terampil dan mahir dalam berbahasa Inggris. Tidak semua "tindakan" manusia dapat dianggap sebagai "Tindakan Sosial". Lalu "tindakan" yang bagaimanakah yang disebut dengan "Tindakan Sosial"? Perhatikan cerita berikut ini. "Suatu sore, Bintang duduk-duduk di teras depan sambil mendengarkan musik. Tiba-tiba ada seorang gadis cantik berambut panjang lewat di depan rumahnya. Dengan maksud untuk menggoda gadis itu, Bintang kemudian bersiul".

Dari cerita di atas, "tindakan" 'bersiul' yang dilakukan Bintang merupakan bentuk "Tindakan Sosial". Mengapa? Bintang 'bersiul' karena ingin menggoda gadis cantik berambut panjang yang lewat di depan rumahnya. Dari situ, dapatkah kamu memberikan definisi mengenai "Tindakan Sosial"? "Tindakan Sosial" adalah suatu "tindakan" yang dilakukan dengan berorientasi pada atau dipengaruhi oleh orang lain. 

JENIS "TINDAKAN SOSIAL".

Menurut Max Weber, "Tindakan Sosial" dapat digolongkan menjadi empat kelompok (tipe), yaitu "tindakan" rasional instrumental, "tindakan" rasional berorientasi nilai, "tindakan" tradisional, dan "tindakan" afeksi. 

a. "Tindakan" Rasional Instrumental.
"Tindakan" ini dilakukan seseorang dengan memperhitungkan kesesuaian antara cara yang digunakan dengan tujuan yang akan dicapai. Misalnya guna menunjang kegiatan belajarnya dan agar bisa memperoleh nilai yang baik, Fauzi memutuskan untuk membeli buku-buku pelajaran sekolah daripada komik. 

b. "Tindakan" Rasional Berorientasi Nilai.
"Tindakan" ini bersifat rasional dan memperhitungkan manfaatnya, tetapi tujuan yang hendak dicapai tidak terlalu dipentingkan oleh si pelaku. Pelaku hanya beranggapan bahwa yang paling penting tindakan itu termasuk dalam kriteria baik dan benar menurut ukuran dan penilaian masyarakat di sekitarnya. Misalnya menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya masing-masing. 
 
c. "Tindakan" Tradisional.
"Tindakan" ini merupakan "tindakan" yang tidak rasional. Seseorang melakukan "tindakan" hanya karena kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat tanpa menyadari alasannya atau membuat perencanaan terlebih dahulu mengenai tujuan dan cara yang akan digunakan. Misalnya berbagai upacara adat yang terdapat di masyarakat. 

d. "Tindakan" Afektif.
"Tindakan" ini sebagian besar dikuasai oleh perasaan atau emosi tanpa pertimbangan-pertimbangan akal budi. Seringkali "tindakan" ini dilakukan tanpa perencanaan matang dan tanpa kesadaran penuh. Jadi dapat dikatakan sebagai reaksi spontan atas suatu peristiwa. Contohnya "tindakan" meloncat-loncat karena kegirangan, menangis karena orang tuanya meninggal dunia, dan sebagainya.

Jadi, "Tindakan sosial" adalah perbuatan atau perilaku manusia untuk mencapai tujuan subjekif dirinya. Misalnya: sejak kecil manusia sudah melakukan "Tindakan sosial", antara lain membagi makanan dengan temannya, dan memberi sesuatu kepada pengemis. "Tindakan sosial" manusia diperoleh melalui proses belajar dan proses pengalaman dari orang lain.
 
Jika "Tindakan sosial" itu dianggap baik, maka manusia akan melakukan "tindakan" yang sama. Jika "Tindakan sosial" itu baik dan bermanfaat bagi orang lain, makin lama "Tindakan sosial" tersebut dapat dianggap sebagai suatu kebisaaan yang harus dilakukan oleh seluruh anggota kelompok "sosial".
Sumber:
1.  id.wikipedia.org/wiki/Sosiologi - Cache
2.  alfinnitihardjo.ohlog.com/tindakan-sosial.oh112675.html - Cache
3.  c0r3t.wordpress.com/2011/05/10/tindakan-sosial/ - Cache
4. click-gtg.blogspot.com/2009/06/tindakan-sosial.html - Cache
5. tugas-meimaryanny.blogspot.com
6. sosialberkarya.wordpress.com
7.  iskola.wordpress.com

Rabu, 21 November 2012

"PRANATA SOSIAL (BAHASAN SOSIOLOGI)"

"Pengertian "Pranata Sosial" adalah sistem norma yang bertujuan untuk mengatur tindakan maupun kegiatan masyarakat untuk memnuhi kebutuhan pokok dan bermasyarakat bagi manusia". 


