Sabtu, 05 Februari 2011

"HATI YANG BERSIH"

"Setiap orang senantiasa berharap mempunyai "hati yang bersih". Namun harapan tanpa adanya ikhtiar yang sungguh-sungguh hanya akan membuahkan sebuah harapan kosong belaka."


Allah berfirman dalam Al-Qur'an Surat Asy-Syu'ra' Ayat 87-89: "Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan "hati yang bersih".

"Hati yang bersih" atau "hati yang sehat" adalah "hati yang" bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah, ikhlas dan tidak ternoda oleh kemusyrikan serta tidak ragu terhadap kebenaran. Menurut Abdullah al-Wadhdhaf, Ahmad Salamah dan kawan-kawan, dalam kitab al-iman, bahwa ciri-ciri "hati yang bersih" ada tujuh, yaitu:

1. Senantiasa menerima alhaq (kebenaran).
"Hati yang bersih" senantiasa akan mengikuti kebenaran. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an Surat Az-Zumar Ayat 17-18: "Berikan kabar gembira kepada orang-orang yang mendengar perkataan lalu mereka mengikuti apa yang paling baik diantaranya. Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk Allah dan mereka itulah orang-orang yang berakal".

2. Cinta kepada kebenaran, dan dadanya lapang terhadap Islam.
Pemilik "hati yang bersih", cinta terhadap kebenaran, dan senang untuk belajar Islam dan senantiasa membenarkan hidayah Allah. 

3. Senantiasa memperkenankan panggilan iman.
Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an Surat Al-Hujurat Ayat 7, Surat At-Taubat Ayat 123-124 dan Surat Ibrahim Ayat 3: Bahwa pemilik "hati yang bersih", di dalamnya senantiasa dihiasi dengan keimanan dan kebencian terhadap segala yang munkar.

4. Senantiasa berfikir dan berdzikir.
Sebagaimana dijelaskan dalam firaman Allah dalam Al-Qur'an Surat Ali Imran Ayat 191, Surat Al Mulk Ayat 10, Surat Adz-Dzariat Ayat 55, Surat Al-A'la Ayat 10-13 dan Surat Maryam Ayat 39, bahwa pemilik "hati yang bersih" akan senantiasa berfikir dan merenungkan dirinya, merenungkan penciptaan langit dan bumi dan senantiasa mengingat kebesaran Allah.

5. Yakin.
Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an Surat Al-Jatsiah Ayat 3-4, bahwa pemilik "hati yang bersih" selalu berfikir, belajar dan berdzikir sehingga sampai pada keyakinan. Abu Abdillah, dalam shahih Bukgari berkata bahwa yakin adalah iman yang menyeluruh (total).

6. "Hati"nya lunak karena mengingat Allah.
Dalam Al-Qur'an Surat Az-Zumar Ayat 22-23, dijelaskan bahwa pemilik "hati yang bersih", "hati" dan kulitnya akan lemas dan gemetar karena mengingat Allah.
7. Mengikuti Al-Qur'an dan As-sunnah.
Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an Surat At-Taubah Ayat 71, An-Nisa' Ayat 59,79 dan Surat Al-Hasyr Ayat 7, bahwa pemilik "hati yang bersih" senantiasa berpegang teguh dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan dia selalu berusaha mencari jalan dalam kehidupannya yang sesuai dengan Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.
Hadits Riwayat Bukhari dari An Ni'man bin Basyir, menjelaskan bahwa  Rasulullah SAW bersabda: "Ingat ! Sesungguhnya di dalam jasad seseorang ada segumpal darah, apabila dia baik maka akan baiklah seluruh jasadnya, dan apabila rusak dia maka rusaklah seluruh jasadnya. Ingat dia adalah alqalbu ("hati")."

(Sumber: Qobun Salim ("Hati yang bersih"), oleh Fathur Rahman,M.Pdi, dalam Buletin eLKISI Edisi Pebruari 2011).

