Sabtu, 05 Februari 2011

"SUPAYA BUAH DADA MONTOK"

"Wanita yang sudah dewasa pasti mendambakan "buah dada" nampak "montok". Lebih-lebih bagi ibu-ibu runah tangga yang sering melahirkan, sebab orang tersebut "buah dada"nya sudah mengendor."

Wanita yang sering menyusui, akan lebih kendor "buah dada"nya. Untuk mengatasi "buah dada" supaya tidak kendor, ada beberapa petunjuk, sebagai berikut:
1. Ambillah satu gelas susu encer atau susu sapi murni.
2. Sediakan sepotong jahe, sebesar ibu jari tangan.
3. Bakarlah jahe dalam panggangan (open) sampai hangus.
4. Kemudian keprak dengan benda keras supaya jahe menjadi gepeng.
5. Masukkan ke dalam gelas yang sudah berisi susu.
6. Diamkan kira-kira satu jam, lalu minumlah.
7. Meminum susu campur jahe ini dilakukan setiap malam hari, niscaya tubuh sehat dan "buah dada" dapat menjadi kencang dan "montok".

Selamat mencoba...........................................

"MENGHILANGKAN BAU PETE ATAU JENGKOL"

"Bagi anda yang suka makan "pete atau jengkol" kadang merasa kesewa karena "pete atau jengkol" akan meninggalkan "bau" yang tidak sedap di mulut maupun pernapasan."


Berikut ini ada resep tradisional yang dapat membantu menghilangkan "bau pete atau jengkol", sebagai berikut:
1. Kumurlah dengan air bersih;
2 Kemudian kunyahlah satu jumput beras yang belum dicuci sampai lembut;
3. Kemudian muntahkan;
4. Setelah itu gosoklah gigi anda.

Hasilnya akan cukup memuaskan, karena anda akan terbebas dari "bau pete atau jengkol".

Selamat mencoba.........................................................................

"HATI YANG BERSIH"

"Setiap orang senantiasa berharap mempunyai "hati yang bersih". Namun harapan tanpa adanya ikhtiar yang sungguh-sungguh hanya akan membuahkan sebuah harapan kosong belaka."


Allah berfirman dalam Al-Qur'an Surat Asy-Syu'ra' Ayat 87-89: "Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan "hati yang bersih".

"Hati yang bersih" atau "hati yang sehat" adalah "hati yang" bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah, ikhlas dan tidak ternoda oleh kemusyrikan serta tidak ragu terhadap kebenaran. Menurut Abdullah al-Wadhdhaf, Ahmad Salamah dan kawan-kawan, dalam kitab al-iman, bahwa ciri-ciri "hati yang bersih" ada tujuh, yaitu:

1. Senantiasa menerima alhaq (kebenaran).
"Hati yang bersih" senantiasa akan mengikuti kebenaran. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an Surat Az-Zumar Ayat 17-18: "Berikan kabar gembira kepada orang-orang yang mendengar perkataan lalu mereka mengikuti apa yang paling baik diantaranya. Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk Allah dan mereka itulah orang-orang yang berakal".

2. Cinta kepada kebenaran, dan dadanya lapang terhadap Islam.
Pemilik "hati yang bersih", cinta terhadap kebenaran, dan senang untuk belajar Islam dan senantiasa membenarkan hidayah Allah. 

3. Senantiasa memperkenankan panggilan iman.
Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an Surat Al-Hujurat Ayat 7, Surat At-Taubat Ayat 123-124 dan Surat Ibrahim Ayat 3: Bahwa pemilik "hati yang bersih", di dalamnya senantiasa dihiasi dengan keimanan dan kebencian terhadap segala yang munkar.

4. Senantiasa berfikir dan berdzikir.
Sebagaimana dijelaskan dalam firaman Allah dalam Al-Qur'an Surat Ali Imran Ayat 191, Surat Al Mulk Ayat 10, Surat Adz-Dzariat Ayat 55, Surat Al-A'la Ayat 10-13 dan Surat Maryam Ayat 39, bahwa pemilik "hati yang bersih" akan senantiasa berfikir dan merenungkan dirinya, merenungkan penciptaan langit dan bumi dan senantiasa mengingat kebesaran Allah.