Dengan kata lain, "Pranata Sosial" adalah sistem hubungan "sosial" yang terorganisir dan mengejewantahkan nilai-nilai serta prosedur umum yang mengatur dan memenuhi kegiatan pokok warga masyarakat. Tiga kata kunci di dalam setiap pembahasan mengenai "Pranata Sosial" adalah:
1. Nilai dan norma;
2. Pola perilaku yang dibakukan atau yang disebut prosedur umum;
3. Sistem hubungan, yakni jaringan peran serta status yang menjadi wahana untuk melaksanakan perilaku sesuai dengan prosedur umum yang berlaku.

Pranata Sosial adalah system yang tersusun berdasarkan tingkah laku yang berbeda dari organisasi atau grup yang terdiri dari sejumlah orang sebagai individu atau makhluk social.
Ciri-ciri pranata social :
a. Pranata Sosial meruakan suatu organisasi pola-pola pemikiran dan perilaku yang terwujud melalui aktifitas social.
b. Suatu pranata social yang bersfat tradisi baik tertulis maupun tidak tertulis berguna untuk merumuskan tujuan dan tata tertib.
c. Pranata social mempunyai alat perlengkapan yang dipakai mencapai tujuan.
d. Tingkat kekalan merupakan cirri pranata social.
e. Pranata mempunyai beberapa tujuan.
f. Lambang merupakan cirri khas dari pranata social.

Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/1999582-pranata-sosial/#ixzz3mZj0qycJ
Berikut pengertian "Pranata Sosial" dari para ahli "Sosiologi".

a. Koentjaraningrat
Lembaga "sosial" atau "Pranata Sosial" adalah suatu sistem tata kelakuan danhubungan yangberpusat pada aktivitas-aktivitas khusus dalam kehidupan masyarakat. Pengertian ini menekankan pada sistem tata kelakukan atau norma-norma untuk memenuhi kebutuhan (dalam buku Pengantar "Sosiologi").

b. Bruce J. Cohen
"Pranata Sosial" adalah sistem pola-pola "sosial" yang tersusun rapi dan relatif bersifat permanen serta mengandung perilaku-perilaku tertentu yang kokoh dan terpadu demi pemuasan dan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pokok masyarakat (dalam buku "Sosiologi" : Suatu Pengantar: terjemahan)

c.Mac Iverdan Page
"Pranata Sosial" adalah tata cara dan prosedur yang telah diciptakan untuk mengatur hubungan antar manusia yang berkelompok dalam suatu kelompok masyarakat (dalam buku A Text Book of "Sociology").

d.Joseph S. Rucek dan Roland L. Warren
"Pranata Sosial" adalah pola-pola yang mempunyai kedudukan tetap untuk memenuhi berbagai kebutuhan manusia yang muncul dari kebiasaan-kebiasaan dengan mendapatkan persetujuan dan cara-cara yang sudah tidak dipungkiri lagi untuk memenuhi konsep kesejahteraan masyarakat dan menghasilkan suatu struktur.

e. Alvin L. Berrtrand
"Pranata Sosial" adalah kumpulan norma "sosial" (struktur-struktur "sosial") yang telah diciptakan untuk melaksanakan fungsi masyarakat (dalam buku "Sosiologi").

f.Paul B. Horton dan Chester L. Hunt
"Pranata Sosial" adalah suatu sistem norma untuk mencapai tujuan atau kegiatan yang oleh masyarakat dianggap penting.

g. Summer
Lembaga "sosial" atau lembaga kemasyarakatan dipandang dari sudut kebudayaan adalah perbuatan, cita-cita, sikap, dan perlengkapan kebudayaan yang bersifat kekal.Tujuannya adalah memenuhi kebutuhan-kebutuhan masyarakat.

Dari beberapa pendapat tersebut dapat juga disimpulkan pengertian "sosiologis" bahwa lembaga "sosial" adalah sistem norma untuk mencapai tujuan tertentu yangoleh masyarakat dianggap penting. Sistem norma tersebut meliputi gagasan, aturan, tata cara kegiatan, dan ketentuan sanksi. Di dalam perkembangannya, norma-norma tersebut berkelompok-kelompok pada berbagai kebutuhan manusia. Misalnya, kebutuhan akan pencaharian hidup menimbulkan lembaga pertanian, dan industri. Kebutuhan akan pendidikan menciptakan sekolah dan pesantren. Kebutuhan jasmaniah manusia menimbulkan olahraga dan pemeliharaan kesehatan. Wujud konkret lembaga "sosial" atau lembaga kemasyarakatan adalah asosiasi (association). Sebagai contoh, sekolah dan pesantren adalah lembaga "sosial", sedangkan SMA Taruna Nusantara dan Pondok Pesantren Gontor merupakan asosiasi. Pemeliharaan kesehatan disebut lembaga "sosial", sedangkan Rumah Sakit Bethesda merupakan asosiasi.