Selasa, 01 Februari 2011

"MENYEMBUHKAN REMATIK"

"Jangan kuatir apabila anda mengalami "rematik" dan asam urat. Anda dapat menyembuhkan "rematik" dengan cara tradisional yang telah dilakukan oleh nenek moyang kita."
Ada dua resep dalam menyembuhkan "rematik":

RESEP 1
Menyembuhkan "rematik" dengan mempergunakan daun singkong yang diremas-remas mempergunakan sedikit kapur sirih, niscaya sakit "rematik"nya lenyap dan sembuh.
Cara membuatnya ialah: ambil lima lembar daun singkong. Campurkan sedikit dengan kapur sirih. Remas-remaslah menjadi satu sampai daun singkong itu menjadi hancur. Kemudian balurkan daun singkong tersebut pada bagian yang menderita "rematik", baik di lengan, kaki ataupun punggung, niscaya dalam waktu singkat (paling lambat hanya 7 hari jika kita memakainya setiap hari 3 kali pagi. siang dan malam hari), penyakit "rematik" itu akan lenyap..
RESEP 2
Ambil jahe secukupnya dan kupas lalu parut dan campurkan arak putih dua sendok makan, lalu kita balurkan ke tangan serta kaki yang sakit "rematik". Kalau anda rajin memakainya niscaya akan sembuh. Hanya selama memakainya, jangan minum air dingin.

Buktikan sendiri khasiat ramuan di atas..... Selamat mencoba. Semoga berhasil......

Minggu, 30 Januari 2011

"CERDAS EMOSI DAN CERDAS SPIRITUAL"

"Ke"cerdas"an "emosi", mencakup pengendalian diri, semangat dan ketekunan, serta kemampuan untuk memotivasi diri". (Daniel Goleman).


Ke"cerdas"an "emosi" memberi kita kesadaran akan perasaan sendiri dan perasaan orang lain. Daniel Goleman dalam bukunya 'Emotional Intelligence, juga mengajarkan dan menanamkan rasa empati, cinta, motivasi dan kemampuan untuk menanggapi kesedihan atau kegembiraan secara tepat. Kesuksesan hidup secara sosial idealnya terdukung tidak hanya oleh ke"cerdas"an rasio, melainkan juga oleh ke"cerdas"an "emosi". Ke"cerdas"an "emosi" dapat menjadi kunci sukses dan gagalnya seseorang.

Ke"cerdas"an "spiritual" adalah ke"cerdas"an tertinggi yang dapat diraih oleh manusia. Ke"cerdas"an "spiritual" memungkinkan manusia menjadi kreatif, mengubah aturan dan situasi. Ke"cerdas"an "spiritual" memungkinkan kita untuk bermain dengan batasan, menjalankan permainan tak terbatas. Ke"cerdas"an "spiritual" juga memberi kita kemampuan membedakan. Ke"cerdas"an "spiritual" memberi kita moralitas, kemampuan menyesuaikan aturan yang baku dengan pemahaman dan cinta serta kemampuan setara untuk melihat kapan cinta dan pemahaman sampai pada batasannya. Ke"cerdas"an "spiritual" dapat menangkap pesan dan hakikat baik dan jahat. Ke"cerdas"an "spiritual" pun mampu membayangkan suatu kemungkinan yang belum terwujud -- untuk bermimpi, bercita-cita, dan mengangkat diri dari kerendahan. Ke"cerdas"an "spiritual" merupakan kemampuan internal bawaan otak dan jiwa manusia, dengan sumber terdalamnya terletak pada inti alam semesta, sejarah dan kedalaman jiwa kita. Menurut Zohar dan Marshall, ke"cerdas"an "spiritual" adalah fasilitas yang berkembang selama jutaan tahun, yang memungkinkan otak untuk menemukan dan menggunakan makna dalam memecahkan persoalan. Dalam tradisi Islam, salah satu jalan untuk hidup "cerdas spiritual" adalah tasawuf.

Muhamad Wahyuni Nafis, dalam bukunya '9 Jalan untuk "Cerdas Emosi" dan "Cerdas Spiritual", membahas tentang 'Sembilan Jalan untuk "Cerdas Emosi" dan "Cerdas Spiritual". Dia membaginya menjadi 'Tiga Jalan':
1. Tiga Jalan Pertama: Sabar , syukur dan tawaduk.
2. Tiga Jalan Kedua: Baik sangka, amanah dan silaturahim.
3. Tiga Jalan Ketiga: Tawakal, ikhlas dan taqwa.