5. Yakin.
Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an Surat Al-Jatsiah Ayat 3-4, bahwa pemilik "hati yang bersih" selalu berfikir, belajar dan berdzikir sehingga sampai pada keyakinan. Abu Abdillah, dalam shahih Bukgari berkata bahwa yakin adalah iman yang menyeluruh (total).

6. "Hati"nya lunak karena mengingat Allah.
Dalam Al-Qur'an Surat Az-Zumar Ayat 22-23, dijelaskan bahwa pemilik "hati yang bersih", "hati" dan kulitnya akan lemas dan gemetar karena mengingat Allah.
7. Mengikuti Al-Qur'an dan As-sunnah.
Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an Surat At-Taubah Ayat 71, An-Nisa' Ayat 59,79 dan Surat Al-Hasyr Ayat 7, bahwa pemilik "hati yang bersih" senantiasa berpegang teguh dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan dia selalu berusaha mencari jalan dalam kehidupannya yang sesuai dengan Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.
Hadits Riwayat Bukhari dari An Ni'man bin Basyir, menjelaskan bahwa  Rasulullah SAW bersabda: "Ingat ! Sesungguhnya di dalam jasad seseorang ada segumpal darah, apabila dia baik maka akan baiklah seluruh jasadnya, dan apabila rusak dia maka rusaklah seluruh jasadnya. Ingat dia adalah alqalbu ("hati")."

(Sumber: Qobun Salim ("Hati yang bersih"), oleh Fathur Rahman,M.Pdi, dalam Buletin eLKISI Edisi Pebruari 2011).

Selasa, 01 Februari 2011

"MENYEMBUHKAN REMATIK"

"Jangan kuatir apabila anda mengalami "rematik" dan asam urat. Anda dapat menyembuhkan "rematik" dengan cara tradisional yang telah dilakukan oleh nenek moyang kita."
Ada dua resep dalam menyembuhkan "rematik":

RESEP 1
Menyembuhkan "rematik" dengan mempergunakan daun singkong yang diremas-remas mempergunakan sedikit kapur sirih, niscaya sakit "rematik"nya lenyap dan sembuh.
Cara membuatnya ialah: ambil lima lembar daun singkong. Campurkan sedikit dengan kapur sirih. Remas-remaslah menjadi satu sampai daun singkong itu menjadi hancur. Kemudian balurkan daun singkong tersebut pada bagian yang menderita "rematik", baik di lengan, kaki ataupun punggung, niscaya dalam waktu singkat (paling lambat hanya 7 hari jika kita memakainya setiap hari 3 kali pagi. siang dan malam hari), penyakit "rematik" itu akan lenyap..
RESEP 2
Ambil jahe secukupnya dan kupas lalu parut dan campurkan arak putih dua sendok makan, lalu kita balurkan ke tangan serta kaki yang sakit "rematik". Kalau anda rajin memakainya niscaya akan sembuh. Hanya selama memakainya, jangan minum air dingin.

Buktikan sendiri khasiat ramuan di atas..... Selamat mencoba. Semoga berhasil......

Minggu, 30 Januari 2011

"CERDAS EMOSI DAN CERDAS SPIRITUAL"

"Ke"cerdas"an "emosi", mencakup pengendalian diri, semangat dan ketekunan, serta kemampuan untuk memotivasi diri". (Daniel Goleman).


Ke"cerdas"an "emosi" memberi kita kesadaran akan perasaan sendiri dan perasaan orang lain. Daniel Goleman dalam bukunya 'Emotional Intelligence, juga mengajarkan dan menanamkan rasa empati, cinta, motivasi dan kemampuan untuk menanggapi kesedihan atau kegembiraan secara tepat. Kesuksesan hidup secara sosial idealnya terdukung tidak hanya oleh ke"cerdas"an rasio, melainkan juga oleh ke"cerdas"an "emosi". Ke"cerdas"an "emosi" dapat menjadi kunci sukses dan gagalnya seseorang.