Lembaga atau "Pranata Sosial" sangat berperan dalam masyarakat. Ia merupakan sistem norma yang bertujuan untuk mengatur tindakan-tindakan maupun kegiatan anggota masyarakat dalam rangka memenuhi kebutuhan pokok dan bermasyarakat bagi manusia. Tanpa adanya lembaga atau "Pranata Sosial" ini sangat mustahil manusia dapat melangsungkan hidupnya karena melalui lembaga atau "pranata" tersebutlah segala interaksi antar manusia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan tercapainya keteraturan.
 
Melalui lembaga atau "Pranata Sosial" anggota-anggota masyarakat tidak bisa hidup seenaknya. Segala sesuatunya telah diatur menurut norma-norma yang terkumpul dalam lembaga tersebut. Wujud lembaga atau "Pranata Sosial" dalam masyarakat antara lain :
a. "Pranata" Keluarga
b. "Pranata" Perekonomian
c. "Pranata" Politik
d. "Pranata" Pendidikan
e. "Pranata" Agama
"Pranata"-"pranata" ini berfungsi untuk mengatur segala aktivitas yang terjadi dalam masyarakat. 

Sumber:
1. abelpetrus.wordpress.com/sociology/pranata-sosial/
2. staff.smpn1purbalingga.sch.id/enggal/2011/04/16/pranata-sosial/
3. gudangmakalah.blogspot.com/2009/04/makalah-pranata-sosial.html
4. watuneso.blogspot.com
5. firman18.wordpress.com

Selasa, 20 November 2012

"FAKTA SOSIAL (BAHASAN SOSIOLOGI)"

"Secara garis besar "Fakta Sosial" terdiri atas dua tipe yakni struktur "sosial" dan pranata "sosial"


Sifat dan hubungan dari "Fakta Sosial" inilah yang menjadi sasaran penelitian "Sosiologi" menurut paradigma "Fakta Sosial". Secara lebih terperinci "Fakta Sosial" itu terdiri atas : kelompok, kesatuan masyarakat tertentu, sistem "sosial", posisi, peranan, nilai-nilai keluarga, pemerintah, dan sebagainya.

"Fakta Sosial" bersifat eksternal, umum (general), dan memaksa (coercion). "Fakta Sosial" mempengaruhi tindakan-tindakan manusia. Tindakan individu merupakan hasil proses pendefinisian reslitas "sosial", serta bagaimana orang mendefinisikan situasi. Asumsi yang mendasari adalah bahwa manusia adalah makhluk yang kreatif dalam membangun dunia "sosial"nya sendiri.

"Fakta Sosial" inilah yang menjadi pokok persoalan penyelidikan "Sosiologi". "Fakta Sosial" dinyatakan oleh Emile Durkheim sebagai barang sesuatu (Thing) yang berbeda dengan ide. Barang sesuatu menjadi objek penyelidikan dari seluruh ilmu pengetahuan. Ia tidak dapat dipahami melalui kegiatan mental murni (spekulatif). Tetapi untuk memahaminya diperlukan penyusunan data riil diluar pemikiran manusia.

"Fakta Sosial" menurut Emile Durkheim terdiri atas dua macam:

1. Dalam bentuk material, yaitu barang sesuatu yang dapat disimak, ditangkap, diobservasi. "Fakta Sosial" yang berbentuk material ini adalah bagian dari dunia nyata (external world), contohnya arsitektur dan norma hukum.

2. Dalam bentuk non material, yaitu merupakan fenomena yang bersifat inter subjektif yang hanya dapat muncul dari dalam kesadaran manusia, contohnya egoisme, altruisme dan opini. Jenis-jenis "Fakta Sosial" non material adalah:
a.     
            a. Moralitas
Perspektif Durkheim tentang moralitas terdiri dari dua aspek. Pertama, Durkheim yakin bahwa moralitas adalah "Fakta Sosial", dengan kata lain, moralitas bisa dipelajari secara empiris, karena ia berada di luar individu, ia memaksa individu, dan bisa dijelaskan dengan "Fakta"-"Fakta Sosial" lain. Artinya, moralitas bukanlah sesuatu yang bisa dipikirkan secara filosofis, namun sesuatu yang mesti dipelajari sebagai fenomena empiris. Kedua, Durkheim dianggap sebagai sosiolog moralitas karena studinya didorong oleh kepeduliannya kepada “kesehatan” moral masyarakat modern.