1. Sabar.
Sabar adalah mengekang kendali diri dan menahan pelampiasan amarah yang mengakibatkan kekecewaan dan kegelisahan. Orang yang sabar sangat sadar bahwa pelampiasan amarah dapat mendatangkan bencana. Penyabar, tidak mudah mengeluh, tidak suka mengadu dan tidak senang menyalahkan orang lain. Penyabar akan mendasarkan respons dan kegiatannya pada prinsip hidup yang benar, yaitu prinsip hidup yang menguntungkan semua pihak, membebaskan dan membahagiakan. Tidak akan mudah dipengaruhi oleh hal-hal eksternal. Tidak akan: 'senang tiada kepalang kala mendapat pujian dan pusing tujuh keliling kala mendapat kritikan'.

2. Syukur.
Perilaku syukur dapat dimulai dengan sikap menerima keadaan apa adanya. Apabila mendapat keadaan yang tidak sesuai dengan keyakinan dan aturan yang berlaku, orang berkarakter syukur akan menghindar dan menolaknya dengan tenang serta tidak akan terpengaruh oleh keadaan buruk tersebut. Pemilik karakter syukur dapat menerima sekaligus memanfaatkan sesuatu yang disukai ketika memperolehnya. Ia juga sanggup menerima sesuatu yang ada dan yang tiada. Berkaitan dengan kecakapan, pemilik karakter syukur sangat maksimal menggunakan kecakapannya. Ia sangat maksimal memfungsikan berbagai komponen yang dimilikinya untuk meraih kehidupan yang lebih baik, lebih sukses dan lebih bahagia.

3. Tawaduk.
Tawaduk adalah perwujudan tiadanya sikap takabur. Para pemilik karakter tawaduk, tenang, penuh wibawa, rendah hati, tidak jahat, tidak congkak dan tidak sombong. Mereka adalah orang-orang yang berilmu dan bersikap lemah lembut. Mereka selalu menjaga kehormatan diri dan tidak berlaku bodoh. Orang berkarakter tawaduk selalu memperhatikan kedudukan orang lain dan tidak berlaku arogan. Mereka juga mempunyai karakter sederhana serta bebas dari sikap lalai dan berlebihan. Oleh sebab itu sikap tawaduk membuat pemiliknya disenangi sekaligus dikagumi orang lain. Tuhan juga mewajibkan Rasulullah SAW untuk bertawaduk kepada orang di sekitarnya sebagaimana firman Allah dalam Surat Asy-Syu'ara ayat 215. Hadits Riwayat Muslim juga menjelaskan, bahwa Rasulullah SAW bersabda: 'Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bertawaduk, sehingga tidak ada satupun yang terhina dan tidak satupun yang tersakiti'.

4. Baik Sangka (Positive Thinking).
Sikap dan perilaku ini sangat dianjurkan oleh Islam karena merupakan konsekwensi logis yang niscaya dari ajaran bahwa semua manusia pada dasarnya adalah baik. Manusia diciptakan oleh Allah SWT dan dilahirkan dalam keadaan fitah (suci). Jadi manusia pada dasarnya cenderung kepada kebenaran dan kebaikan. Hindarilah banyak berprasangka, karena sebagian prasangka adalah dosa. Juga janganlah saling memata-matai dan jangan saling menggunjing. Karakter baik sangka sangat erat kaitannya dengan sikap menjauhi perbuatan mengejek, mencela, mengolok-olok, merendahkan dan memberi sebutan buruk kepada orang lain.

5. Amanah.
Amanah merupakan salah satu konsekwensi iman, yaitu sifat dapat dipercaya. Amanah sebagai budi luhur adalah lawan khianat yang amat tercela. Amanah adalah sikap dan perilaku teguh dan konsisten terhadap peraturan, kesepakatan dan tuntutan alami. Karena itu, amanah sangat terkait erat dengan perilaku adil dan jujur. Amanah juga berarti integritas, yakni adanya kesatuan antara teori dan praktik, antara pengetahuan dan pengamalan. 

6. Silaturahim.
Silaturahim adalah pertalian cinta kasih sesama manusia, khususnya antara saudara, kerabat, handai-taulan, tetangga dan seterusnya. Manusia wajib mencintai sesamanya agar Allah juga mencintainya: "Kasihilah orang-orang di bumi, niscaya Dia (Tuhan) yang di langit akan mengasihimu." Pengamal silaturahim akan menyapa orang lain dengan penuh makna dan kasih sayang, memenuhi undangan teman dan tetangga apabila tidak ada halangan yang berarti, serta menengok dan mendo'akan saudara dan teman yang mendapat musibah. Jalinan kasih sayang ini tentunya berlaku lintas keyakinan dan agama. Al-Qur'an telah menegaskan bahwa Rasulullah SAW, meskipun sangat tegas terhadap para penganut agama lain, tetap membina jalinan penuh kasih sayang dalam hubungan sosial dengan mereka, sebagaimana difirmankan dalam Surat Al-Fath ayat 29.