Ke"cerdas"an "spiritual" adalah ke"cerdas"an tertinggi yang dapat diraih oleh manusia. Ke"cerdas"an "spiritual" memungkinkan manusia menjadi kreatif, mengubah aturan dan situasi. Ke"cerdas"an "spiritual" memungkinkan kita untuk bermain dengan batasan, menjalankan permainan tak terbatas. Ke"cerdas"an "spiritual" juga memberi kita kemampuan membedakan. Ke"cerdas"an "spiritual" memberi kita moralitas, kemampuan menyesuaikan aturan yang baku dengan pemahaman dan cinta serta kemampuan setara untuk melihat kapan cinta dan pemahaman sampai pada batasannya. Ke"cerdas"an "spiritual" dapat menangkap pesan dan hakikat baik dan jahat. Ke"cerdas"an "spiritual" pun mampu membayangkan suatu kemungkinan yang belum terwujud -- untuk bermimpi, bercita-cita, dan mengangkat diri dari kerendahan. Ke"cerdas"an "spiritual" merupakan kemampuan internal bawaan otak dan jiwa manusia, dengan sumber terdalamnya terletak pada inti alam semesta, sejarah dan kedalaman jiwa kita. Menurut Zohar dan Marshall, ke"cerdas"an "spiritual" adalah fasilitas yang berkembang selama jutaan tahun, yang memungkinkan otak untuk menemukan dan menggunakan makna dalam memecahkan persoalan. Dalam tradisi Islam, salah satu jalan untuk hidup "cerdas spiritual" adalah tasawuf.

Muhamad Wahyuni Nafis, dalam bukunya '9 Jalan untuk "Cerdas Emosi" dan "Cerdas Spiritual", membahas tentang 'Sembilan Jalan untuk "Cerdas Emosi" dan "Cerdas Spiritual". Dia membaginya menjadi 'Tiga Jalan':
1. Tiga Jalan Pertama: Sabar , syukur dan tawaduk.
2. Tiga Jalan Kedua: Baik sangka, amanah dan silaturahim.
3. Tiga Jalan Ketiga: Tawakal, ikhlas dan taqwa.

1. Sabar.
Sabar adalah mengekang kendali diri dan menahan pelampiasan amarah yang mengakibatkan kekecewaan dan kegelisahan. Orang yang sabar sangat sadar bahwa pelampiasan amarah dapat mendatangkan bencana. Penyabar, tidak mudah mengeluh, tidak suka mengadu dan tidak senang menyalahkan orang lain. Penyabar akan mendasarkan respons dan kegiatannya pada prinsip hidup yang benar, yaitu prinsip hidup yang menguntungkan semua pihak, membebaskan dan membahagiakan. Tidak akan mudah dipengaruhi oleh hal-hal eksternal. Tidak akan: 'senang tiada kepalang kala mendapat pujian dan pusing tujuh keliling kala mendapat kritikan'.

2. Syukur.
Perilaku syukur dapat dimulai dengan sikap menerima keadaan apa adanya. Apabila mendapat keadaan yang tidak sesuai dengan keyakinan dan aturan yang berlaku, orang berkarakter syukur akan menghindar dan menolaknya dengan tenang serta tidak akan terpengaruh oleh keadaan buruk tersebut. Pemilik karakter syukur dapat menerima sekaligus memanfaatkan sesuatu yang disukai ketika memperolehnya. Ia juga sanggup menerima sesuatu yang ada dan yang tiada. Berkaitan dengan kecakapan, pemilik karakter syukur sangat maksimal menggunakan kecakapannya. Ia sangat maksimal memfungsikan berbagai komponen yang dimilikinya untuk meraih kehidupan yang lebih baik, lebih sukses dan lebih bahagia.

3. Tawaduk.
Tawaduk adalah perwujudan tiadanya sikap takabur. Para pemilik karakter tawaduk, tenang, penuh wibawa, rendah hati, tidak jahat, tidak congkak dan tidak sombong. Mereka adalah orang-orang yang berilmu dan bersikap lemah lembut. Mereka selalu menjaga kehormatan diri dan tidak berlaku bodoh. Orang berkarakter tawaduk selalu memperhatikan kedudukan orang lain dan tidak berlaku arogan. Mereka juga mempunyai karakter sederhana serta bebas dari sikap lalai dan berlebihan. Oleh sebab itu sikap tawaduk membuat pemiliknya disenangi sekaligus dikagumi orang lain. Tuhan juga mewajibkan Rasulullah SAW untuk bertawaduk kepada orang di sekitarnya sebagaimana firman Allah dalam Surat Asy-Syu'ara ayat 215. Hadits Riwayat Muslim juga menjelaskan, bahwa Rasulullah SAW bersabda: 'Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bertawaduk, sehingga tidak ada satupun yang terhina dan tidak satupun yang tersakiti'.