b. Kesadaran Kolektif
Durkheim mendefinisikan kesadaran kolektif sebagai berikut; “seluruh kepercayaan dan perasaan bersama orang kebanyakan dalam sebuah masyarakat akan membentuk suatu sistem yang tetap yang punya kehidupan sendiri, kita boleh menyebutnya dengan kesadaran kolektif atau kesadaran umum. Dengan demikian, dia tidak sama dengan kesadaran partikular, kendati hanya bisa disadari lewat kesadaran-kesadaran partikular”.
Ada beberapa hal yang patut dicatat dari definisi ini. Pertama, kesadaran kolektif terdapat dalam kehidupan sebuah masyarakat ketika dia menyebut “keseluruhan” kepercayaan dan sentimen bersama. Kedua, Durkheim memahami kesadaran kolektif sebagai sesuatu terlepas dari dan mampu menciptakan "Fakta Sosial" yang lain. Kesadaran kolektif bukan hanya sekedar cerminan dari basis material sebagaimana yang dikemukakan Marx. Ketiga, kesadaran kolektif baru bisa “terwujud” melalui kesadaran-kesadaran individual.
Kesadaran kolektif merujuk pada struktur umum pengertian, norma, dan kepercayaan bersama. Oleh karena itu dia adalah konsep yang sangat terbuka dan tidak tetap. Durkheim menggunakan konsep ini untuk menyatakan bahwa masyarakat “primitif” memiliki kesadaran kolektif yang kuat, yaitu pengertian, norma, dan kepercayaan bersama , lebih dari masyarakat modern.

c. Representasi Kolektif
Contoh representasi kolektif adalah simbol agama, mitos, dan legenda populer. Semuanya mempresentasikan kepercayaan, norma, dan nilai kolektif, dan mendorong kita untuk menyesuaikan diri dengan klaim kolektif.
Representasi kolektif juga tidak bisa direduksi kepada individu-individu, karena ia muncul dari interaksi sosial, dan hanya bisa dipelajari secara langsung karena cenderung berhubungan dengan simbol material seperti isyarat, ikon, dan gambar atau berhubungan dengan praktik seperti ritual.

d. Arus "Sosial"
Menurut Durkheim, arus "sosial" merupakan "Fakta Sosial" yang tidak menghadirkan diri dalam bentuk yang jelas. Durkheim mencontohkan dengan “dengan luapan semangat, amarah, dan rasa kasihan” yang terbentuk dalam kumpulan publik.

e. Pikiran Kelompok
Durkheim menyatakan bahwa pikiran kolektif sebenarnya adalah kumpulan pikiran individu. Akan tetapi pikiran individual tidak secara mekanis saling bersinggungan dan tertutup satu sama lain. Pikiran-pikiran individual terus-menerus berinteraksi melalui pertukaran simbol: mereka megelompokkan diri berdasarkan hubungan alami mereka, mereka menyusun dan mengatur diri mereka sendiri. Dalam hal ini terbentuklah suatu hal baru yang murni bersifat psikologis, hal yang tak ada bandingannya di dunia biasa.

Durkheim berpendapat bahwa subyek kajian sosiologi harus dipersempit pada sebuah bidang yang dapat diuraikan guna membedakan sosiologi dengan studi sosial yang lain. Untuk itu, Durkheim mengusulkan bahwa kita harus membatasi sosiologi pada kajian analisis tentang fakta sosial. Oleh Durkheim, fakta sosial ini ia jelaskan dalam dua cara.

Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/2078639-apa-fakta-sosial-menurut-durkheim/#ixzz3mgBCCzUQ
Pokok persoalan yang harus menjadi pusat perhatian penyelidikan "Sosiologi" menurut paradigma ini adalah "Fakta"-"Fakta Sosial". Secara garis besar "Fakta Sosial" terdiri atas dua tipe, masing-masing adalah struktur "sosial" dan pranata "sosial". Secara lebih terperinci "Fakta Sosial" itu terdiri atas : kelompok, kesatuan masyarakat tertentu, system "sosial", peranan, nilai-nilai, keluarga, pemerintahan dan sebagainya. Menurut Peter Blau ada dua tipe dasar dari "Fakta Sosial":

1. Nilai-nilai umum ( common values )
2. Norma yang terwujud dalam kebudayaan atau dalam subkultur.

Ada empat varian teori yang tergabung ke dalam paradigma
"Fakta Sosial" ini. Masing-masing adalah :

1. Teori Fungsionalisme-Struktural, yaitu teori yang menekankan kepada keteraturan (order) dan mengabaikan konflik dan perubahan-perubahan dalam masyarakat. Konsep-konsep utamanya adalah : fungsi, disfungsi, fungsi laten, fungsi manifestasi, dan keseimbangan.

