Minggu, 24 April 2011

"WISATA RITUAL, BELANJA DAN KULINER"

"Tanggal 22 April 2011 adalah Hari Libur Nasional yang sangat indah apabila kita dapat melakukan kegiatan yang membuat fresh. Salah satunya adalah  "Wisata Ritual" sekaligus "wisata belanja" dan "wisata kuliner"




Tepat pukul 08.00 WIB, rombongan kami berangkat "wisata". Dalam perjalanan, rombongan kami mampir Jombang, rumah orang tua Mbak Yuni (salah satu anggota rombongan). Disini kami disuguhi beraneka macam makanan, minuman dan buah-buahan. Rupanya disini kami sudah mulai menikmati "wisata kuliner". Semua makanan terasa sangat nikmat. Alhamdulillah dan terima kasih atas sambutan dari keluarga Mbak Yuni atas kedatangan rombongan kami.

Dalam perjalanan kami merasa lapar, kami mampir ke Rumah Makan Barokah yang sangat terkenal dengan menu ikan 'Uceng' goreng. Rombongan kami sangat menikmati makanan yang dihidangkan oleh Rumah Makan ini. Indahnya "wisata kuliner" ini. Semuanya benar-benar sangat menikmati "wisata" hari ini. Di Rumah Makan ini adik Mbak Yuni menemui rombongan kami. kemudian memandu rombongan kami untuk menuju ke Makam Bung Karno sebagai rangkaian "wisata" kami. 

Sekitar pukul 11.30 WIB, rombongan kami sampai di Kompleks Makam Bung Karno, Sang Proklamator, Presiden Republik Indonesia yang pertama. Sebelum ke makam rombongan kami melaksanakan sholat Jama' Takdim Dhuhur dan Ashar di Masjid sebelah makam Bung Karno. Selain rombongan kami, banyak rombongan lain yang melaksanakan "wisata ritual" di makam Bung Karno. "Wisata" ini menjadi sangat indah karena kita dapat berziarah di makam Sang Proklamator. Kami mendo'akan arwah beliau mudah-mudahan dapat tenang dan diterima di sisi-Nya dan dosa-dosa beliau mudah-mudahan diampuni oleh Allah SWT. Amiin..... Kami juga sempat berfoto ria di tempat ini. Setelah berziarah ke makam, kami sempat ber"wisata belanja" di kompleks pemakaman ini. Rombongan kami benar-benar menikmati "wisata belanja" ini.

Setelah menyelesaikan  "belanja"nya rombongan kami melanjutkan perjalanan "wisata". Rombongan kami dipandu oleh Adik Mbak Yuni untuk keluar dari kompleks makam Bung Karno untuk menuju obyek "wisata" berikutnya. Terima kasih atas bantuan keluarga Mbak Yuni. semoga mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT.

Rombongan kami akan mampir di rumah saya di desa Banjarsari Selorejo Blitar. Sepanjang perjalanan kami melewati pemandangan yang sangat indah. Hamparan sawah menghijau, gunung-gunung yang kelihatan biru sangat indah. Hutan belantara yang masih kelihatan subur. Pemandangan-pemandangan yang tidak kita jumpai di kawasan perkotaan. Benar-benar "wisata" yang sangat indah dan dapat membuat fresh pikiran yang ruwet.

Sekitar pukul 15.30 WIB, rombongan kami sampai di rumah saya. Tempat kelahiran yang sangat indah. Udara sejuk menambah nikmatnya "wisata" ini. Bapak dan adik saya sudah menunggu kedatangan rombongan kami sejak tadi pagi. Semua anggota rombongan menikmati "wisata" ini. Ada yang mancing di kolam, ada yang berkebun (memetik terong ungu, mengambil sirih, dan lain-lain). Adik saya juga menghidangkan menu masakan urap-urap, ikan dan ayam bumbu santan. Es kelapa muda juga dihidangkan  oleh adik saya. Kami sangat menikmati "kuliner" hidangan adik saya. Saya juga masih sempat menerapi Bapak saya, mudah-mudahan Bapak saya sehat kembali. 

Setelah puas "wisata" di rumah saya, rombongan kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi "wisata" berikutnya. Sepanjang perjalanan kami sangat menikmati "wisata" ini walaupun hari telah mulai gelap. Sekitar pukul 19.30 WIB, rombongan kami sampai di Hotel Roro di Jalan Pesarean Gunung Kawi, yaitu tempat "wisata ritual" sekaligus "wisata belanja". Setelah semua mendapat kamar, kami membersihkan diri, kemudian jalan-jalan untuk "wisata belanja". Setelah itu rombongan kembali ke hotel untuk berkumpul. Acara kami adalah silaturahmi 'pamit' karena saya mutasi untuk pindah tugas ke Instansi lain. Acara berjalan sangat santai dan penuh kekeluargaan. Terima kasih kepada teman-teman yang telah mempersiapkan dan menyelenggarakan acara ini. Mudah-mudahan silaturahmi ini akan tetap terjalin sampai hayat dikandung badan. 