7. Tawakal.
Tawakal (kepada Allah) berarti memasrahkan segala sesuatu kepada kehendak Allah SWT. Sikap dan perilaku tawakal merupakan pekerjaan hati - lebih dalam. Tawakal merupakan amal hati. Karena itu, tawakal bukan dinyatakan dengan ucapan lisan dan perbuatan anggota tubuh. Karakter tawakal menuntut upaya yang memadai sebelum menyerahkan sepenuhnya kepada Allah SWT. Tawakal merupakan sikap penyerahan diri secara total kepada kebenaran. Namun, penyerahan diri total gtersebut tetap menuntut dukungan berupa upaya-upaya memadai. Pemilik karakter "spiritual" tawakal secara individual sudah tidak mempunyai masalah dalam hal kecakapan. Hidupnya selaras dengan alam, yakni berpedoman pada prinsip yang alami.

8. Ikhlas.
Ikhlas adalah sikap tulus karena Allah SWT, sikap tulus karena keyakinan yang benar, baik dan bermaslahat. Dalam Islam, sikap ikhlas menjadi ruh seluruh ibadah baik ukhrawi maupun duniawi. Karakter "spiritual" ikhlas yang benar tentu saja harus didasarkan pada pengetahuan dan pemikiran yang benar. Jika tidak --- tindakan ikhlas justru akan dapat mengakibatkan bencana. Misalnya, ada orang ikhlas menolong orang lain yang tenggelam, namun ia sendiri tidak dapat berenang. Apabila ia menolong dengan cara langsung terjun, itu sama saja dengan bunuh diri. Karakter "spiritual" ikhlas berkekuatan menolak kejahatan sekaligus mampu memalingkan seseorang dari kemungkaran.Keikhlasan juga menuntut konsistensi, jangan setengah-setengah atau sepotong-sepotong. Orang ikhlas memberi makna pada pelayanan bagi sesama.Pemilik karakter "spiritual" ikhlas akan dengan sendirinya menjalankan berbagai kegiatan yang telah dipikirkan secara matang dengan bersandar sepenuhnya kepada Allah SWT. Melayani, menolong dan membantu orang lain merupakan bagian tak terpisahkan dari karakter "spiritual" ikhlas. Ciri lain karakter "spiritual" ikhlas adalah hilangnya rasa iri hati, dengki dan dendam kepada orang lain.
9. Taqwa.
Taqwa mengandung arti tuntutan untuk menjaga diri. Orang yang bertaqwa berarti orang yang mampu menjaga diri. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 2 - 5, bahwa orang yang bertaqwa beriman kepada yang gaib, mendirikan salat menafkahkan sebagian rezeki yang Allah berikan, mengimani wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, dan para nabi sebelumnya, serta meyakini adanya Hari Akhir. Mereka itulah yang mendapat petunjuk Tuhan dan sukses. Dalam Surat Al-Baqarah ayat 177, juga dijelaskan bahwa orang-orang yang bertaqwa adalah mereka yang beriman kepada Allah SWT, Hari Kiamat, para malaikat, kitab-kitab suci dan para nabi, menginfakkan harta karena Allah SWT kepada para kerabat, anak yatim, fakir miskin, orang dalam perjalanan, peminta-minta dan budak, mendirikan salat dan membayar zakat, memenuhi janji serta sabar dalam keadaan menderita, sengsara dan suasana kacau sekalipun.Dalam ayat-ayat lain juga menegaskan bahwa orang-orang bertaqwa akan sukses dan berhasil serta memperoleh rahmat dari Allah SWT.


Golongan manapun, termasuk penganut agama apa pun, dapat menjalani jalan untuk "cerdas emosi" dan "spiritual" di atas.

(Sumber: 9 Jalan untuk "Cerdas Emosi" dan "Cerdas Spiritual", oleh Muhamad Wahyuni Nafis).

Sabtu, 29 Januari 2011

"LIMA PILIHAN HIDUP"

"Insan shalih adalah insan yang unggul di segala tempat dan zaman. Dalam pribadi insan shalih dapat ditemukan "Lima Pilihan Hidup".