2. Teori Konflik, yaitu teori yang menentang teori sebelumnya (fungsionalisme-struktural) dimana masyarakat senantiasa berada dalam proses perubahan yang ditandai oleh pertentangan yang terus menerus diantar unsure-unsurnya.

3. Teori Sistem

4. Teori "Sosiologi" Makro

Dalam melakukan pendekatan terhadap pengamatan
"Fakta Sosial" ini dapat dilakukan dengan berbagai metode yang banyak untuk ditempuh, baik interviw maupun kuisioner yang terbagi lagi menjadi berbagai cabang dan metode-metode yang semakin berkembang. Kedua metode itulah yang hingga kini masih tetap dipertahankan oleh penganut paradigma "Fakta Sosial" sekalipun masih adanya terdapat kelemahan didalam kedua metode tersebut.

Durkheim berpendapat bahwa subyek kajian sosiologi harus dipersempit pada sebuah bidang yang dapat diuraikan guna membedakan sosiologi dengan studi sosial yang lain. Untuk itu, Durkheim mengusulkan bahwa kita harus membatasi sosiologi pada kajian analisis tentang fakta sosial. Oleh Durkheim, fakta sosial ini ia jelaskan dalam dua cara.

Definisi pertama yang ia berikan pada fakta sosial adalah setiap cara atau arah tindakan yang mampu menggerakkan pada individu dari tekanan eksternal, seperti sistem keuangan, bahasa, dan tindakan yang lain. Kemudian ia menambahkan, setiap tindakan umum di dalam masyarakat. Hal tersebut meliputi institusi agama, tradisi cultural, dan kebiasaan regional.

Durkheim dalam definisi di atas menggunakan paksaan sosial untuk mengidentifikasi alas an di balik tindakan-tindakan yang kemudian menjadi fakta sosial. Tentu saja tingkat paksaan tersebut terasa berbeda-beda. Paksaan sosial ini memegang kekuatan yang memaksa di atas individu.

Definisi kedua Durkheim mengenai fakta sosial mengambil pendekatan yang lebih umum terhadap fakta sosial. Ini mengacu pada berbagai tindakan atau pandangan umum di dalam masyarakat sepanjang memenuhi ketentuan bahwa fakta tersebut jelas-jelas tidak tergantung pada individu. Fenomena tersebut juga mempunyai efek yang memaksa.

Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/2078639-apa-fakta-sosial-menurut-durkheim/#ixzz3mgBTnRKx
Sumber:
1. sejahar.wordpress.com/2012/07/18/emile-durkeim-fakta-sosial/
2. de-kill.blogspot.com/2009/05/sosiologi-perspektif-fakta-sosial.html
3. uummii-n.blogspot.com/.../teori-sosiologi-klasik-emile-durkheim.ht...

Senin, 19 November 2012

"MANFAAT SOSIOLOGI DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT"

Istilah "Sosiologi" berasal dari kata “socius” dan “logos”. Sosius (bahasa Latin) berarti kawan, dan logos (bahasa Yunani) berarti kata atau berbicara. 
 
 
Dengan demikian, ilmu "Sosiologi" berarti ilmu yang berbicara mengenai "masyarakat". "Sosiologi" adalah ilmu yang mempelajari tentang "masyarakat" sebagai keseluruhan, yakni antar hubungan di antara manusia dengan manusia, manusia dengan kelompok, kelompok dengan kelompok, baik formal maupun material, statis maupun dinamis. Pengertian "Sosiologi" ini dipaparkan oleh Mayor Polak. 

Berikut ini beberapa manfaat "Sosiologi" dalam "masyarakat":

1. Menambah Pengetahuan Kebhinnekaan Sosial
Seperti: keragaman ras, suku dan agama, serta menambah pengetahuan tentang keberagaman budaya yang menyangkut system nilai dan norma, adat istiadat, kesenian, dan unsur-unsur budaya lainnya. Melalui pembelajaran "Sosiologi" kita akan memperoleh pengetahuan tentang macam-macam karakteristik social individu maupun kelompok individu dalam "masyarakat".

2. Menumbuhkan Kepekaan terhadap Toleransi Sosial
  "Sosiologi"bermanfaat untuk menumbuhkan kepekaan terhadap toleransi sosial dalam pergaulan sehari-hari, sehingga memungkinkan terjadinya hubungan saling perngertian dan saling menguntungkan. Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk sosila yang tidak dapat hidup sendiri dan mandiri tanpa pertolongan orang lain, sehingga mesti membangun kerja sama saling menguntungkan antara umat manusia yang satu dengan yang lain.