Setelah acara silaturahmi berakhir, sekitar pukul 21.00 WIB, rombongan kami melanjutkan "wisata kuliner" untuk menghangatkan badan dan suasana malam yang sangat dingin karena udara pegunungan. Kami semua menikmati hidangan di rumah makan ini. Ada mie rebus, pisang keju panggang, ronde, angsle, susu, skoteng dan lain-lain makanan dan minuman yang serba panas. Setelah menikmati "wisata kuliner", rombongan kami melanjutkan "wisata ritual". Kami ingin berziarah ke makam Mbah Njugo dan Mbah Iman Sujono. Kami hanya melihat-lihat dari luar, karena pada saat ini bersamaan dengan acara rombongan lain yang melaksanakan hajatan di lokasi pemakaman. Rombongan kami kembali ke hotel sambil menikmati "wisata belanja" di sepanjang Jalan Pesarean Gunung Kawi. 

Sekitar pukul  22.30 WIB, kami sampai di hotel. Saya melanjutkan tugas kemanusiaan karena anggota rombongan kami ada yang membutuhkan terapi. Terapi sambil ngobrol di kamar hotel. Kami saling bertukar ceritera karena sepertinya tidak bertemu lama. Selitar pukul 00.30 WIB, setelah selesai terapi, teman-teman kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.

Sekitar pukul 05.30 WIB, kami jalan-jalan pagi untuk menikmati pemandangan di kompleks "wisata" Gunung Kawi. Kami menuju lokasi "wisata" pemandian Sumber Urip. Kami berfoto-foto disana sambil santai untuk menikmati pemandangan alam yang sangat indah. Setelah itu kami menuju lokasi "wisata" Sumber Waras. Disitu kami mengambil air untuk cuci muka dan berfoto-foto. Setelah itu kami kembali ke hotel. Di sepanjang perjalanan pulang, teman-teman masih melanjutkan "wisata belanja" dan membeli jajanan yang ada di sepanjang jalan Pesarean. Setelah sampai di hotel, kami berkemas-kemas untuk melanjutkan perjalanan "wisata". Sebelum meninggalkan hotel, kami sarapan terlebih dahulu. Kami menikmati hidangan nasi goreng yang telah disiapkan oleh hotel.

Sekitar pukul 08.30 WIB, rombongan kami meninggalkan hotel. Untuk menuju parkiran mobil, teman-teman masih melanjutkan "wisata belanja" yang belum terselesaikan. Ada yang membeli aksesoris, pakaian, ketela ubi, pisang dan lain-lain. Setelah puas menikmati "wisata belanja" di Kompleks "Wisata" Gunung Kawi, rombongan kami baru melanjutkan perjalanan untuk menuju lokasi "wisata" berikutnya.

Sekitar pukul 11.30 WIB, rombongan kami sampai di Masjid Tiban Turen Malang. Bagitu ramainya tempat "wisata" ini. Mereka ingin menikmati indahnya keagungan Masjid Tiban yang begitu megah. Alhamdulillah..... Saya masih diberi kesempatan untuk menikmati "wisata ritual" yang sangat indah ini. Kita melaksanakan sholat Jama' Dhuhur dan Ashar di kompleks Masjid Tiban. Setelah sholat, kami menikmati makan siang terlebih dahulu di kompleks "wisata" ini.  Setelah itu kita masuk untuk berkeliling Masjid Tiban, yang terdiri dari 9 lantai. Semua anggota sangat menikmati "wisata ritual" ini. Kami berkeliling dan sambil menikmati "wisata belanja" di Masjid Tiban ini. Berbagai macam barang dijual di lantai 7,8 dan 9. Ada aksesoris, pakaian, mainan, makanan, minuman dan lain-lain. Rombongan kami sangat menikmati "wisata" ini.

Sekitar pukul 16.00 WIB, rombongan kami meninggalkan kompleks Masjid Tiban untuk melanjutkan perjalanan pulang. Kami mampir untuk mengunjungi Ibu dari Mbak Nanik yang opname di salah satu Rumah Sakit Swasta di Malang. Setelah itu kami melanjutkan "wisata kuliner". Rombongan kami mampir ke Bakso Kota Cak Man Malang. Nikmatnya....... Betul-betul "wisata kuliner" yang sangat memuaskan. Setelah itu rombongan kami melanjutkan perjalanan pulang.