4. Baik Sangka (Positive Thinking).
Sikap dan perilaku ini sangat dianjurkan oleh Islam karena merupakan konsekwensi logis yang niscaya dari ajaran bahwa semua manusia pada dasarnya adalah baik. Manusia diciptakan oleh Allah SWT dan dilahirkan dalam keadaan fitah (suci). Jadi manusia pada dasarnya cenderung kepada kebenaran dan kebaikan. Hindarilah banyak berprasangka, karena sebagian prasangka adalah dosa. Juga janganlah saling memata-matai dan jangan saling menggunjing. Karakter baik sangka sangat erat kaitannya dengan sikap menjauhi perbuatan mengejek, mencela, mengolok-olok, merendahkan dan memberi sebutan buruk kepada orang lain.

5. Amanah.
Amanah merupakan salah satu konsekwensi iman, yaitu sifat dapat dipercaya. Amanah sebagai budi luhur adalah lawan khianat yang amat tercela. Amanah adalah sikap dan perilaku teguh dan konsisten terhadap peraturan, kesepakatan dan tuntutan alami. Karena itu, amanah sangat terkait erat dengan perilaku adil dan jujur. Amanah juga berarti integritas, yakni adanya kesatuan antara teori dan praktik, antara pengetahuan dan pengamalan. 

6. Silaturahim.
Silaturahim adalah pertalian cinta kasih sesama manusia, khususnya antara saudara, kerabat, handai-taulan, tetangga dan seterusnya. Manusia wajib mencintai sesamanya agar Allah juga mencintainya: "Kasihilah orang-orang di bumi, niscaya Dia (Tuhan) yang di langit akan mengasihimu." Pengamal silaturahim akan menyapa orang lain dengan penuh makna dan kasih sayang, memenuhi undangan teman dan tetangga apabila tidak ada halangan yang berarti, serta menengok dan mendo'akan saudara dan teman yang mendapat musibah. Jalinan kasih sayang ini tentunya berlaku lintas keyakinan dan agama. Al-Qur'an telah menegaskan bahwa Rasulullah SAW, meskipun sangat tegas terhadap para penganut agama lain, tetap membina jalinan penuh kasih sayang dalam hubungan sosial dengan mereka, sebagaimana difirmankan dalam Surat Al-Fath ayat 29.

7. Tawakal.
Tawakal (kepada Allah) berarti memasrahkan segala sesuatu kepada kehendak Allah SWT. Sikap dan perilaku tawakal merupakan pekerjaan hati - lebih dalam. Tawakal merupakan amal hati. Karena itu, tawakal bukan dinyatakan dengan ucapan lisan dan perbuatan anggota tubuh. Karakter tawakal menuntut upaya yang memadai sebelum menyerahkan sepenuhnya kepada Allah SWT. Tawakal merupakan sikap penyerahan diri secara total kepada kebenaran. Namun, penyerahan diri total gtersebut tetap menuntut dukungan berupa upaya-upaya memadai. Pemilik karakter "spiritual" tawakal secara individual sudah tidak mempunyai masalah dalam hal kecakapan. Hidupnya selaras dengan alam, yakni berpedoman pada prinsip yang alami.