3. Menghindari Konflik Sosial
Pengetahuan "Sosiologi" bermanfaat untuk menghindari konflik social, terutama konflik horizontal yang melibatkan pertikaian antargolongan, antarsuku, maupun antarras. Pada dasarnya konflik sosial itu akan terjadi jika di antara dua kubu mempunyai prinsip-prinsip atau pola piker yang berbeda-beda.

4. Menghindari Dominasi Sosial
Memahami "Sosiologi" bermanfaat untuk menghindari terjadinya dominasi sosial, dominasi politik, dominasi ekonomi, maupun dominasi kebudayaan. Dominasi sosial pada hakikatnya merupakan suatu bentuk penjajahan terselubung dari kelompok yang kuat kepada kelompok yang lemah, dari kelompok yang besar kepada kelompok yang kecil. Dengan tumbuhnya solidaritas sosial sebagai hasil pemahaman terhadap nilai-nilai karakteristik social dan individu melalui "Sosiologi", maka dominasi sosial, dominasi politik, dominasi ekonomi, maupun dominasi budaya dapat dihindari, paling tidak dapat dikurangi.
 
5. Meningkatkan Integritas Nasional
Memahami "Sosiologi" bermanfaat untuk meningkatkan integritas nasional dalam rangka mewujudkan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang maju yang memiliki standart hidup yang tinggi. Sebagai bangsa yang majemuk, yang berbhinnekaan ras, suku, dan agama sering kali menimbulkan ekses-ekses yang negative. Untuk menghindari hal tersebut, diperlukan adanya saling pengertian dan kerja sama yang erat di antara unsure-unsur sosial yang saling berbeda pada "masyarakat" yang majemuk, sehingga dapat meningkatkan integritas sosial bagi "masyarakat" tersebut.

6. Interaksi Sosial
Interaksi sosial merupakan hal penting dalam "Sosiologi", karena merupakan syarat terjadinya aktivitas sosial dalam "masyarakat". Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang di dalamnya menyangkut hubungan antara individu, kelompok maupun individu dengan kelompok. Berlangsungnya proses interaksi didasarkan pada pelbagai factor:
a. Factor Imitasi, proses meniru perilaku orang lain dapat positif dan negative.
b. Factor Sugesti, apabila seseorang memberi suatu pandangan atau sesuatu sikap yang berasal dari dirinya yang kemudian diterima oleh pihak lain.
c. Factor Identifikasi, kecenderungan-kecenderungan atau keinginan-keinginan dala diri seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain.
d. Factor Simpati, suatu proses diman seseorang merasa tertarik dengan pihak lain.
 
7. Kelompok Sosial
Secara sosiologis, kelompok sosial adalah setiap kumpulan manusia yang memiliki pola interaksi yang terorganisir dan terjadi secara berulang-ulang. Kesadaran berinteraksi ini diperlukan oleh mereka untuk menciptakan suatu kelompok, sedangkan kehadiran fisik semata-mata sama sekali tidak diperlukan. Kesadaran berinteraksi ini sangat penting karena melalui kelompoklah, seorang individu menghayati aturan-aturan yang ada dalam "masyarakat". Melalui interaksi dengan kelompoknya maka seorang individu mampu memenuhi kebutuhan.

8. Peran dan Status Sosial
Setiap masyarakat selalu ada pembagian peran sesuai dengan kemampuan yang dimiliki karena melalui peran-peran yang berbeda itu "masyarakat" dapat berjalan dengan seimbang. Peran adalah perilaku yang diharapkan dari seseorang yang memiliki suatu status tertentu. Sedangkan status adalah kedudukan seseorang dalam suatu kelompok atau kedudukan kelompok dalam kaitannya dengan kelompok-kelompok lain. Ada 2 jenis peran atau status dalam "Sosiologi", yaitu :
a. Achieved role, suatu peran dan status yang dicapai/diperjuangkan melalui pilihan, usaha, dan tenaga sendiri.
b. Ascribed role, suatu peran dan status yang diperoleh berdasarkan keturunan, tanpa memperhitungkan selera, kemampuan dan hasil kerja seseorang.
 