Kami sangat gembira dengan perjalanan "wisata" ini. Gelak tawa kami dan anak-anak kami selalu terdengar di sepanjang perjalanan "wisata" ini. Semoga tali persaudaraan dan kekeluargaan yang telah terjalin ini akan se lalu ada untuk selamanya. Sekitar pukul 20.30 WIB, rombongan kami sampai di rumah saya di Sidoarjo. Mereka dijemput keluarga masing-masing di rumah saya. Semoga perjalanan ini menjadi kenangan yang indah yang tak terlupakan bagi semua anggota rombongan kami. Indahnya "wisata" ini.              




























































































Selasa, 19 April 2011

"WABAH ULAT BULU"

"Ulat bulu" tidak harus diberantas habis, karena justru akan dapat merusak ekosistem yang ada. Pertumbuhan "ulat bulu" harus dikendalikan supaya jumlahnya tidak terlalu banyak."


Fenomena "ulat bulu" berkembang biak pesat saat ini terjadi karena:

1. Kurangnya faktor predator seperti semut rangrang, dan burung sudah jarang ditemukan di wilayah metropolis.

2. Ditambah dengan cuaca yang ekstrim, yaitu musim hujan yang memberikan kelembaban tinggi. Hal ini justru menjadi iklim favorit "ulat bulu" untuk menjadi kupu-kupu.

Cara mengatasi kulit yang terkena "ulat bulu":

1. Mencuci tangan dengan sabun. Jangan digaruk. Makin digaruk, tambah gatal dan terasa sakit. Karena efek  "ulat bulu" akan semakin menyebar ke anggota tubuh lain, sesuai dengan luasnya bagian kulit yang digaruk. Kulit yang semula tidak terkena "bulu ulat" tersebut malah memerah akibat vekas garukan. Karena itu menggaruk bukan solusinya.

2. Buang daun yang menjadi sarang telur "ulat bulu".

3. Kalau sudah menjadi kupu-kupu atau ngengat, pancing dengan lampu dan letakkan ember berisi air di bawahnya, supaya saat jatuh, "ulat bulu" langsung mati.

4. "Ulat bulu" yang terlanjur banyak dan besar dapat dikumpulkan, dibakar atau dibenamkan ke dalam tanah.

5. Pestisida adalah cara terakhir untuk menangani wabah "ulat bulu".


Apabila terlanjur menyentuh atau terkena "ulat bulu":

1. Hilangkan "bulu ulat" yang menempel di kulit.

2. Cuci bagian yang terkena "bulu ulat".

3. Usap dengan garam.

4. Gunakan minyak kelapa atau es batu untuk mengatasi membantu mengobati pembengkakan dan nyeri.

5. Jangan digaruk karena dapat menimbulkan luka dan infeksi.

Minggu, 17 April 2011

"KEMISKINAN DI NEGARA-NEGARA DUNIA KETIGA"

"Tampaknya merupakan suatu hal yang paradoksal apabila di tengah-tengah gegap gempitanya pembangunan kita membicarakan masalah "kemiskinan".


Karena di satu pihak "kemiskinan" adalah gambaran tentang segala bentuk kehidupan yang serba rendah, kekurangan dan terbelakang, sementara itu lain pihak pembangunan senantiasa memberikan janji-janji yang terkadang sangat muluk tentang berbagai bentuk kemajuan dan kehidupan yang sophisticated.

Namun walau bagaimanapun "kemiskinan" adalah suatu realita yang memang ada. Dan realitas ini tak dapat disangkal dengan berbagai retorika dan gaya bahasa yang eufimistis. "Kemiskinan" salah satu masalah yang dimiliki manusia, yang sama tuanya dengan usia kemanusiaan itu sendiri dan implikasi permasalahannya dapat melibatkan keseluruhan aspek kehidupan manusia tetapi sering tidak disadari kehadirannya sebagai masalah.

Dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat, "kemiskinan" adalah sesuatu yang nyata adanya, bagi mereka yang tergolong miskin, mereka sendiri merasakan dan menjalani kehidupan dalam "kemiskinan" tersebut. "Kemiskinan" akan lebih terasa apabila mereka telah membandingkan dengan kehidupan orang lain yang lebih tinggi tingkat kehidupannya.