8. Ikhlas.
Ikhlas adalah sikap tulus karena Allah SWT, sikap tulus karena keyakinan yang benar, baik dan bermaslahat. Dalam Islam, sikap ikhlas menjadi ruh seluruh ibadah baik ukhrawi maupun duniawi. Karakter "spiritual" ikhlas yang benar tentu saja harus didasarkan pada pengetahuan dan pemikiran yang benar. Jika tidak --- tindakan ikhlas justru akan dapat mengakibatkan bencana. Misalnya, ada orang ikhlas menolong orang lain yang tenggelam, namun ia sendiri tidak dapat berenang. Apabila ia menolong dengan cara langsung terjun, itu sama saja dengan bunuh diri. Karakter "spiritual" ikhlas berkekuatan menolak kejahatan sekaligus mampu memalingkan seseorang dari kemungkaran.Keikhlasan juga menuntut konsistensi, jangan setengah-setengah atau sepotong-sepotong. Orang ikhlas memberi makna pada pelayanan bagi sesama.Pemilik karakter "spiritual" ikhlas akan dengan sendirinya menjalankan berbagai kegiatan yang telah dipikirkan secara matang dengan bersandar sepenuhnya kepada Allah SWT. Melayani, menolong dan membantu orang lain merupakan bagian tak terpisahkan dari karakter "spiritual" ikhlas. Ciri lain karakter "spiritual" ikhlas adalah hilangnya rasa iri hati, dengki dan dendam kepada orang lain.
9. Taqwa.
Taqwa mengandung arti tuntutan untuk menjaga diri. Orang yang bertaqwa berarti orang yang mampu menjaga diri. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 2 - 5, bahwa orang yang bertaqwa beriman kepada yang gaib, mendirikan salat menafkahkan sebagian rezeki yang Allah berikan, mengimani wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, dan para nabi sebelumnya, serta meyakini adanya Hari Akhir. Mereka itulah yang mendapat petunjuk Tuhan dan sukses. Dalam Surat Al-Baqarah ayat 177, juga dijelaskan bahwa orang-orang yang bertaqwa adalah mereka yang beriman kepada Allah SWT, Hari Kiamat, para malaikat, kitab-kitab suci dan para nabi, menginfakkan harta karena Allah SWT kepada para kerabat, anak yatim, fakir miskin, orang dalam perjalanan, peminta-minta dan budak, mendirikan salat dan membayar zakat, memenuhi janji serta sabar dalam keadaan menderita, sengsara dan suasana kacau sekalipun.Dalam ayat-ayat lain juga menegaskan bahwa orang-orang bertaqwa akan sukses dan berhasil serta memperoleh rahmat dari Allah SWT.


Golongan manapun, termasuk penganut agama apa pun, dapat menjalani jalan untuk "cerdas emosi" dan "spiritual" di atas.

(Sumber: 9 Jalan untuk "Cerdas Emosi" dan "Cerdas Spiritual", oleh Muhamad Wahyuni Nafis).

Sabtu, 29 Januari 2011

"LIMA PILIHAN HIDUP"

"Insan shalih adalah insan yang unggul di segala tempat dan zaman. Dalam pribadi insan shalih dapat ditemukan "Lima Pilihan Hidup".

"Lima Pilihan Hidup" itu adalah:

1. "Hidup" yang mengalir berdasarkan 'suara hati' apa adanya, juga pengetahuan apa adanya.
Tindakan, ungkapan, bahasa dan perkataan memiliki bentuk yang berbeda pada setiap orang. Sepanjang semua itu dilakukan dengan penuh ketulusan dan berdasarkan kapasitas pengetahuan yang dimilikinya, itu semua berarti selaras dengan kehendak Allah SWT.

2. Ke"hidup"an sebagai hasil integrasi antara pengetahuan yang dimiliki dengan amal praktik keseharian.
Hampir semua dari kita melakukan perbuatan yang salah bukan karena tidak/belum tahu. Perbuatan salah kita lakukan dengan kesadaran dan pengetahuan bahwa perbuatan tersebut memang salah. Mengapa kita cenderung untuk melakukan dan mengulangi perbuatan yang salah? Disinilah perjuangan kita. Kita harus berjuang melawan keinginan diri sendiri yang cenderung salah dan melanggar.

3. Menghindari dan meninggalkan perbuatan yang jelas-jelas tidak bermanfaat bagi diri kita dan siapapun.
Kita harus memilah dan memilih, karena hal ini merupakan bagian dari kebebasan yang dikaruniakan Allah kepada kita. tindakan yang bermanfaat dan tindakan yang sama sekali tidak bermanfaat bagi kita dan orang lain. Manfaat pribadi, sosial, maupun spiritual dari setiap perbuatan yang akan kita lakukan hendaknya dipertanyakan secara memadai. Apabila ada manfaat yang dapat diperoleh --- Lakukanlah !