9. Ketertiban dan Pengendalian Sosial
Dalam suatu system ke"masyarakat"an, pola hubungan dan kebiasaan yang berjalan lancar digunakan dipakai untuk mencapai tujuan "masyarakat". Hal ini dapat terwujud apabila kegiatan berlangsung dengan menyenangkan. Pada masyarkat sederhana, sosialisai menciptakan ketertiban sosial dengan cara mempersiapkan orang agar bersedia berperilaku sebagaimana yang diharapkan. "Masyarakat" yang teratur hanya dapat tercipta jika kebanyakan orang melaksanakan sebagian besar kewajiban mereka kepada orang lain dan mampu menuntut hak mereka dari orang lain.
 
10. Sosiolog Sebagai Ahli Riset
Seperti semua ilmuan lainnya, para sosiolog menaruh perhatian pada pengumpulan dan penggunaan data. Untuk itu, para sosiolog melakukan riset ilmiah untuk mencari data tentang kehidupan sosial suatu "masyarakat". Data itu kemudian diolah menjadi suatu karya ilmiah yang berguna bagi pengambilan keputusan untuk memecahkan masalah-masalah dalam "masyarakat".
Dalam kaitan dengan hal ini, seorang sosiolog harus mampu men-ernihkan berbagai anggapan keliru yang berkembang dalam "masyarakat". Dari hasil penilitiannya, sosio-log harus dapat menghadirkan kebenaran-kebenaran agar dampak negatif yang mung-kin ditimbulkan oleh kekeliruan dalam "masyarakat" dapat dihindari. Berdasarkan hal i-tu pula, seorang sosiolog bisa menghadirkan ramalan sosial yang didasarkan pada po-la-pola, kecenderungan, dan perubahan yang paling mungkin terjadi.
 
11. "Sosiologi" Konsultan Kebijakan
Ramalan "Sosiologi" dapat membantu memperkirakan pengaruh kebijakan sosial yang mungkin terjadi. Setiap kebijakan sosial adalah suatu ramalan. Artinya, kebijakan di-ambil dengan suatu harapan menghasilkan pengaruh atau dampak yang diinginkan. Namun, sering terjadi bahwa kebijakan yang diambil tidak memenuhi harapan terse-but. Salah satu faktornya adalah ketidakakuratan kesimpulan atau dugaan yang salah terhadap permasalahannya.
 
12. "Sosiologi" Sebagai Teknisi
Beberapa sosiolog terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan "masyarakat". Mereka memberi saran-saran, baik dalam penyelesaian berbagai masalah hubungan "masyarkat", hubungan antarkaryawan, masalah moral, maupun hubungan antarkelom-pok dalam suatu organisasi.
Dalam kedudukan seperti ini, sosiolog bekerja sebagai ilmuan terapan (applied scien-tist). Mereka dituntut untuk menggunakan pengetahuan ilmiahnya. Dalam mencari ni-lai-nilai tertentu, seperti efisiensi kerja atau efektifitas suatu program atau kegiatan "masyarakat".
 
13. "Sosiologi" Sebagai Guru atau Pendidik
Dalam menyajikan suatu fakta, seorang sosiolog harus bersikap netral dan objektif. Contohnya, dalam menyajikan data tentang masalah kemiskinan, seorang sosiolog ti-dak boleh menciptakan anggapan sebagai pendukung suatu proyek atau kegiatan ter-tentu atau mengubahnya sehingga terkesan reformis, konservatif, dan sebagainya. "Sosiologi" dapat menyajikan contoh-contoh konkret tentang bagaimana keterlibatan mereka dalam pemecahan masalah sosial. Keterlibatan mereka dalam kegiatan-kegiatan sosial yang bersifat membangun serta menunjukkan apa yang telah mereka pe-lajari dari pengalaman-pengalaman tersebut.
 
14. Menujang sebuah proses -proses kesuksesan.
Manfaat yang dapt mewujudkan pada hakikat yang benar –benar nyata yang ada , dimana "masyarakat"  menilai dari sebuah titik nol menuju puncak buah karirnya.titik nol dari apa ? siapapun tidak akan bias sukses dengan sendirinya tanpa ada peran orang lain dimana id harus tahu dan selalu mengerti kehidupan di "masyarakat", kehidupan di dunia kerja serta menempatkan dirinya pada bidang yang mungkin orang lain menjadi yakin bahwa diri kita mempunyai potensi besar dan mempunyai kualitas tanggung jawab dalam melakukan apapun dengan komitmen yang kuat. Menjadi mengerti pembelajaran tidak hanya pada sebutan teori – teori, praktek nyatalah pembelajaran yang terjun pada "masyarakat" membuat pandangan terus ke depan tidak dibingungkan oleh teori apapun.survei dan bukti yang ada direalitas "masyarakat" membangun semangat menciptakan motivasi yang ada dr berbagai karakter individu dalam lingkungan. Karena kenyamanan, dan kesenangan kesuksesan ada pada prosesnya, bukan pada akhir dari prosesnya.
 