"Lima Pilihan Hidup" itu adalah:

1. "Hidup" yang mengalir berdasarkan 'suara hati' apa adanya, juga pengetahuan apa adanya.
Tindakan, ungkapan, bahasa dan perkataan memiliki bentuk yang berbeda pada setiap orang. Sepanjang semua itu dilakukan dengan penuh ketulusan dan berdasarkan kapasitas pengetahuan yang dimilikinya, itu semua berarti selaras dengan kehendak Allah SWT.

2. Ke"hidup"an sebagai hasil integrasi antara pengetahuan yang dimiliki dengan amal praktik keseharian.
Hampir semua dari kita melakukan perbuatan yang salah bukan karena tidak/belum tahu. Perbuatan salah kita lakukan dengan kesadaran dan pengetahuan bahwa perbuatan tersebut memang salah. Mengapa kita cenderung untuk melakukan dan mengulangi perbuatan yang salah? Disinilah perjuangan kita. Kita harus berjuang melawan keinginan diri sendiri yang cenderung salah dan melanggar.

3. Menghindari dan meninggalkan perbuatan yang jelas-jelas tidak bermanfaat bagi diri kita dan siapapun.
Kita harus memilah dan memilih, karena hal ini merupakan bagian dari kebebasan yang dikaruniakan Allah kepada kita. tindakan yang bermanfaat dan tindakan yang sama sekali tidak bermanfaat bagi kita dan orang lain. Manfaat pribadi, sosial, maupun spiritual dari setiap perbuatan yang akan kita lakukan hendaknya dipertanyakan secara memadai. Apabila ada manfaat yang dapat diperoleh --- Lakukanlah !

4. "Hidup" tanpa mengambil keuntungan dari kelemahan, keburukan, dan musibah orang lain.
Kita patut menghindari sikap dan perilaku mengambil keuntungan dari kesalahan orang lain, selama kesalahan itu bersifat manusiawi. Tidak ada satu pun manusia yang serba hebat di segala bidang, oleh karena itu kesalahan dan kelemahan yang manusiawi mestinya dimaafkan karena dapat terjadi pada setiap orang. Kessalahan dan kelemahan yang manusiawi itu sangat mungkin terjadi pula pada diri kita.

5. Menerima kenyataan yang telah terjadi (takdir) dan mengusahkan masa depan yang lebih baik (ikhtiar).
Inilah sikap "hidup" yang di satu sisi menerima ketentuan Allah, dan di sisi lain menjalankan kebebasan pribadi yang telah diberkati oleh Allah kepada kita.

(Sumber: 9 Jalan untuk Cerdas Emosi dan Cerdas Spiritual, oleh Muhammad Wahyuni Nafis).

Rabu, 26 Januari 2011

"LIKU-LIKU BATU AMPAR - PAMEKASAN MADURA"

"UTUSAN DARI "BATU AMPAR"

Pada suatu hari ada seorang perempuan paro baya datang ke rumah kami di Sidoarjo. Dia mencari seseorang yang memiliki identitas persis dengan ayah saya. Dia mengaku  diutus oleh seorang Kyai dari "Batu Ampar". Orang perempuan ini menyampaikan pesan dari Kyai (yang namanya ayah saya sudah lupa), bahwa ayah saya supaya datang ke Astana "Batu Ampar" pada hari Jum'at yang akan datang. Orang perempuan ini memberikan petunjuk dimana letak tepat "Batu Ampar" berada, dan kalau kesana harus menggunakan transportasi apa dengan jelas.

Namun.... Waktu itu ayah saya meminta pertimbangan kepada keluarga, apakah ayah saya harus berangkat ke "Batu Ampar" atau tidak; Dan hasil keputusan Ayah saya tidak berangkat ke "Batu Ampar" karena takut terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan, karena Ayah saya belum pernah tahu sama sekali tentang dan dimana "Batu Ampar". Disamping itu Ayah saya merasa tidak ada kaitan sama sekali dengan "Batu Ampar".


Namun.... Setelah peristiwa itu diceritakan kepada Mbah Aliyah (sekarang  almarhumah), keluarga yang berasal dari Madura, beliau mengatakan bahwa beliau bersedia untuk mengantarkan Ayah saya ke "Batu Ampar", karena memang keluarga kami masih ada hubungan dengan "Batu Ampar".