4. "Hidup" tanpa mengambil keuntungan dari kelemahan, keburukan, dan musibah orang lain.
Kita patut menghindari sikap dan perilaku mengambil keuntungan dari kesalahan orang lain, selama kesalahan itu bersifat manusiawi. Tidak ada satu pun manusia yang serba hebat di segala bidang, oleh karena itu kesalahan dan kelemahan yang manusiawi mestinya dimaafkan karena dapat terjadi pada setiap orang. Kessalahan dan kelemahan yang manusiawi itu sangat mungkin terjadi pula pada diri kita.

5. Menerima kenyataan yang telah terjadi (takdir) dan mengusahkan masa depan yang lebih baik (ikhtiar).
Inilah sikap "hidup" yang di satu sisi menerima ketentuan Allah, dan di sisi lain menjalankan kebebasan pribadi yang telah diberkati oleh Allah kepada kita.

(Sumber: 9 Jalan untuk Cerdas Emosi dan Cerdas Spiritual, oleh Muhammad Wahyuni Nafis).

Rabu, 26 Januari 2011

"LIKU-LIKU BATU AMPAR - PAMEKASAN MADURA"

"UTUSAN DARI "BATU AMPAR"

Pada suatu hari ada seorang perempuan paro baya datang ke rumah kami di Sidoarjo. Dia mencari seseorang yang memiliki identitas persis dengan ayah saya. Dia mengaku  diutus oleh seorang Kyai dari "Batu Ampar". Orang perempuan ini menyampaikan pesan dari Kyai (yang namanya ayah saya sudah lupa), bahwa ayah saya supaya datang ke Astana "Batu Ampar" pada hari Jum'at yang akan datang. Orang perempuan ini memberikan petunjuk dimana letak tepat "Batu Ampar" berada, dan kalau kesana harus menggunakan transportasi apa dengan jelas.

Namun.... Waktu itu ayah saya meminta pertimbangan kepada keluarga, apakah ayah saya harus berangkat ke "Batu Ampar" atau tidak; Dan hasil keputusan Ayah saya tidak berangkat ke "Batu Ampar" karena takut terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan, karena Ayah saya belum pernah tahu sama sekali tentang dan dimana "Batu Ampar". Disamping itu Ayah saya merasa tidak ada kaitan sama sekali dengan "Batu Ampar".


Namun.... Setelah peristiwa itu diceritakan kepada Mbah Aliyah (sekarang  almarhumah), keluarga yang berasal dari Madura, beliau mengatakan bahwa beliau bersedia untuk mengantarkan Ayah saya ke "Batu Ampar", karena memang keluarga kami masih ada hubungan dengan "Batu Ampar".

Tetapi, barangkali karena kesibukan Ayah saya (yang waktu itu ayah saya masih aktif sebagai Dosen Sejarah  di IKIP Negeri Surabaya) sehingga Ayah saya tidak pernah sampai ke "Batu Ampar". Waktu berjalan terus dan tidak terasa peristiwa itu sudah terjadi sekitar 20 (dua puluh) tahun silam.

Ayah saya teringat kembali peristiwa itu dan ingin pergi ke "Batu Ampar" untuk memenuhi pesan yang disampaikan oleh orang perempuan 20 (dua puluh) tahun silam tersebut.

Saya merasa perlu untuk melacak sebenarnya ada apa di "Batu Ampar"? Sampai-sampai Ayah saya diutus ke "Batu Ampar". Selidik punya selidik ternyata di "Batu Ampar" ada tempat ziarah yang disana dimakamkan Mbah Kosambi/Syekh Abdul Mannan dan para Kyai yang punya karomah dari Allah SWT. yang konon pernah mengatakan juga pada santrinya bahwa Kyai disana punya keluarga di Blitar.


Akhirnya Ayah saya dan saya berencana akan berkunjung ke "Batu Ampar" untuk memenuhi pesan yang telah disampaikan oleh perempuan utusan Kyai 20 (dua puluh) tahun silam tadi.  Mudah-mudahan bisa bertemu dengan keluarga (anak keturunan) Mbah Kosambi/Syekh Abdul Mannan dan Kyai yang telah dimakamkan di "Batu Ampar", yang namanya telah tersohor di Nusantara ini.


MusicPlaylistView Profile