15. Keteraturan pada pola hidup di lingkungan.
Manusia dalam mencapai pola hidupnya dihadapkan pada dua pilihan yaitu ingin lebih baik ataukah sebaliknya? Di dalam ilmu "Sosiologi" ber"masyarakat" dengan berdampingan tidak hanya asal kumpul, asal mengikuti dalam hal apa saja. Di sini "Sosiologi" member manfaat bagaimana seseorang diberi batasan diberi aturan-aturan yang cenderung mutlak secara umum maupun dari sisi spiritual dalam tanda kutip. Seseorang terlihat mempunyai pola hidup yang baik apabila ia memberlakukan, menghormati, serta melaksanakan dari aturan-aturan yang ada, serta poin jela yang perlu di garis bawahi tidak menganggap aturan itu menjadikan arti di larangnya hak kebebasan pola hidup di lingkungan "masyarakat" menjadi bekal serta cirri dari setiap pribadi seseorang di manapun ia berada, ia sudah mengerti aturan yang seimbang memanage diri. Ciri pola hidup yang teratur merefleks, spontan dengan mengingat aturan-aturan yang baik untuk dirinya dan orang lain, maka ia berhasil membuat pola hidup yang tahu akan aturan pada lingkungannya.
 
16. Menghormati pada sebuah perbedaan.
  "Sosiologi"memberikan manfaat bagaimana seseorang dapat saling menghormati dari semua bukti-bukti yang teruji memberikan pengertian perbedaan apapun dapat di satukan dan saling menguatkan dari sisi-sisi yang berbeda. Contohnya dalam sebuah perbedaan pendapat pada forum yang sangat penting untuk mewujudkan satu persamaan yang saling di butuhkan satu dengan yang lainnya tanpa ada sikap dan perilaku yang membuat perbadaan itu seakan-akan yang menjadikan diri seorang rendah, merasa tidak adil. Karena memang hak asasi manusia adalah mutlak pada siapapun itu.

17. Menciptakan Kerjasama antar pihak.
Pengetahuan "Sosiologi" menciptakan macam-macam ide sosial pada pembangunan sebuah kemajuan ilmu-ilmu sosial keterkaitan akan kerjasama antar pihak tertentu untuk mencapai sesuatu yang saling menguntungkan dan tidak merugikan pihak lain. Pada proses kerjasama pun terdapat interaksi dan timbal balik yang di inginkan oleh orang-orang yang terlibat kerjasama. Kerjasama memerlukan standart mutu yang ditentukan pada manfaat kerjasama yang baik, seperti apa yang menjadi ciri penelitian terapan.
 
18. Penyesuaian Diri pada Lingkungan
  "Sosiologi"juga memberi manfaat penuntun, pengarah pada setiap diri seseorang dalam menempatkan diri pada suatu lingkungan "masyarakat"nya serta pemahaman pada setiap karakterisasi lingkungan tempat yang kita sedang berdiri. Sebagaimana pada "Sosiologi" kontak langsung dengan seseorang tidak dapat di hindari. Dimana dapat memberikan pengetahuan cara bersosialisasi kumpul dengan khalayak dengan hanya mendahulukan ego sendiri termasuk penghambat untuk kita lebih menyesuaikan lingkungan. Karena rasa ke-AKUan tidak bisa membuat proses-proses berbaur lebih baik pada pihak manapun.
 
19. Perbaikan Diri Menanggapi Masalah
  "Sosiologi"juga tak jauh dari materi yang pernah ada tentang penngendalian, adapun termasuk pengendalian diri dalam melihat satu titik masalah yang tidak bisa di keluarkan dan dipecahkan dengan amarah, merasa benar dan seolah-olah kesalahan selalu di pihak lain. Musyawarah dengan saling mengakui dan saling meraba diri atau introspeksi diri “apa yang kurang dari diri saya, perilaku saya ?” tidak hanya berselisih satu sama lain, karena kita saling berdampingan untuk saling mengisi dengan tanggung jawab serta langkah dewasa untuk tidak terpuruk pada masalah. Kita perlu berinteraksi dan berhati-hatidi setiap mengambil keputusan untuk tidak masuk pada lubang yang sama.

Sumber:
1. etika-sukma.blogspot.com/.../manfaat-sosiologi-dalam-kehidupan.ht...
2. wawasanfadhitya.blogspot.com › SEO dan Pagerank
3. curhatananaknegeri.blogspot.com
4. aspirasiku.com
5. beningembun-apriliasya.blogspot.com


MusicPlaylistView Profile