Tetapi, barangkali karena kesibukan Ayah saya (yang waktu itu ayah saya masih aktif sebagai Dosen Sejarah  di IKIP Negeri Surabaya) sehingga Ayah saya tidak pernah sampai ke "Batu Ampar". Waktu berjalan terus dan tidak terasa peristiwa itu sudah terjadi sekitar 20 (dua puluh) tahun silam.

Ayah saya teringat kembali peristiwa itu dan ingin pergi ke "Batu Ampar" untuk memenuhi pesan yang disampaikan oleh orang perempuan 20 (dua puluh) tahun silam tersebut.

Saya merasa perlu untuk melacak sebenarnya ada apa di "Batu Ampar"? Sampai-sampai Ayah saya diutus ke "Batu Ampar". Selidik punya selidik ternyata di "Batu Ampar" ada tempat ziarah yang disana dimakamkan Mbah Kosambi/Syekh Abdul Mannan dan para Kyai yang punya karomah dari Allah SWT. yang konon pernah mengatakan juga pada santrinya bahwa Kyai disana punya keluarga di Blitar.


Akhirnya Ayah saya dan saya berencana akan berkunjung ke "Batu Ampar" untuk memenuhi pesan yang telah disampaikan oleh perempuan utusan Kyai 20 (dua puluh) tahun silam tadi.  Mudah-mudahan bisa bertemu dengan keluarga (anak keturunan) Mbah Kosambi/Syekh Abdul Mannan dan Kyai yang telah dimakamkan di "Batu Ampar", yang namanya telah tersohor di Nusantara ini.

Sabtu, 15 Januari 2011

"TARI BARONG DAN KERIS --- DARI BALI"

"Tarian "Barong" adalah tarian yang berasal dari Bali yang menggambarkan pertarungan antara 'Kebajikan' melawan 'Kebatilan'"


Pada saat itu tepatnya bulan Desember Tahun 2008 saya beserta rombongan wisata ke Bali. Salah satu wisata yang kami kunjungi adalah salah satu tempat, Celuk - Sukowati - Gianyar, dimana disitu disuguhkan tari-tarian yang menggunakan dialog Bahasa Bali. Saat itu kami disuguhi Tari "Barong". 

Sekelumit tentang kisah "Barong":

"Barong" adalah makhluk mithologi melukiskan 'Kebajikan' dan Rangda adalah yang maha dahsyat menggambarkan 'Kebatilan'.

"Barong" dan kera sedang berada di dalam hutan yang lebat, kemudian datang tiga orang bertopeng yang menggambarkan sedang membuat keributan dan merusak ketenangan hutan. Mereka bertemu dengan kera dan akhirnya berkelahi. Kera dapat memotong hidung salah seorang dari mereka.


BABAK PERTAMA.
Dua orang penari muncul dan mereka adalah pengikut-pengikut dari Rangda sedang mencari pengikut-pengikut Dewi Kunti yang sedang dalam perjalanan untuk menemui patihnya.


BABAK KEDUA.
Pengikut-pengikut Dewi Kunti tiba. Salah seorang pengikut Rangda berubah menjadi setan. (Semacam Rangda) dan memasukkan roh jahat kepada pengikut Dewi Kunti yang menyebabkan mereka bisa menjadi marah. Keduanya menemui Patih dan bersama-sama menghadap Dewi Kunti.


BABAK KETIGA.
Muncullah Dewi Kunti dan anaknya Sahadewa. Dewi Kunti telah berjanji kepada Rangda untuk menyerahkan Sahadewa sebagai korban. Sebenarnya Dewi Kunti tidak sampai hati mengorbankan anaknya kepada Rangda. Tetapi setan (semacam Rangda) memasukkan roh jahat kepadanya yang menyebabkan Dewi Kunti bisa menjadi marah dan berniat mengorbankan anaknya serta memerintahkan kepada Patihnya untuk membuang Sahadewa ke dalam hutan. Dan Patih inipun tidak luput dari kemasukkan roh jahat oleh setan ke dalam hutan dan mengikatnya di muka Istana Sang Rangda.
BABAK KEEMPAT.
Turunlah Dewa Siwa dan memberikan keabadian kepada Sahadewa dan keabadian ini tidak diketahui oleh Rangda. Kemudian datanglah Rangda, untuk mengoyak-koyak dan membunuh Sahadewa. Namun tidak dapat dibunuhnya karena kekebalan yang dianugerahkan oleh Dewa Siwa. Rangda menyerah kepada Sahadewa dan memohon untuk diselamatkan supaya dengan demikian dia dapat masuk surga. Permintaan ini dipenuhi oleh Sahadewa dan Sang Rangda mendapat Surga.