Pada dasarnya "kemiskinan" dapat dibagi menjadi tiga kriteria:

a. "Kemiskinan" yang disebabkan oleh aspek badaniah atau mental seseorang.
Orang-orang ini mengalami "kemiskinan" karena mereka tidak bisa berbuat maksimal sebagaimana manusia lain yang sehat jasmaninya. Karena mengalami cacad badaniah, mereka lantas berbuat atau bekerja secara tidak wajar, seperti menjadi pengemis atau peminta-minta. Sedangkan yang menyangkut aspek mental, biasanya mereka punya sifat malas bekerja.

b. "Kemiskinan" yang disebabkan oleh bencana alam.
"Kemiskinan" yang disebabkan bencana, apabila tidak segera diatasi, akan menimbulkan beban bagi masyarakat umum lainnya. "Kemiskinan" ini biasanya pihak pemerintah mengatasinya dengan dua cara: Pertama sebagai pertolongan sementara diberikan bantuan secukupnya  dan tindakan selanjutnya mentransmigrasikan mereka ke tempat-tempat lain yang lebih aman dan memungkinkan mereka bisa hidup lebih layak.

c. "Kemiskinan" buatan atau "kemiskinan" struktural.
"Kemiskinan" ini ditimbulkan oleh dan dari struktur-struktur ekonomi, budaya dan kultur serta politik. "Kemiskinan" struktur ini selain ditimbulkan oleh struktur nrimo, juga mereka menganggap bahwa "kemiskinan" sebagai nasib malahan sebagai takdir Tuhan.

Di negara-negara sedang berkembang atau lazim dinamakan negara-negara dunia ketiga (The Third World), termasuk di Indonesia, memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dengan "kemiskinan" di negara-negara yang sudah memasuki abad teknologi tinggi atau lazim disebut dengan negara maju. Sifat dan karakter "kemiskinan" di negara sedang berkembang dapat disimak dari penggunaan istilah "kemiskinan" struktural bagi fenomena sosial ekonomis. "Kemiskinan" yang mencengkeram masyarakat di negara dunia ketiga bukan semata-mata disebabkan oleh sikap perilaku masyarakat itu sendiri yang irrasional dalam segi ekonomi, seperti malas, boros, tidak bisa menabung dan tidak mampu menciptakan berbagai kemungkinan yang dapat meningkatkan penghasilan mereka. Namun mereka lebih merupakan korban dari struktur perekonomian yang timpang, baik di tingkat Internasional maupun di tingkat Nasional negara sedang berkembang itu sendiri.

Dalam skop Internasional, ketimpangan perekonomian ini ditunjukkan antara lain oleh dalamnya jurang perbedaan pendapatan antara negara-negara kaya dan negara "miskin". Dan realita yang tak teringkari, bahwa dalam permainan ekonomi (dan juga politik) maka berlaku prinsip Survival of the fittest (yang terkuatlah yang jaya).

Sedamgkan dalam skop Nasional, tampaknya terjadi hal yang tak berbeda. Dalam suatu negeri yang sedang berkembang, tak dapat dihindarkan terjadinya suatu ketimpangan dalam hal pembagian kemakmuran.

Pada hakekatnya "kemiskinan" langsung berkaitan dengan sistem masyarakat secara menyeluruh dan bukan hanya ekonomi atau politik, sosial dan budaya. Sehingga penanganannya harus dilaksanakan secara menyeluruh dengan suatu strategi yang mengandung kaitan-kaitan semua aspek dari perikehidupan manusia.

"Kemiskinan" merupakan masalah yang membutuhkan perhatian yang serius serta tindakan nyata untuk mengatasinya, dan bukan berseminar-seminir, beretorika dan beradu referensi dengan pendapat-pendapat sarjana-sarjana asing yang sama sekali tidak relevan dengan situasi, kondisi dan kebutuhan mendesak yang berupa tindakan. Tindakan itu bisa dimulai dengan resep ekonomi, "kemiskinan" ditunjang oleh tindakan sosial dan politik yang nyata. Misalnya dengan cara memberikan pekerjaan yang layak kepada orang-orang "miskin". Dengan cara ini bukan hanya tingkat pendapatan saja yang dinaikkan, tetapi harga diri sebagai manusia dan sebagai anggota warga masyarakat juga ditingkatkan setaraf dengan warga masyarakat lainnya. Dengan lapangan kerja dapat memberikan kesempatan mereka untuk bekerja dan merangsang berbagai kegiatan di sektor-sektor ekonomi lainnya. Dengan terangkatnya status mereka, maka mereka dapat diajak untuk berpartisipasi dalam melaksanakan aktivitas-aktivitas pembangunan.


MusicPlaylistView Profile