BABAK KELIMA.
Kalika adalah seorang pengikut Rangda menghadap Sahadewa, namun ditolak oleh Sahadewa. Penolakan ini menimbulkan perkelahian, dan Kalika berubah rupa menjadi Babi Hutan. Dalam pertarungan antara Sahadewa melawan Babi Hutan, Sahadewa mendapat kemenangan. Kemudian Kalika (Babi Hutan) ini berubah menjadi Burung, tetapi tetap dikalahkan. Dan akhirnya Kalika (Burung) berubah rupa lagi menjadi Rangda. Oleh karena saktinya Rangda ini maka Sahadewa tidak dapat membunuhnya dan akhirnya Sahadewa berubah rupa menjadi "Barong".


Karena sama saktinya, maka pertarungan antara "Barong" melawan Rangda ini tidak ada yang menang dan dengan demikian pertarungan dan perkelahian ini berlangsung terus abadi -- 'Kebajikan' melawan 'Kebatilan'. Kemudian muncullah pengikut-pengikut "Barong" masing-masing dengan kerisnya yang hendak menolong "Barong" dalam pertarungan melawan Rangda. Mereka ini semuanya pun tidak berhasil melumpuhkan kesaktian Sang Rangda.

"ASURANSI DALAM ISLAM"

"Sekarang ini, "asuransi" telah memainkan peranan penting dalam pertumbuhan industri sebagaimana halnya dalam organisasi perdagangan, industri, dan pertanian skala besar."


Dalam hal-hal tertentu, "asuransi" bahkan jauh lebih penting dari pada perbankan. Sementara itu, di kalangan masyarakat Muslim timbul dorongan-dorongan yang berkelanjutan dalam komitmen untuk menghidupkan kembali way of life "Islam". Penataan kembali masalah keuangan dan ekonomi merupakan bagian komitmen tersebut, yang juga melibatkan penanganan masalah "asuransi", disamping perbankan.

"Asuransi" didasarkan pada terpikirkannya suatu prinsip ilmiah-sosial yang sangat bermanfaat, dimana dinyatakan bahwa dengan menanamkan sejumlah kecil modal, individu dapat bebas dari kerugian finansial yang mungkin terjadi akibat kecelakaan atau kerusakan, yang kejadiannya dapat diukur secara cukup akurat dalam hubungannya dengan sekelompok besar manusia. Prinsip ini sebagaimana halnya penemuan ilmiah yang lain, merupakan rahmat Allah SWT. Memetik manfaat dari padanya tidak hanyak merupakan hal yang baik, tapi bahkan mutlak perlu bagi kemajuan peradaban. "Asuransi" sedikitpun tidak ada kaitannya dengan perjudian yang dilarang Allah SWT. Sangatlah mungkin menyelenggarakan "asuransi" dalam sistem yang "Islam"i, dengan cara sedemikian rupa, sehingga menjadi rahmat bagi masyarakat, setelah membersihkannya dari unsur yang tidak sesuai. Bunga memang telah merembes dalam pelaksanaan "asuransi" modern, namun bunga tidaklah perlu menjadi bagian dari "asuransi". Sangatlah mungkin menyelenggarakan "asuransi" tanpa bunga.Dalam kaitan ini, amatlah penting masalah apakah "asuransi" harus diserahkan pada perusahaan swasta sebagai satu usaha mencari laba ataukah harus diselenggarakan oleh negara sebagai satu bentuk pelayanan sosial dasar. Sebaiknya, "asuransi" jiwa dan "asuransi" bidang penting lainnya harus dikelola oleh negara, dan penyelenggaraannya harus merupakan bagian dari sistem jaminan dan kesejahteraan sosial umum yang lebih luas. "Asuransi" dalam bidang-bidang tertentu yang tidak begitu penting dapat diserahkan pada perusahaan swasta ataupun dikelola dengan sistem koperasi. 
"Asuransi" pada dasarnya bebas dari perjudian dan bunga dan "asuransi" dapat dijalankan secara bersih dari keburukan-keburukan yang dilarang oleh Syari'ah. Transaksi-transaksi tertentu dilarang oleh Al-Qur'an dan Sunnah karena mengandung unsur-unsur yang negatif (keburukan):
1. Paksaan.
2. Eksploitasi atas keadaan yang menekan.
3. Pemalsuan dan penipuan.
4. Ketidaktentuan dan bahaya yang nyata, dan ketidaktahuan, yang mungkin menimbulkan perselisihan.
5. Madharat (kerusakan, kerugian).

Menurut jurisprudensi "Islam", suatu praktek dapat digolongkan halal atau haram tergantung pada ada atau tidaknya keburukan-keburukan tersebut. Transaksi yang bebas dari keburukan-keburukan diatas adalah halal, dan apabila suatu transaksi melayani sesuatu kepentingan ummat manusia yang sah, maka ia tidak hanya diperbolehkan, namun malah dianjurkan dan dikehendaki. "Asuransi" bebas dari semua keburukan-keburukan tadi. Dan lebih jauh lagi, "asuransi" menjaga kepentingan pribadi dan kolektif yang penting.

"Asuransi" merupakan satu kebutuhan dasar manusia. karena kecelakaan dan konsekuensi finansialnya yang memerlukan santunan, "asuransi" merupakan hal-hal yang universal. Kematian mendadak, cacat, penyakit, pengangguran, kebakaran, banjir, badai, tenggelam dan kecelakaan-kecelakaan yang berkaitan dengan transportasi serta kerugian finansial yang disebabkannya, tidaklah tergantung pada tindakan sukarela ataupun pada jenis pekerjaan dan sebagainya. Seringkali korban kecelakaan dan keluarganya jatuh miskin. Dapat dipastikan bahwa efisiensi ekonominya akan terlumpuhkan dengan berat hingga ia menjadi bergantung pada uang dan harta benda. Kenyataan ini menurut "asuransi" untuk diperlakukan sebagai kebutuhan dasar manusia pada lingkup yang sangat luas dari kegiatan-kegiatan dan situasi-situasi manusia.

"Asuransi" (jaminan) sosial bertujuan meringankan orang-orang papa dan miskin dari beban kebutuhan dan kesengsaraan sehingga tidak seorangpun anggota masyarakat yang tidak memperoleh kebutuhan pokoknya --- pangan, sandang, papan, pengobatan dan pendidikan. Standarnya sudah barangtentu tergantung pada perkembangan sosio-ekonomi dan norma-norma yang berlaku. Kesejahteraan umum dan "asuransi" (jaminan) sosial merupakan kewajiban ekonomi paling utama dari suatu negara.

Sistem "Islam" harus menyediakan "asuransi" dengan cara sedemikian rupa, sehingga disamping memenuhi kewajiban jaminan sosial, ia juga menunjang pertumbuhan ekonomi dan keadilan sosial. Kesejahteraan sosial dapat dicapai dengan meringankan beban orang-orang yang kesusahan. Prinsip kesejahteraan sosial menuntut bahwa setiap orang miskin harus diberikan pertolongan tanpa memandang sebab musabab kemiskinannya. Kemiskinan yang disebabkan oleh kecelakaan yang tidak terduga otomatis akan termasuk dalam kategori ini. 
Rancangan "asuransi" yang cocok untuk ekonomi "Islam" modern, adalah sebagai berikut:

1. Semua "asuransi" yang menyangkut bahaya pada jiwa manusia, anggota badan, dan kesehatan harus ditangani secara ekslusif di bawah pengawasan negara.

2. "Asuransi" terhadap bahaya yang menyangkut uang dan harta benda juga harus dilaksanakan oleh negara.

3. "Asuransi" simpanan nasabah di bank, haruslah menjadi bagian dari sistem perbankan. "Asuransi" tersebut harus dilaksanakan di bawah pengawasan bank sentral yang didirikan negara. Tetapi transaksi kredit swasta dapat di"asuransi"kan oleh badan-badan swasta atau koperasi.


Sistem "asuransi", jaminan dan kesejahteraan sosial serta keuangan umum yang terkoordinir dengan baik dan harmonis --- harus turut menopang usaha mengembangkan suatu lingkungan yang kondusif bagi restorasi efisiensi ekonomi, bagi usaha perluasan dan pengembangan, sementara menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar manusia dan supremasi keadilan sebagai cita sosial. 
(Sumber: "Asuransi" Di Dalam "Islam", oleh Muhammad Nejatullah Siddiqi).


MusicPlaylistView Profile